Showing posts with label Neonatus dan Bayi. Show all posts
Showing posts with label Neonatus dan Bayi. Show all posts

Thursday, April 22, 2010

Mengajar Bayi Metode Glenn Doman

Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia dari semua makhluk hidup di dunia ini, cuma manusia yang dapat membaca. Membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Anak-anak dapat membaca sebuah kata ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika berusia dua tahun, dan sebuah buku ketika berusia tiga tahun dan mereka menyukainya. Tahun 1961 satu tim ahli dunia yang terdiri atas, dokter, spesialis membaca, ahli bedah otak dan psikolog mengadakan penelitian “Bagaimana otak anak-anak berkembang?”. Hal ini kemudian berkembang menjadi satu informasi yang mengejutkan mengenai bagaimana anak-anak belajar, apa yang dipelajari anak-anak, dan apa yang bisa dipelajari anak-anak.
Hasil penelitian juga mendapatkan, ternyata anak yang cedera otak-pun dapat membaca dengan baik pada usia tiga tahun atau lebih muda lagi. Jelaslah bahwa ada sesuatu yang salah pada apa yang sedang terjadi, pada anak-anak sehat, jika di usia ini belum bisa membaca.

Penelitian tentang Otak Anak
Bagi otak tidak ada bedanya apakah dia ‘melihat’ atau ‘mendengar’ sesuatu. Otak dapat mengerti keduanya dengan baik. Yang dibutuhkan adalah suara itu cukup kuat dan cukup jelas untuk didengar telinga, dan perkataan itu cukup besar dan cukup jelas untuk dilihat mata sehingga otak dapat menafsirkan. Kalau telinga menerima rangsang suara, baik sepatah kata atau pesan lisan, maka pesan pendengaran ini diuraikan menjadi serentetan impuls-impuls elektrokimia dan diteruskan ke otak yang bisa melihat untuk disusun dan diartikan menjadi kata-kata yang dapat dipahami. Begitu pula kalau mata melihat sebuah kata atau pesan tertulis. Pesan visual ini diuraikan menjadi serentetan impuls elektrokimia dan diteruskan ke otak yang tidak dapat melihat, untuk disusun kembali dan dipahami. Baik jalur penglihatan maupun jalur pendengaran sama-sama menuju ke otak dimana kedua pesan ditafsirkan otak dengan proses yang sama.

Dua faktor yang sangat penting dalam mengajar anak:
1. Sikap dan pendekatan orang tua
Syarat terpenting adalah, bahwa diantara orang tua dan anak harus ada pendekatan yang menyenangkan, karena belajar membaca merupakan permainan yang bagus sekali.
Belajar adalah:
  • Hadiah, bukan hukuman
  • Permainan yang paling menggairahkan, bukan bekerja
  • Bersenang-senang, bukan bersusah payah
  • Suatu kehormatan, bukan kehinaan
2. Membatasi waktu untuk melakukan permainan ini sehingga betul-betul singkat. Hentikan permainan ini sebelum anak itu sendiri ingin menghentikannya.
Bahan yang sesuai:
a. bahan-bahan dibuat dari kertas putih yang agak kaku (karton poster)
b. kata-kata yang dipakai ditulis dengan spidol besar
c. tulisannya harus rapi dan jelas, model hurufnya sederhana dan konsisten

Tahap-tahap mengajar:
TAHAP PERTAMA : (perbedaan penglihatan)
Mengajarkan anak anda membaca dimulai menggunakan hanya lima belas kata saja. Jika anak anda sudah mempelajari 15 kata ini, dia sudah siap untuk melangkah ke perbendaharaan kata-kata lain.
1. Ukuran karton : tinggi 15 cm, panjang 60 cm
2. Ukuran huruf, tinggi 12,5 cm dan lebar 10 cm, serta setiap huruf berjarak kira-kira 1,25 cm
3. Huruf berwarna merah
4. Gunakan huruf kecil (bukan huruf kapital)
5. Buatlah hanya 15 kata, misal : IBU (UMMI/MAMA/BUNDA), BAPAK (ABI/PAPA/AYAH)
6. Ke-15 kata-kata pertama harus terdiri dari kata-kata yang paling dikenal dan paling dekat dengan lingkungannya yaitu nama-nama anggota keluarga, binatang peliharaan, makanan kesukaan, atau sesuatu yang dianggap penting untuk diketahui oleh sang anak.

Hari Pertama
Gunakan tempat bagian rumah yang paling sedikit terdapat benda-benda yang dapat mengalihkan perhatian, baik pendengarannya maupun penglihatannya. Misalnya, jangan ada radio yang dibunyikan.
  1. Tunjukkan kartu bertuliskan IBU/AYAH atau yang lainnya
  2. Jangan sampai ia dapat menjangkaunya
  3. Katakan dengan jelas ‘ini bacaannya IBU/AYAH’
  4. Jangan jelaskan apa-apa
  5. Biarkan dia melihatnya tidak lebih dari 1 detik
  6. Tunjukkan 4 kartu lainnya dengan cara yang sama
  7. Jangan meminta anak mengulang apa yang anda ucapkan
  8. Setelah kata ke-5, peluk, cium dengan hangat dan tunjukkan kasih sayang dengan cara yang menyolok
  9. Ulangi 3 kali dengan jarak paling sedikit 1,5 jam

Hari Kedua
  1. Ulangi pelajaran dasar hari pertama 3 kali
  2. Tambahkan lima kata baru yang harus diperlihatkan 3 kali sepanjang hari kedua. Jadi ada 6 pelajaran
  3. Jangan lupa menunjukkan rasa bangga anda
  4. Jangan lakukan test, belum waktunya !
Hari Ketiga
1. Lakukan seperti hari ke-2
2. Tambahkan lima kata baru seperti hari kedua sehingga menjadi 9 pelajaran

Hari keempat, kelima, keenam ulangi seperti hari ketiga tanpa menambah kata-kata baru.

Hari Ketujuh
Beri kesempatan pada anak untuk memperlihatkan kemajuannya:
  1. Pilih kata kesukaannya
  2. Tunjukkan kepadanya dan ucapkan denga jelas ‘ini apa?’
  3. Hitung dalam hati sampai sepuluh, Jika anak anda mengucapkan, pastikan anda gembira dan tunjukkan kegembiraan anda Jika anak anda tidak memberikan jawaban atau salah, katakan dengan gembira apa bunyi kata itu dan teruskan pelajarannya.
Ancaman
Kebosanan adalah satu-satunya ancaman. Jangan sampai anak menjadi bosan. “Mengajarnya terlalu lambat akan lebih cepat membuatnya bosan daripada mengajarnya terlalu cepat”
Pada tahap pertama ini, dua hal luar biasa telah anda lakukan:
  1. Dia sudah melatih indera penglihatan, dan yang lebih penting: dia telah melatih otaknya cukup baik untuk dapat membedakan bentuk tulisan yang satu dengan yang lainnya.
  2. Dia sudah menguasai salah satu bentuk abstraksi yang paling luar biasa dalam hidupnya: dia dapat membaca kata-kata. Hanya ada satu lagi abstraksi besar harus dikuasainya, yaitu huruf-huruf dalam abjad.

TAHAP KEDUA : (kata-kata diri)
Kita mulai mengajarkan anak membaca dengan menggunakan kata-kata ‘diri’ karena anak memang mula-mula mempelajari badannya sendiri.
1. Ukuran karton 12,5 tinggi dan 60 cm panjang
2. Ukuran huruf 10 cm tinggi dan 7,5 cm lebar dengan jarak 1 cm
3. Huruf dan warna seperti tahap pertama
4. Buat 20 kata-kata tentang dirinya, misalnya: tangan kaki gigi jari kuku lutut mata perut
lidah pipi kuping dagu dada leher paha siku hidung jempol rambut bibir
5. Dari 3 kelompok kata masing-masing 5 kata di tahap awal, ambil masing-masing 1 kata lama dan tambahkan dengan 1 kata baru di tahap kedua
6. Dari 20 kata baru pada tahap kedua, ambil 10 kata dan jadikan 2 kelompok kata masing-masing 5 kata
7. Jadi sekarang anda memiliki:
- 3 kelompok kata dari tahap pertama yang sudah ditambah kata-kata baru
- 2 kelompok kata baru dari tahap kedua
- total 5 kelompok kata = 25 kata
8. Lakukan seperti tahap pertama
9. Setelah 5 hari ganti 1 kata dari masing-masing kelompok dengan kata baru, sehingga anak mempelajari 5 kata baru.
10. Setelah itu setiap hari ganti 1 kata lama dari masing-masing kelompok data dengan 1 kata baru. Dengan demikian setiap hari anak belajar 5 kata baru masing-masing satu dalam setiap
kelompok kata, dan 5 kata lama diambil setiap harinya.

TIPS:
  1. Usahakan jangan ada 2 kata yang dimulai dengan yang sama secara berurutan, misalnya ‘lidah’ dengan ‘lutut’
  2. Anak-anak usia 6 bulan sudah bisa diajarkan. Lakukan dengan cara yang persis sama kalau anda mengajarnya berbicara
  3. Ingat, membaca bukan berbicara
  4. Usaha mengajar bayi membaca dapat membaca dapat mempercepat berbicara dan memperluas perbendaharaan kata.

TAHAP KETIGA : (kata-kata ‘rumah’)
Sampai tahap ini, baik orang tua maupun anak harus melakukan permainan membaca ini dengan kesenangan dan minat besar. Ingatlah bahwa anda sedang menanamkan cinta belajar dalam diri anak anda, dan kecintaan ini akan berkembang terus sepanjang hidupnya. Lakukan permainan ini dengan gembira dan penuh semangat.
  1. Ukuran karton 7,5 cm tinggi dan 30 cm panjang
  2. Ukuran huruf 5 cm tinggi dan 3,5 cm lebar dengan jarak lebih dekat
  3. Huruf dan warna seperti tahap tahap kedua
  4. Terdiri dari nama-nama benda di sekeliling anak serta lebih dari 2 suku kata, misalnya: kursi, meja, dinding, lampu, pintu, tangga, jendela, dll
  5. Gunakan cara pada tahap kedua dengan setiap hari menambah 5 kata baru dari tahap ke tiga
  6. Setelah kata benda, masukkan kata milik, misalnya: piring, gelas, topi, baju, jeruk, celana,sepatu, dll.
  7. Setelah itu masukkan kata perbuatan, misalnya: duduk, berdiri, tertawa, melompat, membaca, dll
  8. Pada tahap kata perbuatan , agar lebih menarik, sambil menunjukkan kata tersebut, anda praktekkan sambil katakana ‘Ibumelompat’, ‘kakak melompat’, dsb
TAHAP KEEMPAT :
  1. Ukuran kartu 4 cm tinggi dan 20 cm panjang
  2. Ukuran huruf 5 cm
  3. Huruf kecil, warna hitam
  4. Tunjukkan kata demi kata seperti tahap sebelumnya lalu gabungkan misalnya ‘ini’ dan kata ‘bola’ menjadi ‘ini bola’.
  5. Lakukan beberapa kata beberapa kali setiap hari.
TAHAP KELIMA : (susunan kata dalam kalimat)
  1. Pilihkan buku sederhana dengan syarat : Perbendaharaan kata tidak lebih dari 150 kata Jumlah kata dalam 1 halaman tidak lebih dari 15-20 kata Tinggi huruf tidak kurang dari 5 mm Sedapat mungkin teks dan gambar terpisah. Carilah yang mendekati persyaratan tersebut
  2. Salinlah kata-kata yang ada setiap halaman tersebut ke dalam satu kartu kira-kira ukuran 1 kertas A4. Huruf hitam, ukuran tinggi huruf 2,5 cm. Jumlah kartu ’susunan kata-kata’ sama dengan jumlah halaman buku. Ukuran kartu harus sama walaupun jumlah kata tidak sama. Sekarang anda sudah mempunyai kartu-kartu dengan kata-kata yang ada dalam setiap halaman buku yang akan dibaca anak. Lubangi sisi kartu-kartu untuk dijilid menjadi sebuah buku yang isinya sama namun ukurannya lebih besar.
  3. Bacakan kartu demi kartu pelan-pelan, sehingga anak belajar kalimat demi kalimat.
  4. Bacakan dengan ekspresi sesuai dengan kalimat bacaan.
  5. Lakukan secara rutin, minimal 5 kartu sebanyak 3 kali selama 5 hari.
  6. Ketika membaca kartu pada hari lainnya, kartu yang lama sebaiknya diulang. Setelah selesai kartu-kartu dibaca, simpanlah beurutan di dalam sebuah map atau dibinding deperti buku.
  7. Pada saat selesai 1 buku, berilah ijazah yg ditandatangani ibu, yg menyatakan bahwa pada hari ini, tanggal ini, pada usia anak sekian, telah selesai dibaca buku ini.
TAHAP KEENAM : (susunan kata dalam kalimat)
Pada tahap ini, anak sudah siap membaca buku yg sebenarnya, karena dia sudah 2 kali melakukan hal itu. Perbedaan ukuran huruf dari 5 cm (Tahap 4), 2,5 cm (Tahap 5) dan 5 mm (Tahap 6 ini) adalah sangat berarti khususnya bagi anak yang masih sangat muda, karena itu juga berarti anda membantu mendewasakan dan memperbaiki indera penglihatannya.
Kunci Keberhasilan
1. Jangan membosankan anak
2. Jangan memaksa anak
3. Jangan tegang
4. Jangan mengajarkan abjad terlebih dahulu
5. Bergembiralah
6. Ciptakan cara baru
7. Jawablah semua pertanyaan anak
8. Berilah buku bacaan yang bermutu

Penutup
Pada dasarnya anak memiliki kemampuan yang luar biasa, khususnya pada usia yg semakin kecil. Hanya diperlukan perhatian, kemauan,ketekunan serta yang utama kasih sayang orangtua untuk membuatnya mampu mengeluarkan potensinya yg luar biasa tsb.
Keinginan orangtua pada umumnya adalah :
  1. Menginginkan anak mereka bahagia di dalam hidupnya dengan menjadikan anak mereka tangguh dan siap bersaing.
  2. Untuk itu dibutuhkan anak yg cerdas baik rasional maupun emosional serta rasa ingin tahu yang besar.
  3. Anak dapat diketahui rasa ingin tahunya yang besar dari banyaknya pertanyaan yg diajukannya.
  4. Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, anak harus dibimbing supaya suka membaca.
  5. Agar anak suka membaca, dibutuhkan kemampuan membaca dan sarana untuk membaca yang tidak lepas dari buku.
Jadi, dengan buku yg merupakan “JENDELA ILMU”, anak akan mampu membuka cakrawala kehidupan masa depannya dengan keceriaan. (Ikatan Dokter Indonesia)
“Selamat berkarya untuk anak-anak tercinta !”

