Showing posts with label Konsep Dasar. Show all posts
Showing posts with label Konsep Dasar. Show all posts

Thursday, April 22, 2010

Tinjauan Teoritis Primipara


  • Pimpinan adalah wanita yang telah melahirkan bayi aterm sebanyak satu kali (Manuaba, 1998)
  • Primipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama kolinya (Mochtar, 1998)
  • Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup besar untuk hidup di dunia luar matur atau prematur (Bagian obstetri dan ginekologi fakultas kedokteran Universitas Pajajaran)
Perbedaan Primigravida dan Multigravida

Primigravida :
* buah dada tegang
* puting susu runcing
* perut tegang dan menonjol kedepan
* striae lividae
* perineum utuh
* vulva tertutup
* hymen perforatusvagina sempit dan teraba rugae
* portio runcing, ost. ext. tertutup

Multigravida :
* lembek, menggantung
* puting susu tumpul
* perut lembek dan tergantug
* striae lividae dan striae albicans
* perineum berparut
* vulva mengangah
* carunculae myrtiformis
* vagina longgar, selaput lendir licin
* portio timpul dan terbagi dalam bibir depan dan bibir belakang.

Sunday, February 28, 2010

Leukemia

Leukemia

Pengertian

Menurut Ahmad Ramadi (1998) leukemia merupakan penyakit ganas, progresif pada organ - organ pembentukan darah yang ditandai dengan proliferasi dan perkembangan leukosit serta pendahulunya secara abnormal di dalam darah dan sumsum tulang belakang. Proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang tidak abnormal, jumlahnya berlebihan, dapat ,menyebabkan anemia, trombositopenia, dan diakhiri dengan kematian (Mansjoer, 1999).

Menurut jenisnya, leukemia dapat dibagi atas leukemia mieloid dan limfoid. Masing-masing ada yang akut dan kronik. Secara garis besar , pembagian leukemia adalah sebagai berikut yaitu :

Leukemia limfoid :

Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)

Merupakan kanker yang paling sering menyerang anak-anak dibawah umur 15 tahun, dengan puncak insidensi antara umur 3 sampai 4 tahun.

Manifestasi dari LLA adalah berupa proliferasi limpoblas abnormal dalam sum-sum tulang dan tempat-tempat ekstramedular. Paling sering terjadi pada laiki - laki dibandingkan perempuan, LLA jarang terjadi (Smeltzer dan Bare, 2001).

Gejala pertama biasanya terjadi karena sumsum tulang gagal menghasilkan sel darah merah dalam jumlah yang memadai, yaitu berupa: lemah dan sesak nafas, karena anemia (sel darah merah terlalu sedikit) infeksi dan demam karena, berkurangnya jumlah sel darah putih perdarahan, karena jumlah trombosit yang terlalu sedikit. (www.medicastore.com)

Manifestasi klinis :

  • Hematopoesis normal terhambat
  • Penurunan jumlah leukosit
  • Penurunan sel darah merah
  • Penurunan trombosit

Leukeumia Limfositik Kronik (LLK)

Leukemia Limfositik Kronik (LLK) ditandai dengan adanya sejumlah besar limfosit (salah satu jenis sel darah putih) matang yang bersifat ganas dan pembesaran kelenjar getah bening. Lebih dari 3/4 penderita berumur lebih dari 60 tahun, dan 2-3 kali lebih sering menyerang pria. Pada awalnya penambahan jumlah limfosit matang yang ganas terjadi di kelenjar getah bening. Kemudian menyebar ke hati dan limpa, dan kedua nya mulai membesar. Masuknya limfosit ini ke dalam sumsum tulang akan menggeser sel-sel yang normal, sehingga terjadi anemia dan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit di dalam darah. Kadar dan aktivitas antibodi (protein untuk melawan infeksi) juga berkurang. Sistem kekebalan yang biasanya melindungi tubuh terhadap serangan dari luar, seringkali menjadi salah arah dan menghancurkan jaringan tubuh yang normal. (www.medicastore.com)

Manifestasinya adalah :

  • Adanya anemia
  • Pembesaran nodus limfa
  • Pembesaran organ abdomen
  • Jumlah eritrosi dan trombosit mungkin normal atau menurun
  • Terjadi penurunan jumlah limfosit (limfositopenia)

Leukemia Mieloid

Leukemia Mielositik akut (LMA)


Menurut Smeltzer dan Bare (2001), Leukemia akut ini mengenai sel stem hematopoetik yang kelak berdiferensiasi ke sua sel mieloid;monosit, granulosit, eritrosit, dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena , insidensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.

Gambaran klinis LMA, antara lain yaitu ;terdapat peningkatan leukosit, pembesaran pada limfe, rasa lelah, pucat, nafsu makan menurun, anemia, ptekie, perdarahan , nyeri tulang, Infeksi

Leukemia Mielogenus Kronik (LMK)

Leukemia Mielositik (mieloid, mielogenous, granulositik, LMK) adalah suatu penyakit dimana sebuah sel di dalam sumsum tulang berubah menjadi ganas dan menghasilkan sejumlah besar granulosit (salah satu jenis sel darah putih) yang abnormal (www.medicastore.com).

Dimasukkan kedalam keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak terdapat sel normal dibaniding dalam bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan, jarang menyerang individu di bawah umur 20 tahun, namun insidensinya meningkat sesuai pertambahan umur.

Gambaran klinis LMK mirip dengan LMA, tetapi gejalanya lebih ringan yaitu ; Pada stadium awal, LMK bisa tidak menimbulkan gejala. Tetapi beberapa penderita bisa mengalami: kelelahan dan kelemahan, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, demam atau berkeringat dimalam hari, perasaan penuh di perutnya (karena pembesaran limpa) (Smeltzer dan Bare, 2001).

Etiologi

Menurut Smeltzer dan Bare (2001) meskipun penyebab leukemia tidak diketahui , presdiposisi genetik maupun faktor-faktor lingkungan kelihatannya memainkan peranan.

Faktor lingkungan berupa paparan radiasi pergion dosis tinggi disertai manifestasi leukemia yang timbul bertahun-tahun kemudian. Zat-zat kimia (misalnya benzen, arsen, pestisida, kloramfenikol, fenilbutazone, dan agen antineoplastil) dikaitkan dengan frkuensi yang meningkat khususnya agen-agen alkil.

Leukemia biasanya mengenai sel-sel darah putih.

Penyebab dari sebagian besar jenis leukemia tidak diketahui.

Virus menyebabkan beberapa leukemia pada binatang (misalnya kucing). Virus HTLV-I (human T-cell lymphotropic virus type I), yang menyerupai virus penyebab AIDS, diduga merupakan penyebab jenis leukemia yang jarang terjadi pada manusia, yaitu leukemia sel-T dewasa.Pemaparan terhadap penyinaran (radiasi) dan bahan kimia tertentu (misalnya benzena) dan pemakaian obat antikanker, meningkatkan resiko terjadinya leukemia. Orang yang memiliki kelainan genetik tertentu (misalnya sindroma Down dan sindroma Fanconi), juga lebih peka terhadap leukemia (www. medicastore.com).

Patofisiologi

Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan kita dengan infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai dengan perintah, dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Lekemia meningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal. Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi seperti biasanya. Sel lekemia memblok produksi sel darah putih yang normal , merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel lekemia juga merusak produksi sel darah lain pada sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada jaringan (www.MayoClinic.com).

Menurut Smeltzer dan Bare (2001) analisa sitogenik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai aberasi kromosomal yang terdapat pada pasien dengan leukemia,. Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan angka, yang menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan struktur, yang termasuk translokasi ini, dua atau lebih kromosom mengubah bahan genetik, dengan perkembangan gen yang berubah dianggap menyebabkan mulainya proliferasi sel abnormal.

Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang kompleks). Penyusunan kembali kromosom (translokasi kromosom) mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga sel membelah tak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang menghasilkan sel-sel darah yang normal. Kanker ini juga bisa menyusup ke dalam organ lainnya, termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening, ginjal dan otak.(www. medicastore.com)

Pemeriksaan penunjang

Menurut Doengoes dkk (1999) menyatakan bahwa pemeriksaan penunjang mengenai leukemia adalah :

  • Hitung darah lengkap menunjukkan normositik, anemia normositik.
  • Hemoglobin : dapat kurang dari 10 g/100 ml
  • Retikulosit : jumlah biasanya rendah
  • Jumlah trombosit : mungkin sangat rendah (<50.000/mm)
  • SDP : mungkin lebih dari 50.000/cm dengan peningkatan SDP yang imatur (mungkin menyimpang ke kiri). Mungkin ada sel blast leukemia.
  • PT/PTT : memanjang
  • LDH : mungkin meningkat
  • Asam urat serum/urine : mungkin meningkat
  • Muramidase serum (lisozim) : penigkatabn pada leukimia monositik akut dan mielomonositik.
  • Copper serum : meningkat
  • Zinc serum : meningkat
  • Biopsi sumsum tulang : SDM abnormal biasanya lebih dari 50 % atau lebih dari SDP pada sumsum tulang. Sering 60% - 90% dari blast, dengan prekusor eritroid, sel matur, dan megakariositis menurun.
  • Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan

Penatalaksanaan

Pengobatan Leukemia Mielogenus Kronik

Sebagian besar pengobatan tidak menyembuhkan penyakit, tetapi hanya memperlambat perkembangan penyakit. Pengobatan dianggap berhasil apabila jumlah sel darah putih dapat diturunkan sampai kurang dari 50.000/mikroliter darah. Pengobatan yang terbaik sekalipun tidak bisa menghancurkan semua sel leukemik. Satu-satunya kesempatan penyembuhan adalah dengan pencangkokan sumsum tulang. Pencangkokan paling efektif jika dilakukan pada stadium awal dan kurang efektif jika dilakukan pada fase akselerasi atau krisis blast. Obat interferon alfa bisa menormalkan kembali sumsum tulang dan menyebabkan remisi. Hidroksiurea per-oral (ditelan) merupakan kemoterapi yang paling banyak digunakan untuk penyakit ini. Busulfan juga efektif, tetapi karena memiliki efek samping yang serius, maka pemakaiannya tidak boleh terlalu lama. Terapi penyinaran untuk limpa kadang membantu mengurangi jumlah sel leukemik. Kadang limpa harus diangkat melalui pembedahan (splenektomi) untuk: mengurangi rasa tidak nyaman di perut, meningkatkan jumlah trombosit, mengurangi kemungkinan dilakukannya tranfusi.

Leukemia Limfoblastik Akut :

Tujuan pengobatan adalah mencapai kesembuhan total dengan menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel noramal bisa tumbuh kembali di dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani kemoterapi perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang.

Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan: transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi. Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu. Suatu kombinasi terdiri dari prednison per-oral (ditelan) dan dosis mingguan dari vinkristin dengan antrasiklin atau asparaginase intravena. Untuk mengatasi sel leukemik di otak, biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke dalam cairan spinal dan terapi penyinaran ke otak. Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah pengobatan awal yang intensif untuk menghancurkan sel leukemik, diberikan pengobatan tambahan (kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-sisa sel leukemik. Pengobatan bisa berlangsung selama 2-3 tahun. Sel-sel leukemik bisa kembali muncul, seringkali di sumsum tulang, otak atau buah zakar. Pemunculan kembali sel leukemik di sumsum tulang merupakan masalah yang sangat serius. Penderita harus kembali menjalani kemoterapi. Pencangkokan sumsum tulang menjanjikan kesempatan untuk sembuh pada penderita ini. Jika sel leukemik kembali muncul di otak, maka obat kemoterapi disuntikkan ke dalam cairan spinal sebanyak 1-2 kali/minggu. Pemunculan kembali sel leukemik di buah zakar, biasanya diatasi dengan kemoterapi dan terapi penyinaran.

Pengobatan Leukeumia Limfositik Kronik

Leukemia limfositik kronik berkembang dengan lambat, sehingga banyak penderita yang tidak memerlukan pengobatan selama bertahun-tahun sampai jumlah limfosit sangat banyak, kelenjar getah bening membesar atau terjadi penurunan jumlah eritrosit atau trombosit. Anemia diatasi dengan transfusi darah dan suntikan eritropoietin (obat yang merangsang pembentukan sel-sel darah merah). Jika jumlah trombosit sangat menurun, diberikan transfusi trombosit. Infeksi diatasi dengan antibiotik.

