Showing posts with label Jiwa. Show all posts
Showing posts with label Jiwa. Show all posts

Monday, January 4, 2010

ASKEP CURIGA

A. Proses terjadinya masalah.
Prilaku curiga merupakan gangguan berhubungan dengan orang lain dan lingkungan yang ditandai dengan persaan tidak percaya dan ragu-ragu. Prilaku tersebut tampak jelas saat individu berinteraksi dengan orang lain atau lingkungannya. Prilaku curiga merupakan prilaku proyeksi terhadap perasaan ditolak, ketidakadekuatan dan inferiority. Ketika klien kecemasannya meningkat dalam merespon terhadap stresor, intra personal, ekstra personal dan inter personal. Perasaan ketidak nyamanan di dalam dirinya akan diproyeksikan dan kemudian dia akan merasakan sebagai ancaman/ bahaya dari luar. Klien akan mempunyai fokus untuk memproyeksikan perasaannya yang akan menyebabkan perasaan curiga terhadap orang lain dan lingkungannya. Proyeksi klien tersebut akan menimbulkan prilaku agresif sebagaimana yang muncul pada klien atau klien mungkin menggunakan mekanisme pertahanan yang lain seperti reaksi formasi melawan agresifitas, ketergantungan, afek tumpul, denial, menolak terhadap ketidaknyamanan.


Faktor predisposisi dari curiga adalah tidak terpenuhinya trust pada masa bayi. Tidak terpenuhinya karena lingkungan yang bermusuhan, orang tua yang otoriter, suasana yang kritis dalam keluarga, tuntutan lingkungan yang tinggi terhadap penampilan anak serta tidak terpenuhinya kebutuhan anak. Dengan demikian anak akan menggunakan mekanisme fantasi untuk meningkatkan harga dirinya atau dia akan mengembangkan tujuan yang tidak jelas.
Pada klien , dari data yang ditemukan faktor predisposisi dari prilaku curiga adalah gangguan pola asuh. Di dalan keluarga klien merupakan anak angkat dari keluarga yang pada saat itu belum memiliki anak. Klien menjadi anak kesayangan ayahnya, karena klien dianggap sebagai pembawa rejeki keluarga. Sejak kelahiran adik-adiknya ( 7 orang ) klien mulai merasa tersisih dan tidak diperhatikan, merasa tidak nyaman, sehingga klien merasa terancam dari lingkungan keluarganya. Sejak itu klien tidak percaya pada orang lain, sering marah-marah dan mengamuk sehingga klien dibawa oleh keluarganya ke RS jiwa.


B. Masalah-masalah yang muncul pada klien curiga.
Masalah yang biasanya timbul pada klien curiga karena adanya kecemasan yang timbul akibat klien merasa terancam konsep dirinya, kurangnya rasa percaya diri terhadap lingkungan yang baru/asing (masalah ini tidak muncul pada klien G). Masalah lain yang juga sering muncul pada klien curiga yaitu marah, timbul sebagai proyeksi dari keadaan ketidak adekuatan dari perasaan ditolak (masalah ini muncul pada klien ).
Isolasi sosial merupakan masalah yang juga muncul pada diri klien. Klien menarik diri akibat perasaan tidak percaya pada lingkungan . Curiga merupakan afek dari mekanisme koping yang tidak efektif, klien menunjukan bingung peran, kesulitan membuat keputusan, berprilaku destruktif dan menggunakan mekanisme pertahanan diri yang tidakl sesuai, dan masalah ini ada pada diri klien.
Masalah lain yang timbul adalah gangguan perawatan diri dan data yang diperoleh : klien berpenampilan tidak adekuat, dimana klien tidak mandi, tidak mau gosok gigi, rambut kotor dan banyak ketombe, kuku kotor dan panjang. (masalah ini ada pada diri klien)
Pada klien muncul juga gangguan harga diri rendah, dimana klien mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya ditunjukkan dengan prilaku menarik diri atau menyerang orang lain.( masalah ini ada pada diri klien)
Potensial gangguan nutrisi, pada klien curiga biasanya mengira makanan itu beracun atau petugas mungkin sudah memasukkan obat-obatan ke dalam minumannya, akibatnya tidak mau makan - minum. (masalah ini tidak ada pada diri klien)

PELAKSANAAN PROSES KEPERAWATAN

Pelaksanaan proses keperawatan berorientasi pada masalah yang timbul pada klien. Pada bab ini akan menyampaikan secara singkat mengenai pelaksanaan proses keperawatan yang meliputi : Diagnosa Keperawatan, Tujuan jangka panjang, Intervensi, Evaluasi dan tindak lanjut. Adapun proses keperawatan secra lengkap ada pada lampiran.
Diagnosa keperawatan I
Potensial melukai diri sendiri/ orang lain s/d ketidak mampuan klien mengungkapkan marah secara konstruktif.
Tupan : Tidak melukai orang lain/ diri sendiri serta mampu mengungkapkan marah secara konstruktif.
Intervensi :
1. Membina hubungan saling percaya dengan klien .
2. Memelihara ketengann lingkungan, suasana hangat dan bersahabat.
3. Mempertahan kan sikap perwat secara konsisten.
4. Mendorong klien untuk mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien marah.
5. Mendiskusikan dengan klien tentang tanda-tanda yang biasa terjadi pada orang yang sedang marah.
6. Mendorong klien untuk mengatakan cara-cara yang dilekukan bila klien marah.
7. Mendiskusikan dengan klien cara mengungkapkan marah secara konstruktif.
8. Mendiskusikan dengan keluarga ( pada saat kunjungan rumah ) ttg marah pada klien , apa yang sudah dilakukan bila klien marah dirumah bila klien cuti.
Evaluasi :
• Klien mau menerima petugas (mahasiswa ), dan membalas salam.
• Berespon secara verbal.
• Membalas jabat tangan, mau diajak berbicara.
• Klien mampu mengungkapkan penyebab marahnya.
• Klien dapat mengenal tanda-tanda marah.
• Klien megatakan kalau amuk itu tidak baik.
• Klien dapat memperagakan tehnik relaksasi.
Tindak lanjut :
• Melanjutkan untuk latihan marah yang konstruktif dengan tehnik relaksasi, tehnik asertif.
Diagnosa keperawatan II
Gangguan hubungan sosial; menarik diri sehubungan dengan curiga.
Intervensi :
1. Membina hubungan saling percaya.
2. Bersikap empati pada klien.
3. Mengeksplorasi penyebab kecurigaan pada klien .
4. Mengadakan kontak sering dan singkat.
5. Meningkat respom klien terhadap realita.
6. Memberikan obat sesuai dengan program terapi dan mengawasi respon klien.
7. Mengikut sertakan klien dalam TAK sosialisasi untuk berinteraksi.
Evaluasi :
• Klien mampu mengeksplorasi yang menyebabkan curiga.
• Klien disiplin dalam meminum obat sesuai program terapi.
Tindak lanjut:
• Teruskan untuk program sosialisasi/ interaksi klien untuk mengurangi kecurigaan.
Diagnosa Keperawatan III
Penampilan diri kurang s/d kurang minat dalam kebersihan diri.
Tupan : Penampilan klien rapih dan bersih serta klien mampu merawat kebersihan diri.
Intervensi :
1. Memperhatikan tentang kebersihan klien .
2. Mendiskusikan dengan klien ttg gunanya kebersihan.
3. Memberikan reinforsemen positif apa yang sudah dilakukan klien.
4. Mendorong klien untuk mengurus kebersihan diri.
Tindak lanjut :
• Perlu dilanjutkan dengan TAK tentang kegiatan sehari-hari.
• Berikan motivasi agar klien mau merawat diri.