Sumber: Buku “Men gajar Bayi Membaca” - Glenn Doman

Sunday, January 31, 2010

Pemeriksaan Antropometri

Pemeriksaan Antropometri
Antropometri menurut Hinchiliff (1999) adalah pengukuran tubuh manusia dan bagian-bagiannya dengan maksud untuk membandingkan dan menentukan norma-norma untuk jenis kelamin,usia, berat badan, suku bangsa dll. Antropometri dilakukan pada anak-anak untuk menilai tumbuh kembang anak sehingga dapat ditentukan apakah tumbuh kembang anak berjalan normal atau tidak. Ketepatan dan ketelitian pengukuran sangat penting dalam menilai pertumbuhan secara benar. Kesalahan atau kelalaian dalam cara pengukuran akan mempengaruhi hasil pengamatan. Adapun cara pengukurannya adalah sebagai berikut :
A. Pengukuran Berat Badan
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat timbangan
yang harus ditera secara berkala. Jenis alat timbangan sesuai dengan umur anak.

B. Pengukuran tinggi badan
Pada anak dibawah usia lima tahun dilakukan secara berbaring .Pengukuran dilakukan dari telapak kaki sampai ujung puncak kepala. Jika pengukuran dilakukan saat berdiri maka posisi anak harus berdiri tegak lurus, sehingga tumit, bokong dan bagian atas punggung terletak pada dalam 1 garis vertical, sedangkan liang telinga dan bagian bawah orbita membentuk satu garis horizontal.
C. Pengukuran lingkar kepala
Pengukuran ini terutama dilakukan pada bayi sampai umur 3 tahun. Pada anak lebih dari 3 tahun bukan mnerupakan pemeriksan yang rutin. Pita ukur diletakkan pada oksiput melingkar ke arah supraorbita dan glabela.
D. Pengukuran lingkar dada
Dilakukan pada bayi/anak dalam keadaan bernafas biasa dengan titik ukur pada areola mammae.
E. Pengukuran lingkar perut
Pengukuran dimulai dari umbilicus melingkar kearah punggung sehingga membentuk bidang yang tegak lurus pada poros tubuh bayi/anak


http://askep-askeb.cz.cc/

Tuesday, January 26, 2010

Bounding Attachment

Pengertian Bounding Attachment

  • Klause dan Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir.

  • Nelson (1986), bounding: dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir, attachment: ikatan yang terjalin antara individu yang meliputi pencurahan perhatian; yaitu hubungan emosi dan fisik yang akrab.

  • Saxton dan Pelikan (1996), bounding: adalah suatu langkah untuk mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir; attachment: adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.

  • Bennet dan Brown (1999), bounding: terjadinya hubungan antara orang tua dan bayi sejak awal kehidupan, attachment: pencurahan kasih sayang di antara individu.

  • Brozeton (dalam Bobak, 1995): permulaan saling mengikat antara orang-orang seperti antara orang tua dan anak pada pertemuan pertama.

  • Parmi (2000): suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling merespon antara orang tua dan bayi lahir.

  • Perry (2002), bounding: proses pembentukan attachment atau membangun ikatan; attachment: suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan dengan kualitas-kualitas yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi.

  • Subroto (cit Lestari, 2002): sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orang tua dan bayi.

  • Maternal dan Neonatal Health: adalah kontak dini secara langsung antara ibu dan bayi setelah proses persalinan, dimulai pada kala III sampai dengan post partum.

  • Harfiah, bounding: ikatan; attachment: sentuhan.


  • Tahap-Tahap Bounding Attachment



    1. Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, erbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.

    2. Bounding (keterikatan)

    3. Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.


    Menurut Klaus, Kenell (1982), bagian penting dari ikatan ialah perkenalan.


    Elemen-Elemen Bounding Attachment



    1. Sentuhan – Sentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.

    2. Kontak mata – Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennell, 1982).

    3. Suara – Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.

    4. Aroma – Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter, Cernoch, Perry, 1983). Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainto, 1985).

    5. Entrainment – Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.

    6. Bioritme – Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.

    7. Kontak dini – Saat ini , tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orang tua–anak.

    http://askep-askeb.cz.cc/

    Namun menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini :



    1. Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat.

    2. Reflek menghisap dilakukan dini.

    3. Pembentukkan kekebalan aktif dimulai.

    4. Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak (body warmth (kehangatan tubuh); waktu pemberian kasih sayang; stimulasi hormonal).


    Prinsip-Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bounding Attachment



    1. Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).

    2. Sentuhan orang tua pertama kali.

    3. Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak.

    4. Kesehatan emosional orang tua.

    5. Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.

    6. Persiapan PNC sebelumnya.

    7. Adaptasi.

    8. Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.

    9. Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.

    10. Fasilitas untuk kontak lebih lama.

    11. Penekanan pada hal-hal positif.

    12. Perawat maternitas khusus (bidan).

    13. Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan.

    14. Informasi bertahap mengenai bounding attachment.


    Keuntungan Bounding Attachment



    1. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.

    2. Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.


    Hambatan Bounding Attachment



    1. Kurangnya support sistem.

    2. Ibu dengan resiko (ibu sakit).

    3. Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).

    4. Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.


    Referensi

    Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 63-65)

    Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC. (hlm: 54-55). books.google.co.id/books?id=ZkPup-5Ozy8C&pg=PA54&lpg=PA54&dq=pengertian+bounding+attachment&source=….

    Desty, dkk. 2009. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.

    Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 64-66).

    Telli, L. Bounding Attachment. Diunduh 15 Januari 2010, 10:15 PM. akbidypsdmi.net/download/pdf/asuhan26.pdf

    http://askep-askeb.cz.cc/

    Sunday, January 24, 2010

    TETANUS dan TETANUS NEONATORUM

    TETANUS dan TETANUS NEONATORUM
    Tetanus
    Definisi
    Penyakit infeksi dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran.

    Etiologi
    Disebabkan eksotoksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman, yang menghambat neurotransmitter pada sinaps ganglion sambungan sum-sum tulang belakang dengan neuromuskuler (neuromuskuler junction) dan saraf otonom.
    Etiologi
    Clostridium Tetanii :
    Kuman berbentuk batang
    Gram positif
    Berspora dengan ujung berbentuk genderang
    Obligant anaerob dan menghasilkan eksotoksin
    Etiologi
    Tempat Masuk kuman/spora melalui :
    Luka tusuk
    Patah tulang
    Gigitan binatang
    Luka bakar luas
    Luka operasi
    Luka gigi
    Pemotongan tali pusat tidak steril
    Patogenesis
    Spora masuk lewat luka ke dalam tubuh,
    Pada lingkungan anaerobik akan berubah bentuk menjadi bentuk vegetatif serta menghasilkan eksotoksin yang menyebar lewat motor endplate dan aksis silindris saraf tepi ke kornu anterior sum-sum tulang belakang,
    Menyebar ke seluruh saraf pusat.
    Patogenesis
    Toksin tersebut akan menimbulkan gangguan, enzim kolinesterase tidak aktif sehingga kadar asetilkolin menjadi tinggi dan blokade pada sinaps yang terkena, mengakibatkan tonus otot meningkat dan menimbulkan kekakuan.


    Laboratorium

    Tak ada yang spesifik, biakan kuman memerlukan prosedur khusus untuk kuman anaerobik dan mahal.
    Gejala Klinis
    Masa inkubasi 5 - 14 hari, terpendek 2 hari.
    Demam ringan dengan gejala lain :
    Trismus, risus sardonikus, opistotonus, otot dinding perut kaku seperti papan, kejang dan gangguan saraf otonom.
    Gangguan irama jantung, suhu meningkat, berkeringat, kekakuan otot sfingter dan otot polos sehingga terjadi retensio urine, spasme laring dan gangguan otot pernafasan.

    Gejala Klinis
    Secara praktis Tetanus dapat dibagi menjadi :
    1. Tetanus ringan
    Trismus tanpa rangsang kejang.
    2. Tetanus sedang
    Kaku, tanpa kejang spontan, rangsang kejang positif.
    3. Tetanus berat
    Kaku, kejang spontan, rangsang kejang positif.


    Komplikasi
    Pada neonatus sering terjadi sepsis.
    Pada anak sering terjadi :
    Bronkopneumonia
    Kekakuan otot laring dan pernafasan
    Aspirasi
    Fraktur kompresi
    Prognosis
    Tergantung pada :
    Umur penderita
    Masa inkubasi
    Onset penyakit
    Berat ringannya tetanus
    Kecepatan pemberian ATS

    Pencegahan

    Perawatan luka, terutama luka kotor dan dalam
    ATS profilaksis
    Perawatan tali pusat (kebersihan persalinan)
    Imunisasi aktif
    Diagnosis

    Berdasarkan Gejala klinis dan
    Anamnesis yang teliti.
    Diagnosis Banding
    Bisa dengan :
    Meningitis
    Meningoensefalitis
    Ensefalitis
    Keracunan striknin
    Rabies
    Abses tonsilar
    Mastoiditis
    Penatalaksanaan
    Umum
    Mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi
    Menjaga saluran nafas tetap bebas
    Mengatasi kejang
    Penatalaksanaan
    Mengatasi Kejang :
    Diazepam 0,1 – 0,3 mg/KgBB/kali tiap 2-4 jam IV (IntraVena) atau rectal.
    Bila kejang berhenti dilanjutkan dengan dosis rumatan.
    Bila klinis membaik dosis dipertahankan 3-5 hari kemudian.
    Bila kejang tidak berhenti pertimbangkan dirawat di ICU.
    Penatalaksanaan
    … Mengatasi Kejang

    Tetanus Berat
    Diazepam 20 mg/KgBB/hari drip infus IV perlahan, dan dirawat di ICU.
    Dosis pemeliharaan 8 mg/KgBB/hari, oral dibagi 6-8 dosis.
    Penatalaksanaan
    … Mengatasi Kejang

    Perawatan luka dengan perhidrol 3% atau rivanol, perawatan tali pusat dengan steril, konsul gigi atau THT jika dicurigai sebagai tempat masuk.
    Penatalaksanaan
    Khusus
    Antibiotik :
    PP (Penicillin Prokain) 50 U/KgBB/hari IM tiap 12 jam selama 7-10 hari, atau
    Ampicillin 150 mg/KgBB/hari dibagi 4 dosis.
    Penatalaksanaan
    … Khusus

    Metronidazole loading dose 15 mg/KgBB/jam selanjutnya 7,5 mg/KgBB tiap 6 jam, atau
    Eritromisin 50 mg/KgBB/hari per oral dibagi 4 dosis.

    Penatalaksanaan
    … Khusus

    Antiserum (ATS) 50.000 – 100.000 unit, separoh IV dan separohnya IM, didahului skin test.
    Apabila tersedia Human Tetanus Imunoglobulin (HTIG) 3000-6000 IU, IM dapat diberikan.