Terapi penyinaran digunakan untuk memperkecil ukuran kelenjar getah bening, hati atau limpa. Obat antikanker saja atau ditambah kortikosteroid diberikan jika jumlah limfositnya sangat banyak. Prednison dan kortikosteroid lainnya bisa menyebabkan perbaikan pada penderita leukemia yang sudah menyebar. Tetapi respon ini biasanya berlangsung singkat dan setelah pemakaian jangka panjang, kortikosteroid menyebabkan beberapa efek samping. Leukemia sel B diobati dengan alkylating agent, yang membunuh sel kanker dengan mempengaruhi DNAnya. Leukemia sel berambut diobati dengan interferon alfa dan pentostatin.



http://askep-askeb.cz.cc/

PATOGENESIS

Faktor- factor plasma yang terlibat pada reaksi- reaksi peradangan antara lain : factor hagemen, system kinigonen, dan system fibrinogen dan plasminogen.Masing- masing system tersebut melibatkan substrat- substrat, activator enzim, kofaktor, dan inhibitor yang spesifik.
Mediator- mediator molekuler kecil meliputi histamine, peptida kinin, serotonin, nukleotida- nukleotida siklik, leukotrien, dan prostaglandin.Beberapa dari zat kimia ini, yang dihasilkan oleh sel- sel tubuh, mempunyai efek yang besar pada mikrosirkulasi dalam konsentrasiyang sangat kecil.Pada system- system model penyuntikan histamine, bradikinin, dan serotomin hanya menghasilkan efek segera dan sementara pada mikrosirkulasi.Apakah zat- zat seperti ini hanya bekerja mengawali respons radang atau apakah produksinya yang terus- menerus dapat memperpanjang peradangan tidaklah jelas.Peptida- peptide kinin di dalam cairan sinovial dari sendi lutut yang meradang telah diperlihatkan dengan bioassay.Konsentrasi prostaglandin yang tinggi telah ditemukan pada jaringan- jaringan radang, termasuk sinovium reumatoid.Prostaglandin- prostaglandin ini disintesis dari asam arachidonat, dengan enzim pertama pada rangkaiannya, siklooksigenase, mudah dihambat secara spesifik dengan kebanyakan obat- obat antiperadangan non steroid.Jalan metabolisme asam arachidonat lain yang penting melibatkan enzim lipoksinogen; enzim ini mengkatalisis produksi leukotrien.Senyawa- senyawaan ini merupakan factor khemotaktik yang poten dan mencakup zat reaktif lambat, suatu mediator pada reaksi-reaksi alergi.
Selama fagositosis bahan partikel, membrane sel melakukan invaginasi untuk membungkus partikel yang dimakannya, sehingga membentuk suatu vakuola autofagik, dinding lipid lisosom tersebut menyatu dengan vakuola dan mengeluarkan enzim- enzim hidrolitik ke dalam vakuola tersebut dank e lingkungan ekstraseluler.Leukosit- leukosit yang mengeluarkan enzim sebagai respons terhadap bahan partikel seperti bakteri dan kristal- kristal akan mati dalam beberapa jam.
Eksotosin –eksotosin bacterial tertentu, seperti streptolisin O dan S,dapat memecahkan lisosom ke dalam sitoplasma leukosit, yang mengakibatkan kematian sel yang cepat.Fenomena ini membuat beberapa peneliti menganggap lisosom sebagai ‘’ kantong- kantong bunuh diri’’.
Eksotosin stafiolkok, ‘’leukocidin’’, menyebabkan granul- granul tersebut membengkak menjadi vesikel- vesikel, yang beberapa diantaranya menyatu dengan membrane sel dan pecah keluar.Produk akhir pada setiap kasus adalah leukosit yang mengalami degranulasi yang memperlihatkan perubahan- perubahan inti dan sitoplasmanya pada kematian sel, dan hamper setiap eksudat yang kaya leukosit polimorfonuklear memperlihatkan peninggian aktivitas enzim- enzim tersebut, yang berfungsi sebagai petunjuk keusakan lisosom.
Interrelasi antara berbagai factor dan kepentingan relatifnya dalam menimbulkan perubahan- perubahan jaringan yang khas untuk peradangan tidaklah sepenuhnya dipahami sampai saat ini.Meskipun demikian, masih mungkin untuk menguji mekanisme- mekanisme ini kalau mereka menerapkan pada berbagai tipe penyakit radang sendi.Banyak dari sisa dalam bab ini mencerminkan usaha untuk melaksanakan hal ini.

Diabetik Mellitus & Gangren Diabetik

Diabetik Mellitus & Gangren Diabetik

Diabetik Mellitus
2.3.1 Pengertian
Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolik ( kebanyakan herediter ) sebagai akibat dari kurangnya efektif insulin ( pada DM-Tipe 2 ) atau insulin absolut ( pada DM-Tipe 1 ) di dalam tubuh, dengan tanda tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan gejala klinik acut ( poliuria, polidipsia, penurunan berat badan ), dan atupun gejala kronik atau kadang-kadang tanpa gejala ; gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat, dan sekunder pada metabolisme lemak dan protein ( Tjokroprawiro A, 1998 : hal 5 )

Klasifikasi Diabetes mellitus
Menurut Tjokroprawiro A, 1998, hal : 8 bahwa, klasifikasi Diabete Mellitus sebagai berikut :
DM Tipe 1
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut
DM Tipe 2
Bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin.
DM Tipe Lain
1). Defek genetik sel beta
2). Defek genetik kerja insulin
3). Penyakit eksokrin pankreas
4). Endokrinopati
5). Karena obat / zat kimia
6). Infeksi
7). Imunologi
8). Syndrom genetik lain yang berkaitan dengan DM
Diabetes mellitus Gestasional ( DMG )

Faktor-faktor resiko tinggi untuk DM
Menurut Tjokroprawiro A, 1998, hal : 11. Faktor resiko tinggi untuk DM adalah :
Kelompok usia dewasa tua ( > 45 tahun )
Kegemukan
Tekanan darah tinggi ( > 140 / 90 mmHg )
Riwayat keluarga DM
Riwayat kehamilan dengan berat badan lahir bayi > 4000 gram
Riwayat DM pada kehamilan
Dislipidemia ( HDL <> 250 mg/dl )
Pernah TGT atau Glukosa Darah Puasa Terganggu ( GDPT )

Gejala klinik Diabetes Mellitus
Gejala klinik Dm adalah : " Trias Sindrom Diabetik Acut " yaitu : polidisi, poliuri dan berat badan menurun, dan gejala kronis yang sering terjadi adalah lemah badan, kesemutan, penurunan kemampuan seksual, gangguan penglihatan yang sering berubah, kaku otot, kaku sendi dan lain-lain ( Tjokroprawiro A, 1998 hal : 16 )

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dasar terapi DM " Pentalogi Terapi DM " menurut Tjokroprawiri A, 1998 hal : 22 sebagai berikut :
Diet
Latihan fisik
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat ( PKM )
Obat hipoglikemia ( OHO dan Insulin )
Cangkok Pankreas

2.4 Gangren Diabetik
2.4.1 Pengertian
Gangren atau pemakan luka didefinisikan sebagaii jaringan nekrosis atau jaringan mati yang disebabkan oleh adanya emboli pembuluh darah besar arteri pada bagian tubuh sehingga suplai darah terhenti. Dapat terjadi sebagai akibat proses inflamasi yang memanjang; perlukaan (digigit serangga, kecelakaan kerja atau terbakar); proses degeneratif (arteriosklerosis) atau gangguan metabolik diabetes mellitus (Tabber, dikutip Gitarja, 1999, hal. 13).
Ganggren diabetik adalah nekrosis jaringan pada bagian tubuh perifer akibat penyakit diabetes mellitus. Biasanya gangren tersebut terjadi pada daerah tungkai. Keadaan ini ditandai dengan pertukaran sekulitis dan timbulnya vesikula atau bula yang hemoragik kuman yang biasa menginfeksi pada gangren diabetik adalah streptococcus (Soeatmaji, 1999, hal. 687).

2.4.2 Faktor resiko terjadinya gangren diabetik
Berbagai faktor resiko yang dapat mempengaruhi timbulnya gangren diabetik adalah neuropati, iskemia, dan infeksi. (Sutjahyo A, 1998; hal. 3)
Iskemia disebabkan karena adanya penurunan aliran darah ke tungkai akibat makroangiopati ( aterosklerosis ) dari pembuluh darah besar di tungkai terutama pembuluh darah di daerah betis. Angka kejadian gangguan pembuluh darah perifer lebih besar pada diabetes millitus dibandingkan dengan yang bukan diabetes millitus. Menurut Ari Sutjahjo (1998; hal. 3) hal ini disebabkan karena beberapa faktor. Resiko lebih banyak dijumpai pada diabetes mellitus sehingga memperburuk fungsi endotel yang berperan terhadap terjadinya proses atherosklerosis. Kerusakan endotel ini merangsang agregasi platelet dan timbul trombosis, selanjutnya akan terjadi penyempitan pembuluh darah dan timbul hipoksia. Ischemia atau gangren pada kaki diabetik dapat terjadi akibat dari atherosklerosis yang disertai trombosis, pembentukan mikro trombin akibat infeksi, kolesterol emboli yang bersal dari plak atheromatous dan obat-obat vasopressor. Gambaran klinik yang tampak adalah penderita mengeluh nyeri tungkai bawah waktu istirahat, kesemutan, cepat lelah, pada perabaan terasa dingin, pulsasi pembuluh darah kurang kuat dan didapatkan ulkus atau gangren.
Adanya neurophaty perifer akan menyebabkan gangguan sensorik maupun motorik. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilangnya atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga penderita akan mengalami trauma tanpa terasa, yang mengakibatkan terjadinya atropi pada otot kaki sehingga merubah titik tumpu yang mengakibatkan pula terjadinya ulkus pada kaki. Ulkus yang terjadi pada kaki diabetik umumnya diakibatkan karena trauma ringan, ulkus ini timbul didaerah-daerah yang sering mendapat tekanan atau trauma pada telapak kaki, hal ini paling sering terjadi, didaerah sendi metatarsofalangeal satu dan lima didaerah ibu jari kaki dan didaerah tumit. Mula-mula inti penebalan hiper keratotik dikulit telapak kaki, kemudian penebalan tersebut mengalami trauma disertai dengan infeksi sekunder. Ulkus terjadi makin lama makin dalam mencapai daerah subkutis dan tampak sebagaii sinus atau kerucut bahkan sampai ketulang.
Infeksi sendiri jarang merupakan faktor tunggal untuk terjadinya gangren. Infeksi lebih sering merupakan komplikasi yang menyertai gangren akibat ischemia dan neuropathy. Ulkus berbentuk bullae, biasanya berdiameter lebih dari satu sentimeter dan terisi masa, sisa-sisa jaringan tanduk, lemak pus dan krusta diatas dasar granulomatous. Ulkus berjalan progresif secara kronik, tidak terasa nyeri tetapi kadang-kadang ada rasa sakit yang berasal dari struktur jaringan yang lebih dalam atau lebih luar dari luka. Bila krusta dan produk-produk ulkus dibersihkan maka tampak ulkus yang dalam seperti kerucut, ulkus ini dapat lebih progresif bila tidak diobati dan dapat terjadi periostitis atau osteomyelitis oleh infeksi sekunder akibatnya timbul osteoporosis, osteolisis dan destruktif tulang.

2.4.3 Gejala Umum
Penderita dengan gangren diabetik, sebelum terjadi luka keluhan yang timbul adalah berupa kesemutan atau kram, rasa lemah dan baal pada tungkai dan nyeri pada waktu istirahat. Akibat dari keluhan ini, maka apabila penderita mengalami trauma atau luka kecil hal tersebut tidak dirasakan. Luka tersebut biasanya disebabkan karena penderita tertusuk atau terinjak paku kemudian timbul gelembung-gelembung pada telapak kaki. Kadang menjalar sampai punggung kaki dimana tidak menimbulkan rasa nyeri, sehingga bahayanya mudah terjadi infeksi pada gelembung tersebut dan akan menjalar dengan cepat (Sutjahyo A, 1998, hal : 7 ). Apabila luka tersebut tidak sembuh-sembuh, bahkan bertambah luas baru penderita menyadari dan mencari pengobatan. Biasanya gejala yang menyertai adalah kemerahan yang makin meluas, rasa nyeri makin meningkat, panas badan dan adanya nanah yang makin banyak serta adanya bau yang makin tajam.