http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

GANGGUAN PERSEPSI HALUSINASI DENGAR AKIBAT SKIZOFRENIA HEBEFRENIK

GANGGUAN PERSEPSI HALUSINASI DENGAR AKIBAT SKIZOFRENIA HEBEFRENIK:
ABSTRAK
viii, IV bab, 107 halaman, 1 tabel, 1 gambar, 8 lampiran

Karya tulis ini dilatar belakangi oleh tingginya angka kejadian gangguan jiwa skizofrenia hebefrenik yaitu sebanyak 229 klien (56,7 %) dari 404 klien. Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah untuk mendapatkan pengalaman secara langsung dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan persepsi halusinasi akibat skizofrenia hebefrenik dengan menggunakan tahapan proses keperawatan. Metode penulisan yang digunakan yaitu deskriptif analitik dalam bentuk studi kasus. Skizofrenia hebefrenik disebut juga skizofrenia disorganisasi dimana terjadi perubahan afek yang tidak sesuai, adanya perilaku regresi dan primitif, menarik diri secara ekstrim, komunikasi inkoherensia, dan sering dijumpai waham serta halusinasi dan ini akan berpengaruh terhadap kebutuhan dasar manusia.
Faktor pencetus disebabkan oleh biologis, psikologis dan sosial budaya. Dari hasil pengkajian didapatkan masalah dan dirumuskan kedalam diagnosa keperawatan yaitu resiko mencederai orang lain dan lingkungan, koping individu tidak efektif serta defisit perawatan diri. Tindakan yang dilakukan yaitu cara mengontrol halusinasi, menggunakan koping yang konstruktif dan meningkatkan motivasi perawatan diri. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 5 hari, hampir semua masalah teratasi, kecuali 5 prinsip benar dalam penggunaan obat, klien baru sebagian mengingat nama dan dosis obat dikarenakan daya ingatnya sudah menurun akibat usia yang sudah lanjut. Untuk mengatasi hal tersebut Penulis melakukan koordinasi dengan perawat ruangan untuk tetap memberikan motivasi cara minum obat yang benar sesuai dengn jadwal yang telah dibuat dengan klien, selain itu Penulis menyarankan mengenai penyediaan ruangan untuk kegiatan Mahasiswa guna memperlancar pelaksanaan asuhan keperawatan serta perlunya memfasilitasi setiap klien dengan peralatan kebersihan diri.

Daftar Pustaka : 12 Buku ( 1993 – 2004 )




http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

Sunday, January 3, 2010

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA: "

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

  1. Askep menarik diri
  2. Askep napza
  3. Askep curiga
  4. Askep harga diri rendah
  5. Askep kehilangan
  6. Askep depresi
  7. terapi aktifitas kelompok
  8. Efek ECT
  9. Kontrol emosi
  10. Terapi lingkungan
  11. Askep mania
  12. Askep perawatan diri kurang
  13. Askep perilaku kekerasan
  14. Askep schizofrenia
  15. Askep suicide
  16. Askep toileting
  17. Askep waham
  18. Askep Menarik diri
  19. Askep delirium
  20. Askep gangguan hubungan sosial
  21. Askep halusinasi dengar
  22. Askep halusinasi perseptual

"

LP Halusinasi

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI


I. MASALAH UTAMA

Halusinasi


II. PROSES TERJADINYA MASALAH

A. Masalah Utama

1. Pengertian

a. Halusinasi adalah keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola diri stimulus yang mendekat yang diperkasai secara internal atau eksternal disertai dengan suatu pengurangan berlebihan distarsi/ kelainan berespon terhadap stimulus. (Mary C.T, 1998)

b. Halusinasi adalah gangguan sensori/persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, suatu pencerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. (Maramis, 1998).

c. Halusinasi adalah suatu penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksterna, persepsi palsu. (Lubis, 1993).

d. Halusinasi adalah pengindraan tanpa sumber rangsang eksternal.

2. Tanda dan Gejala

a. Merasa tidak mampu (HDR)

b. Putus asa (tidak percaya diri)

c. Merasa gagal (kehilangan motivasi menggunakan ketrampilan diri)

d. Kehilangan kendali diri (demoralisasi)

e. Merasa mempunyai kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut

f. Merasa malang (tidak dapat memenuhi kebutuhan spiritual)

g. Bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan

h. Rendahnya kemampuan sosialisasi diri

i. Perilaku agresif

j. Perilaku kekerasan

k. Ketidakadekuatan pengobatan

l. Ketidakadekuatan penanganan gejala


(Sareno, Kumpulan Materi Perkuliahan Perawatan Mental 2001, Magelang)



Jenis-jenis halusinasi


1) Pendengaran

Mendengarkan suara-suara/ kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien bahkan sampai ke percakapan lengkap antara 2 orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa pasien, disuruh untuk melakukan sesuatu kadang-kadang dapat membahayakan.

2) Penglihatan

Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks, bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.

3) Penghirup

Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urine, feses, umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghirup sering akibat stroke, tumor, kejang atau demensta.

4) Pengecapan

Merasa mengecap seperti rasa darah, urine atau feses.

5) Perabaan

Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas, rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati, atau orang lain.

6) Chenestetic

Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.

7) Kinesthetic

Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.


B. Penyebab

Perilaku Menarik Diri

1. Pengertian

Perilaku menarik diri adalah perilaku yang merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. (Rawhns, 1993) Menarik diri termasuk isolasi diri adalah suatu tindakan melepaskan diri dari alam sekitarnya. Individu tidak ada minat dan perhatian terhadap lingkungan sosial secara langsung. Perilaku menarik diri merupakan reaksi pada masa kritis yang bersifat sementara dan dimanifestasikan dengan perilaku yang bermacam-macam.

2. Tanda dan Gejala

a. Kurang spontan

b. Apatis (acuh terhadap lingkungan)

c. Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih)

d. Afek tumpul

e. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri

f. Komunikasi verbal menurun/ tidak ada. Tidak bercakap-cakap dengan orang lain

g. Mengisolasi diri (menyendiri), memisahkan diri dari orang lain

h. Tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya

i. Pemasukan makanan dan minuman terganggu

j. Retensi urine dan feses

k. Aktivitas menurun

l. Kurang energi (tenaga)

m. Harga diri rendah

n. Posisi janin pada saat tidur

o. Menolak hubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.