    Tetanus Neonatorum
    Definisi

    Penyakit yang terjadi pada bayi baru lahir, disebabkan oleh kuman “Clostridium Tetanii”, yang masuk melalui luka tali pusat atau tempat lainnya karena tindakan yang tidak memenuhi syarat kebersihan.
    Dasar Diagnosis
    Bayi tiba-tiba panas dan tidak mau atau tidak dapat menetek lagi (trismus).
    Sebelumnya bayi menetek biasa.
    Mulut mencucu seperti mulut ikan (kapermond), mudah sekali dan sering kejang disertai sianosis, kaku kuduk sampai opistotonus.
    Pengobatan
    IVFD D5% + NaCl fisiologis (4 : 1) selama 48 – 72 jam sesuai dengan kebutuhan, selanjutnya IVFD untuk memasukkan obat.
    Diazepam dosis awal 2,5 mg IV perlahan-lahan selama 2-3 menit.
    Dosis rumatan 8-10 mg/KgBB/hari melalui IVFD (Diazepam dimasukkan dalam cairan IV dan diganti tiap 6 jam).
    Pengobatan
    … Diazepam dosis awal …

    Bila kejang masih timbul, boleh diberikan diazepam tambahan 2,5 mg secara IV perlahan-lahan dan dalam 24 jam boleh diberikan tambahan diazepam 5 mg/KgBB/hari sehingga dosis diazepam keseluruhan menjadi 15 mg/KgBB/hari.
    Setelah klinis membaik, diazepam diberikan per oral dan diturunkan secara bertahap.
    Pengobatan
    ATS 10.000 UI/hari dan diberikan selama 2 hari berturut-turut.
    Ampicillin 100 mg/KgBB/hari dibagi 4 dosis secara IV selama 10 hari.
    Tali pusat dibersihkan dengan alkohol 70% atau betadine.
    Pengobatan
    Perhatikan jalan nafas, diuresis dan keadaan vital lainnya.
    Bila banyak lendir jalan nafas dibersihkan dan perlu diberikan oksigen.

    Pencegahan

    Ibu hamil harus mendapat imunisasi TT (Tetanus Toxoid).
    Diagnosa Keperawatan
    Risiko terjadi cedera fisik b.d serangan kejang berulang.
    Risiko jalan nafas tidak efektif b.d sekunder dari depresi pernafasan.
    Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi sekret yang berlebih pada jalan nafas.
    Diagnosa Keperawatan
    Kurang pengetahuan keluarga tentang penanganan penyakitnya b.d keterbatasan informasi.
    Peningkatan suhu tubuh b.d reaksi eksotoksin.

    Sumber : Materi Kuliah Keperawatan Anak
    STIKes Muhammaadiyah Banjarmasin 2009
    dosen : Kamilah F Mustika, S.Kep.Ners
    http://askep-askeb.cz.cc/

    ASKEP NEONATUS dengan RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS)

    ASKEP NEONATUS dengan RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS)
    Latar Belakang
    Penyakit saluran pernapasan adalah salah satu penyebab kesakitan dan kematian yang paling sering pada anak terutama pada bayi, dikarenakan :
    Saluran pernafasan yang masih sempit
    Daya tahan tubuh yang masih rendah
    Latar Belakang
    Gangguan pernafasan pada bayi dan anak dapat disebabkan :
    Kelainan organik
    Trauma
    Alergi
    Infeksi
    dan lain-lain
    Latar Belakang
    Gangguan pernapasan dapat terjadi sejak bayi baru lahir (BBL), yang paling sering ditemukan :
    Respiratory Distress Syndrome (RDS), atau
    Idiopatic Respiratory Distress Syndrome (IRDS) yang terdapat pada bayi premature.
    Definisi
    RDS adalah perkembangan yang immature pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru.
    RDS dikatakan sebagai Hyaline Membrane Disease.
    (Suryadi dan Yuliani, 2001)
    Definisi
    RDS adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda takipnea (>60 x/menit), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik. (Stark, 1986)
    Definisi
    Sindrom gawat nafas pada neonatus (SGNN) atau respiratory distress syndrome (RDS), merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperapnea.

    Etiologi
    RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, karena kurangnya produksi surfaktan.
    Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, makin muda usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadi RDS.
    RDS merupakan penyebab utama kematian bayi prematur.
    Sindrom ini dapat terjadi karena ada kelainan di dalam atau diluar paru, sehingga tindakan disesuaikan dengan penyebab sindrom ini.
    Kelainan dalam paru yang menunjukan sindrom ini adalah :
    Pneumothoraks/pneumomediastinum
    Penyakit membran hialin (PMH)
    Pneumonia
    Aspirasi

    Fisiologi
    Penilaian keadaan pernafasan dapat dilakukan dengan mengamati gerakan dada dan atau perut.
    Neonatus normal biasanya mempunyai pola pernafasan abdominal.
    Bila anak sudah dapat berjalan pernafasannya menjadi thorakoabdominal.
    Pola pernafasan normal adalah teratur dengan waktu ekspirasi lebih panjang daripada waktu inspirasi, karena pada inspirasi otot pernafasan bekerja aktif, sedangkan pada waktu ekspirasi otot pernapasan bekerja secara pasif.

    Patofisiologi
    Pada RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya zat yang disebut surfaktan.
    Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II.
    Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke 35.
    Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%).
    Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine seperti hipertensi dan kehamilan kembar.
    Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi.
    Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis. i
    Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
    Oksigenasi jaringan menurun  metabolisme anaerobik dengan penimbunan asam laktat asam organic  asidosis metabolic.
    Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris  transudasi kedalam alveoli  terbentuk fibrin  fibrin dan jaringan epitel yang nekrotik lapisan membrane hialin.
    Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantung, penurunan aliran darah ke paru, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang menyebabkan terjadinya atelektasis.
    Manifestasi Klinis
    Takipnea (>60 x/menit)
    Retraksi dada
    Sianosis pada udara kamar
    X-ray thorak spesifik
    yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan.

    Manifestasi Klinis
    Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah melalui PDA. (Stark, 1986)
    Syndrom ini berhubungan dengan kerusakan awal paru-paru yang terjadi di membran kapiler alveolar.
    Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam ruang interstitial yang dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan, akibatnya terjadi tanda-tanda atelektasis.
    Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru.
    Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak, oleh karena itu mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum.

    Diagnosa Keperawatan
    Gangguan pola nafas b.d belum terbentuknya zat surfaktan dalam tubuh.
    Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
    Resiko tinggi gangguan kebutuhan cairan kurang dari kebutuhan tubuh b.d seringnya BAB dan BAK.
    Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b.d belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit.
    Kecemasan orangtua b.d kurang pengetahuan orangtua tentang kondisi bayi.
    Rencana Keperawatan
    Gangguan pola nafas b.d belum terbentuknya zat surfaktan dalam tubuh.
    Ditandai dengan :
    RR 78 x/menit
    Retraksi dinding dada (+)
    Retraksi dinding efigastrium (+)
    Bayi tampak lemah
    Rencana Keperawatan
    Dx.1

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan gangguan pola nafas dapat teratasi. Kriteria Evaluasi :
    RR 60 x/menit
    Sesak (-)
    Sianosis (-)
    Retraksi dinding dada (-)
    Reaksi diafragma (-)
    Rencana Keperawatan
    Dx.1

    Intervensi dan Rasional :
    Observasi pola nafas
    R : Mengetahui frekuensi nafas
    Observasi TTV
    R : Mengetahui keadaan umum bayi
    Monitor SPO2
    R : Mengetahui kadar O2 dalam darah
    Atur posisi semi ekstensi
    R : Memudahkan paru-paru mengembang saat ekspansi
    Rencana Keperawatan
    Dx.1

    Intervensi dan Rasional :
    Tempatkan bayi pada tempat yang hangat
    R : Mempertahankan suhu tubuh
    Atur suhu dalam inkubator
    R : Membantu memenuhi suplai O2
    Berikan terapy O2 sesuai dengan kebutuhan
    R : Membantu kemudahan dalam bernafas
    Kolaborasi pemberian terapy obat Bronchodilator
    R : Obat Bronchodilator berfungsi untuk membuka broncus guna memudahkan dalam pertukaran udara
    Rencana Keperawatan
    Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
    Ditandai dengan :
    Reflek hisap lemah
    Retensi lambung 0,5 cc
    Bising usus 4x/menit
    Bayi tampak lemah
    Rencana Keperawatan
    Dx.2

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi.

    Kriteria Evaluasi :
    Reflek hisap (+)
    Retensi lambung (-)
    Bising usus 8x/menit
    Rencana Keperawatan
    Dx.2

    Intervensi dan Rasional :
    Pertahankan pemberian cairan melalui IVFD, Glukosa 10%
    R : Mempertahankan kebutuhan cairan dalam tubuh
    Kaji kesiapan bayi untuk minum
    R : Mengetahui reflek hirup
    Retensi cairan lambung
    R : Mengetahui cairan lambung dan konsistensinya
    Rencana Keperawatan
    Dx.2

    Intervensi dan Rasional :
    Berikan minum sesuai jadwal
    R : Memberikan cairan tambahan melalui oral
    Timbang BB
    R : Mengetahui status nutrisi
    Rencana Keperawatan
    Resiko tinggi gangguan kebutuhan cairan kurang dari kebutuhan tubuh b.d seringnya BAB dan BAK.
    Ditandai dengan :
    Turgor kulit jelek
    Pada mukosa bibir terdapat keputihan
    Bayi sering BAK
    Bayi terpasang infus
    Rencana Keperawatan
    Dx.3

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan gangguan kebutuhan cairan tidak terjadi.

    Kriteria Evaluasi :
    Turgor kulit baik/elastis
    Mukosa bibir tak tampak keputihan
    Frekuansi BAK normal
    Rencana Keperawatan
    Dx.3

    Intervensi dan Rasional :
    Kaji turgor kulit
    R : Mengetahui tanda dehidrasi
    Pertahankan pemberian cairan IVFD
    R : Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh
    Beri minum sesuai jadwal
    R : Mencegah terjadinya kekurangan cairan
    Pantau frekuensi BAB + BAK
    R : Mengetahui output tubuh
    Rencana Keperawatan
    Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b.d belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit.
    Ditandai dengan :
    Suhu bayi 36,5 °C
    Bayi didalam inkubator dengan suhu 32 °C
    Bayi tidak menggunakan baju
    Rencana Keperawatan
    Dx.4

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan suhu tubuh tetap normal.

    Kriteria Evaluasi :
    Suhu 37 °C
    Bayi tidak kedinginan
    Rencana Keperawatan
    Dx.4

    Intervensi dan Rasional :
    Tempatkan bayi pada tempat yang hangat
    R : Mencegah terjadinya hipotermi
    Atur suhu inkubator
    R : Menjaga kestabilan suhu tubuh
    Pantau suhu tubuh setiap 2 jam
    R : Memonitor perkembangan suhu tubuh bayi
    Rencana Keperawatan
    Kecemasan orangtua b.d kurang pengetahuan orangtua tentang kondisi bayi.
    Ditandai dengan :
    Ibu klien mengatakan kapan anaknya bisa pulang
    Ibu tampak cemas
    Ibu menangis
    Rencana Keperawatan
    Dx.5

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan cemas keluarga (orangtua) bayi berkurang.

    Kriteria Evaluasi :
    Ibu tidak menangis
    Mimik/verbal tidak cemas
    Rencana Keperawatan
    Dx.5

    Intervensi dan Rasional :
    Kaji tingkat kecemasan
    R : Mengetahui koping individu
    Berikan penjelasan tentang keadaan klien saat ini
    R : Meningkatkan pengetahuan orang tua
    Berikan kesempatan kepada keluarga untuk mengungkapkan perasaan
    R : Membina hubungan saling percaya
    Anjurkan keluarga untuk tetap mengunjungi bayinya

    Sumber : Materi Kuliah Keperawatan Anak
    STIKes Muhammadiyah Banjarmasin 2009
    Dosen :Kamilah F Mustika, S.Kep.Ners

    http://askep-askeb.cz.cc/

    Monday, January 4, 2010

    Perdarahan intrakranial pada neonatus

    Perdarahan intrakranial pada neonatus:
    Perdarahan intrakranial pada neonatus (PIN) tidak jarang
    dijumpai. PIN mempunyai arti penting karena dapat menye-
    babkan kematian atau cacat jasmani dan mental
    1 . PIN ialah perdarahan dalam rongga kranium dan isinya pada bayi sejak
    lahir sampai umur 4 minggu. Sebabnya PIN banyak. Sering
    PIN tak dikenal/dipikirkan karena gejala gejalanya tidak khas.
    PIN meliputi perdarahan epidural, subdural, subaraknoid,
    intraserebral/parenkim dan intraventrikuler
    2 . Penatalaksanaan dan penanggulangan PIN masih kurang memuaskan. Untuk
    menurunkan angka kejadian PIN, usaha yang lebih penting
    ialah profilaksis seperti perawatan prenatal, pertolongan
    persalinan dan perawatan postnatal yang sebaik-baiknya. Pada
    umumnya prognosis PIN tidak terlalu menggembirakan.
    Makalah ini membahas sekedar insidensi, etiologi, patogene-
    sis, gambaran klinik, diagnosis, penatalaksanaan, prognosis dan
    pencegahan PIN yang berkaitan dengan persalinan.