2.4.4 Pengobatan dan perawatan
Pengobatan dari gangren diabetik sangat dipengaruhi oleh derajat dan dalamnya ulkus, apabila dijumpai ulkus yang dalam harus dilakukan pemeriksaan yang seksama untuk menentukan kondisi ulkus dan besar kecilnya debridement yang akan dilakukan. Dari penatalaksanaan perawatan luka diabetik ada beberapa tujuan yang ingin dicapai, antara lain :
Mengurangi atau menghilangkan faktor penyebab
Optimalisasi suanana lingkungan luka dalam kondisi lembab
Dukungan kondisi klien atau host (nutrisi, kontrol DM, kontrol faktor penyerta)
Meningkatkan edukasi klien dan keluarga
Perawatan luka diabetik
Mencuci luka
Mencuci luka merupakan hal pokok untuk meningkatkan, memperbaiki dan mempercepat proses penyembuhan luka serta menghindari kemungkinan terjaadinya infeksi. Proses pencucian luka bertujuan untuk membuang jaringan nekrosis, cairan luka yang berlebihan, sisa balutan yang digunakan dan sisa metabolik tubuh pada permukaan luka. Cairan yang terbaik dan teraman untuk mencuci luka adalah yang non toksik pada proses penyembuhan luka (misalnya NaCl 0,9%). Penggunaan hidrogenperoxida, hypoclorite solution dan beberapa cairan debridement lainnya, sebaliknya hanya digunakan pada jaringan nekrosis / slough dan tidak digunakan pada jaringan granulasi. Cairan antiseptik seperti provine iodine sebaiknya hanya digunakan saat luka terinfeksi atau tubuh pada keadaan penurunan imunitas, yang kemudian dilakukan pembilasan kembali dengan saline. (Gitarja, 1999; hal. 15).

Debridement
Debridement adalah pembuangan jaringan nekrosis atau slough pada luka. Debridement dilakukan untuk menghindari terjadinya infeksi atau selulitis, karena jaringan nekrosis selalu berhubungan dengan adanya peningkatan jumlah bakteri. Setelah debridement, jumlah bakteri akan menurun dengan sendirinya yang diikuti dengan kemampuan tubuh secara efektif melawan infeksi. Secara alami dalam keadaan lembab tubuh akan membuang sendiri jaringan nekrosis atau slough yang menempel pada luka (peristiwa autolysis). Autolysis adalah peristiwa pecahnya atau rusaknya jaringan nekrotik oleh leukosit dan enzim lyzomatik. Debridement dengan sistem autolysis dengan menggunakan occlusive dressing merupakan cara teraman dilakukan pada klien dengan luka diabetik. Terutama untuk menghindari resiko infeksi. (Gitarja W, 1999; hal. 16).

Terapi Antibiotika
Pemberian antibiotika biasanya diberikan peroral yang bersifat menghambat kuman gram positip dan gram negatip. Apabila tidak dijumpai perbaikan pada luka tersebut, maka terapi antibiotika dapat diberikan perparenteral yang sesuai dengan kepekaan kuman. (Sutjahyo A, 1998; hal. 8).

Nutrisi
Faktor nutrisi merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam penyembuhan luka. Penderita dengan ganren diabetik biasanya diberikan diet B1 dengan nilai gizi : yaitu 60% kalori karbohidrat, 20% kalori lemak, 20% kalori protein. (Tjokroprawiro, A, 1998; hal. 26).

Pemilihan jenis balutan
Tujuan pemilihan jenis balutan adalah memilih jenis balutan yang dapat mempertahankan suasana lingkungan luka dalam keadaan lembab, mempercepat proses penyembuhan hingga 50%, absorbsi eksudat / cairan luka yanag keluar berlebihan, membuang jaringan nekrosis / slough (support autolysis ), kontrol terhadap infeksi / terhindar dari kontaminasi, nyaman digunakan dan menurunkan rasa sakit saat mengganti balutan dan menurunkan jumlah biaya dan waktu perawatan (cost effektive). Jenis balutan: absorbent dressing, hydroactive gel, hydrocoloid. (Gitarja, 1999; hal. 16).
Selain pengobatan dan perawatan diatas, perlu juga pemeriksaan Hb dan albumin minimal satu minggu sekali, karena adanya anemia dan hipoalbumin akan sangat berpengaruh dalam penyembuhan luka. Diusahakan agar Hb lebih 12 g/dl dan albumin darah dipertahankan lebih 3,5 g/dl. Dan perlu juga dilakukan monitor glukosa darah secara ketat, Karena bila didapatkan peningkatan glukosa darah yang sulit dikendalikan, ini merupakan salah satu tanda memburuknya infeksi yang ada sehingga luka sukar sembuh.
Untuk mencegah timbulnya gangren diabetik dibutuhkan kerja sama antara dokter, perawat dan penderita sehingga tindakan pencegahan, deteksi dini beserta terapi yang rasional bisa dilaksanakan dengan harapan biaya yang besar, morbiditas penderita gangren dapat ditekan serendah-rendahnya. Upaya untuk pencegahan dapat dilakukan dengan cara penyuluhan dimana masing-masing profesi mempunyai peranan yang saling menunjang.
Dalam memberikan penyuluhan pada penderita ada beberapa petunjuk perawatan kaki diabetik (Sutjahyo A, 1998; hal. 8):
Gunakan sepatu yang pas dan kaos kaki yang bersih setiap saat berjalan dan jangan bertelanjang kaki bila berjalan
Cucilah kaki setiap hari dan keringkan dengan baik serta memberikan perhatian khusus pada daerah sela-sela jari kaki
Janganlah mengobati sendiri apabila terdapat kalus, tonjolan kaki atau jamur pada kuku kaki
Suhu air yang digunakan untuk mecuci kaki antara 29,5 – 30 derajat celsius dan diukur dulu dengan termometer
Janganlah menggunakan alat pemanas atau botol diisi air panas
Langkah-langkah yang membantu meningkatkan sirkulasi pada ekstremitas bawah yang harus dilakukan, yaitu :
Hindari kebiasaan merokok
Hindari bertumpang kaki duduk
Lindungi kaki dari kedinginan
Hindari merendam kaki dalam air dingin
Gunakan kaos kaki atau stoking yang tidak menyebabkan tekanan pada tungkai atau daerah tertentu
Periksalah kaki setiap hari dan laporkan bila terdapat luka, bullae kemerahan atau tanda-tanda radang, sehingga segera dilakukan tindakan awal
Jika kulit kaki kering gunakan pelembab atau cream

Konsep Dasar Model Adaptasi Roy

Model Roy memfokuskan pada konsep adaptasi manusia (person), keperawatan, sehat, lingkungan dan aktivitas keperawatan yang semuanya saling berhubungan satu sama lain. Lima (5) elemen utama Roy Adaptation Model. (Dikutip Haryanto J, 2001; hal. 47)
2.1.1 Person
Penerima asuhan keperawatan bisa seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat. Masing-masing dilihat sebagaii Holistic adaptive System. Sistem adaptasi ini merupakan gabungan antara adaptasi dan sistem. Roy memandang seseorang secara menyeluruh (holistik) yang merupakan suatu kesatuan. Salah satu ciri sistem adalah keterbukaan. Dunn, seorang tokoh dalam teori sistem mengatakan bahwa unit terkecil dari kehidupan adalah sel. Sel adalah sistem terbuka, dari luar sel mendapatkan zat-zat yang dibutuhkan sel untuk hidup sedangkan dari dalam ia harus memelihara kehidupan molekul atau organ-organ selnya. Interaksi yang konstan antara person dengan lingkungan akan dapat mengakibatkan perubahan baik internal naupun eksternal. Dalam menghadapi perubahan ini manusia harus memelihara integritas dirinya dan ia selalu beradaptasi sehingga manusia (person) dianggap sebagaii "holistic adaptive system" yaitu sistem yang selalu beradaptasi secara menyeluruh.
Mengaplikasikan individu sebagaii sistem yang holistik, masing-masing aspek dari individu membentuk unfied being. Sebagaii living system seseorang secara konstan berinteraksi dengan lingkungan, sehingga antara sistem dan lingkungan terjadi pertukaran informasi, materi dan energi yang akan dapat menimbulkan respon. Ini merupakan pengaruh dari keterbukaan sistem.
Sistem adaptasi mendapatkan input dan menimbulkan output. Roy mengidentifikasi input sebagaii stimulus. Stimulus merupakan suatu kesatuan informasi, bahan-bahan atau hal-hal atau energi dari lingkungan atau dari dalam diri seseorang itu sendiri yang dapat menimbulkan respon. Tingkat adaptasi seseorang tergantung dari stimulus yang diterima dan yang masih dapat di adaptasi secara biasa. Rentang respon ini adalah unik untuk setiap person. Setiap tingkat adaptasi setiap person selalu berubah-ubah, karena dipengaruhi oleh mekanisme koping (upaya penanganan) person tersebut.
Roy mengidentifikasi Output sebagaii prilaku. Prilaku yang terlihat dapat secara eksternal maupun internal. Hal ini dapat diobservasi, di ukur atau secara subyektif melalui wawancara sebagaii yang dilaporkan person. Prilaku ini merupakan umpan balik untuk sistem. Roy mengkategorikan output sistem sebagaii respon yang adaptif atau respon yang mal adaptif. Respon adaptif dapat meningkatkan integritas person.
Integritas person secara keseluruhan dapat terlihat bila person tersebut mampu untuk melaksanakan tujuan yang berkenan dengan kelangsungan hidup (Survival), perkembangan (Growth), reproduksi dan keunggulan (Mastery), sedangkan respon yang tidak effektif (Mal-adaptive) tidak mendukung terciptanya : kelangsungan hidup (Survival), perkembangan (Growth), reproduksi dan keunggulan (Mastery).
Roy telah menggunakan bentuk mekanisme koping untuk menjelaskan proses kontrol person sebagaii adaptive system. Beberapa mekanisme koping diwariskan atau genetik, seperti sel darah putih, sebagaii sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme asing. Mekanisme yang lain yang dipelajari seperti penggunaan antiseptik untuk membersihkan luka. Roy memperkenalkan konsep ilmu keperawatan yang unik yaitu mekanisme kontrol.
Mekanisme kontrol ini disebut "Regulator" dan "Cognator" Roy adaptation model's menganggap mekanisme koping regulator dan cognator adalah subsistem.
Person, An Adaptation System
INPUT PROSES EFEKTOR OUTPUT


Keterangan :
An adaptive System, ada input (dalam / luar) yang merupakan rangsangan (info, matter, energy) dan timbul respon sejalan dengan rangsangan itu level adaptasi seseorang bertindak sebagaii adaptive system.
Level Adaptasi : merupakan rentang dari stimuli dimana seseorang dapat merespon secara adaptive dengan usaha yang biasa (ordinary).
Rentang respon ini unik bagi individu dan dipengaruhi oleh mekanisme koping individu.
Output, dari person sebagai sistem adalah perilaku.
Regulator sebagai subsistem mempunyai komponen-komponen seperti : Input, proses internal dan output. Transmiter regulator sistem adalah chemical, neural atau endocrine. Automatic refleks adalah respon neural dalam brain stem dan spinal cord yang diteruskan sebagai perilaku dari regulator subsistem. Banyak proses fisiologis yang dapat dinilai sebagai prilaku regulator subsistem.
Misal : Bila tubuh terdapat peningkatan terhadap kadar CO2 maka chemoreseptor di medulla oblongata akan terangsang untuk meningkatkan frekuensi sehingga hasilnya terjadi peningkatan ventilasi 6 sampai 7 kali.
Cognator subsistem, Stimulus untuk subsistem bisa eksternal maupun internal. Sedangkan output yang dihasilkan berupa prilaku. Kognator kontrol proses berhubungan dengan fungsi otak dalam memproses informasi, penilaian dan emosi. Persepsi atau proses informasi berhubungan dengan proses internal dalam memilih atensi, mencatat dan memori.



Neural Spinal Cord Brain Respon
Stem Refleks Efektor refleks
Otonom otomatis
STIMULI
INTERNAL
Chemical


Intact ë jalan ke 8 ë Respon Respon
Circulation dari CNS ë Kelenjar ë Output ë organ
ë Respon endokrin hormon target
Tubuh
Jaringan
Chemical


STIMULI Respon
EKSTERNAL Persepsi ë Memori ë organ
Pendek target ë
Efektor
jaringan
Neural

Memori
Panjang


Belajar berkolerasi dengan proses imitasi, reeforcement (penguatan) dan insight (pengertian yang mendalam). Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan adalah proses internal yang berhubungan dengan penilaian atau analisa. Emosi adalah proses pertahanan untuk mencari keringanan, mempergunakan penilaian dan kasih sayang.


STIMULI
INTERNAL

ëRespon ë Effektor


STIMULI
EKSTERNAL

Gambar : Cognator subsistem menurut Roy's Model
Untuk menggambarkan proses internal seseorang sebagaii sistem adaptif, lebih lanjut Roy mengemukakan sistem efektor yang merupakan adaptive modes yang terdiri dari empat aspek, yaitu :
Fungsi fisiologi
Konsep diri
Fungsi Peran
Interdependence
Mekanisme regulator dan cognator berfungsi dalam keempat model diatas. Manifestasi tingkat adaptasi seseorang mencerminkan penggunaan mekanisme koping. Perawat mempunyai tugas mengobservasi dan identifikasi perilaku seseorang sebagaii responnya (adaptive/ineffective) dalam situasi sehat-sakit.
Fungsi Fisiologi
Oksigenasi, menjelaskan penggunaan O2 sehubungan dengan respirasi dan sirkulasi.
Nutrisi, berkaitan dengan zat gizi.
Eliminasi, menjelaskan pola-pola latihan / kerja.
Indera perasa, menjelaskan fungsi sensori-persepsual.
Cairan dan elektrolit, menjelaskan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
Fungsi neurologis, menjelaskan pola neural kontrol dan pengaturan intelektual.
Fungsi endokrin, menjelaskan pola pengaturan respon stress dan sistem reproduksi.
Konsep Diri
Mengenal pola-pola nilai keyakinan, emosi yang berhubungan dengan gambaran diri mengenai :
Physical Self
Personal Self
Moral – Ethical Self
Fungsi Peran
Mengenai pola interaksi sosial seseorang dalam hubungannya dengan orang lain
yang dicerminkan oleh peran primer, sekunder dan tersier.