C. Akibat

1. Pengertian

Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan. Hal ini terjadi karena pasien mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan dan pasien tidak menemukan alternatif lain sehingga timbul perasaan marah, jengkel yang disertai ketidakmampuan mengontrol diri, sehingga pasien mengungkapkan perasaan lewat perilakunya.

2. Tanda dan Gejala

a. Merusak barang

b. Ada ide untuk bunuh diri

c. Melakukan kekerasan fisik secara aktual/potensial

d. Tingkah laku maniac

e. Menggebrak meja/ tempat tidur

f. Riwayat perilaku menyakiti orang lain

g. Keluhan neurologis agitasi

h. Menyalahgunakan obat/ zat




III. A. Pohon Masalah


B. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

No Diagnosa Data yang sudah ada Data yang perlu dikaji

1 Halusinasi

a. Pendengaran

- Melirik mata ke kanan/ ke kiri untuk mencari sumber suara

- Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang sedang berbicara/ benda mati didekatnya

- Terlibat pembicaraan dengan benda mati ayau orang yang tidak nampak

- Menggerakkan mulut seperti mengomel


b. Penglihatan

- Tiba-tiba tampak tergagap, ketakutan karena orang lain, benda mati atau stimulus yang tak terlihat

- Tiba lari ke ruang lain


c. Pengecepan - Meludahkan makanan atau minuman

- Menolak makanan atau minum obat

- Tiba-tiba meninggalkan meja makan


d. Penghirup

- Mengkerutkan hidung seperti menghirup udara yang tidak enak

- Menghirup bau tubuh

- Menghirup bau udara ketika berjalan kearah orang lain

- Berespon terhadap bau dengan panic


e. Peraba

- Menampar diri sendiri seakan-akan sedang memadamkan api

- Melompat-lompat di lantai seperti menghindari sesuatu yang menyakitkan


f. Sintetik

- Mengverbalisasi terhadap proses tubuh

- Menolak menyelesaikan tugas yang menggunakan bagian tubuh yang diyakini tidak berfungsi


2. Menarik diri

- Kurang spontan

- Apatis (acuh terhadap lingkungan)

- Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih)

- Afek tumpul

- Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri

- Komunikasi verbal menurun/ tidak ada

- Mengisolasi diri (menyendiri)

- Aktivitas menurun

- Kurang energi

- Menolak berhubungan dengan orang lain


3 Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan

- Merusak barang

- Ada ide untuk membunuh/ bunuh diri

- Melakukan kekerasan fisik aktual/potensial

- Tingkah laku maniac

- Menggebrak meja/ tempat tidur

- Riwayat perilaku mengejar orang lain

- Keluhan neurologis agitasi

- Menyalahgunakan obat/ zat

- Riwayat melakukan kekerasan pada orang lain.



DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Halusinasi

2. Menarik diri

3. Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan



PEDOMAN PROSES KEPERAWATAN UNTUK DIAGNOSA KEPERAWATAN HALUSINASI


Diagnosa Keperawatan Perencanaan Intervensi

Tujuan Kriteria Evaluasi

Halusinasi

TUM :

Klien tidak berhalusinasi

TUK 1 :

Klien dapat membina hubungan saling percaya


1.1 Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa, senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi


1.1.1 Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik.

a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal

b. Perkenalkan diri dengan sopan

c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien

d. Jelaskan tujuan pertemuan

e. Jujur dan menepati janji

f. Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya

g. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien


TUK 2 :

Klien dapat mengenal halusinasi 2.1 Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi timbulnya halusinasi


2.2 Klien dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasi 2.1.1 Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap

2.1.2 Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya : berbicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang ke kiri/ ke kanan/ ke depan seolah-olah ada teman bicara.

2.13 Bantu klien mengenal halusinasinya :

a. Jika menemukan klien yang sedang halusinasi, tanyakan apakah ada suara yang didengar.

b. Jike klien menjawab ada, lanjutkan apa yang dikatakan.

c. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, namun perawat sendiri tidak mendengarnya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh)

d. Katakan bahwa klien lain juga ada seperti klien

e. Katakan bahwa perawat akan membantu klien.

2.1.4 Diskusikan dengan klien

a. Situasi yang menimbulkan/ tidak menimbulkan halusinasi.

b. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore dan malam atau jika sendiri, jengkel/ sedih)

2.2.1 Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah/takut, sedih, senang) beri kesempatan mengungkapkan perasaan.


TUK 3 :

Klien dapat mengkontrol halusinasinya 3.1 Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasaya dilakukan untuk menghindari halusinasi


3.2 Klien dapat menyebutkan cara baru

3.3 Klien dapat memilih cara mengatasi halusinasi seperti yang telah didiskusikan.

3.4 Klien dapat melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasinya.

3.5 Klien dapat mengikuti terapi aktivitas kelompok 3.1.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukkan diri dll)

3.1.2 Diskusikan manfaat dan cara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian.

3.2.1 Diskusikan cara baru untuk memutus/ mengontrol timbulnya halusinasi

a. Katakan : 'Saya tak mau dengan kamu' (pada saat halusinasi terjadi)

b. Menemui orang lain (perawat/ teman/ anggota keluarga) untuk bercakap-cakap atau mengatakan halusinasi yang didengarnya.

c. Membuat jadwal kegiatan sehari-sehari agar halusinasi tidak sempat muncul

d. Meminta keluarga/ teman/perawat, menyapa jika tampak berbicara sendiri

3.3.1 Bantu klien memilih dan melatih cara memutuskan halusinasi secara bertahap

3.4.1 Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih. Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil

3.5.1 Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok, orientasi realita, stimulasi persepsi


TUK 4 :

Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya 4.1 Keluarga dapat membina hubungan saling percaya


4.2 Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi 4.1.1 Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi

4.2.1 Diskusikan dengan keluarga (pada saat keluarga berkunjung/ pada saat kunjungan rumah)

a. Gejala halusinasi yang dialami klien

b. Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi.

c. Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah, beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama.

d. Beri informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan halusinasi tidak terkontrol dan risiko mencederai orang lain.


TUK 5 :

Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik 5.1 Klien dan keluarga dapat menyebutkan manfaat, dosis, dan efek samping obat


5.2 Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar

5.3 Klien dapat informasi tentang manfaat dan efek samping obat

5.4 Klien memahami akibat berhentinya obat tanpa konsultasi

5.5 Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar penggunaan obat 5.1.1 Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi, dan manfaat obat

5.2.1 Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya

5.3.1 Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat yang dirasakan

5.4.1 Diskusikan akibat berhenti obat-obat tanpa konsultasi

5.5.1 Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 (lima) benar




STRATEGI PELAKSANAAN (SP)

TINDAKAN KEPERAWATAN I


A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien

2. Diagnosa Keperawatan

Halusinasi

3. Tujuan Khusus

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya

b. Klien dapat mengenal halusinasinya

c. Klien dapat mengontrol halusinasinya

4. Tindakan Keperawatan

a. Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik

b. Diskusikan dengan klien tentang halusinasinya yang dialaminya

c. Identifikasi jenis, waktu, isi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi dan respon klien terhadap halusinasi

d. Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakan jika halusinasi dan beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan

e. Ajarkan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik

f. Ajarkan memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal rencana kegiatan harian


B. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Fase Orientasi


a. Salam terapeutik

'Selamat pagi, perkenalkan nama saya Ita Rahmawati, saya biasa dipanggil Ita. Nama siapa? Biasanya senang dipanggil siapa? Wah bagus sekali namanya. Saya yang akan merawat selama di rumah sakit ini, jika membutuhkan bantuan saya siap membantu'


b. Validasi/ evaluasi

'Bagaimana perasaan saat ini? Apa keluhan saat ini?


c. Kontak (topik,waktu, dan tempat)

'Bagaimana kalau sekarang kita berbincang-bincang tentang suara-suara yang sering dengar? Berapa lama kita akan berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30 menit? Dimana tempat yang menurut cocok untuk berbincang-bincang? Bagaimana kalau di ruangan ini?