    INSIDENSI
    Dilaporkan angka berbeda-beda tentang insidensi PIN. Holt 3 menemukan pada otopsi bayi-bayi lahir mati dan yang meninggal dalam 2 minggu pertama, 30% PI. Menurut Saxena 4 13,1% kematian perinatal oleh PI. Angka kematian PI pada bayi prematur 5x lebih tinggi daripada bayi cukup bulan (BCB). Laki-laki : perempuan = 5 : 2,7 (Saxena), 1,9 : 1 (Banerjee) 4 , 6




    ETIOLOGI
    • Trauma kelahiran
    1. partus biasa.
    -- pemutaran/penarikan kepala yang berlebihan.
    -- disproporsi antara kepala anak dan jalan lahir sehingga terjadi mulase 6 .
    2. partus buatan (ekstraksi vakum, cunam).
    3. partus presipitatus.
    • Bukan trauma kelahiran:
    umumnya ditemukan pada bayi kurang bulan (BKB). Faktor dasar ialah prematuritas dan yang
    lain merupakan faktor pencetus PIN seperti hipoksia dan iskemia otak yang dapat timbul pada syok, infeksi intrauterin, asfiksia, kejang
    - kejang, kelainan jantung bawaan, hipotermi, juga hiperosmolaritas/hipernatremia 1,5,7
    Ada pula PIN yang disebabkan oleh penyakit perdarahan/gangguan pembekuan darah.


    PATOGENESIS
    Pada trauma kelahiran, perdarahan terjadi oleh kerusakan/ robekan pembuluh - pembuluh darah intrakranial secara langsung. Pada perdarahan yang bukan karena trauma kelahiran, faktor dasar ialah prematuritas; pada bayi-bayi tersebut, pembuluh darah otak masih embrional dengan dinding tipis, jaringan penunjang sangat kurang dan pada beberapa tempat
    tertentu jalannya berkelok kelok, kadang - kadang membentuk huruf U sehingga mudah sekali terjadi kerusakan bila ada faktor - faktor pencetus (hipoksia/iskemia). Keadaan ini ter- utama terjadi pada perdarahan intraventrikuler/periventrikuler.
    Perdarahan epidural/ ekstradural terjadi oleh robekan arteri atau vena meningika media antara tulang tengkorak dan duramater. Keadaan ini jarang ditemukan pada neonatus. Tetapi perdarahan subdural merupakan jenis PIN yang banyak dijumpai pada BCB. Di sini perdarahan terjadi akibat pecahnya vena-vena kortikal yang menghubungkan rongga subdural
    dengan sinus-sinus pada duramater. Perdarahan subdural lebih sering pada BCB daripada BKB
    sebab pada BKB vena-vena superfisial belum berkembang baik dan mulase tulang tengkorak sangat jarang terjadi 6 . Perdarahan dapat berlangsung perlahan-lahan dan membentuk hematoma subdural. Pada robekan tentorium serebeli atau vena galena dapat terjadi hematoma retroserebeler. Gejala-gejala dapat timbul segera dapat sampai berminggu-minggu, memberikan gejala - gejala kenaikan tekanan intrakranial. Dengan kemajuan dalam bidang obstetri, insidensi perdarahan subdural sudah sangat menurun. Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986 43

    Pada perdarahan subaraknoid, perdarahan terjadi di rongga subaraknoid yang biasanya ditemukan pada persalinan sulit. Adanya perdarahan subaraknoid dapat dibuktikan dengan
    fungsi likuor. Pada perdarahan intraserebral/intraserebeler, perdarahan terjadi dalam parenkim otak, jarang pada neonatus karena hanya terdapat pada trauma kepala yang sangat hebat (ke-
    celakaan) 8 .
    Perdarahan intraventrikuler dalam kepustakaan ada yang gabungkan bersama perdarahan intraserebral yang disebut perdarahan periventrikuler 7. Dari semua jenis PIN, perdarahan periventrikuler meme- gang peranan penting, karena frekuensi dan mortalitasnya tinggi pada bayi prematur. Sekitar 75--90% perdarahan peri ventrikuler berasal dari jaringan subependimal germinal matriks/jaringan embrional di sekitar ventrikel lateral.
    Pada perdarahan intraventrikuler, yang berperanan penting ialah hipoksia yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah otak dan kongesti vena. Bertambahnya aliran darah ini, meninggikan tekanan pembuluh darah otak yang diteruskan ke daerah anyaman kapiler sehingga mudah ruptur. Selain hipoksia, hiperosmolaritas pula dapat menyebabkan perdarahan
    intraventrikuler 1 Hiperosmolaritas antara lain terjadi karena hipernatremia akibat pemberian natrium bikarbonat yang berlebihan/plasma ekspander. Keadaan ini dapat meninggikantekanan darah otak yang diteruskan ke kapiler sehingga dapat pecah.

    GAMBARAN KLINIK
    Gejala-gejala PIN tidak khas, dan umumnya sukar didiagnosis jika tidak didukung, oleh riwayat persalinan yang jelas. Gejala-gejala berikut dapat ditemukan :
    • Fontanel tegang dan menonjol oleh kenaikan tekanan intrakranial, misalnya pada perdarahan subaraknoid.
    • Iritasi korteks serebri berupa kejang-kejang, irritable, twitching, opistotonus. Gejala-gejala ini baru timbul beberapa jam setelah lahir dan menunjukkan adanya perdarahan subdural , kadang-kadang juga perdarahan subaraknoid oleh robekan tentorium yang luas.
    • Mata terbuka dan hanya memandang ke satu arah tanpa reaksi. Pupil melebar, refleks cahaya lambat sampai negatif. Kadang-kadang ada perdarahan retina, nistagmus dan eksoftalmus.
    • Apnea: berat dan lamanya apnea bergantung pada derajat perdarahan dan kerusakan susunan saraf pusat. Apnea dapat berupa serangan diselingi pernapasan normal/takipnea dan sianosis intermiten.
    • Cephalic cry (menangis merintih).
    • Gejala gerakan lidah yang menjulur ke luar di sekitar bibir seperti lidah ular (snake like flicking of the tongue) menunjuk- kan perdarahan yang luas dengan kerusakan pada korteks 9.
    • Tonus otot lemah atau spastis umum. Hipotonia dapat berakhir dengan kematian bila perdarahan hebat dan luas. Jika perdarahan dan asfiksia tidak berlangsung lama, tonus otot akan segera pulih kembali. Tetapi bila perdarahan berlangsung lebih lama, flaksiditas akan berubah menjadi spastis yang menetap. Kelumpuhan lokal dapat terjadi misalnya kelumpuhan otot-otot pergerakan mata, otot-otot muka/anggota gerak (monoplegi/hemiplegi) menunjukkan perdarahan subdural/ parenkim. 44 Cermin Dunia Kedokteean No. 41, 1986
    • Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan ialah gangguan kesadaran (apati, somnolen, sopor atau koma), tidak mau minum, menangis lemah, nadi lambat/cepat, kadang-kadang ada hipotermi yang menetap. Apabila gejala-gejala tersebut di atas ditemukan pada bayi prematur yang 24--48 jam sebelumnya menderita asfiksia, maka PI dapat dipikirkan. Berdasarkan perjalanan klinik, PIN dapat dibedakan 2 sindrom 7:
    1. saltatory
    syndrome: gejala klinik dapat berlangsung berjam- jam/berhari-hari yang kemudian berangsur-angsur menjadi baik. Dapat serabuh sempurna tetapi biasanya dengan gejala sisa.
    2. catastrophic syndrome. gejala klinik makin lama makin berat, berlangsung beberapa menit sampai berjam-jam dan akhirnya meninggal.

    LABORATORIUM
    • pemeriksaan likuor terutama untuk perdarahan subaraknoid dan intraventrikuler/periventrikuler. Tujuan fungsi lumbal pada PIN untuk diagnostik, sebagai pengobatan (mengurangi tekanan intrakranial) dan untuk mencegah komplikasi hidrosefalus (fungsi lumbal berulang-ulang). Pada pemeriksaan likuor dapat dijumpai tekanan yang meninggi, warna merah/santokrom, kadar protein meninggi, kadar glukose menurun. Bila
    cairan likuor berdarah, dianjurkan CT Scan untuk mengetahui lokalisasi dan luasnyaperdarahan. • pada pemeriksaan darah dapat ditemukan:
    -- tanda-tanda anemi posthemoragik
    -- analisa gas darah (0 2 dan CO 2 )
    --gangguan pembekuan darah terutama pada PIN yang non traumatik. Mc Donald dkk mendapat kadar rendah fibrinogen, trombosit, antitrombin III faktor VIII 10. Faktor-faktor ini
    menjadi normal bila keadaan bayi membaik.
    • Foto kepala tidak dapat menunjukkan adanya perdarahan, hanya fraktur yang sukar dibedakan dengan sutura, lipatan- lipatan kulit kepala dan mulase.
    • Pemeriksaan ultrasonografi banyak digunakan. Berdasarkan USG, Burstein dkk menentukan derajat perdarahan intraven- trikuler sebagai berikut l1 derajat 0 : tidak ada perdarahan intrakranial.
    derajat I : perdarahan hanya terbatas pada daerah sub- ependimal.
    derajat II : perdarahan intraventrikuler.
    derajat III : perdarahan intraventrikuler + dilatasi ventrikel.
    derajat IV : perdarahan intraventrikuler + dilatasi ventrikel
    dengan perluasan ke parenkim otak.
    Derajat I, II umumnya ringan, pada pemeriksaan ulangan 3--4 minggu kemudian biasanya tidak ditemukan kelainan lagi. Derajat III ,IV umumnya berprognosis buruk, bila tidak
    meninggal akan disertai komplikasi berat seperti hidrosefalus.
    • Dengan computerized tomography (CT Scan) semua jenis PIN dapat diketahui 12. Cara ini tidak secara rutin karena biayanya sangat mahal.

    DIAGNOSIS
    Diagnosis PIN sangat sukar, terutama bila tidak ada hubungan dengan trauma kelahiran karena gejala-gejalanya tidak khas. Khusus pada neonatus/BKB, sekitar 20% kasus dengan gejala- gejala yang diduga PIN, ternyata bukan. Oleh karena itu, PIN harus didiagnosis banding dengan beberapa penyakit pada neonatus yang memberikan gejala - gejala yang hampir sama, misalnya
    • Infeksi pada bayi baru lahir/neonatus yang dapat memberikan gejala - gejala kesukaran bernapas (apnea, takipnea, siano- sis), lemah (letargi), kejang - kejang, muntah dan lain-lain.
    Untuk membedakan dengan PIN yaitu riwayat persalinan seperti ketuban pecah dini, infeksi perinatal pada ibu, ketuban keruh/berbau. Yang agak khas pada infeksi ialah hepato splenomegali, ikterus, pneumoni 13. Selain itu lekositosis.
    • Tetanus neonatorum dengan kejang - kejang, dibedakan dengan PIN karena partus tetanus neonatorum umumnya oleh dukun. TN hampir selalu terjadi pada akhir minggu pertama,
    bayi mula-mula minum baik dan tiba-tiba sukar minum karena trismus dan gejala lain.
    • Penyakit metabolisme (hipoglikemi) yang dapat memberikan kejang letargi. Ibunya penderita DM dan perlu pemeriksaan kadar glukosa darah bayi.
    • Kecanduan obat dari ibu, antara lain bayi kejang - kejang akibat ketergantungan vitamin B6
    karena ibunya sebelumnya mendapat pengobatan vitamin B6 dosis tinggi. Dibedakan dengan PIN berdasarkan anamnesis dan pengobatan ex juvantibus pada bayi.
    • Kelainan kongetinal saraf pusat memberikan gejala kejang dan letargi. Biasanya disertai kelainan kongenital lain, fungsi lumbal pada PIN kadang-kadang ada perdarahan.
    • Respiratory distress of the newborn dengan apnea, sianosis, retraksi sternum dan kosta, merintih (expiratory grunting), bradikardi, hipotermi, kejang - kejang, hipotoni. Dibedakan
    dengan PIN yaitu gejala gangguan pernapasan dan riwayat persalinan (ibu toksemia, seksio sesar, perdarahan antepartum dan lain-lain).
    Lebih jelas, diagnosis PIN ditegakkan berdasarkan :
    • anamnesis: riwayat kehamilan, persalinan, prematuritas,
    keadaan bayi sesudah lahir dan gejala
    -
    gejala yang men-
    curigakan.
    • pemeriksaan fisik: adanya tanda-tanda PI, gejala
    -
    gejala
    nerologik, fraktur tulang kepala dan tanda-tanda peninggi-
    an tekanan intrakranial.
    • pemeriksaan laboratorium: likuor dan darah.
    • pemeriksaan penunjang: CT Scan USG dan foto kepala.
    PENATALAKSANAAN
    Diusahakan tindakan dibatasi untuk mencegah terjadinya
    kerusakan/kelainan yang lebih parah
    14
    .
    • Bayi dirawat dalam inkubator yang memudahkan observasi
    kontinu dan pemberian O
    2
    . Perlu diobservasi secara cermat:
    suhu tubuh, derajat kesadaran, besarnya dan reaksi pupil,
    aktivitas motorik, frekuensi pernapasan, frekuensi jantung
    (bradikardi/takikardi), denyut nadi dan diuresis. Diuresis kurang dari 1 ml/kgBB/jam berarti perfusi ke ginjal berkurang, diuresis lebih dari 1 ml/kgBB/jam menunjukkan fungsi ginjal
    baik 15
    • Menjaga jalan napas tetap bebas, apalagi kalau penderita dalam koma diberikan 02. Bayi letak dalam posisi miring untuk mencegah aspirasi serta penyumbatan larings oleh lidah dan kepala agak ditinggikan untuk mengurangi tekanan vena serebral.
    • Pemberian vitamin K serta transfusi darah dapat dipertim- bangkan.
    • Infus untuk pemberian elektrolit dan nutrisi yang adekuat berupa larutan glukosa (5--10%) dan NaCl 0,9% 4:1 atau glukosa 5--10%dan Nabik 1,5% 4:1.
    • Pemberian obat - obatan :
    -- valium/luminal bila ada kejang - kejang. dosis valium 0,3--0,5 mg/kgBB, tunggu 15 menit, kalau belum berhenti diulangi dosis yang sama; kalau berhenti diberikan luminal 10 mg/kgBB (neonatus 30 mg), 4 jam kemudian luminal per os 8 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis
    selama 2 hari, selanjutnya 4 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis sambil perhatikan keadaan umum seterusnya.
    -- kortikosteroid berupa deksametason 0,5--1 mg/kgBB/24 jam yang mempunyai efek baik terhadap hipoksia dan edema otak.
    -- antibiotika dapat diberikan untuk mencegah infeksi sekunder, terutama bila ada manipulasi yang berlebihan.
    • Fungsi lumbal untuk menurunkan tekanan intrakranial, mengeluarkan darah, mencegah terjadinya obstruksi aliran likuor dan mengurangi efek iritasi pada permukaan korteks.
    • Tindakan bedah darurat:
    Bila perdarahan/hematoma epidural walaupun jarang dilakukan explorative burrhole dan bila positif dilanjutkan dengan kraniotomi, evakuasi hematoma dan hemostasis yang cermat 8. Pada perdarahan/hematoma subdural, tindakan explorative burrhole dilanjutkan dengan
    kraniotomi, pembukaan duramater, evakuasi hematoma dengan irigasi menggunakan cairan garam fisiologik. Pada perdarahan intraventrikuler karena sering terdapat obstruksi
    aliran likuor, dilakukan shunt antara ventrikel lateral dan atrium kanan.
    PROGNOSIS
    Karena kemajuan obstetri, PIN oleh trauma kelahiran sudah sangat berkurang. Mortalitas PIN non traumatik 50--70% 7.
    Prognosis PIN bergantung pada lokasi dan luasnya perdarahan, umur kehamilan, cepatnya didiagnosis dan pertolongan. Pada perdarahan epidural terjadi penekanan pada jaringan otak ke
    arah sisi yang berlawanan, dapat terjadi herniasi unkus dan kerusakan batang otak. Keadaan ini dapat fatal bila tidak men- dapat pertolongan segera. Pada penderita yang tidak meninggal, dapat disertai spastisitas, gangguan bicara atau strabismus. Kalau ada gangguan
    serebelum dapat terjadi ataksi serebeler. Perdarahan yang me- liputi batang otak pada
    bagian formasi retikuler, memberikan sindrom hiperaktivitet. Pada perdarahan subdural akibat trauma, menurut Rabe dkk, hanya 40% dapat sembuh sempurna setelah dilakukan fungsi subdural berulang-ulang atau tindakan bedah 16. Perdarahan subdural dengan hilangnya kesadaran yang lama, nadi cepat, pernapasan tidak teratur dan demam tinggi, mempunyai prognosis jelek. Pada perdarahan intraventrikuler, mortalitas bergantung pada derajat perdarahan 17. Pada derajat 1--2 (ringan-sedang), angka kematian 10--25%, sebagian besar sembuh sempurna, sebagian kecil dengan sekuele ringan. Pada derajat 3--4 (sedang-
    berat), mortalitas 50--70% dan sekitar 30% sembuh dengan sekuele berat. Sekuele dapat berupa cerebral palsy, gangguan bicara, epilepsi, retardasi mental dan hidrosefalus. Hidrosefalus merupakan komplikasi paling sering (44%) dari perdarahan periventrikuler 7. Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986 45