Interdependence
Nilai-nilai manusiawi yang terjadi pada proses hubungan interpersonal yang berupa kasih sayang, cinta dan ketegasan.
Keempat adaptive model ini mencoba menjawab kepada, "bagaimana seseorang beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi".
2.1.2 Keperawatan
Keperawatan bertujuan untuk membantu individu dalam usaha adaptasi dengan menata lingkungan, sehingga dapat tercapai tingkat kesehatan yang maksimal. Sebagaii sistem yang terbuka, individu menerima input atau stimulus baik dari lingkungan maupun diri sendiri. Tujuan keperawatan adalah membantu manusia (individu) untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan fisik, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi, serta hubungan saling ketergantungan selama sehat dan sakit (Ann Marriner, 1986, hal 301).
2.1.3 Lingkungan
Lingkungan adalah seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. Lingkungan adalah input kedalam diri seseorang sebagai sistem adaptasi yang melibatkan baik faktor internal maupun eksternal (Ann Marriner, 1986, hal 301).
Dengan demikian perubahan lingkungan menuntut peningkatan penggunaan energi untuk dapat beradaptasi. Faktor-faktor dalam lingkungan yang mempengaruhi seseorang dikategorikan sebagaii stimulus fokal, konseptual dan residual.

2.1.4 Kesehatan
Kesehatan dan penyakit tidak dapat dielakkan dari pengalaman total kehidupan seseorang (Ann Marriner, 1986, hal 301).
Kesehatan terjadi ketika manusia secara kontinyu beradaptasi terhadap stimulus, sehingga mereka bebas merespons stimulus yang lainnya. Pembebasan energi dari usaha-usaha penanggulangan yang tidak efektif dapat meningkatkan kesembuhan dan kesehatan.
Aktivitas Keperawatan
Suatu tindakan keperawatan untuk memanipulasi rangsangan fokal, contextual dan residual terhadap seseorang. Perawat mengantisipasi potensial inefektif respon terhadap rangsangan tertentu yang terjadi pada situasi tertentu atau menyiapkan seseorang untuk mengantisipasi perubahan dan memperkuat mekanisme koping.

Kepemimpinan dalam Keperawatan

Kepemimpinan dalam Keperawatan
Definisi kepemimpinan
Kepemimpinan didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi, menggerakkan dan mengarahkan suatu tindakan pada diri seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu (Sujak, 1990). Menurut Robbin (1996), kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan. Koonzt (1984), bahwa kepemimpinan sebagai pengaruh, seni atau proses mempengaruhi orang-orang sehingga mereka akan berusaha mencapai tujuan kelompok dengan kemampuan dan antusias. Dari beberapa pengertian kepemimpinan tersebut, Manduh (1997) memberikan pengertian singakat tentang kepemimpinan yaitu proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari orang-orang dalam kelompok.
Dalam kepemimpinan terdapat beberapa kegiatan kepemimpinan. Menurut Gillies (1997) untuk mencapai kepemimpinan yang efektif harus dilaksanakan kegiatan penugasan dan memberikan pengarahan, memberikan bimbingan, mendorong kerja sama dan partisipasi, mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan, observasi dan supervisi serta evaluasi dari hasil penampilan kerja. Pemimpin yang efektif adalah seorang katalisator dalam memudahkan interaksi yang efektif diantara tenagakerja, bahan dan waktu. Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut, maka seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luas dan kompleks tentang sistem manusia, mempunyai kemampuan hubungan antar manusia terutama dalam mempengaruhi orang lain dan memiliki sekelompok nilai-nilai dalam mengenal orang lain dengan baik. Di samping itu, pemimpin harus mempertimbangkan kewaspadaan diri, karakteristik kelompok, karakteristik individu serta motivasi yang ada dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan organisasi.
2.1.2 Pendekatan/Teori Kepemimpinan
Dalam mengembangkan model kepemimpinan terdapat beberapa teori yang mendasari terbentuknya gaya kepemimpinan. Menurut Whitaker (1996), ada empat macam pendekatan kepemimpinan yaitu:
1) Teori Bakat
Teori bakat terdiri dari bakat intelegensi dan kepribadian. Kemampuan ini merupakan bawaan sejak lahir yang mempunyai pengaruh besar dalam kepemimpinan. Beberapa hal yang menonjol pada teori bakat adalah kepandaian berbicara, kemampuan/keberanian dalam memutuskan sesuatu, penyesuaian diri, percaya diri, kreatif, kemampuan interpersonal dan prestasi yang dapat menjadi bekal dalam membentuk kepemimpinan sehingga seseorang pemimpin dapat mempengaruhi bawahannya.
2) Teori Perilaku
Teori perilaku kepemimpinan memfokuskan pada perilaku yang dipunyai oleh pemimpin dan yang membedakan dirinya dari non pemimpin. Menurut teori ini seorang pemimpin dapat mempelajari perilaku pemimpin supaya dapat menjadi pemimpin yang efektif. Dengan demikian teori perilaku kepemimpinan lebih sesuai dengan pandangan bahwa pemimpin dapat dipelajari, bukan bawaan sejak lahir.
3) Teori Situasi (Contingency)
Teori situasi mengasumsikan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan yang paling baik, tetapi kepemimpinan tergantung pada situasi, bentuk organisasi, kekuasaan atau otoriter dari pemimpin, pekerjaan yang kompleks dan tingkat kematangan bawahan.
4) Teori Transformasi
Teori transformasi mengasumsikan bahwa pemimpin mampu melakukan kepemimpinannya dalam situasi yang sangat cepat berubah atau situasi yang penuh krisis. Menurut Bass (Dikutip Gibson, 1997) seorang pemimpin transformasional adalah seorang yang dapat menampilkan kepemimpinan yang kharismatik, penuh inspirasi, stimulasi intelektual dan perasaan bahwa setiap pengikut diperhitungkan.
2.1.3 Gaya Kepemimpinan
Gaya diartikan sebagai cara penampilan karakteristik atau tersendiri. Menurut Follet (1940), gaya didefiniskan sebagai hak istimewa tersendiri dari si ahli dengan hasil akhir dicapai tanpa menimbulkan isu sampingan. Gillies (1997), menyatakan bahwa gaya kepemimpinan dapat diidentifikasikan berdasarkan perilaku pemimpin. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh pengalaman bertahun-tahun dalam kehidupannya, oleh karena itu kepribadian seseorang akan mempengaruhi gaya kepemimpinan yang digunakan. Gaya kepemimpinan seseorang cenderung sangat bervariasi dan berbeda-beda. Menurut para ahli ada beberapa gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam suatu organisasi antara lain:
1) Gaya Kepemimpinan menurut Tannenbau dan Warren H. Schmidt.
Menurut kedua ahli tersebut, gaya kepemimpinan dapat dijelaskan melalui dua titik ekstrim yaitu kepemimpinan berfokus pada atasan dan kepemimpinan berfokus pada bawahan. Gaya tersebut dipengaruhi oleh faktor manajer, faktor karyawan dan faktor situasi. Jika pemimpin memandang bahwa kepentingan organisasi harus didahulukan dibandingkan kepentingan individu, maka pemimpin akan lebih otoriter. Jika bawahan mempunyai pengalaman yang lebih baik, menginginkan partisipasi, maka pemimpin dapat menerapkan gaya partisipasi.
Gaya Kepemimpinan menurut Likert
Likert mengelompokan gaya kepemimpinan dalam empat sistem yaitu:
Sistem Otoriter-Eksploitatif
Pemimpin tipe ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap bawahannya, memotivasi bawahan melalui ancaman atau hukuman. Komunikasi yang dilakukan satu arah ke bawah (top-down).

(2) Sistem Benevolent-Authoritative
Pemimpin mempercayai bawahan sampai tingkat tertentu, memotivasi bawahan dengan ancaman atau hukuman tetapi tidak selalu dan membolehkan komunikasi ke atas. Pemimpin memperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan meskipun masih melakukan pengawasan yang ketat.
(3) Sistem Konsultatif
Pemimpin mempunyai kepercayaan terhadap bawahan cukup besar. Pemimpin menggunakan balasan (insentif) untuk memotivasi bawahan dengan kadang-kadang menggunakan ancaman atau hukuman. Komunikasi dua arah dan membolehkan keputusan spesifik dibuat oleh bawahan.
(4) Sistem Partisipatif
Pemimpin mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan, selalu memamfaatkan ide bawahan, menggunakan insentif ekonomi untuk memotivasi bawahan. Komunikasi dua arah dan menjadikan bawahan sebagai kelompok kerja.

Gaya Kepemipinan menurut Teori X dan Teori Y
Teori ini di kemukakan oleh Douglas Mc Gregor dalam bukunya "The Human Side of Enterprise" (1960), menyebutkan bahwa perilaku seseorang dalam suatu organisasi dapat dikelompokan dalam dua kutub utama yaitu sebagai Teori X dan Teori Y. Teori X diasumsikan bahwa pemimpin itu tidak menyukai pekerjaan, kurang ambisi, tidak mempunyai tanggung jawab, cendrung menolak perubahan dan lebih suka dipimpin daripada memimpin. Sebaliknya Teori Y diasumsikan bahwa pemimpin itu senang bekerja, bisa menerima tanggung jawab, mampu mandiri, mampu mengawasi diri, mampu berimajinasi dan kreatif. Dari teori ini, gaya kepemimpinan dibedakan menjadi empat macam yaitu:
Gaya kepemimpinan ditaktor
Gaya kepemimpinan yang dilakukan dengan menimbulkan ketakutan serta menggunakan ancaman dan hukuman merupakan bentuk dari pelaksanaan teori X
(2) Gaya kepemimpinan autokratis
Pada dasarnya hampir sama dengan gaya kepemimpinan ditaktor namun bobotnya agak kurang. Segala keputusan berada ditangan pemimpin, pendapat dari bawahan tidak pernah dibenarkan, Gaya ini juga merupakan pelaksanaan dari teori X.
(3)Gaya kepemimpinan demokratis
Ditemukan adaya peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan secara musyawarah. Gaya kepemimpinan ini pada dasarnya sesuai dengan teori Y.
(4) Gaya kepemimpinan santai
Peranan pemimpin hampir tidak terlihat karena segala keputusan diserahkan pada bawahan. Gaya kepemimpinan ini sesuai dengan teori Y (Azwar, 1996).

3) Gaya kepemimpinan menurut Robert House
Berdasarkan teori motivasi pengharapan, Robert House mengemukakan empat gaya kepemimpinan yaitu:
(1) Directive
Pemimpin menyatakan kepada bawahan tentang bagaimana melaksanakan suatu tugas. Gaya ini mengandung arti bahwa pemimpin berorientasi pada hasil.
(2) Supportive
Pemimpin berusaha mendekatkan diri dengan bawahan dan bersikap ramah terhadap bawahan.
(3) Participative
Pemimpin berkonsultasi dengan bawahan untuk mendapatkan masukan dan saran dalam rangka pengambilan keputusan.
Achievement oriented
Pemimpin menetapkan tujuan yang menantang dan mengharapkan bawahan berusaha untuk mencapai tujuan tersebut seoptimal mungkin (Sujak, 1990).
4) Gaya kepemimpinan menurut Hersey dan Blanchard
Ciri-ciri gaya kepemimpinan menurut Hersey dan Blanchard meliputi:
Instruksi
- Tinggi tugas dan rendah hubungan
- Komunikasi searah
- Pengambilan keputusan berada pada pimpinan,peran bawahan sangat minimal.
- Pemimpin banyak memberikan pengarahan atau instruksi yang spesifik serta mengawasi dengan ketat.
(2) Konsultasi
- Tinggi tugas dan tinggi hubungan
- Komunikasi dua arah
- Peran pemimpin dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan cukup besar, bawahan diberi kesempatan untuk memberi masukan dan menampung keluhan.
(3) Partisipasi
- Tinggi hubungan rendah tugas
- Pemimpin dan bawahan bersama-sama memberi gagasan dalam pengambilan keputusan.
(4) Delegasi
- Rendah hubungan dan rendah tugas
- Komunikasi dua arah terjadi diskusi antara pemimpin dan bawahan dalam pemecahan masalah serta bawahan diberi delegasi untuk mengambil keputusan .