2. Fase Kerja


'Coba ceritakan suara-suara yang sering dengar?

Apakah mengenali suara siapa itu?

Apa terus-menerus mendengar suara-suara itu? Kapan saja suara itu terdengar?

Situasi yang bagaimana yang menurut menjadi pencetus munculnya suara itu?

Berapa kali suara itu terdengar?

Apakah merasa terganggu dengan suara-suara tersebut?

Apakah yang lakukan jika suara-suara itu terdengar?

Bagaimana perasaan ketika suara-suara itu muncul?

Apakah dengan cara seperti itu suara-suara tersebut bisa hilang?

Bagaimana kalau kita belajar cara-cara mencegah suara-suara yang muncul?

Ada 4 cara untuk mencegah suara-suara itu muncul, yang pertama dengan menghardik suara-suara yang muncul misal Anda tutup telinga atau tanamkan kata-kata dalam hati sambil mengungkapkan 'pergi-pergi, saya tidak mau dengar kamu!' yang ke-2 dengan melakukan percakapan dengan orang lain. Ke-3 dengan melakukan kegiatan yang sudah terjadwal. Dan yang ke-4 dengan minum obat teratur' seperti yang tadi saya contohkan sampai suara-suara itu hilang ya!

Coba peragakan tapi ingat di dalam hati saja ya!

Nah, begitu bagus! Coba lagi! Ya bagus sudah bisa.


3. Fase Terminasi


a. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan

'Bagaimana perasaan setelah memperagakan latihan tadi?

Kalau suara-suara tidak berwujud itu muncul lagi coba cara-cara tadi dilatih.

Oh ya ya! Masih ingat 4 cara mengontrol halusinasi tadi apa saja? Wah bagus sekali masih ingat.'

b. Rencana tindakan lanjut

' besok kita latihan lagi untuk cara yang ke-2 ya! Dengan cara melakukan percakapan dengan orang lain dan cara-cara yang lain.'

c. Kontrak yang akan datang (topik, waktu dan tempat)

'Baiklah pertemuan hari ini cukup sekian dulu. Besok kita ketemu lagi ya untuk berlatih mengendalikan suara-suara dengan bercakap-calap.

Maunya mau dimana? Bagaimana kalau ditempat ini lagi, besok jam sama seperti ini jam 10.00 WIB.

Jangan lupa ya…!




STRATEGI PELAKSANAAN (SP)

TINDAKAN KEPERAWATAN II



A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien

2. Diagnosa Keperawatan

Halusinasi

3. Tujuan Khusus

a. Klien dapat mengontrol halusinasinya

4. Tindakan Keperawatan

a. Evaluasi cara menghardik halusinasi

b. Latih dan mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain

c. Kontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan-kegiatan dalam rencana harian

d. Ajarkan kegiatan bercakap-cakap dimasukkan dalam rencana harian


B. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Fase Orientasi


a. Salam terapeutik

'Selamat pagi, !' masih ingat dengan saya? Bagaimana kabarnya? Masih ingat tho, saya Ita yang kemarin.

b. Validasi/ evaluasi

'Apa yang rasakan hari ini? Wah tampak senang sekali, ya?

c. Kontak (topik,waktu, dan tempat)

'Seperti janji saya kemarin, bahwa hari ini kita akan berlatih mengontrol halusinasi dengan berbincang-bincang dengan orang lain dan melakukan kegiatan seperti yang direncanakan per hari. Masih ingat kan? Nanti kita akan berbincang-bincang selama 30 menit ya? Bagaimana kalau kita bercakap-cakap di ruangan ini lagi?


2. Fase Kerja

'Kemarin sudah bisa menghardik halusinasi kan? Sekarang cara yang ke-2 untuk mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Jadi kalau mulai mendengar suara-suara langsung saja cari teman untuk mengobrol dengan teman atau ajak perawat.

Contoh : 'Tolong, saya sekarang mulai mendengar suara-suara itu!

Ayo ngobrol dengan saya!

Coba sekarang lakukan seperti saya tadi! Bagus, nah latihan terus ya dan diingat terus.


3. Fase Terminasi

a. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan

Evaluasi subjektif : Bagaimana perasaan setelah berbincang-bincang dengan saya?

Evaluasi objektif : Sekarang coba sebutkan 4 cara mengontrol halusinasi!

Bagus sekali, jangan lupa dilakukan ya!

b. Rencana tindakan lanjut

'Jadi jangan lupa melakukannya dan kita masukkan dalam kegiatan harian !

c. Kontrak yang akan datang (topik, waktu dan tempat)

'Saya rasa pertemuan kita cukup sekian dulu, kita bertemu lagi untuk berbincang-bincang tentang cara ke-3 dengan membuat jadwal rencana harian. Tempatnya di sini lagi. Bagaimana kalau besok jam 10.00 WIB selama 15 menit. Bagaimana setuju kan? Silahkan kalau mau istirahat.'





STRATEGI PELAKSANAAN (SP)

TINDAKAN KEPERAWATAN III



A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien

2. Diagnosa Keperawatan

Halusinasi

3. Tujuan Khusus

a. Klien dapat mengontrol halusinasinya

4. Tindakan Keperawatan

a. Kondisi latihan menghardik dengan bercakap-cakap

b. Ajarkan kegiatan yang terjadwal

c. Memasukkan kegiatan dalam jadwal rencana harian


B. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

1. Fase Orientasi


a. Salam terapeutik

'Selamat pagi ! Mari kita mengobrol-ngobrol lagi! Bagaimana kabarnya?'

b. Validasi/ evaluasi

'Apa yang rasakan hari ini? Sudah ngobrol dengan siapa saja, pasti sudah kenal dengan perawat-perawat sini ya? Coba sebutkan namanya sedikit saja!' bagus sekali!

c. Kontak (topik,waktu, dan tempat)

'Seperti janji kita kemarin hari ini kita akan membuat jadwal rencana kegiatan untuk mengontrol halusinasi. Bagaimana kalau di ruang ini lagi ya! Kita akan ngobrol selama 15 menit saja. Bagaimana? Baiklah


2. Fase Kerja


'Apa saja yang biasa lakukan di rumah? Pagi hari apa kegiatan yang lakukan? Jam berapa biasanya (terus apa saja kegiatannya sampai malam) wah banyak sekali kegiatannya. Mari coba hari ini kita latihan 2 kegiatan hari ini, misalkan perbed dan menyapu lantai.