    PENCEGAHAN
    Untuk mengurangi terjadinya PIN, yang paling penting ialah pencegahan, yang meliputi pemeriksaan ibu-ibu hamil secara teratur, memberikan pertolongan dan perawatan yang sebaik
    - baiknya, baik waktu persalinan maupun sesudah anak lahir. Perhatian khusus harus diberikan kepada bayi-bayi prematur (BKB) yaitu mencegah episode asfiksia sebelum dan sesudah persalinan. Dalam hal ini perlu monitoring keadaan bayi intrapartum, resusitasi segera sesudah lahir dan mencegah kemungkinan hipoksia oleh sebab-sebab lain 18. Pemberian koagulans sebagai usaha untuk mencegah timbulnya PIN sampai saat ini belum ada persesuaian paham, tetapi pemberian vitamin K secara rutin pada BKB dapat dianjurkan.

    RINGKASAN
    Telah dilaporkan tinjauan kepustakaan perdarahan intra krakranial pada neonatus yang berkaitan dengan persalinan. Menurut etiologi dapat dibedakan PIN yang traumatik/trauma
    kelahiran dan non-traumatik. Berkat kemajuan obstetri, PIN oleh trauma kelahiran sudah sangat berkurang. PIN non-traumatik yang ditemukan pada BKB merupakan masalah pediatrik, baik menyangkut diagnosis maupun penatalaksanaan dan pencegahannya.

    KEPUSTAKAAN
    1. Roberton NRC and Howart P. Hypernatremia as a Cause of Intracranial Haemorrhage. Arch Dis Child. 1975; 50: 938-41.
    2. Menkes JH. Textbook of Child Neurology, 2nd ed. Philadelphia: Lea Febiger. 1980; pp 421-8.
    3. Holt LE, Mc Intosh R and Barnett HL. Paediatrics. 13th ed, Appleton-Century-Crofts, Inc. 1962; pp 1034-8.
    4. Saxena HMK, Mithilesh C, Santos KB and Gosh S. Intracranial Haemorrhage, A Cause of Perinatal Mortality. Indian Ped. 1978; 15: 403.
    5. Banerjee CK, Narang A and Bhakov ON. Cerebral Intraventricular Haemorrhage and Autopsy. Indian Ped. 1977; 14: 115-6.
    6. Behrman RE and Driscoll JM. Neonatology. St Louis: CV Mosby Co. 1973; pp 527-9.
    7. Volpe JJ. Neonatal Periventricular Haemorrhage: Past, Present and Future. J Paed. 1978; 92: 693-5.
    8. Leksmono PR, Hafid A dan Sajid DM. Cedera Otak dan Dasar-dasar Pengelolaannya. Cermin Dunia Kedokteran. 1984; 34: 32-4.
    9. Schaffer and Avery. Intracranial Haemorrhage, Disease of New- born. 3rd ed. Philadelphia-London-Toronto: WB Saunders Co. 1971; pp 601-5.
    10. Mc Donald MM, Johnson ML, Rumack CM, Koops BL, Guggen- heim MA and Hathaway WE. Role of Coagulopathy in Newborn Intracranial Haemorrhage. Pediatrics. 1984;74: 26-7.
    11. Mc Donald MM, Koops BL, Johnson ML, Guggenheim MA and Hathaway WE. Timing and Antecedent of Intracranial Haemorrhage in The Newborn Pediatrics. 1984; 74: 32.
    12. Susworo. Peranan Radiologik Pada Kelainan Otak. Cermin Dunia Kedokteran.1984; 34: 28-9. 13. Purnomo Suryantoro, Moch Bachtiar dan Achmad Suryono. Penanganan Infeksi Pada Bayi Baru Lahir. Kumpulan Naskah Ilmiah Simposium dan Seminar Neonatologi, Jakarta 1977.
    14. Nelson. Texbook of Pediatrics. 10th ed. Tokyo: Igaku Shoin Ltd. 1975.
    15. Arhan Arief. Renjatan Pada Neonatus. BIKA I KUI. 1983; hal 36-40.
    16. Mealy J. Infantile Subdural Hematomas. The Ped Clinics North
    Am. 1975; 22: 433-5.
    17. Volpe JJ. Intracranial Hemorrhage in The Newborn: Current Understanding and Dilemmas. Neurol. 1979; 29: 32-4.
    18. Cole VA, Durbin GM, 011afson A, Reynolds EO, Rivers RP and Smith 1F. Pathogenesis. of Intraventicular Haemorrhage in New- born Infants. Arch Dis Child. 1974;49: 722-3.




    "

    Perdarahan intrakranial pada neonatus

    Perdarahan intrakranial pada neonatus:
    Perdarahan intrakranial pada neonatus (PIN) tidak jarang
    dijumpai. PIN mempunyai arti penting karena dapat menye-
    babkan kematian atau cacat jasmani dan mental
    1 . PIN ialah perdarahan dalam rongga kranium dan isinya pada bayi sejak
    lahir sampai umur 4 minggu. Sebabnya PIN banyak. Sering
    PIN tak dikenal/dipikirkan karena gejala gejalanya tidak khas.
    PIN meliputi perdarahan epidural, subdural, subaraknoid,
    intraserebral/parenkim dan intraventrikuler
    2 . Penatalaksanaan dan penanggulangan PIN masih kurang memuaskan. Untuk
    menurunkan angka kejadian PIN, usaha yang lebih penting
    ialah profilaksis seperti perawatan prenatal, pertolongan
    persalinan dan perawatan postnatal yang sebaik-baiknya. Pada
    umumnya prognosis PIN tidak terlalu menggembirakan.
    Makalah ini membahas sekedar insidensi, etiologi, patogene-
    sis, gambaran klinik, diagnosis, penatalaksanaan, prognosis dan
    pencegahan PIN yang berkaitan dengan persalinan.

    INSIDENSI
    Dilaporkan angka berbeda-beda tentang insidensi PIN. Holt 3 menemukan pada otopsi bayi-bayi lahir mati dan yang meninggal dalam 2 minggu pertama, 30% PI. Menurut Saxena 4 13,1% kematian perinatal oleh PI. Angka kematian PI pada bayi prematur 5x lebih tinggi daripada bayi cukup bulan (BCB). Laki-laki : perempuan = 5 : 2,7 (Saxena), 1,9 : 1 (Banerjee) 4 , 6




    ETIOLOGI
    • Trauma kelahiran
    1. partus biasa.
    -- pemutaran/penarikan kepala yang berlebihan.
    -- disproporsi antara kepala anak dan jalan lahir sehingga terjadi mulase 6 .
    2. partus buatan (ekstraksi vakum, cunam).
    3. partus presipitatus.
    • Bukan trauma kelahiran:
    umumnya ditemukan pada bayi kurang bulan (BKB). Faktor dasar ialah prematuritas dan yang
    lain merupakan faktor pencetus PIN seperti hipoksia dan iskemia otak yang dapat timbul pada syok, infeksi intrauterin, asfiksia, kejang
    - kejang, kelainan jantung bawaan, hipotermi, juga hiperosmolaritas/hipernatremia 1,5,7
    Ada pula PIN yang disebabkan oleh penyakit perdarahan/gangguan pembekuan darah.


    PATOGENESIS
    Pada trauma kelahiran, perdarahan terjadi oleh kerusakan/ robekan pembuluh - pembuluh darah intrakranial secara langsung. Pada perdarahan yang bukan karena trauma kelahiran, faktor dasar ialah prematuritas; pada bayi-bayi tersebut, pembuluh darah otak masih embrional dengan dinding tipis, jaringan penunjang sangat kurang dan pada beberapa tempat
    tertentu jalannya berkelok kelok, kadang - kadang membentuk huruf U sehingga mudah sekali terjadi kerusakan bila ada faktor - faktor pencetus (hipoksia/iskemia). Keadaan ini ter- utama terjadi pada perdarahan intraventrikuler/periventrikuler.
    Perdarahan epidural/ ekstradural terjadi oleh robekan arteri atau vena meningika media antara tulang tengkorak dan duramater. Keadaan ini jarang ditemukan pada neonatus. Tetapi perdarahan subdural merupakan jenis PIN yang banyak dijumpai pada BCB. Di sini perdarahan terjadi akibat pecahnya vena-vena kortikal yang menghubungkan rongga subdural
    dengan sinus-sinus pada duramater. Perdarahan subdural lebih sering pada BCB daripada BKB
    sebab pada BKB vena-vena superfisial belum berkembang baik dan mulase tulang tengkorak sangat jarang terjadi 6 . Perdarahan dapat berlangsung perlahan-lahan dan membentuk hematoma subdural. Pada robekan tentorium serebeli atau vena galena dapat terjadi hematoma retroserebeler. Gejala-gejala dapat timbul segera dapat sampai berminggu-minggu, memberikan gejala - gejala kenaikan tekanan intrakranial. Dengan kemajuan dalam bidang obstetri, insidensi perdarahan subdural sudah sangat menurun. Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986 43

    Pada perdarahan subaraknoid, perdarahan terjadi di rongga subaraknoid yang biasanya ditemukan pada persalinan sulit. Adanya perdarahan subaraknoid dapat dibuktikan dengan
    fungsi likuor. Pada perdarahan intraserebral/intraserebeler, perdarahan terjadi dalam parenkim otak, jarang pada neonatus karena hanya terdapat pada trauma kepala yang sangat hebat (ke-
    celakaan) 8 .
    Perdarahan intraventrikuler dalam kepustakaan ada yang gabungkan bersama perdarahan intraserebral yang disebut perdarahan periventrikuler 7. Dari semua jenis PIN, perdarahan periventrikuler meme- gang peranan penting, karena frekuensi dan mortalitasnya tinggi pada bayi prematur. Sekitar 75--90% perdarahan peri ventrikuler berasal dari jaringan subependimal germinal matriks/jaringan embrional di sekitar ventrikel lateral.
    Pada perdarahan intraventrikuler, yang berperanan penting ialah hipoksia yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah otak dan kongesti vena. Bertambahnya aliran darah ini, meninggikan tekanan pembuluh darah otak yang diteruskan ke daerah anyaman kapiler sehingga mudah ruptur. Selain hipoksia, hiperosmolaritas pula dapat menyebabkan perdarahan
    intraventrikuler 1 Hiperosmolaritas antara lain terjadi karena hipernatremia akibat pemberian natrium bikarbonat yang berlebihan/plasma ekspander. Keadaan ini dapat meninggikantekanan darah otak yang diteruskan ke kapiler sehingga dapat pecah.