5) Gaya kepemimpinan menurut Ronald Lippits dan Rapiph K. White
Menurut Ronald Lippith dan Rapiph K. White, ada tiga gaya kepemimpinan yaitu: otoriter, demokrasi dan liberal yang mulai dikembangkan di Universitas Iowa.
Otoriter
Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Wewenang mutlak berada pada pimpinan
Keputusan selalu dibuat oleh pimpinan
Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan
Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan
Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara ketat
Prakarsa harus selalu berasal dari pimpinan
Tiada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan atau pendapat
Tugas-tugas bawahan diberikan secara instruktif
Lebih banyak kritik daripada pujian
Pimpinan menuntut prestasi sempurna dari bawahan tanpa syarat
Pimpinan menuntut kesetiaan tanpa syarat
Cenderung adanya paksaan, ancaman dan hukuman
Kasar dalam bertindak
Kaku dalam bersikap
Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh pimpinan
Demokratis
Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan.
Gaya kepemimpinan ini memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
Wewenang pimpinan tidak mutlak
Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan
Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
Kebijaksanaan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
Komunikasi berlangsung timbal-balik
Pengawasan dilakukan secara wajar
Prakarsa dapat datang dari bawahan
Banyak kesempatan dari bawahan untuk menyampaikan saran dan pertimbangan
Tugas-tugas kepada bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan daripada instruktif
Pujian dan kritik seimbang
Pimpinan mendorong prestasi sempurna para bawahan dalam batas masing-masing
Pimpinan meminta kesetiaan bawahan secara wajar
Pimpinan memperhatikan perasaan dalam bersikap dan bertindak
Terdapat suasana saling percaya, saling hormat menghormati dan saling menghargai
Tanggung jawab keberhasilan organisasi ditanggung secara bersama-sama
(3) Liberal atau Laissez Faire
Kepemimpinan gaya liberal atau Laissez Faire adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan dengan cara berbagai kegiatan yang dilakukan lebih banyak diserahkan kepada bawahan.
Gaya kepemimpinan ini bercirikan sebagai berikut:
Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan
Keputusan lebih banyak dibuat oleh bawahan
Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh bawahan
Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahan
Hampir tiada pengawasan terhadap tingkah laku bawahan
Prakarsa selalu berasal dari bawahan
Hampir tiada pengarahan dari pimpinan
Peranan pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok
Kepentingan pribadi lebih penting dari kepentingan kelompok
Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh perorangan

6) Gaya kepemimpinan berdasarkan kekuasaan dan wewenang
Menurut Gillies (1996), gaya kepemimpinan berdasarkan wewenang dan kekuasaan dibedakan menjadi 4 yaitu:
(1) Otoriter
Merupakan kepemimpinan yang berorientasi pada tugas/pekerjaan. Menggunakan kekuasaan posisi dan power dalam memimpin. Pemimpin menentukan semua tujuan yang akan dicapai dalam pengambilan keputusan. Informasi diberikan hanya pada kepentingan tugas. Motivasi dengan reward dan punishment.
(2) Demokratis
Merupakan kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan setiap staf. Menggunakan kekuasaan posisi dan pribadinya untuk mendorong ide dari staf , memotivasi kelompok untuk menentukan tujuan sendiri. Membuat rencana dan pengontrolan dalam penerapannya. Informasi diberikan seluas-luasnya dan terbuka.

(3) Partisipatif
Merupakan gabungan antara otokratik dan demokrasi, yaitu pemimpin yang menyampaikan hasil analisa masalah dan mengusulkan tindakannya. Staf diminta saran dan kritiknya serta mempertimbangkan respon staf terhadap usulnya. Keputusan akhir oleh kelompok.
(4) Bebas Tindak
Merupakan pimpinan offisial, karyawan menentukan sendiri kegiatan tanpa pengarahan, supervisi dan koordinasi. Staf/bawahan mengevaluasi pekerjaan sesuai dengan caranya sendiri. Pimpinan hanya sebagai sumber informasi dan pengendalian minimal.
Lester R. Bitel menyebutkan bahwa semua gaya kepemimpinan ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Pemimpin yang sukses adalah yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi.
Dalam penelitian ini, peneliti memilih gaya kepemimpinan berdasarkan wewenang dan kekuasaan yang merupakan gabungan dari teori Hersey dan Blanchard dengan teori Ronald lippits dan Ralph K. White. Kedua teori ini dapat digunakan untuk menilai kecendrungan gaya kepemimpinan kepala ruangan dengan memodifikasi pertanyaan sesuai dengan situasi perawatan.

Konsep Kecemasan

Cemas adalah emosi dan merupakan pengalaman subyektif individual, mempunyai kekuatan tersendiri dan sulit untuk diobservasi secara langsung. Perawat dapat mengidentifikasi cemas lewat perubahan tingkh laku klien.
Stuart (1996) mendefinisikan cemas sebagai emosi tanpa obyek yang spesifik, penyebabnya tidak diketahui, dan didahului oleh pengalaman baru. Sedangkan takut mempunyai sumber yang jelas dan obyeknya dapat didefinisikan. Takut merupakan penilaian intelektual terhadap stimulus yang mengancam dan cemas merupakan respon emosi terhadap penilaian tersebut.
Lebih jauh dikatakan pula, kecemasan dapat dikomunikasikan dan menular, hal ini dapat mempengaruhi hubungan terapeutik perawat klien. Hal ini menjadi perhatian perawat.
Bostrom (1995) mengemukakan stressor sebagai factor presipitasi kecemasan adalah bagaimana individu berhadapan dengan kehilangan dan bahaya yang mengancam. Bagaimana mereka menerimanya tergantung dari kebutuhan, keinginan, konsep diri, dukungan keluarga, pengetahuan, kepribadian dan kedewasaan.
Kecemasan adalah suatu kondisi yang menandakan suatu keadaan yang mengancam keutuhan erta keberadaan dirinya dan dimanifestasikan dalam bentuk prilaku seperti rasa tak berdaya, rasa tidak mampu, rasa takut, phobia tertentu (Hamid dkk,1997).
Kecemasan muncul bila ada ancaman ketidakberdayaan, kehilangan kendali, perasaan kehilangan fungsi-fungsi dan harga diri, kegagalan pertahanan, perasaan terisolasi (Hudak dan Gallo, 1997).
Stuart dan Sundeen (1995) membagi kecemasan menjadi 4 tingkatan yaitu :
1.Kecemasan Ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dab individu akan berhati-hati dan waspada. Individu terdorong untuk belajar yang akan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
Respon Fisiologis
Sesekali nafas pendek
Nadi dan tekanan darah naik
Gejala ringan pada lambung
Muka berkerut dan bibir bergetar
Respon Kognitif
Lapang persegi meluas
Mampu menerima ransangan yang kompleks
Konsentrasi pada masalah
Menyelesaikan masalah secara efektif
Respon perilaku dan Emosi
Tidak dapat duduk tenang
Tremor halus pada tangan
Suara kadang-kadang meninggi
2.Kecemasan sedang
Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap lingkungan menurun/individu lebih memfokuskan pada hal penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.
Respon Fisiologis
Sering nafas pendek
Nadi ekstra systole dan tekanan darah naik
Mulut kering
Anorexia
Diare/konstipasi
Gelisah
Respon Kognitif
Lapang persepsi menyempit
Rangsang Luar tidak mampu diterima
Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya
Respon Prilaku dan Emosi
Gerakan tersentak-sentak (meremas tangan)
Bicara banyak dan lebih cepat
Perasaan tidak nyaman
3.Kecemasan Berat
Pada kecemasan berat lahan persepsi menjadi sempit. Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal-hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan/tuntutan.
1) Respon Fisiologis
Sering nafas pendek
Nadi dan tekanan darah naik
Berkeringat dan sakit kepala
Penglihatan kabur
2) Respon Kognitif
a) Lapang persepsi sangat menyempit
b) Tidak mampu menyelesaikan masalah
Respon Prilaku dan Emosi
Perasaan ancaman meningkat
Verbalisasi cepat
Blocking
4.Panik
Pada tingkat ini persepsi sudah terganggu sehingga individu sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun sudah diberi pengarahan/tuntunan.
Respon Fisiologis
Nafas pendek
Rasa tercekik dan berdebar
Sakit dada
Pucat
Hipotensi
Respon Kognitif
Lapang persepsi menyempit
Tidak dapat berfikir lagi
Respon Prilaku dan Emosi
Agitasi, mengamuk dan marah
Ketakutan, berteriak-teriak, blocking
Persepsi Kacau
Kecemasan yang timbul dapat diidentifikasi melalui respon yang dapat berupa respon fisik, emosional, dan kognitif atau intelektual.

Respon Fisiologis
Kardiovaskuler : Palpitasi berdebar, tekanan darah meningkat/menurun, nadi meningkat/menurun
Saluran Pernafasan : Nafas cepat dangkal, rasa tertekan di dada, rasa seperti tercekik
Gastrointestinal : Hilang nafsu makan, mual, rasa tak enak pada epigastrium, diare
Neuromuskuler : Peningkatan refleks, wajah tegang, insomnia, gelisah, kelelahan secara umum, ketakutan, tremor
Saluran Kemih : Tak dapat menahan buang air kecil
Sistem Kulit : Muka pucat, perasaan panas/dingin pada kulit, rasa terbakar pada muka, berkeringat setempat atau seluruh tubuh dan gatal-gatal
Respon Kognitif : konsentrasi menurun, pelupa, raung persepsi berkurang atau menyempit, takut kehilangan kontrol, obyektifitas hilang
Respon emosional : Kewaspadaan meningkat, tidak sadar, takut, gelisah, pelupa, cepat marah, kecewa, menangis dan rasa tidak berdaya
Stuart dan Sundeen (1995) mengatakan rentan respon individu berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptive seperti :
Adaptif Maladaptif
Adaptasi Ringan Sedang Berat Panik

Gambar 1 Rentang respon adaptif dan maladaptive
(Dikutip dari Stuart dan Sundeen (1995) : Principles and practice of psychiatric nursing (5th ed), Philadelphia : Mosby Year Book)

Roy (1974) mengatakan manusia mahluk yang unik karenanya mempunyai respon yang berbeda-beda terhadap cemas tergantung kemampuan adaptasi ini dipengaruhi oleh pengalaman berubah dan kemampuan kopinh individu. Koping adalah mekanisme mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi stress.
Selanjutnya Roy (1974) menerangkan proses adaptasi dipengaruhi oleh 2 aspek yaitu masing-masing individu dan kemampuan adaptasi ini dipengaruhi oleh pengalaman berubah dan kemampuan koping individu. Koping adalah mekanisme mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi stress.
Stresor (stimulus lokal)
Yaitu semua rangsang yang dihadapi individu dan memerlukan respon adaptasi.
Mediator (proses adaptasi)
Stimulus internal yaitu factor dari dalam yang dimiliki individu seperti keyakinan, pengalaman masa lalu, sikap, dan kepribadian.
Stimulus eksternal (kontekstual) yaitu factor dari luar yang berkontribusi atau melatar belakangi dan mempengaruhi respon adaptasi individu terhadap stressor yang dihadapi.