Bagus sekali bisa lakukan. Kegiatan ini dapat menghalau suara-suara waktu Anda mendengarkan.

Kegiatan apalagi yang bisa lakukan dari pagi sampai malam coba Anda lakukan!


3. Fase Terminasi


a. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan

Evaluasi subjektif : Bagaimana perasaan setelah bercakap-cakap tentang melakukan kegiatan sesuai rencana harian?

Evaluasi objektif : Coba sebutkan cara yang telah kita lakukan! Bagus sekali

b. Rencana tindakan lanjut

'Coba lakukan sesuai jadwal !' bisa berlatih aktivitas lain pada pertemuan berikut sampai terpenuhi seluruh aktivitas dari pagi sampai malam.

c. Kontrak yang akan datang (topik, waktu dan tempat)

'Bagaimana kalau besok kita latihan cara yang ke-4 dengan membahas tentang cara minum obat yang baik serta guna obat. Masih ingatkan cara yang terakhir ini? Besok disini lagi dijam yang sama. Bagaimana? Tidak boleh telat ya! Silakan kalau punya kegiatan dilanjutkan saja!




STRATEGI PELAKSANAAN (SP)

TINDAKAN KEPERAWATAN IV



A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien

2. Diagnosa Keperawatan

Halusinasi

3. Tujuan Khusus

a. Klien dapat mengontrol halusinasinya

b. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik

4. Tindakan Keperawatan

a. Mendiskusikan dengan klien tentang dosis obat, tentang manfaat dan frekuensinya.

b. Menganjurkan klien berbicara dengan dokter tentang manfaat dan frekuensinya

c. Menganjurkan klien berbicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat

d. Diskusikan akibat berhenti minum obat

e. Mendiskusikan 5 benar dalam pemberian obat

f. Kontrol halusinasi dengan pemberian obat


B. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Fase Orientasi


a. Salam terapeutik

'Selamat pagi !'

b. Validasi/ evaluasi

'Baik-baik saja kan! Wah tampak segar hari ini. Bagaimana perasaan, !

Bagaimana waktu halusinasi itu muncul, apakah mencoba cara-cara yang sudah kita bicarakan kemarin? Berhasil tidak? Berhasi! Bagus sekali.

c. Kontak (topik,waktu, dan tempat)

'Seperti janji kita kemarin hari ini saya akan menjelaskan tentang obat-obatan yang minum yang bisa mengatasi suara-suara yang mengganggu. Dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau disini saja ya? Cukup 15 menit cukup!


2. Fase Kerja

'Ini jenis obat-obatan yang minum! Sebutkan warna, nama, fungsi, dosis, cara dan waktunya.

Adakah bedanya setelah minum obat sudah teratur? Apakah suara itu berkurang/ hilang? Minum obat itu sangat penting, supaya suara-suara itu cepat hilang. Kalau suara-suara dan apa yang Anda dengar hilang, tidak boleh dihentikan obatnya. Nanti konsultasikan dengan dokter sebab kalau putus obat bisa kambuh lagi dan sulit mengembalikan ke keadaan semula.

Kalau obat habis minta lagi ke dokter, perlu teliti saat makan obat yang jangan ambil milik orang lain, baca kemasan, tepat jam minum dengan cara yang benar yaitu setelah makan jangan lupa harus benar obat dan dosisnya harus 5 benar.


3. Fase Terminasi

a. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan

Evaluasi subjektif : Bagaimana perasaan setelah kita bercakap-cakap tentang obat?

Evaluasi objektif : Coba sebutkan cara yang telah kita pelajari! Sarat benar dalam pemberian obat! Wah bagus sekali jangan lupa minum obat, ya!

b. Rencana tindakan lanjut

'Bagaimana kalau kita masukkan jadwal kegiatan harian ya?

c. Kontrak yang akan datang (topik, waktu dan tempat)

'Besok kita ketemu lagi ya , kita akan bahas masalah dengan keluarga. Kita ketemu lagi besok di sini, di jam yang sama ya!

PHOBIA dan LATAH

2.1. Phobia
2.1.1. Pengertian Phobia
Kata phobia diambil dari nama dewa Yunani Phobos yang takut kepada musuh-musuhnya. Kebanyakan dari para psikolog mendefinisikan phobia sebagai penolakan yang menggangu yang diperantarai oleh rasa takut yang tidak proporsional dengan bahaya yang dikandung oleh objek atau situasi tertentu dan diakui oleh si penderita sebagai sesuatu yang tidak berdasar.[1]
Phobia adalah rasa takut yang tidak masuk akal, atau yang tidak ditakuti tidak seimbang dengan ketakutan, si sakit tidak tahu mengapa ia takut dan tidak dapat menghindari rasa takut itu. Kadang-kadang rasa takut yang tidak masuk akal itu menyebabkan tertawaan orang lain, sehingga ia makin merasa cemas.[2]
Phobia diidentifikasi sebagai ketakutan terus menerus secara irasional terhadap suatu benda, situasi atau aktivitas spesifik yang menyebabkan keinginan untuk menghindari objek tersebut. Seseorang yang phobia akan merespon dengan ketakutan yang kuat pada stimulus atau situasi tertentu yang oleh sebagian besar orang tidak dianggap berbahaya. Individu biasanya menyadari bahwa rasa takutnya itu tidak rasional tetapi masih juga merasa cemas yang dapat dihilangkan hanya dengan menghindari objek atau situasi yang ditakutinya.
Psikolog psikoanalistik memandang phobia sebagai reaksi terhadap kecemasan yang dialihkan. Mereka mengansumsikan bahwa ketakutan secara tidak sadar dialihkan dari pengalaman pertama yang membangkitkan kecemasan kepada objek yang kurang membahayakan.[3]
Bila seseorang yang menderita phobia melihat atau bertemu atau berada pada situasi yang membuatnya takut (phobia), gejalanya adalah sebagai berikut:
Jantung berdebar kencang
Kesulitan mengatur napas
Dada terasa sakit
Wajah memerah dan berkeringat
Merasa sakit
Gemetar
Pusing
Mulut terasa kering
Merasa perlu pergi ke toilet
Merasa lemas

2.1.2. Macam-macam Phobia
Menurut DSM-IV, fobia terbagi menjadi tiga kategori
Phobia spesifik
Phobia spesifik adalah katakutan yang beralasan yang disebabkan oleh kehadiran atau antisipasi suatu objek atau situasi spesifik. Contohnya takut pada ular (binatang), kuman, tempat tertutup, kegelapan, naik pesawat terbang, dan sebagainya.
Ciri utama orang yang mengalami phobia ini adalah dapat menyesuaikan diri dengan baik, tetapi apabila ia berhadapan dengan stimulus fobia maka ia akan memberikan respon secara tegang, cemas, berkeringat, kesulitan bernafas, dan jantung berdebar dengan cepat.[4]
Phobia sosial
Phobia sosial adalah ketakutan menetap dan tidak rasional yang umumnya berkaitan dengan keberadaan orang lain, mungkin merasa sangat tidak pasti dalam situasi sosial dan mengalami ketakutan yang berat yang memalukan dirinya. Dapat ditandai dengan tremor tangan, kemerahan atau suara yang gemetaran. Rasa takut berbicara di depan publik atau makan di tempat ramai adalah keluhan yang paling umum dari penderita fobia sosial.
Ciri utama orang yang mengalami phobia sosial adalah menghindari orang-orang karena takut dikritik dan menunjukan tanda-tanda kecemasan atau bertingkah laku dengan cara yang memalukan.