    GAMBARAN KLINIK
    Gejala-gejala PIN tidak khas, dan umumnya sukar didiagnosis jika tidak didukung, oleh riwayat persalinan yang jelas. Gejala-gejala berikut dapat ditemukan :
    • Fontanel tegang dan menonjol oleh kenaikan tekanan intrakranial, misalnya pada perdarahan subaraknoid.
    • Iritasi korteks serebri berupa kejang-kejang, irritable, twitching, opistotonus. Gejala-gejala ini baru timbul beberapa jam setelah lahir dan menunjukkan adanya perdarahan subdural , kadang-kadang juga perdarahan subaraknoid oleh robekan tentorium yang luas.
    • Mata terbuka dan hanya memandang ke satu arah tanpa reaksi. Pupil melebar, refleks cahaya lambat sampai negatif. Kadang-kadang ada perdarahan retina, nistagmus dan eksoftalmus.
    • Apnea: berat dan lamanya apnea bergantung pada derajat perdarahan dan kerusakan susunan saraf pusat. Apnea dapat berupa serangan diselingi pernapasan normal/takipnea dan sianosis intermiten.
    • Cephalic cry (menangis merintih).
    • Gejala gerakan lidah yang menjulur ke luar di sekitar bibir seperti lidah ular (snake like flicking of the tongue) menunjuk- kan perdarahan yang luas dengan kerusakan pada korteks 9.
    • Tonus otot lemah atau spastis umum. Hipotonia dapat berakhir dengan kematian bila perdarahan hebat dan luas. Jika perdarahan dan asfiksia tidak berlangsung lama, tonus otot akan segera pulih kembali. Tetapi bila perdarahan berlangsung lebih lama, flaksiditas akan berubah menjadi spastis yang menetap. Kelumpuhan lokal dapat terjadi misalnya kelumpuhan otot-otot pergerakan mata, otot-otot muka/anggota gerak (monoplegi/hemiplegi) menunjukkan perdarahan subdural/ parenkim. 44 Cermin Dunia Kedokteean No. 41, 1986
    • Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan ialah gangguan kesadaran (apati, somnolen, sopor atau koma), tidak mau minum, menangis lemah, nadi lambat/cepat, kadang-kadang ada hipotermi yang menetap. Apabila gejala-gejala tersebut di atas ditemukan pada bayi prematur yang 24--48 jam sebelumnya menderita asfiksia, maka PI dapat dipikirkan. Berdasarkan perjalanan klinik, PIN dapat dibedakan 2 sindrom 7:
    1. saltatory
    syndrome: gejala klinik dapat berlangsung berjam- jam/berhari-hari yang kemudian berangsur-angsur menjadi baik. Dapat serabuh sempurna tetapi biasanya dengan gejala sisa.
    2. catastrophic syndrome. gejala klinik makin lama makin berat, berlangsung beberapa menit sampai berjam-jam dan akhirnya meninggal.

    LABORATORIUM
    • pemeriksaan likuor terutama untuk perdarahan subaraknoid dan intraventrikuler/periventrikuler. Tujuan fungsi lumbal pada PIN untuk diagnostik, sebagai pengobatan (mengurangi tekanan intrakranial) dan untuk mencegah komplikasi hidrosefalus (fungsi lumbal berulang-ulang). Pada pemeriksaan likuor dapat dijumpai tekanan yang meninggi, warna merah/santokrom, kadar protein meninggi, kadar glukose menurun. Bila
    cairan likuor berdarah, dianjurkan CT Scan untuk mengetahui lokalisasi dan luasnyaperdarahan. • pada pemeriksaan darah dapat ditemukan:
    -- tanda-tanda anemi posthemoragik
    -- analisa gas darah (0 2 dan CO 2 )
    --gangguan pembekuan darah terutama pada PIN yang non traumatik. Mc Donald dkk mendapat kadar rendah fibrinogen, trombosit, antitrombin III faktor VIII 10. Faktor-faktor ini
    menjadi normal bila keadaan bayi membaik.
    • Foto kepala tidak dapat menunjukkan adanya perdarahan, hanya fraktur yang sukar dibedakan dengan sutura, lipatan- lipatan kulit kepala dan mulase.
    • Pemeriksaan ultrasonografi banyak digunakan. Berdasarkan USG, Burstein dkk menentukan derajat perdarahan intraven- trikuler sebagai berikut l1 derajat 0 : tidak ada perdarahan intrakranial.
    derajat I : perdarahan hanya terbatas pada daerah sub- ependimal.
    derajat II : perdarahan intraventrikuler.
    derajat III : perdarahan intraventrikuler + dilatasi ventrikel.
    derajat IV : perdarahan intraventrikuler + dilatasi ventrikel
    dengan perluasan ke parenkim otak.
    Derajat I, II umumnya ringan, pada pemeriksaan ulangan 3--4 minggu kemudian biasanya tidak ditemukan kelainan lagi. Derajat III ,IV umumnya berprognosis buruk, bila tidak
    meninggal akan disertai komplikasi berat seperti hidrosefalus.
    • Dengan computerized tomography (CT Scan) semua jenis PIN dapat diketahui 12. Cara ini tidak secara rutin karena biayanya sangat mahal.

    DIAGNOSIS
    Diagnosis PIN sangat sukar, terutama bila tidak ada hubungan dengan trauma kelahiran karena gejala-gejalanya tidak khas. Khusus pada neonatus/BKB, sekitar 20% kasus dengan gejala- gejala yang diduga PIN, ternyata bukan. Oleh karena itu, PIN harus didiagnosis banding dengan beberapa penyakit pada neonatus yang memberikan gejala - gejala yang hampir sama, misalnya
    • Infeksi pada bayi baru lahir/neonatus yang dapat memberikan gejala - gejala kesukaran bernapas (apnea, takipnea, siano- sis), lemah (letargi), kejang - kejang, muntah dan lain-lain.
    Untuk membedakan dengan PIN yaitu riwayat persalinan seperti ketuban pecah dini, infeksi perinatal pada ibu, ketuban keruh/berbau. Yang agak khas pada infeksi ialah hepato splenomegali, ikterus, pneumoni 13. Selain itu lekositosis.
    • Tetanus neonatorum dengan kejang - kejang, dibedakan dengan PIN karena partus tetanus neonatorum umumnya oleh dukun. TN hampir selalu terjadi pada akhir minggu pertama,
    bayi mula-mula minum baik dan tiba-tiba sukar minum karena trismus dan gejala lain.
    • Penyakit metabolisme (hipoglikemi) yang dapat memberikan kejang letargi. Ibunya penderita DM dan perlu pemeriksaan kadar glukosa darah bayi.
    • Kecanduan obat dari ibu, antara lain bayi kejang - kejang akibat ketergantungan vitamin B6
    karena ibunya sebelumnya mendapat pengobatan vitamin B6 dosis tinggi. Dibedakan dengan PIN berdasarkan anamnesis dan pengobatan ex juvantibus pada bayi.
    • Kelainan kongetinal saraf pusat memberikan gejala kejang dan letargi. Biasanya disertai kelainan kongenital lain, fungsi lumbal pada PIN kadang-kadang ada perdarahan.
    • Respiratory distress of the newborn dengan apnea, sianosis, retraksi sternum dan kosta, merintih (expiratory grunting), bradikardi, hipotermi, kejang - kejang, hipotoni. Dibedakan
    dengan PIN yaitu gejala gangguan pernapasan dan riwayat persalinan (ibu toksemia, seksio sesar, perdarahan antepartum dan lain-lain).
    Lebih jelas, diagnosis PIN ditegakkan berdasarkan :
    • anamnesis: riwayat kehamilan, persalinan, prematuritas,
    keadaan bayi sesudah lahir dan gejala
    -
    gejala yang men-
    curigakan.
    • pemeriksaan fisik: adanya tanda-tanda PI, gejala
    -
    gejala
    nerologik, fraktur tulang kepala dan tanda-tanda peninggi-
    an tekanan intrakranial.
    • pemeriksaan laboratorium: likuor dan darah.
    • pemeriksaan penunjang: CT Scan USG dan foto kepala.
    PENATALAKSANAAN
    Diusahakan tindakan dibatasi untuk mencegah terjadinya
    kerusakan/kelainan yang lebih parah
    14
    .
    • Bayi dirawat dalam inkubator yang memudahkan observasi
    kontinu dan pemberian O
    2
    . Perlu diobservasi secara cermat:
    suhu tubuh, derajat kesadaran, besarnya dan reaksi pupil,
    aktivitas motorik, frekuensi pernapasan, frekuensi jantung
    (bradikardi/takikardi), denyut nadi dan diuresis. Diuresis kurang dari 1 ml/kgBB/jam berarti perfusi ke ginjal berkurang, diuresis lebih dari 1 ml/kgBB/jam menunjukkan fungsi ginjal
    baik 15
    • Menjaga jalan napas tetap bebas, apalagi kalau penderita dalam koma diberikan 02. Bayi letak dalam posisi miring untuk mencegah aspirasi serta penyumbatan larings oleh lidah dan kepala agak ditinggikan untuk mengurangi tekanan vena serebral.
    • Pemberian vitamin K serta transfusi darah dapat dipertim- bangkan.
    • Infus untuk pemberian elektrolit dan nutrisi yang adekuat berupa larutan glukosa (5--10%) dan NaCl 0,9% 4:1 atau glukosa 5--10%dan Nabik 1,5% 4:1.
    • Pemberian obat - obatan :
    -- valium/luminal bila ada kejang - kejang. dosis valium 0,3--0,5 mg/kgBB, tunggu 15 menit, kalau belum berhenti diulangi dosis yang sama; kalau berhenti diberikan luminal 10 mg/kgBB (neonatus 30 mg), 4 jam kemudian luminal per os 8 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis
    selama 2 hari, selanjutnya 4 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis sambil perhatikan keadaan umum seterusnya.
    -- kortikosteroid berupa deksametason 0,5--1 mg/kgBB/24 jam yang mempunyai efek baik terhadap hipoksia dan edema otak.
    -- antibiotika dapat diberikan untuk mencegah infeksi sekunder, terutama bila ada manipulasi yang berlebihan.
    • Fungsi lumbal untuk menurunkan tekanan intrakranial, mengeluarkan darah, mencegah terjadinya obstruksi aliran likuor dan mengurangi efek iritasi pada permukaan korteks.
    • Tindakan bedah darurat:
    Bila perdarahan/hematoma epidural walaupun jarang dilakukan explorative burrhole dan bila positif dilanjutkan dengan kraniotomi, evakuasi hematoma dan hemostasis yang cermat 8. Pada perdarahan/hematoma subdural, tindakan explorative burrhole dilanjutkan dengan
    kraniotomi, pembukaan duramater, evakuasi hematoma dengan irigasi menggunakan cairan garam fisiologik. Pada perdarahan intraventrikuler karena sering terdapat obstruksi
    aliran likuor, dilakukan shunt antara ventrikel lateral dan atrium kanan.
    PROGNOSIS
    Karena kemajuan obstetri, PIN oleh trauma kelahiran sudah sangat berkurang. Mortalitas PIN non traumatik 50--70% 7.
    Prognosis PIN bergantung pada lokasi dan luasnya perdarahan, umur kehamilan, cepatnya didiagnosis dan pertolongan. Pada perdarahan epidural terjadi penekanan pada jaringan otak ke
    arah sisi yang berlawanan, dapat terjadi herniasi unkus dan kerusakan batang otak. Keadaan ini dapat fatal bila tidak men- dapat pertolongan segera. Pada penderita yang tidak meninggal, dapat disertai spastisitas, gangguan bicara atau strabismus. Kalau ada gangguan
    serebelum dapat terjadi ataksi serebeler. Perdarahan yang me- liputi batang otak pada
    bagian formasi retikuler, memberikan sindrom hiperaktivitet. Pada perdarahan subdural akibat trauma, menurut Rabe dkk, hanya 40% dapat sembuh sempurna setelah dilakukan fungsi subdural berulang-ulang atau tindakan bedah 16. Perdarahan subdural dengan hilangnya kesadaran yang lama, nadi cepat, pernapasan tidak teratur dan demam tinggi, mempunyai prognosis jelek. Pada perdarahan intraventrikuler, mortalitas bergantung pada derajat perdarahan 17. Pada derajat 1--2 (ringan-sedang), angka kematian 10--25%, sebagian besar sembuh sempurna, sebagian kecil dengan sekuele ringan. Pada derajat 3--4 (sedang-
    berat), mortalitas 50--70% dan sekitar 30% sembuh dengan sekuele berat. Sekuele dapat berupa cerebral palsy, gangguan bicara, epilepsi, retardasi mental dan hidrosefalus. Hidrosefalus merupakan komplikasi paling sering (44%) dari perdarahan periventrikuler 7. Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986 45

    PENCEGAHAN
    Untuk mengurangi terjadinya PIN, yang paling penting ialah pencegahan, yang meliputi pemeriksaan ibu-ibu hamil secara teratur, memberikan pertolongan dan perawatan yang sebaik
    - baiknya, baik waktu persalinan maupun sesudah anak lahir. Perhatian khusus harus diberikan kepada bayi-bayi prematur (BKB) yaitu mencegah episode asfiksia sebelum dan sesudah persalinan. Dalam hal ini perlu monitoring keadaan bayi intrapartum, resusitasi segera sesudah lahir dan mencegah kemungkinan hipoksia oleh sebab-sebab lain 18. Pemberian koagulans sebagai usaha untuk mencegah timbulnya PIN sampai saat ini belum ada persesuaian paham, tetapi pemberian vitamin K secara rutin pada BKB dapat dianjurkan.