Saturday, February 27, 2010

Konsep Kanker & Kemotherapy Kanker Payudara

Kanker atau keganasan dibedakan dari tumor jinak lewat sifat-sifat sel kanker yang tumbuh pesat, tidak terbatas dan tidak terkoordinasi dengan sifat-sifat :
Tumbuh cepat dan infiltrat yaitu tumbuh bercabang-cabang menyusup ke dalam jaringan sehat disekitarnya, menyerupai kepiting (cancer).
Bersifat ekspansif yaitu mendesak jaringan sehat di sekitarnya.
Bersifat residif yaitu mudah kambuh.
Berkemmpuan untuk bermetastase yaitu mampu mengadakan anak sebar di bagian tubuh lain lewat peredaran darah dan cairan getah bening (Himawan, 1998).
Kanker adalah penyakit yang menakutkan dan mengerikan ditinjau dari beberapa sebab, muncul di stadium lanjut tanpa tanda dan gejala sebelumnya. Kadang pengobatan yang diberikan hasilnya sama sekali memiliki angka kekambuhan yang tinggi dan pola hidup yang sehat tidak menjadi jaminan untuk bebas dari penyakit ini (Mc. Bee, 1993)
Kanker bukanlah sekedar penyakit kronik, penyakit ini mampu membuat rasa takut pada umat manusia (Weisman, 1979). Kanker memberikan dampak pada seluruh tingkatan fungsional yang dimiliki klien. Fungsi intelektual akan menurun karena tekanan fisik dan psikologis, efek dari pengobatan dan perkembangan kanker itu sendiri (Petty, 1996).
Kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang mendapat perhatian khusus di kalangan kesehatan dunia. Miller (1991) melaporkan kanker payudara merupakn penyakit yang sering muncul dan menyebabkan kematian pada wanita di usia 35-54 tahun.
Dilaporkan oleh Northouse (1995) gangguan psikolososial klien dengan kanker payudara muncul dari fase pertentangan dari penyakitnya. Cemas akan kekambuhan, toksisitas dan terapi yang dijalani, gangguan citra tubuh, gangguan konsep diri, gangguan seksualitas, gangguan peran sebagai ibu dan istri. Kanker juga mempengaruhi keluarganya terutama anak-anak.
Radioterapi adalah salah satu pengobatan kanker payudara yang sistemik, merupakan terapi andalan. Pada kanker payudara dengan ;
Pembesaran kelenjar getah bening axi.
Prognosi yang buruk untuk penanganan pembesaran kelenjar getah bening.
Kondisi lokal regional yang lanjut atau sudah ada metastase.
Adjuvan kemoterapi adalah kemoterapi sebagai kombinasi dari pengobatan lainnya. Tujuannya tidak hanya untuk mengatasi pembesaran kelenjar getah bening tapi juga mencegah metastase. Regimen pengobatan yang umum digunakan adalah Ciklopospamid ©, Methostrexate (M), 5 Fluorourasil. Tidak sedikit klien dengan Adjuvan kemoterapi tetp mengalami metastase. Metastase atau meluasnya anak sebar adalah kondisi yang sulit di antisipasi. Bahkan Vogel (1992) mengatakan metastase tidak dapat disembuhkan.
Tujuan dari terapi metastase adalah kontrol penyakit dan perawatan paliatif simtomatis. Dilaporkan oleh Villie (1995) Pengobatan metastase keberhasilannya kurang dari 3 tahun. Sampai dengan 5 tahun dikatakan pula oleh Vogel (1992) respon membaik 50 % - 80 % di dapat lewat kombinasi Doxorubisin dan Taxol. Namun demikian kedua obat ini menimbulkan efek samping yang cukup berat berupa toksisitas pada jantung dan ginjal.

DAFTAR PUSTAKA

Burn's & Grove, (1993), The Practice of nursing research, conduct, critique & utilization, 2nd edition, Philadelphia : WB. Saunders Company
Craven R dan hirnle C, (2000), Fundamental of nursing, 3rd edition, Philadelphia : Lippincott
Depkes RI (1994), Pedoman perawatan psikiatri, Depkes RI, Jakarta
Groenwald, et.al (1995), A clinical to cancer nursing, 3rd edition, London, England : Jones Bartlet Publisher International
Hudak dan Gallo (1996), Keperawatan kritis pendekatan holistik, Volume I Edisi VI, Jakarta : EGC
Hurlock, E.B (1995), psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan, Erlangga, Jakarta
Ketlner, et.al (1995), Psikiatri nursing, Mosby year book, Missouri
Maramis, W.F (1998), Catatan ilmu kesehatan jiwa, Airlangga University Press, Surabaya
Long, Barbara C (1996), Essential of medical surgical nursing : A Nursing process approach, Vol. 1, CV. Mosby Company, St. Louis, hal : 138
Purwadarminta, WJS (1990), Kamus besar bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka
Pusdiknakes (1999), Modul pengajaran keperawatan, Jakarta
Stuart and Sunden (1995), Buku saku keperawatan jiwa, edisi 3 (alih bahasa), Jakarta : EGC
Otto, S (1996), Oncology nursing, 2nd edition, St. Louis. Misouri : Mosby year Book Inc

http://askep-askeb.cz.cc/

Konsep Kecemasan

Cemas adalah emosi dan merupakan pengalaman subyektif individual, mempunyai kekuatan tersendiri dan sulit untuk diobservasi secara langsung. Perawat dapat mengidentifikasi cemas lewat perubahan tingkh laku klien.
Stuart (1996) mendefinisikan cemas sebagai emosi tanpa obyek yang spesifik, penyebabnya tidak diketahui, dan didahului oleh pengalaman baru. Sedangkan takut mempunyai sumber yang jelas dan obyeknya dapat didefinisikan. Takut merupakan penilaian intelektual terhadap stimulus yang mengancam dan cemas merupakan respon emosi terhadap penilaian tersebut.
Lebih jauh dikatakan pula, kecemasan dapat dikomunikasikan dan menular, hal ini dapat mempengaruhi hubungan terapeutik perawat klien. Hal ini menjadi perhatian perawat.
Bostrom (1995) mengemukakan stressor sebagai factor presipitasi kecemasan adalah bagaimana individu berhadapan dengan kehilangan dan bahaya yang mengancam. Bagaimana mereka menerimanya tergantung dari kebutuhan, keinginan, konsep diri, dukungan keluarga, pengetahuan, kepribadian dan kedewasaan.
Kecemasan adalah suatu kondisi yang menandakan suatu keadaan yang mengancam keutuhan erta keberadaan dirinya dan dimanifestasikan dalam bentuk prilaku seperti rasa tak berdaya, rasa tidak mampu, rasa takut, phobia tertentu (Hamid dkk,1997).
Kecemasan muncul bila ada ancaman ketidakberdayaan, kehilangan kendali, perasaan kehilangan fungsi-fungsi dan harga diri, kegagalan pertahanan, perasaan terisolasi (Hudak dan Gallo, 1997).
Stuart dan Sundeen (1995) membagi kecemasan menjadi 4 tingkatan yaitu :
1.Kecemasan Ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dab individu akan berhati-hati dan waspada. Individu terdorong untuk belajar yang akan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
Respon Fisiologis
Sesekali nafas pendek
Nadi dan tekanan darah naik
Gejala ringan pada lambung
Muka berkerut dan bibir bergetar
Respon Kognitif
Lapang persegi meluas
Mampu menerima ransangan yang kompleks
Konsentrasi pada masalah
Menyelesaikan masalah secara efektif
Respon perilaku dan Emosi
Tidak dapat duduk tenang
Tremor halus pada tangan
Suara kadang-kadang meninggi
2.Kecemasan sedang
Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap lingkungan menurun/individu lebih memfokuskan pada hal penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.
Respon Fisiologis
Sering nafas pendek
Nadi ekstra systole dan tekanan darah naik
Mulut kering
Anorexia
Diare/konstipasi
Gelisah
Respon Kognitif
Lapang persepsi menyempit
Rangsang Luar tidak mampu diterima
Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya
Respon Prilaku dan Emosi
Gerakan tersentak-sentak (meremas tangan)
Bicara banyak dan lebih cepat
Perasaan tidak nyaman
3.Kecemasan Berat
Pada kecemasan berat lahan persepsi menjadi sempit. Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal-hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan/tuntutan.
1) Respon Fisiologis
Sering nafas pendek
Nadi dan tekanan darah naik
Berkeringat dan sakit kepala
Penglihatan kabur
2) Respon Kognitif
a) Lapang persepsi sangat menyempit
b) Tidak mampu menyelesaikan masalah
Respon Prilaku dan Emosi
Perasaan ancaman meningkat
Verbalisasi cepat
Blocking
4.Panik
Pada tingkat ini persepsi sudah terganggu sehingga individu sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun sudah diberi pengarahan/tuntunan.
Respon Fisiologis
Nafas pendek
Rasa tercekik dan berdebar
Sakit dada
Pucat
Hipotensi
Respon Kognitif
Lapang persepsi menyempit
Tidak dapat berfikir lagi
Respon Prilaku dan Emosi
Agitasi, mengamuk dan marah
Ketakutan, berteriak-teriak, blocking
Persepsi Kacau
Kecemasan yang timbul dapat diidentifikasi melalui respon yang dapat berupa respon fisik, emosional, dan kognitif atau intelektual.

Respon Fisiologis
Kardiovaskuler : Palpitasi berdebar, tekanan darah meningkat/menurun, nadi meningkat/menurun
Saluran Pernafasan : Nafas cepat dangkal, rasa tertekan di dada, rasa seperti tercekik
Gastrointestinal : Hilang nafsu makan, mual, rasa tak enak pada epigastrium, diare
Neuromuskuler : Peningkatan refleks, wajah tegang, insomnia, gelisah, kelelahan secara umum, ketakutan, tremor
Saluran Kemih : Tak dapat menahan buang air kecil
Sistem Kulit : Muka pucat, perasaan panas/dingin pada kulit, rasa terbakar pada muka, berkeringat setempat atau seluruh tubuh dan gatal-gatal
Respon Kognitif : konsentrasi menurun, pelupa, raung persepsi berkurang atau menyempit, takut kehilangan kontrol, obyektifitas hilang
Respon emosional : Kewaspadaan meningkat, tidak sadar, takut, gelisah, pelupa, cepat marah, kecewa, menangis dan rasa tidak berdaya
Stuart dan Sundeen (1995) mengatakan rentan respon individu berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptive seperti :
Adaptif Maladaptif
Adaptasi Ringan Sedang Berat Panik

Gambar 1 Rentang respon adaptif dan maladaptive
(Dikutip dari Stuart dan Sundeen (1995) : Principles and practice of psychiatric nursing (5th ed), Philadelphia : Mosby Year Book)

Roy (1974) mengatakan manusia mahluk yang unik karenanya mempunyai respon yang berbeda-beda terhadap cemas tergantung kemampuan adaptasi ini dipengaruhi oleh pengalaman berubah dan kemampuan kopinh individu. Koping adalah mekanisme mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi stress.
Selanjutnya Roy (1974) menerangkan proses adaptasi dipengaruhi oleh 2 aspek yaitu masing-masing individu dan kemampuan adaptasi ini dipengaruhi oleh pengalaman berubah dan kemampuan koping individu. Koping adalah mekanisme mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi stress.
Stresor (stimulus lokal)
Yaitu semua rangsang yang dihadapi individu dan memerlukan respon adaptasi.
Mediator (proses adaptasi)
Stimulus internal yaitu factor dari dalam yang dimiliki individu seperti keyakinan, pengalaman masa lalu, sikap, dan kepribadian.
Stimulus eksternal (kontekstual) yaitu factor dari luar yang berkontribusi atau melatar belakangi dan mempengaruhi respon adaptasi individu terhadap stressor yang dihadapi.

MODEL KONSEPTUAL KEPERAWATAN


PENDAHULUAN

BAB I

Latar Belakang.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, manusia senantiasa berusaha u=
ntuk meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal. Hal ini terbukti den=
gan pesatnya kemajuan IPTEK di bidang kesehatan dalam rangka memecahkan mas=
alah kesehatan yang dihadapi oleh penduduk di dunia. Dan seiring itu siste=
m pelayanan keperawatan di berbagai negara maju dan negara berkembang juga =
mengalami kemajuan/perubahan.
Isitilah proses keperawatan dan kerangka kerjanya merupakan ilmu yang relat=
if baru. Pada tahun 1955 Hall memulai istilah proses keperawatan dan sejak =
itulah para ilmuwan keperawatan menguraikan proses keperawatan secara ilmi=
ah dengan berbagai pendapat. Weiden Bach pada tahun 1963 menguraikan asuhan=
keperawatan menjadi 3 tahap yang meliputi observasi, bantuan untuk pertolo=
ngan dan validasi. Later Knowles (1967) mengatakan bahwa dalam praktek kepe=
rawatan menganjurkan 5 D yaitu discover (menemukan), delve (menyelidiki), d=
ecide (memutuskan), do (melaksanakan) dan discriminate (membedakan).
Selanjutnya Gabbie dan Lavin (1975) mengemukakan bahwa esensi dari model=
- model keperawatan yang ada menggambarkan 4 konsep yang sama yaitu :
-Orang yang menerima asuhan keperawatan.
-Lingkungan (masyarakat).
-Kesehatan (sehat/sakit, kesehatan dan penyakit).
-Keperawatan dan perawat (tujuan/sasaran, peran dan fungsi).
Melihat gambaran di atas Penulis mencoba menganalisa dan mengaplikasikan mo=
del konsep keperawatan yang dikemukakan oleh Sister Calista Roy (stress dan=
adaptasi Roy) ke dalam system pelayanan keperawatan di Indonesia.
=20
Masalah.
Dengan adanya ragam model model keperawatan dan dari masing =E2=80=93 masin=
g model konseptual tersebut mempunyai gambaran inti yang sama (Gabbie & La=
vin, 1975), maka untuk mengaplikasikan model konsep keperawatan menurut Si=
ster Calista Roy ke dalam system pelayanan keperawatan di Indonesia, muncul=
berbagai masalah antara lain :
Bagaimana cara menerapkan model konseptual secara optimal terhadap kasus pe=
nyakit yang dialami oleh penderita?
Bagaimana strategi yang digunakan oleh perawat dengan adanya ragam kultur/b=
udaya masyarakat Indonesia?
Bagaimana peranan perawat, mengingat secara ratio antara jumlah peawat deng=
an pasien di lapangan masih belum seimbang? =20

Tujuan.
Tujuan Umum.
Perawat Indonesia dapat menerapkan model konseptual keperawatan Sister Cali=
sta Roy yang menggunakan pendekatan metode ilmiah dalam system pelayanan ke=
sehatan.
Tujuan khusus.
1.Mampu menyelaraskan dan mendefinisikan model konseptual SisterCalista Roy=
.
2.Mampu memahami konsep dasar/asumsi dasar dalam model konseptual stress da=
n adaptasi Roy.
3.Mampu menjelaskan komponen =E2=80=93 komponen model konsep keperawatan Si=
ster Calista Roy.
4.Mampu menjelaskan karakteristik model konsep keperawatan Sister Calista =
Roy.
5.Mampu menjelaskan hubungan model konsep keperawatan Sister Calista Roy de=
ngan proses keperawatan yang ada di Indonesia.