Agrophobia
Agrophobia adalah phobia yang paling umum pada orang yang mencari bantuan profesional. Individu ini merasa takut saat memasuki lingkunagn yang tidak dikenalnya. Mereka menghindari tempat terbuka, keramamian dan bepergian. Pada kasus yang ekstrim, individu mungkin tkaut meninggalkan lingkungan rumah yang dikenalnya. Penderita ini biasanya memiliki serangan panik. Mereka merasa ketakutan dan dibuat tidak berdaya oleh suatu serangan karena berada jauh dari keamanan rumah dan mungkin tidak ada orang yang membantunya. Penderita ini biasanya juga sangat tergantung. Sebagian besar dari mereka menunjukan kecemasan perpisahan (takut berpisah dari ibu) pada masa anak-anak lama sebelum mengalami agrofobia.

2.2. Latah
2.2.1. Pengertian Latah
Latah memiliki arti sebagai berikut:
1. Menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain
2. Berkelakuan seperti orang gila, misalnya; karena kehilangan orang yang dicintai
3. Meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain
4. Mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh.
Menurut Dr. Rinrin R. Kaltarina, Psi.,M.Si., Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap secara tak terkendali setelah terjadinya reaksi kaget.Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap atau tidak terkendali, pascareaksi kaget (starled reaction). Saat latah muncul yang berkuasa alam bawah sadar (subconcious).
Di Indonesia, gangguan latah berkembang pada suku-suku di Pulau Jawa, Sumatera, dan pedalaman Kalimantan. Sementara itu, di wilayah Asia lainnya, penyakit latah ditemukan antara lain di tengah masyarakat suku Ainu di Jepang dan masyarakat gurun pasir di Gobi. Di Eropa, latah juga ada pada suatu suku di Prancis.
Berdasarkan fakta yang ada, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Teori kuno menyatakan, penderita latah biasanya orang tua, perempuan, berpendidikan rendah, dan berasal kelas ekonomi bawah. Namun, teori itu tak sepenuhnya tepat. Buktinya, kini banyak remaja yang mengidap latah. Penderita latah pria pun ada meski jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan perempuan.
Ada beberapa teori yang menyebabkan timbulnya gangguan latah, yaitu;a. Teori Pemberontakan.
Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang tanpa merasa bersalah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku. Lebih kearah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.
b. Teori Kecemasan
Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan. Walau demikian tokoh otoriter tidak harus berasal dari lingkungan keluarga.c. Teori Pengondisian
Inilah yang disebut latah gara-gara ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara latah, seseorang merasa diperhatikan dan diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini disebut ”latah gaul”.
2.2.2. Macam-macam Latah
Ada empat macam latah, yaitu:
1. Ekolalia : mengulangi perkataan orang lain
2. Ekopraksia : meniru gerakan orang lain
3. Koprolalia : mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor
4. Automatic obedience : melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut.
[1] Gerard C. Davidson, Psikologi abnormal, ( Jakarta: Rajawali Press), hlm. 183.
[2] Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 2001),hlm. 36.
[3] Linda L. Davidoff, Psikologi Suatu Pengantar jilid 2, (Jakarta: Erlangga, 1991), hlm. 228.
[4] Yustinus Semiun, Kesehatan Mental, (Yogyakarta: Kanisius ), hlm. 323.
"

Cepalgia

Pengertian

Chefalgia atau sakit kepala adalah salah satu keluhan fisik paling utama manusia. Sakit kepala pada kenyataannya adalah gejala bukan penyakit dan dapat menunjukkan penyakit organik (neurologi atau penyakit lain), respon stress, vasodilatasi (migren), tegangan otot rangka (sakit kepala tegang) atau kombinasi respon tersebut (Brunner & Suddart).



Klasifikasi dan Etiologi

Klasifikasi sakit kepala yang paling baru dikeluarkan oleh Headache Classification Cimitte of the International Headache Society sebagai berikut:

  1. Migren (dengan atau tanpa aura)
  2. Sakit kepal tegang
  3. Sakit kepala klaster dan hemikrania paroksismal.
  4. Berbagai sakit kepala yang dikatkan dengan lesi struktural.
  5. Sakit kepala dikatkan dengan trauma kepala.
  6. Sakit kepala dihubungkan dengan gangguan vaskuler (mis. Perdarahan
    subarakhnoid).
  7. Sakit kepala dihuungkan dengan gangguan intrakranial non vaskuler (mis. Tumor otak).
  8. Sakit kepala dihubungkan dengan penggunaan zat kimia tau putus obat.
  9. Sakit kepala dihubungkan dengan infeksi non sefalik.
  10. Sakit kepala yang dihubungkan dengan gangguan metabolik (hipoglikemia).
  11. Sakit kepala atau nyeri wajah yang dihubungkan dengan gangguan kepala, leher atau struktur sekitar kepala ( mis. Glaukoma akut).
  12. Neuralgia
    kranial (nyeri menetap berasal dari saraf kranial)


Patofisiologi

Sakit kepala timbul sebagai hasil perangsangan terhadap bangunan-bangunan diwilayah kepala dan leher yang peka terhadap nyeri. Bangunan-bangunan ekstrakranial yang peka nyeri ialah otot-otot okspital, temporal dan frontal, kulit kepala, arteri-arteri subkutis dan periostium. Tulang tengkorak sendiri tidak peka nyeri. Bangunan-bangunan intrakranial yang peka nyeri terdiri dari meninges, terutama dura basalis dan meninges yang mendindingi sinus venosus serta arteri-arteri besar pada basis otak. Sebagian besar dari jaringan otak sendiri tidak peka nyeri.