    RINGKASAN
    Telah dilaporkan tinjauan kepustakaan perdarahan intra krakranial pada neonatus yang berkaitan dengan persalinan. Menurut etiologi dapat dibedakan PIN yang traumatik/trauma
    kelahiran dan non-traumatik. Berkat kemajuan obstetri, PIN oleh trauma kelahiran sudah sangat berkurang. PIN non-traumatik yang ditemukan pada BKB merupakan masalah pediatrik, baik menyangkut diagnosis maupun penatalaksanaan dan pencegahannya.

    KEPUSTAKAAN
    1. Roberton NRC and Howart P. Hypernatremia as a Cause of Intracranial Haemorrhage. Arch Dis Child. 1975; 50: 938-41.
    2. Menkes JH. Textbook of Child Neurology, 2nd ed. Philadelphia: Lea Febiger. 1980; pp 421-8.
    3. Holt LE, Mc Intosh R and Barnett HL. Paediatrics. 13th ed, Appleton-Century-Crofts, Inc. 1962; pp 1034-8.
    4. Saxena HMK, Mithilesh C, Santos KB and Gosh S. Intracranial Haemorrhage, A Cause of Perinatal Mortality. Indian Ped. 1978; 15: 403.
    5. Banerjee CK, Narang A and Bhakov ON. Cerebral Intraventricular Haemorrhage and Autopsy. Indian Ped. 1977; 14: 115-6.
    6. Behrman RE and Driscoll JM. Neonatology. St Louis: CV Mosby Co. 1973; pp 527-9.
    7. Volpe JJ. Neonatal Periventricular Haemorrhage: Past, Present and Future. J Paed. 1978; 92: 693-5.
    8. Leksmono PR, Hafid A dan Sajid DM. Cedera Otak dan Dasar-dasar Pengelolaannya. Cermin Dunia Kedokteran. 1984; 34: 32-4.
    9. Schaffer and Avery. Intracranial Haemorrhage, Disease of New- born. 3rd ed. Philadelphia-London-Toronto: WB Saunders Co. 1971; pp 601-5.
    10. Mc Donald MM, Johnson ML, Rumack CM, Koops BL, Guggen- heim MA and Hathaway WE. Role of Coagulopathy in Newborn Intracranial Haemorrhage. Pediatrics. 1984;74: 26-7.
    11. Mc Donald MM, Koops BL, Johnson ML, Guggenheim MA and Hathaway WE. Timing and Antecedent of Intracranial Haemorrhage in The Newborn Pediatrics. 1984; 74: 32.
    12. Susworo. Peranan Radiologik Pada Kelainan Otak. Cermin Dunia Kedokteran.1984; 34: 28-9. 13. Purnomo Suryantoro, Moch Bachtiar dan Achmad Suryono. Penanganan Infeksi Pada Bayi Baru Lahir. Kumpulan Naskah Ilmiah Simposium dan Seminar Neonatologi, Jakarta 1977.
    14. Nelson. Texbook of Pediatrics. 10th ed. Tokyo: Igaku Shoin Ltd. 1975.
    15. Arhan Arief. Renjatan Pada Neonatus. BIKA I KUI. 1983; hal 36-40.
    16. Mealy J. Infantile Subdural Hematomas. The Ped Clinics North
    Am. 1975; 22: 433-5.
    17. Volpe JJ. Intracranial Hemorrhage in The Newborn: Current Understanding and Dilemmas. Neurol. 1979; 29: 32-4.
    18. Cole VA, Durbin GM, 011afson A, Reynolds EO, Rivers RP and Smith 1F. Pathogenesis. of Intraventicular Haemorrhage in New- born Infants. Arch Dis Child. 1974;49: 722-3.




    "

    ASFIKSIA NEONATORUM

    Definisi


    Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan PaO2 di dalam darah rendah (hipoksemia), hiperkarbia (PaCO2 meningkat) dan asidosis.


    Etiologi

    1. Faktor neonatus

    - Hipoksia ibu

    - Gangguan aliran darah uterus

    2. Faktor plasenta

    3. Faktor fetus

    4. Faktor ibu


    Patofisiologi

    Penyebab asfiksia dapat berasal dari faktor ibu, janin dan plasenta. Adanya hipoksia dan iskemia jaringan menyebabkan perubahan fungsional dan biokimia pada janin. Faktor ini yang berperan pada kejadian asfiksia.


    Gejala Klinik

    Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang dari 100 x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap refleks rangsangan.


    Manifestasi Klinis

    1. Serangan jantung

    2. Ptekie hemorragis

    3. Sianosis dan kongestif

    4. Penemuan jalan napas


    Diagnosis

    anamnesis : gangguan/kesulitan waktu lahir, lahir tidak bernafas/menangis.


    Pemeriksaan fisik :

    Nilai Apgar

    klinis 0 1 2

    detak jantung tidak ada 100x/menit

    pernafasan tidak ada tak teratur tangis kuat

    refleks saat jalan nafas dibersihkan tidak ada menyeringai batuk/bersin

    tonus otot lunglai fleksi ekstrimitas (lemah) fleksi kuat gerak aktif

    warna kulit biru pucat tubuh merah ekstrimitas biru merah seluruh tubuh

    nilai 0-3 : asfiksia berat

    nilai 4-6 : asfiksia sedang

    nilai 7-10 : normal

    Dilakukan pemantauan nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5, bila nilai apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai apgar berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. (bukan 1 menit seperti penilaian skorapgar)


    Pemeriksaan Penunjang :

    1. Foto polos dada

    2. USG kepala

    3. laboratorium : darah rutin, analisa gas darah, serum elektrolit


    Pemeriksaan Diagnostik

    1. Analisa Gas darah

    2. Elektrolit darah

    3. Gula darah

    4. Baby gram (RO dada)

    5. USG (kepala)


    Komplikasi

    Meliputi berbagai organ yaitu :

    1. otak : hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis

    2. jantung dan paru : hipertensi pulmonal persisten pada neonatus, perdarahan paru, edema paru

    3. gastrointestinal : enterokolitis nekrotikans

    4. ginjal : tubular nekrosis akut, siadh

    5. hematologi : dic


    Penatalaksanaan

    Ada beberapa tahap: ABC resusitasi,

    • A= memastikan saluran nafas terbuka

    • B= memulai pernafasan

    • C= mempertahankan sirkulasi (peredaran darah)


    Asuhan Keperawatan

    Pengkajian

    1. Pernafasan yang cepat

    2. Pernafasan cuping hidung

    3. Sianosis

    4. Nadi cepat

    5. Reflek lemah

    6. Warna kulit biru atau pucat

    7. Penilaian apgar skor menunjukkan adanya asfiksia, seperti asfiksia ringan (7-10), sedang (4-6), dan berat (0-3)

    Diagnosis / masalah keperawatan

    1. Gangguan pertukaran gas

    2. Penurunan kardiac out put

    3. Intoleransi aktifitas

    4. Gangguan perfusi jaringan (renal)

    5. Resiko tinggi terjadi infeksi

    6. Kurangnya pengetahuan

    Intervensi keperawatan

    1. Gangguan pertukaran gas :

    Monitoring gas darah, mengkaji denyut nadi, monitoring sistem jantung dan paru (resusitasi), memberikan oksigen yang adekuat.

    2. Penurunan kardiac out put :

    Monitoring jantung paru, mengkaji tanda vital, memonitor perfusi jaringan tiap 2-4 jam, monitor denyut nadi, memonitor intake dan out put serta melakukan kolaborasi dalam pemberian vasodilator.

    3. Intoleransi aktifitas :

    Menyediakan stimulasi lingkungan yang minimal, menyediakan monitoring jantung paru, mengurangi sentuhan, melakukan kolaborasi analgetik sesuai kondisi, memberikan posisiyang nyaman.

    4. Gangguan perfusi jaringan (renal)

    Pemberian diuretik sesuai dengan indikasi, monitor laboratorium urine, pemeriksaan darah.

    5. Resiko tinggi terjadi infeksi

    Memperhatikan teknik aseptik

    6. Kurangnya pengetahuan


    DAFTAR PUSTAKA


    Anonim. Asfiksia Pada Bayi. http://www.google.com/.

    Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Edisi 1. Jakarta : Salemba Medika.


    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

    ASFIKSIA NEONATORUM

    Definisi


    Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan PaO2 di dalam darah rendah (hipoksemia), hiperkarbia (PaCO2 meningkat) dan asidosis.


    Etiologi

    1. Faktor neonatus

    - Hipoksia ibu

    - Gangguan aliran darah uterus

    2. Faktor plasenta

    3. Faktor fetus

    4. Faktor ibu


    Patofisiologi

    Penyebab asfiksia dapat berasal dari faktor ibu, janin dan plasenta. Adanya hipoksia dan iskemia jaringan menyebabkan perubahan fungsional dan biokimia pada janin. Faktor ini yang berperan pada kejadian asfiksia.


    Gejala Klinik

    Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang dari 100 x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap refleks rangsangan.


    Manifestasi Klinis

    1. Serangan jantung

    2. Ptekie hemorragis

    3. Sianosis dan kongestif

    4. Penemuan jalan napas


    Diagnosis

    anamnesis : gangguan/kesulitan waktu lahir, lahir tidak bernafas/menangis.


    Pemeriksaan fisik :

    Nilai Apgar

    klinis 0 1 2

    detak jantung tidak ada 100x/menit

    pernafasan tidak ada tak teratur tangis kuat

    refleks saat jalan nafas dibersihkan tidak ada menyeringai batuk/bersin

    tonus otot lunglai fleksi ekstrimitas (lemah) fleksi kuat gerak aktif

    warna kulit biru pucat tubuh merah ekstrimitas biru merah seluruh tubuh

    nilai 0-3 : asfiksia berat

    nilai 4-6 : asfiksia sedang

    nilai 7-10 : normal

    Dilakukan pemantauan nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5, bila nilai apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai apgar berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. (bukan 1 menit seperti penilaian skorapgar)


    Pemeriksaan Penunjang :

    1. Foto polos dada

    2. USG kepala

    3. laboratorium : darah rutin, analisa gas darah, serum elektrolit


    Pemeriksaan Diagnostik

    1. Analisa Gas darah

    2. Elektrolit darah

    3. Gula darah

    4. Baby gram (RO dada)

    5. USG (kepala)


    Komplikasi

    Meliputi berbagai organ yaitu :

    1. otak : hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis

    2. jantung dan paru : hipertensi pulmonal persisten pada neonatus, perdarahan paru, edema paru

    3. gastrointestinal : enterokolitis nekrotikans

    4. ginjal : tubular nekrosis akut, siadh

    5. hematologi : dic


    Penatalaksanaan

    Ada beberapa tahap: ABC resusitasi,

    • A= memastikan saluran nafas terbuka

    • B= memulai pernafasan

    • C= mempertahankan sirkulasi (peredaran darah)


    Asuhan Keperawatan

    Pengkajian

    1. Pernafasan yang cepat

    2. Pernafasan cuping hidung

    3. Sianosis

    4. Nadi cepat

    5. Reflek lemah

    6. Warna kulit biru atau pucat

    7. Penilaian apgar skor menunjukkan adanya asfiksia, seperti asfiksia ringan (7-10), sedang (4-6), dan berat (0-3)

    Diagnosis / masalah keperawatan

    1. Gangguan pertukaran gas

    2. Penurunan kardiac out put

    3. Intoleransi aktifitas

    4. Gangguan perfusi jaringan (renal)

    5. Resiko tinggi terjadi infeksi

    6. Kurangnya pengetahuan

    Intervensi keperawatan

    1. Gangguan pertukaran gas :

    Monitoring gas darah, mengkaji denyut nadi, monitoring sistem jantung dan paru (resusitasi), memberikan oksigen yang adekuat.