B A B II
TINJAUAN TEORI

Dasar Pengembangan Teori.
Filosofi
Sister Calista Roy mengembangkan model adaptasi dalam keperawatan pada tahu=
n 1964. Model ini banyak digunakan sebagai falsafah dasar dan model konsep =
dalam pendidikan keperawatan. Model adaptasi Roy adalah system model yang e=
sensial dalam keperawatan. Roy menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk bio=
psikososial sebagai satu kesatuan yang utuh. Dalam memenuhi kebutuhan manus=
ia selalu dihadapkan berbagai persoalan yang kompleks. Dalam menghadapi per=
soalan tersebut Roy mengemukakan teori adaptasi. Penggunaan koping atau mek=
anisme pertahanan diri, berespon melakukan peran dan fungsi secara optimal =
untuk memelihara integritas diri dari keadaan rentang sehat sakit dari kead=
aan lingkungan sekitarnya. Jadi ada 5 faktor penting dari Roy adalah manusi=
a, sehat, sakit, lingkungan dan keperawatan yang saling terkait.

Asumsi Dasar.
Asumsi adalah pernyataan dari fakta =E2=80=93 fakta atau anggapan yang dite=
rima sebagai dasar teori untuk konsep =E2=80=93 konsep dari disiplin ilmu t=
ertentu. Beberapa model keperawatan menggambarkan asumsi dari adaptasi teo=
ri =E2=80=93 teori yang lainnya dari system teori yang lain (teori system,=
teori adaptasi Nelsen dan fisiologi dari nilai =E2=80=93 nilai manusia).

Pola Pengembangan Ilmu.
Pola pengembangan ilmu keperawatan adalah yang terkait dengan keputusan =E2=
=80=93 keputusan tentang komponen =E2=80=93 komponen ilmu, filosofi tidak d=
idasarkan terhadap hal yang bersifat empiris, suatu keyakinan, merupakan su=
atu pertanyaan yang terkait terhadap praktek keperawatan dana mempengaruhi =
filosofi disiplin ilmu.
=09Model konsep Calista Roy didasarkan pada model adaptasi. Modelnya merupa=
kan contoh yang baik bagaimana ilmu itu diambil menjadi hal yang unik dalam=
keperawatan. Hal ini merupakan kombinasi pemikiran yang ditarik secara div=
ergen seperti system. Stress dan adaptasi menurut Roy, keberadaan manusia =
merupakan kumpulan biopsikososial yang berada di dalam lingkungan.
=09Vocal residual, conceptual. Rangsangan pada manusia dan bersifat utuh d=
an menimbulkan keutuhan =E2=80=93 keutuhan yang terkait dengan model adapta=
si yang meliputi kebutuhan fisiologis, peran, fungsi dan interdependen mel=
alui 2 mekanisme adaptasi yaitu regulator dan cognator individu dapat menun=
jukkan respon adaptasi yang berhasil dan gagal (respon tidak efektif yang m=
embutuhkan intervensi keperawatan).
=09Penekanan model Roy dikaitkan dengan kerja yang berkelanjutan, dilanjutk=
annya ke pendidikan praktek dan penelitian serta diteruskan ke perubahan =
=E2=80=93 perubahan dalam model =E2=80=93 model untuk memaksimalkan kejadia=
n empiris. Model Roy merupakan suatu system.

Komponen Model.
Roy dalam menyusun model konseptualnya didasari atas nilai =E2=80=93 nilai =
sebagai berikut :
Manusia.
Roy memandang manusia sebagai makhluk biopsikososial yang holistic dalam se=
genap aspek individu dengan bagian =E2=80=93 bagiannya berperan bersama mem=
bentuk kesatuan ditambah manusia sebagai system yang berada dalam interaksi=
yang konstan dengan lingkungan antara system dan lingkungan terjadi pertuk=
aran informasi, materi dan energi.
=09Ini menunjukkan system =E2=80=93 system kehidupan sebagai system yang te=
rbuka. Sel adalah system kehidupan terbuka. Sel mempunyai substansi yang ha=
rus mempertahankan dalam usaha memperbanyak diri. Keterbukaan system selanj=
utnya menunjukkan pertukaran yang konstan dari informasi, materi dan energi=
antara system dan lingkungan. Interaksi ini juga diterapkan pada manusia. =
Interaksi konstan manusia dengan lingkungannya ditandai oleh perubahan =E2=
=80=93 perubahan interna dan eksterna, selanjutnya perubahan ini mengharusk=
an manusia mempertahankan integritasnya yaitu adaptasi terus menerus. Diagr=
am di bawah digunakan Roy untuk menggambarkan system adaptasi manusia.=20
=09Roy mengidentifikasi input sebagai stimulus. Stimulus ini adalah unit da=
ri informasi materi atau energi dari lingkungan atau dirinya sebagai respon=
. Seiring dengan stimulus, tingkat adaptasi manusia berperan sebagai system=
adaptasi. Tingkat adaptasi adalah jangkauan stimulus manusia yang dapat me=
ngadaptasikan responnya dengan usaha yang wajar.

=09Gambaran dari manusia sebagai system adalah tingkah laku interna maupun =
eksterna. Selanjutnya adaptasi manusia tersebut dapat diukur, diamamti kelu=
han =E2=80=93 keluhan subyektif yang merupakan umpan balik dari system ini.=
Roy mengkategorikan hasil system sebagai respon adaptaif dan inefektif. Re=
spon adaptif adalah semua yang mengacu pada integritas manusia yaitu semua =
tingkah laku yang tampak ketika manusia dapat mengerti tentang tujuan hidup=
, tumbuh, produksi dan kekuasaan.
Roy menggunakan isitilah mekanisme koping untuk menjelaskan proses pengenda=
lian manusia sebagai system adaptasi. Roy menggunakan mekanisme yang disebu=
t regulator dan cognator sebagai sustu system dari system adaptasi.
Subsistem regulator mempunyai komponen sistm input, proses dan ouput. Stim=
ulus output mungkin berasal dari dalam manusia. Penghubung =E2=80=93 penghu=
bung system regulator adalah kimia, neural atau endokrin. Respon otonomi ya=
ng merupakan respon =E2=80=93 respon saraf bagian otak dan spinal dihasilka=
n sebagai output. Tingkah laku dalam subsistem regulator, jaringan dan orga=
n target dibawah kontrol endokrin juga menghasilkan tingkah laku regulator.=
Akhirnya Roy menunjukkan respon psikomotor dari system saraf pusat sebaga=
i pusat system regulator.
Sub system yang lain adalah sub sistem cognator. Rangsangan ke subsistem c=
ognator juga berasal dari luar dan dalam. Ouput dari subsistem regulator da=
pat diumpan balik merangsang subsistem cognator. Proses =E2=80=93 proses pe=
ngendalian cognator dihubungkan ke fungsi yang lebih tinggi dari otak yaitu=
persepsi atau pengolah informasi yang berhubungan dengan proses interna da=
ri perhatian yang dipilih, ditunjukkan dan ingatan. Pemecahan masalah dan p=
embuatan keputusan adalah proses mencari bentuk.
Dalam mempertahankan integritas manusia, regulator dan cognator sering dian=
ggap berperan bersama =E2=80=93 sama. Tingkat adaptasi dari system manusia =
dipengaruhi oleh pertumbuhan individu dan pemakaian dari mekanisme koping. =
Dalam gambaran lebih lanjut tentang proses interna manusia sebagai subsiste=
m adaptasi, Roy menjelaskan system efektor atau model adaptasi yang terdiri=
dari 4 efektor :
1.Model adaptasi fisiologis, terdiri dari :
-oksigenasi
-nutrisi
-eliminasi
-aktivitas dan istirahat
-sensori
-cairan dan elektrolit
-integritas kulit
-fungsi saraf
-fungsi endokrin dan reproduksi
2.Konsep diri.
Menunjukkan pada nilai, kepercayaan, emosi, cita =E2=80=93 cita serta perha=
tian yang diberikan untuk mengetahui keadaan fisik sendiri.
3.Fungsi peran.
Menggambarkan hubungan interaksi perorangan dengan orang lain yang tercermi=
n pada peran pertama, kedua dan seterusnya.
4.Model ketergantungan.
Mengidentifikasi nilai manusia, cinta dan keseriusan. Proses ini terjadi da=
lam hubungan antar manusia dengan individu dan kelompok.
=20
Tujuan Keperawatan.
Roy mendefinisikan tujuan keperawatan sebagai peningkatan dari respon adapt=
asi keempat model adaptasi. Kondisi seseorang ditentukan oleh tingkat adapt=
asinya, apakah berespon secara positif terhadap rangsang interna atau ekste=
rna. Tingkat adaptasi ditentukan oleh besarnya rangsangan baik fokal, konte=
kstual maupun residual. Yang dimaksud dengan tiga rangsang tersebut adalah=
:
1.Fokal stimuli
Rangsangan yang segera dihadapi oleh manusia dan merupakan tingkatan yang p=
aling tinggi dari perubahan atau kelainan.
2.Kontekstual stimuli
Semua rangsangan dari manusia baik interna maupun eksterna dapat diamati, d=
iukur atau subyektifitasnya yang dilaporkan secara obyektif oleh pasien.=20
3.Residual stimuli.
Rangsangan yang membentuk karakteristik dari seseorang sesuai dengan stuasi=
atau tidak, hal ini sulit untuk dimulai.

-Konsep kesehatan.
Roy mengidentifikasi sebagai status dan proses dari keadaan yang digabungka=
n dari manusia yang diekspresikan sebagai kemampuan untuk menentukan tujuan=
hidup, berkembang, tumbuh dan produksi serta memimpin.

-Konsep lingkungan.
Roy mendefinisikan keadaan lingkungan secara khusus yaitu semua keadaan, ko=
ndisi dan pengaruh dari sekeliling dan perasaan lingkungan serta tingkah la=
ku individu dan kelompok.
=20
-Arah tindakan.
Aktivitas perawatan direncanakan oleh model sebagai peningkatan respon adap=
tasi atas situasi sehat atau sakit. Sebagai batasan adalah pendekatan yang =
merupakan tindakan perawat memanipulasi stimuli fokal, kontekstual dan resi=
dual yang menyimpang pada manusia. Rangsangan fokal dapat dirubah tetapi pe=
rawat dapat meningkatkan respon adaptasi dengan memanipulasi rangsangan kon=
tekstual dan residual. Perawat dapat mengantisipasi kemungkinan respon seku=
nder yang tidak efektif pada rangsangan yang sama pada keadaan tertentu. Pe=
rawat juga dapat menyiapkan manusia untuk diantisipasi dengan memperkuat re=
gulator, cognator dan mekanisme koping.=20

B A B III
PROSES KEPERAWATAN

=09Sebagai dasar dalam melaksanakan proses keperawatan, Roy berpendapat bah=
wa pasien harus dipandang sebagai manusia yang utuh (pandangan yang menyelu=
ruh) baik dari aspek biologis, psikologis dan spiritual. Di samping itu pas=
ien pun harus dipandang sebagai suatu system yang dapat hidup melalui inter=
aksi yang konstan dengan lingkungannya.