Perangsangan terhadap bangunan-bangunan itu dapat berupa :
  • Infeksi selaput otak : meningitis, ensefalitis.
  • Iritasi kimiawi terhadap selaput otak seperti pada perdarahan subdural atau setelah dilakukan pneumo atau zat kontras ensefalografi.
  • Peregangan selaput otak akibat proses desak ruang intrakranial, penyumbatan jalan lintasan liquor, trombosis venos spinosus, edema serebri atau tekanan intrakranial yang menurun tiba-tiba atau cepat sekali.
  • Vasodilatasi arteri intrakranial akibat keadaan toksik (seperti pada
    infeksi umum, intoksikasi alkohol, intoksikasi CO, reaksi alergik), gangguan metabolik (seperti hipoksemia, hipoglikemia dan hiperkapnia), pemakaian obat
    vasodilatasi, keadaan paska contusio serebri, insufisiensi serebrovasculer akut).
  • Gangguan pembuluh darah ekstrakranial, misalnya vasodilatasi ( migren dan cluster headache) dan radang (arteritis temporalis).
  • Gangguan terhadap otot-otot yang mempunyai hubungan dengan kepala, seperti pada spondiloartrosis deformans servikalis.
  • Penjalaran nyeri (reffererd pain) dari daerah mata (glaukoma, iritis), sinus (sinusitis), baseol kranii (ca. Nasofaring), gigi geligi (pulpitis dan molar III yang mendesak gigi) dan daerah leher (spondiloartritis deforman servikalis.
  • Ketegangan otot kepala, leher bahu sebagai manifestasi psikoorganik pada keadaan depresi dan stress. Dalam hal ini sakit kepala sininim dari pusing kepala.


Manifestasi Klinis
  1. Migren

    Migren adalah gejala kompleks yang mempunyai karakteristik pada waktu tertentu dan serangan sakit kepala berat yang terjadi berulang-ulang. Penyebab
    migren tidak diketahui jelas, tetapi ini dapat disebabkan oleh gangguan vaskuler primer yang biasanya banyak terjadi pada wanita dan mempunyai kecenderungan kuat dalam keluarga.

    Tanda dan gejala adanya migren pada serebral merupakan hasil dari derajat iskhemia kortikal yang bervariasi. Serangan dimulai dengan vasokonstriksi arteri kulit kepala
    dam pembuluh darah retina dan serebral. Pembuluh darah intra dan ekstrakranial mengalami dilatasi, yang menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan.

    Migren klasik dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu:

    • Fase aura.

      Berlangsung lebih kurang 30 menit, dan dapat memberikan kesempatan bagi pasien untuk menentukan obat yang digunakan untuk mencegah serangan yang dalam. Gejala dari periode ini adalah gangguan penglihatan ( silau ), kesemutan, perasaan gatal pada wajah dan tangan, sedikit lemah pada ekstremitas dan pusing.

      Periode aura ini berhubungan dengan vasokonstriksi tanpa nyeri yang diawali dengan perubahan fisiologi awal. Aliran darah serebral berkurang, dengan kehilangan autoregulasi laanjut dan kerusakan responsivitas CO2.


    • Fase sakit kepala

      Fase sakit kepala berdenyut yang berat dan menjadikan tidak mampu yang dihungkan dengan fotofobia, mual dan muntah. Durasi keadaan ini bervariasi,
      beberapa jam dalam satu hari atau beberapa hari.


    • Fase pemulihan

      Periode kontraksi otot leher dan kulit
      kepala yang dihubungkan dengan sakit otot dan ketegangan lokal. Kelelahan biasanya terjadi, dan pasien dapat tidur untuk waktu yang panjang.


  2. Cluster Headache

    Cluster Headache adalah beentuk sakit kepal vaskuler lainnya yang sering terjadi pada pria. Serangan datang dalam bentuk yang menumpuk atau berkelompok, dengan nyeri yang menyiksa didaerah mata dan menyebar kedaerah wajah dan temporal. Nyeri diikuti mata berair dan sumbatan hidung. Serangan berakhir dari 15 menit sampai 2 jam yang menguat dan menurun kekuatannya.
    Tipe sakit kepala ini dikaitkan dengan dilatasi didaerah dan sekitar arteri ekstrakranualis, yang ditimbulkan oleh alkohol, nitrit, vasodilator dan histamin. Sakit kepala ini berespon terhadap klorpromazin.


  3. Tension Headache

    Stress fisik dan emosional dapat menyebabkan kontraksi pada otot-otot leher dan kulit kepala, yang menyebabkan sakit kepala karena tegang.
    Karakteristik dari sakit kepala ini perasaan ada tekanan pada dahi, pelipis, atau belakang leher. Hal ini sering tergambar sebagai “beban berat yang menutupi kepala”.
    Sakit kepala ini cenderung kronik daripada berat. Pasien membutuhkan ketenangan hati, dan biasanya keadaan ini merupakan ketakutan yang tidak terucapkan. Bantuan
    simtomatik mungkin diberikan untuk memanaskan pada lokasi, memijat, analgetik, antidepresan dan obat relaksan otot.

"

Cemas

Pengertian

Cemas atau anxietas merupakan suatu perasaan khawatir yang samar – samar sumbernya, seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu tersebut.

Anxietas atau Cemas adalah perasaan / respon emosional terhadap penilaian, perasaan tidak pasti dan tidak berdaya ( Stuart dan Sundeen, 1988 ). Keadaan emosi dialami secara objektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Anxietas adalah respon emosional terhadap penilaian dalam kehidupan sehari – hari. Anxietas menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai kekuhan fisik

Ansietas Ringan

Ansietas ringan Berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari –hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dan individu akan berhati – hati dan waspada.

Respon Fisiologis
  • Sesekali nafas pendek
  • Nada dan tekanan darah naik
  • Gejala ringan pada lambung
  • Muka berkerut dan bibir bergetar

Selanjutnya Lihat Anxietas
"

Anxietas

Pengertian

Anxietas atau Cemas merupakan suatu perasaan khawatir yang samar – samar sumbernya, seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu tersebut.

Anxietas adalah perasaan / respon emosional terhadap penilaian, perasaan tidak pasti dan tidak berdaya ( Stuart dan Sundeen, 1988 ). Keadaan emosi dialami secara objektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Anxietas adalah respon emosional terhadap penilaian dalam kehidupan sehari – hari. Anxietas menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai kekuhan fisik.


Ansietas Ringan

Ansietas ringan Berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari –hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dan individu akan berhati – hati dan waspada.

Respon Fisiologis
  • Sesekali nafas pendek
  • Nada dan tekanan darah naik
  • Gejala ringan pada lambung
  • Muka berkerut dan bibir bergetar

Respon Kognitif
  • Mampu menerima rangsang yang kompleks
  • Konsentrasi pada masalah
  • Menyelesaikan masalah secara efektif

Respon Perilaku dan Emosi
  • Tidak dapat duduk tenang
  • Tremor halus pada tangan
  • Suara kadang – kadang meninggi


Ansietas sedang

Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap lingkungan menurun, individu lebih memfokuskan pada hal penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.

Respon fisiologik
  • Sering nafas pendek
  • Nadi dan tekanan darah naik
  • Mulut kering
  • Anorexia
  • Diare / konstipasi
  • Gelisah

Respon kognitif
  • Lapang persepsi menyempit
  • Rangsang luar tidak mampu diterima
  • Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya

Respon perilaku dan emosi
  • Gerakan tersentak – sentak / meremas tangan
  • Bicara banyak dan lebih cepat
  • Susah tidur
  • Perasaan tidak aman


Ansietas Berat

Pada ansietas berat lahan persepsi menjadi sangat sempit kemudian tidak mampu berfikir.
"

Model Keperawatan Kesehatan Jiwa

Model Keperawatan Kesehatan Jiwa: "

KONSEPTUAL MODEL KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA



Berdasarkan konseptual model keperawatan, maka dapat dikelompokkan ke dalam 6 model yaitu:


1. Psycoanalytical (Freud, Erickson)


Model ini menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi pada seseorang apabila ego(akal) tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak nafsu atau insting). Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan akalnya (ego) untuk mematuhi tata tertib, peraturan, norma, agama(super ego/das uber ich), akan mendorong terjadinya penyimpangan perilaku (deviation of Behavioral).