    2. Penurunan kardiac out put :

    Monitoring jantung paru, mengkaji tanda vital, memonitor perfusi jaringan tiap 2-4 jam, monitor denyut nadi, memonitor intake dan out put serta melakukan kolaborasi dalam pemberian vasodilator.

    3. Intoleransi aktifitas :

    Menyediakan stimulasi lingkungan yang minimal, menyediakan monitoring jantung paru, mengurangi sentuhan, melakukan kolaborasi analgetik sesuai kondisi, memberikan posisiyang nyaman.

    4. Gangguan perfusi jaringan (renal)

    Pemberian diuretik sesuai dengan indikasi, monitor laboratorium urine, pemeriksaan darah.

    5. Resiko tinggi terjadi infeksi

    Memperhatikan teknik aseptik

    6. Kurangnya pengetahuan


    DAFTAR PUSTAKA


    Anonim. Asfiksia Pada Bayi. http://www.google.com/.

    Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Edisi 1. Jakarta : Salemba Medika.


    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

    Caput Suksadenum


    jejas lahir merupakan istilah untuk menunjukkan trauma mekanik yang dapat dihindari atau tidak dapat dihindari, serta trauma anoksia yang dialami bayi selama kelahiran dan persalinan. Beberapa macam jejas persalinan yang akan dibahas, antara lain :

    1. Caput Suksadenum


    Caput suksadenum adalah pembengkakan yang edematosa atau kadang-kadang ekimotik dan difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian yang telah dilahirkan selama persalinan verteks. Edema pada caput suksadenum dapat hilang pada hari pertama, sehingga tidak diperlukan terapi. Tetapi jika terjadi ekimosis yang luas, dapat diberikan indikasi fototerapi untuk kecenderungan hiperbilirubin.


    Kadang-kadang caput suksadenum disertai dengan molding atau penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah satu minggu.


    2. Sefalhematoma


    Sefalhematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Sefalhematoma terjadi sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Sefalhematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya. Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian sefalhematoma dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.


    3. Trauma pleksus brakialis


    Jejas pada pleksus brakialis dapat menyebabkan paralisis lengan atas dengan atau tanpa paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim paralisis dapat terjadi pada seluruh lengan. Jejas pleksus brakialis sering terjadi pada bayi makrosomik dan pada penarikan lateral dipaksakan pada kepala dan leher selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan berlebihan pada bahu.


    Trauma pleksus brakialis dapat mengakibatkan paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke. Bentuk paralisis tersebut tergantung pada saraf servikalis yang mengalami trauma.


    Pengobatan pada trauma pleksus brakialis terdiri atas imobilisasi parsial dan penempatan posisi secara tepat untuk mencegah perkembangan kontraktur.


    4. Fraktur klavikula


    Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klavikula antara lain : bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena, krepitasi dan ketidakteraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur, tidak adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.


    5. Fraktur humerus


    Pada fraktur humerus ditandai dengan tidak adanya gerakan tungkai spontan, tidak adanya reflek moro.


    Penangan pada fraktur humerus dapat optimal jika dilakukan pada 2-4 minggu dengan imobilisasi tungkai yang mengalami fraktur.


    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

    Caput Suksadenum


    jejas lahir merupakan istilah untuk menunjukkan trauma mekanik yang dapat dihindari atau tidak dapat dihindari, serta trauma anoksia yang dialami bayi selama kelahiran dan persalinan. Beberapa macam jejas persalinan yang akan dibahas, antara lain :

    1. Caput Suksadenum


    Caput suksadenum adalah pembengkakan yang edematosa atau kadang-kadang ekimotik dan difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian yang telah dilahirkan selama persalinan verteks. Edema pada caput suksadenum dapat hilang pada hari pertama, sehingga tidak diperlukan terapi. Tetapi jika terjadi ekimosis yang luas, dapat diberikan indikasi fototerapi untuk kecenderungan hiperbilirubin.


    Kadang-kadang caput suksadenum disertai dengan molding atau penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah satu minggu.


    2. Sefalhematoma


    Sefalhematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Sefalhematoma terjadi sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Sefalhematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya. Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian sefalhematoma dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.


    3. Trauma pleksus brakialis


    Jejas pada pleksus brakialis dapat menyebabkan paralisis lengan atas dengan atau tanpa paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim paralisis dapat terjadi pada seluruh lengan. Jejas pleksus brakialis sering terjadi pada bayi makrosomik dan pada penarikan lateral dipaksakan pada kepala dan leher selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan berlebihan pada bahu.


    Trauma pleksus brakialis dapat mengakibatkan paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke. Bentuk paralisis tersebut tergantung pada saraf servikalis yang mengalami trauma.


    Pengobatan pada trauma pleksus brakialis terdiri atas imobilisasi parsial dan penempatan posisi secara tepat untuk mencegah perkembangan kontraktur.


    4. Fraktur klavikula


    Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klavikula antara lain : bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena, krepitasi dan ketidakteraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur, tidak adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.


    5. Fraktur humerus


    Pada fraktur humerus ditandai dengan tidak adanya gerakan tungkai spontan, tidak adanya reflek moro.


    Penangan pada fraktur humerus dapat optimal jika dilakukan pada 2-4 minggu dengan imobilisasi tungkai yang mengalami fraktur.


    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

    Kelainan bawaan pada neonatus


    1. Labioskizis dan Labiopalatoskizis


    Labioskizis atau labiopalatiskizis merupakan konginetal anomaly yang berupa kelainan bentuk pada struktur wajah, yang terjadi karena kegagalan proses penutupan procesus nasal medial dan maxilaris selama perkembangan fetus dalam kandungan

    Etiologi :

    • Kegagalan pada fase embrio yang penyebab belum diketahui

    • Faktor Herediter

    • Abnormal kromosom, mutasi gen dan teratogen

    Manifestasi Klinik :

    Palatoskizis

    - Distorsi pada hidung

    Adanya celah pada bibir

    Labioskizis

    - Adanya celah pada tekak (uvula), palatum durum dan palatum mole

    Adanya rongga pada hidung sebagai celah pada langit-langit

    - Distorsi hidung

    Penatalaksanaan :

    • Tergantung pada beratnya kecacatan

    • Pertahankan pemberian nutrisi yang adekuat

    • Cegah terjadinya komplikasi

    • Dilakukan pembedahan

    2. Atresia Esophagus

    Atresia esophagus adalah gangguan pembentukan dan pergerakan lipatan pasangan kranial dan satu lipatan kaudal pada usus depan primitif

    Etiologi dari atresia esophagus yaitu kegagalan pada fase embrio terutama pada bayi yang lahir prematur

    Manifestasi klinik pada neonatus dengan atresia esophagus antara lain :

    -Hhipersekresi cairan dari mulut

    - Gangguan menelan makanan (tersedak, batuk)

    Penatalaksanaan :

    • Pertahankan posisi bayi atau pasien dalam posisi tengkurap, bertujuan untuk meminimalkan terjadinya aspirasi

    • Pertahankan keefektifan fungsi respirasi

    • Dilakukan tindakan pembedahan

    3. Atresia Rekti dan Atresia Anus

    Atresia rekti yaitu obstruksi pada rektum (sekitar 2 c dari batas kulit anus). Pada pasien ini, umumnya memiliki kanal dan anus yang normal

    Atresia anus yaitu obstruksi pada anus

    Etiologi

    Malformasi kongenital

    Manifestasi Klinik

    - Tidak bisa BAB melalui anus

    - Distensi abdomen

    - Tidak dapat dilakukan pemeriksaan suhu rektal

    - Perut kembung

    - Muntah

    Penatalaksanaan :

    Dilakukan tindakan kolostomi

    4. Hirschprung

    Hirschprung merupakan kelainan konginetal berupa obstruksi pada sistem pencernaan yang disebabkan oleh karena menurunnya kemampuan motilitas kolon, sehingga mengakibatkan tidak adanya ganglionik usus

    Etiologi :

    Kegagalan pembentukan saluran pencernaan selama masa perkembangan fetus

    Tanda dan Gejala :

    • Konstipasi/tidak bisa BAB/diare

    • Distensi abdomen

    • Muntah

    • Dinding abdomen tipis

    Penatalaksanaan :

    • Pengangkatan aganglionik (usus yang dilatasi)

    • Dilakukan tindakan Colostomi

    • Pertahankan pemberian nutrisi yang adekuat

    5. Obstruksi Billiaris

    Obstruksi billiaris adalah tersumbatnya saluran kandung empedu karena terbentuknya jaringan fibrosis

    Etiologi :

    - Degenerasi sekunder

    - Kelainan kongenital

    Tanda dan Gejala :

    - Ikterik (pada umur 2-3 minggu)

    - Peningkatan billirubin direct dalam serum (kerusakan parenkim hati, sehingga bilirubin indirek meningkat)

    - Bilirubinuria

    - Tinja berwarna seperti dempul

    - Terjadi hepatomegali

    Penatalaksanaan

    Pembedahan

    6. Omfalokel

    Omfalokel merupakan hernia pada pusat, sehingga isi perut keluar dalam kantong peritoneum

    Etiologi

    Kegagalan alat dalam untuk kembali ke rongga abdomen pada waktu janin berumur 10 minggu

    Tanda dan Gejala

    - Gangguan pencernaan, karena polisitemia dan hiperinsulin

    - Berat badan lahir > 2500 gr

    Penatalaksanaan

    - Bila kantong belum pecah, diberikan merkurokrom yang bertujuan untuk penebalan selaput yang menutupi kantong

    - Pembedahan

    7. Hernia Diafragmatika

    Hernia diafragmatika terjadi akibat isi rongga perut masuk ke dalam lobang diafragma

    Etiologi

    Kegagalan penutupan kanalis pleuroperitoneum posterolateral selama kehamilan minggu ke-8

    Tanda dan Gejala

    Bayi mengalami sesak napas

    Bayi mengalami muntah karena obstruksi usus

    Penatalaksanaan

    • Berikan diit RKTP

    • Berikan Extracorporeal Membrane Oxygenation (EMCO)

    • Dilakukan tindakan pembedahan

    8. Atresia Duodeni

    Atresia Duodeni adalah obstruksi lumen usus oleh membran utuh, tali fibrosa yang menghubungkan dua ujung kantong duodenum yang buntu pendek, atau suatu celah antara ujung-ujung duodenum yang tidak bersambung

    Etiologi

    Kegagalan rekanalisasi lumen usus selama masa kehamilan minggu ke-4 dan ke-5

    Banyak terjadi pada bayi yang lahir prematur

    Tanda dan Gejala

    Bayi muntah tanpa disertai distensi abdomen

    Ikterik

    Penatalaksanaan

    Pemberian terapi cairan intravena

    Dilakukan tindakan duodenoduodenostomi

    9. Meningokel dan Ensefalokel

    Meningokel dan ensefalokel yaitu adanya defek pada penutupan spina yang berhubungan dengan pertumbuhan yang abnormal korda spinalis atau penutupannya

    Etiologi

    Gangguan pembentukan komponen janin saat dalam kandungan

    Tanda dan Gejala

    - Gangguan persarafan

    - Gangguan mental

    - Gangguan tingkat kesadaran

    Penatalaksanaan

    Pembedahan

    10. Hidrosefalus

    Hidrosefalus merupakan kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya Liquor Cerebrospinal (LCS). Kadang disertai dengan peningkatan TIK (Tekanan Intra Kranial)

    Etiologi

    • Gangguan sirkulasi LCS

    • Gangguan produksi LCS

    Tanda dan Gejala

    • Terjadi pembesaran tengkorak

    • Terjadi kelainan neurologis, yaitu Sun Set Sign (Mata selalu mengarah kebawah)

    • Gangguan perkembangan motorik

    • Gangguan penglihatan karena atrofi saraf penglihatan

    Penatalaksanaan

    • Pembedahan

    • Pemasangan “Suchn Suction”

    11. Fimosis

    Fimosis merupakan pengkerutan atau penciutan kulit depan penis atau suatu keadaan normal yang sering ditemukan pada bayi baru lahir atau anak kecil, dan biasanya pada masa pubertas akan menghilang dengan sendirinya

    Etiologi

    Malformasi konginetal

    Tanda dan Gejala

    Gangguan proses berkemih

    Penatalaksanaan

    Dilakukan tindakan sirkumsisi

    12. Hipospadia

    Hipospadia yaitu lubang uretra tidak terletak pada tempatnya, mis : berada di bawah penis

    Etiologi

    • Uretra terlalu pendek, sehingga tidak mencapai glans penis

    • Kelainan terbatas pada uretra anterior dan leher kandung kemih

    • Merupakan kelainan konginetal

    Tanda dan Gejala

    • Penis agak bengkok

    • Kadang terjadi keluhan miksi, jika disertai stenosis pada meatus externus

    Penatalaksanaan

    • Pada bayi : dilakukan tindakan kordektomi

    • Pada usia 2-4 tahun : dilakukan rekonstruksi uretra

    • Tunda tindakan sirkumsisi, hingga kulit preputium penis/scrotum dapat digunakan pada tindakan neouretra

    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

    Blog Archive