Hubungan Teori Roy dengan Proses Keperawatan.
Model adaptasi Roy menawarkan standar untuk mengembangkan atau melaksanakan=
proses keperawatan melalui elemen =E2=80=93 elemen Roy meliputi :
-Pengkajian tingkat pertama (I).
Tahap ini ditujukan untuk menentukan sekumpulan tingkah laku sebagai system=
adaptasi yamg berhubungan dengan empat model adaptasi melalui pendekatan y=
ang sistematis dan menyeluruh (holistic) kemudian perawat mengklarifikasi =
menjadi fokus pembahasan/penanganan.=20
-Pengkajian tingkat kedua (II).
Sebagai kelanjutan dari pengkajian tingkat pertama, perawat menganalisa mas=
alah =E2=80=93 masalah keperawatan yang muncul dari gambaran tingkah laku k=
lien sebagai respon yang tidak spesifik atau mengidentifikasi respon yang a=
daptif setelah diberi dorongan oleh perawat. Hal lain yang menjadi perhatia=
n perawat pada tahap ini adalah mengumpulkan data tentang rangsangan kontek=
stual dan residual yang menyimpang kemudian mengklarifikasikan tentang etio=
logi masalah yang muncul tersebut.
-Perumusan diagnosa keperawatan
Roy menganalisa tiga metode pembuatan diagnosa keperawatan dengan cara seba=
gai berikut : (a) memakai tipologi diagnosa yang dikembangkan oleh Roy dan =
dihubungkan dengan empat model adaptasi dari Roy, (b) merumuskan diagnosa d=
engan mengobservasi tingkah laku sepanjang rangsangan masih berpengaruh, (c=
) kesimpulan satu atau lebih model adaptasi yang berhubungan dengan respon =
yang sama.
-Penentuan tujuan keperawatan.
Tujuan adalah akhir tngkah laku pasien yang akan dicapai. Hal tersebut terg=
ambar dalam tingkah laku pasien yang menunjukkan resolusi dari masalah adap=
tasi. Tujuan jangka panjang menggambarkan akhir dari masalah adaptasi dan k=
emungkinan kemampuan pada tujuan lain (hidup, tumbuh, reproduksi, dan kekua=
saan). Tujuan jangka pendek merupakan tujuan yang diharapkan dari tingkah l=
aku klien setelah memanipulasi penyebabnya, pendorong dan rangsangan sisa =
seperti keadaan tingkah laku klien yang menunjukkan koping =E2=80=93 koping=
cognator dan regulator. Tujuan ini sebaiknya dibuat sesuai kemampuan klien=
.=20
-Intervensi keperawatan.
Pelaksanaan perawatan direncanakan dengan tujuan mengubah atau memanipulasi=
stimuli foka,l, kontekstual dan residual. Intervensi mungkin juga difokusk=
an pada kemampuan koping individu atau zone adaptasi sehingga seluruh rangs=
angan sesuai dengan kemampuan individu untuk beradaptasi.=20
-Evaluasi.
Proses keperawatan dilengkapi dengan evaluasi, tujuan tingkah laku dibandin=
gkan dengan tingkah laku keluaran seseorang. Penyusunan kembali terhadap tu=
juan dan intervensi berdasarkan evaluasi data.
=09
Hubungan Teori dan Praktek Keperawatan.
Menurut Roy proses keperawatan meliputi pengkajian pertama, pengkajian kedu=
a, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Jadi antara=
teori dan praktek keperawatan ada hubungannya yang akan kita bahas di bawa=
h ini.
Physiologic mode.
Oksigenasi (oxygenation).
kekurangan oksigen (hypoxia)
shock
kelebihan oksigen (overload)
Kebutuhan nutrisi (nutrition).
kekurangan nutrisi (malnutrition).
mual =E2=80=93 mual (nausea).
muntah (vomiting)
Eliminasi (elimination)
konstipasi (constipation)
diare (diarrhea)
buang air besar tidak terasa (incontinence)
retensi BAK (urinary retention).
Aktivitas dan istirahat (activity and rest).
aktivitas fisik yang tidak adekuat (inadequate physical activity).
potensial kerusakan jaringan
istirahat tidak cukup
tidak bisa tidur (insomnia).
kurang tidur (sleep deprivation)
istirahat yang berlebihan.
Integritas kulit (skin integrity).
gatal (itching)
kulit kering (skin dry)
luka karena tekanan (pressure sores)
Model konsep diri (self concept mode).
Gambaran diri (physical self)
penurunan konsep seksual
perilaku seksual yang agresif
kehilangan anggota badan
Konsep diri (personal self)
Cemas (anxiety)=20
tak berdaya (powerlessness)
perasaan bersalah (guilt)
rasa rendah diri (low self esteem)
Model fungsi peran (role function mode)
Transisi peran (role trantition)
Kehilangan peran (role distance)
Konflik peran (role conflict)
Kegagalan peran (role failure).
Model ketergantungan (interdependence mode).
Cemas karenaa perpisahan (separation anxiety).
Kesepian (loneliness).

PENUTUP

Kesimpulan.
Setelah melakukan pendalaman & eksplorasi terhadap model konseptual Sister =
Calista Roy maka Penulis dapat membuat kesimpulan sebagai berikut :
-Model konseptual Sister Calista Roy menekankan pola asuhan pada adaptasi s=
ehat atau sakit
-Model konseptual Sister Calista Roy terbagi dalam 5 elemen dasar yaitu man=
usia, tujuan perawatan, lingkungan, konsep kesehatan dan arah tindakan.
-Model konseptual Sister Calista Roy dalam proses keperawatan terdiri 6 el=
emen yaitu :
1.Pengkajian pertama.
2.Pengkajian kedua.
3.Diagnosa keperawatan.
4.Penentuan tujuan
5.Intervensi.
6.Evaluasi.

Saran.
Setelah pelaksanaan eksplorasi model konseptual Sister Calista Roy Penulis =
dapat memberikan saran sebagai berikut :
-Model konseptual Sister Calista Roy cukup baik untuk diterapkan pada pasie=
n yang menghadapi gangguan psikologis.
-Model konseptual Sister Calista Roy perlu diujicobakan pada ruang geriatri=
c, bangsal jiwa dan bangsal umum dengan masalah psikologis.
-Model konseptual Sister Calista Roy mungkin perlu diujicobakan pada rumah =
sakit jiwa di negara Indonesia dalam rangka meningkatkan asuhan keperawatan=
.

DAFTAR PUSTAKA

-Doenges, Marillyn E, et.al, (1989), Psychiatrics Care Plants : Guidelines =
for Client Care, F.A. Davis Company, Philadelphia.

-Gaffar Jumadi La Ode, (1999), Pengantar Keperawaan Profesional, EGC, Jakar=
ta.

-George, Julia B, (1990), Nursing Theories : The Basic for Professional Nur=
sing Practice, Practice Hall International Inc, New Jersey.

-Gordon, Majory, (1992), Manual of Nursing Diagnosis, Mosby Years Book, St.=
Louis.

-Henderson, Virginia, (1990), Nursing Models A Major Steps Towards : Profes=
sional Autonomy, Mosby Years Book, New York.

-Mediana, Dwidiyanti, (1998), Aplikasi Model Konseptual Keperawatan, Akper=
Depkes, Semarang.

KELOMPOK MODEL PARSONS ( 1961 )

Kelompok Model Parsons ini termasuk sebagai kelompok model umum (Generalized Model ) pada pertumbuhan dan pengembangan kelompoknya.
Teori ini melihat masyarakat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerja sama secara terorganisir yang bekerja dalam suatu cara yang teratur menurut seperangkat peraturan dan nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat tersebut. Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil yang menuju kearah keseimbangan, yaitu suatu kecenderungan untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang. Teori ini juga mengemukakan bahwa setiap kelompok atau lembaga melaksanakan tugas tertentu dengan terus menerus, karena hal itu fungsional. Pada teori Parsons ini menekankan fungsional kelompok/ perspektif fungsional.
Dalam menelaah kelompok sebagai suatu sistem sosial, teori ini melihat bagaimana aspek-aspek yang terdapat dalam kelompok tersebut menurut fungsi-fungsinya. Penempatan fungsi-fungsi yang telah digariskan, merupakan titik tolak untuk menentukan bergerak atau dinamis tidaknya suatu kelompok. Pemilihan ini dijadikan dasar untuk menelaah interaksi masing-masing fungsi menurut jaringan fungsi dan tugas dalam satuan kelompok.
Menurut Parsons, untuk dapat berlangsung dan bertahannya suatu kelompok atau organisasi hendaknya kelompok tersebut memenuhi keempat persyaratan fungsional, yang dirumuskan sebagai berikut :
Adaptasi
Pencapaian Tujuan
Integrasi Anggota-anggotanya, dan
Kemampuan mempertahankan Identitasnya terhadap kegoncangan dan ketegangan yang timbul.
Keempat persyaratan fungsional tersebut dikenal dengan sebutan A - G - I - L , yang dalam prosesnya melakukan pertukaran ke dalam atau transaksi internal :

1.ADAPTASI
Dengan adaptasi , dimaksudkan bahwa para anggota mempunyai atau menghasilkan sarana-sarana yang dibutuhkan mereka/kelompok supaya dapat hidup dan bergerak. Tanpa sarana material, gagasan atau cita-cita tidak akan dapat diwujudkan.
Contoh:
Tanpa adanya sumber keuangan yang baik, seperti Sekolah, Klinik, Keluarga tidak akan dapat berfungsi dengan baik. Hanya dengan adanya fasilitas atau sistem (suatu sistem) dapat menguasai lingkungannya. Semua proses dan mekanisme yang diadakan dalam rangka adaptasi dan penguasaan lingkungan ini, disebut dengan " EKONOMI " oleh Parsons.


2.TUJUAN ( GOAL ATTAINMENT )
Untuk mencapai suatu tujuan sebagaimana halnya dengan prasyarat pertama (adaptasi ) , juga memiliki hubungan dengan lingkungan luar.
Dalam hal ini dapat ditetapkan :

Pertama Harus ada satu tujuan
Contoh :
Pernah pada jaman lampau perkumpulan-perkumpulan didirikan dengan tujuan untuk menebus dan membebaskan budak. Tetapi,dengan tidak adanya lagi gejala perbudakan , maka perkumpulan-perkumpulan semacam itu membubarkan diri.
Kedua Harus ada anggota atau tenaga yang dapat mencapai tujuan tersebut.
Suatu sistem harus senantiasa mampu menarik dan mengerahkan orang baru untuk menggantikan posisi yang lama. Selain itu juga harus ada mekanisme - mekanisme kepemimpinan dan pengambilan keputusan dan penempatan tenaga.

Ketiga Sebagai unsur yang terakhir harus ada kewaspadaan dalam suatu sistem.
Kewaspadaan, kepekaan, keterbukaan, dan kebijaksanaan berkenaan dengan kebutuhan sistem di satu pihak dan perubahan jaman dan kondisi-kondisi lingkungan di pihak lain.
Contoh :
Suatu sistem Pendidikan yang buta terhadap tanda - tanda jaman akan menggali kuburnya sendiri. Semua kegiatan sosial sehubungan dengan persyaratan ini disebut " POLITY " oleh Parsons.

3.INTERGRASI
Integrasi merupakan persyaratan ketiga yang harus dipenuhi dalam suatu sistem. Satuan-satuan itu harus berintergrasi dalam arti bahwa mereka dilibatkan dan dikoordinir dalam keseluruhan sistem sesuai dengan posisi dan peranan mereka masing-masing.
Contoh :
- Penyelewengan harus dihancurkan/dihapuskan
- Perpecahan harus dicegah
Dalam prakteknya , integrasi diusahakan dengan PENGATURAN UNDANG-UNDANG. Disinilah berperanya FATE CONTROL.
Dalam hal ini juga bisa melalui : instruksi, kaidah-kaidah dan lembaga-lembaga kemasyarakatan itu berwenang di bidang perumusan hak-hak dan kewajiban-kewajiban serta pengamanan mereka.

4.MEMPERTAHANKAN IDENTITAS ( LATEN MAINTENANCE )
Mempertahankan Identitas yaitu tata nilai -nilai budaya yang bersifat mendasar. Menurut Parsons tiap-tiap sistem dicirikan oleh suatu sistem nilai -nilai yang telah dilembagakan. Hal mempertahankan sistem ( keutuhan sitem ) nilai itu dan pelembagaannya, merupakan keharusan fungsional yang utama. Sistem nilai-nilai budaya itu, akan dipertahankan melalui proses-proses pendidikan, pemasyarakatan, pembudayaan , penataran dan lain sebagainya. Selain itu Agama, kesenian dan macam-macam upacara akan memainkan peranan penting dalam mempertahankan tersebut.
Kalau dilihat dari segi anggota kelompok , internalisasi nilai-nilai budaya itu merupakan sarana untuk mengakhiri dan menyelesaikan ketegangan-ketegangan yang selalu timbul dalam setiap sistem. Pada akhirnya bahwa dalam setiap sistem harus ada proses dan mekanisme yang menghasilkan dan melestarikan dedikasi dan komitmen dari para anggotanya.
Adapun keuntungan dan kerugian dari pembentukan dan pengembangan kelompok Model Parsons ini antara lain :

KEUNTUNGAN :
-Tugas dapat cepat dapat terselesaikan
-Pola perilaku dan sopan santun sangat terjaga
-Anggota-anggotanya dapat berfungsi sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

KERUGIANNYA :
-Interaksi anggota-anggotanya dibatasi oleh norma-norma kesopanan sehingga kurang ada keterbukaan
-Terfokus pada tugas yang harus diselesaikan /dilaksanakan serta hasil yang harus dicapai saja.

rinfeksi dan cacat.


http://askep-askeb.cz.cc/

Blog Archive