Faktor penyebab lain gangguan jiwa dalam teori ini adalah adanya konflik intrapsikis terutama pada masa anak-anak. Misalnya ketidakpuasan pada masa oral dimana anak tidak mendapatkan air susu secara sempurna, tidak adanya stimulus untuk belajar berkata- kata, dilarang dengan kekerasan untuk memasukkan benda pada mulutnya pada fase oral dan sebagainya. Hal ini akan menyebabkan traumatic yang membekas pada masa dewasa.


Proses terapi pada model ini adalah menggunakan metode asosiasi bebas dan analisa mimpi, transferen untuk memperbaiki traumatic masa lalu. Misalnya klien dibuat dalam keadaan ngantuk yang sangat. Dalam keadaan tidak berdaya pengalaman alam bawah sadarnya digali dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali traumatic masa lalu. Hal ini lebih dikenal dengan metode hypnotic yang memerlukan keahlian dan latihan yang khusus.


Dengan cara demikian, klien akan mengungkapkan semua pikiran dan mimpinya, sedangkan therapist berupaya untuk menginterpretasi pikiran dan mimpi pasien.


Peran perawat adalah berupaya melakukan assessment atau pengkajian mengenai keadaan-keadaan traumatic atau stressor yang dianggap bermakna pada masa lalu misalnya ( pernah disiksa orang tua, pernah disodomi, diperlakukan secar kasar, diterlantarkan, diasuh dengan kekerasan, diperkosa pada masa anak), dengan menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik setelah terjalin trust (saling percaya).



2. Interpersonal ( Sullivan, peplau)


Menurut konsep model ini, kelainan jiwa seseorang bias muncul akibat adanya ancaman. Ancaman tersebut menimbulkan kecemasan (Anxiety). Ansietas timbul dan alami seseorang akibat adanya konflik saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal). Menurut konsep ini perasaan takut seseorang didasari adnya ketakutan ditolak atau tidak diterima oleh orang sekitarnya.


Proses terapi menurut konsep ini adalh Build Feeling Security (berupaya membangun rasa aman pada klien), Trusting Relationship and interpersonal Satisfaction (menjalin hubungan yang saling percaya) dan membina kepuasan dalam bergaul dengan orang lain sehingga klien merasa berharga dan dihormati.


Peran perawat dalam terapi adalah share anxieties (berupaya melakukan sharing mengenai apa-apa yang dirasakan klien, apa yang biasa dicemaskan oleh klien saat berhubungan dengan orang lain), therapist use empathy and relationship ( perawat berupaya bersikap empati dan turut merasakan apa-apa yang dirasakan oleh klien). Perawat memberiakan respon verbal yang mendorong rasa aman klien dalam berhubungan dengan orang lain.



3. Social ( Caplan, Szasz)


Menurut konsep ini seseorang akan mengalami gangguan jiwa atau penyimpangan perilaku apabila banyaknya factor social dan factor lingkungan yang akan memicu munculnya stress pada seseorang ( social and environmental factors create stress, which cause anxiety and symptom).


Prinsip proses terapi yang sangat penting dalam konsep model ini adalah environment manipulation and social support ( pentingnya modifikasi lingkungan dan adanya dukungan sosial)


Peran perawat dalam memberikan terapi menurut model ini adalah pasien harus menyampaikan masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat melibatkan teman sejawat, atasan, keluarga atau suami-istri. Sedangkan therapist berupaya : menggali system sosial klien seperti suasana dirumah, di kantor, di sekolah, di masyarakat atau tempat kerja.



4. Existensial ( Ellis, Rogers)


Menurut teori model ekistensial gangguan perilaku atau gangguan jiwa terjadi bila individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya. Individu tidak memiliki kebanggan akan dirinya. Membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam Bodi-image-nya


Prinsip dalam proses terapinya adalah : mengupayakan individu agar berpengalaman bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain yang dianggap sukses atau dapat dianggap sebagai panutan(experience in relationship), memperluas kesadaran diri dengan cara introspeksi (self assessment), bergaul dengan kelompok sosial dan kemanusiaan (conducted in group), mendorong untuk menerima jatidirinya sendiri dan menerima kritik atau feedback tentang perilakunya dari orang lain (encouraged to accept self and control behavior).


Prinsip keperawatannya adalah : klien dianjurkan untuk berperan serta dalam memperoleh pengalaman yang berarti untuk memperlajari dirinya dan mendapatkan feed back dari orang lain, misalnya melalui terapi aktivitas kelompok. Terapist berupaya untuk memperluas kesadaran diri klien melalui feed back, kritik, saran atau reward & punishment.



5. Supportive Therapy ( Wermon, Rockland)


Penyebab gangguan jiwa dalam konsep ini adalah: factor biopsikososial dan respon maladaptive saat ini. Aspek biologisnya menjadi masalah seperti: sering sakit maag, migraine, batuk-batuk. Aspek psikologisnya mengalami banyak keluhan seperti : mudah cemas, kurang percaya diri, perasaan bersalah, ragu-ragu, pemarah. Aspek sosialnya memiliki masalah seperti : susah bergaul, menarik diri, tidak disukai, bermusuhan, tidak mampu mendapatkan pekerjaan, dan sebagainya. Semua hal tersebut terakumulasi menjadi penyebab gangguan jiwa. Fenomena tersebut muncul akibat ketidakmamupan dalam beradaptasi pada masalah-masalah yang muncul saat ini dan tidak ada kaitannya dengan masa lalu.


Prinsip proses terapinya adalah menguatkan respon coping adaptif, individu diupayakan mengenal telebih dahulu kekuatan-kekuatan apa yang ada pada dirinya; kekuatan mana yang dapat dipakai alternative pemecahan masalahnya.


Perawat harus membantu individu dalam melakukan identifikasi coping yang dimiliki dan yang biasa digunakan klien. Terapist berupaya menjalin hubungan yang hangat dan empatik dengan klien untuk menyiapkan coping klien yang adaptif.



6. Medica ( Meyer, Kraeplin)


Menurut konsep ini gangguan jiwa cenderung muncul akibat multifactor yang kompleks meliputi: aspek fisik, genetic, lingkungan dan factor sosial. Sehingga focus penatalaksanaannya harus lengkap melalui pemeriksaan diagnostic, terapi somatic, farmakologik dan teknik interpersonal. Perawat berperan dalam berkolaborasi dengan tim medis dalam melakukan prosedur diagnostic dan terapi jangka panjang, therapist berperan dalam pemberian terapi, laporan mengenai dampak terapi, menentukan diagnose, dan menentukan jenis pendekatan terapi yang digunakan.



http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

Blog Archive