Monday, January 4, 2010

KTI KEBIDANAN : HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN TERHADAP RESPON WANITA DALAM MENGHADAPI PREMENOPOUSE

KTI KEBIDANAN : HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN TERHADAP RESPON WANITA DALAM MENGHADAPI PREMENOPOUSE

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah
Menurut Hurlock (1980) sebelum memasuki usia lanjut, seorang wanita akan melewati masa usia madya. Garis batas antara usia madya dan usia lanjut adalah 60 tahun. Usia madya dibagi menjadi dua yakni usia madya dini yang membentang antara usia 40 hingga 50 tahun dan usia madya lanjut yang membentang antara usia 50 hingga 60 tahun. Seorang wanita dalam menghadapi usia madya akan melewati masa premenopause. Respon setiap wanita dalam menghadapi masa premenopause berbeda-beda.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan Usia Harapan Hidup orang Indonesia adalah 75 tahun pada tahun 2025 (Siagian, 2003). Meningkatnya usia harapan hidup wanita Indonesia berdampak pada meningkatnya jumlah wanita usia lanjut (lansia) di Indonesia. Pada tahun 1980 jumlah lansia hanya 7,9 juta orang. Pada tahun 2006 angkanya melejit hingga lebih dua kali lipat menjadi 19 juta orang. Pada tahun 2020 diperkirakan 28,8 juta atau 11 persen penduduk Indonesia (Anonim, 2008). Usia harapan hidup wanita Indonesia pada tahun 2006 adalah 67 tahun (Hanifa, 2008). Diharapkan para wanita usia lanjut tersebut tetap dapat mempertahakan kualitas hidupnya (Anonim, 2005).
Perilaku wanita premenopause dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Wanita yang banyak mengalami kekhawatiran berasal dari orang-orang yang berpendidikan tinggi dan perekonomian menengah ke atas (Nisaa, 2004:53). Wanita yang bekerja pun umumnya lebih siap menghadapi masa premenopause daripada yang tidak bekerja. Mungkin hal ini disebabkan mereka yang bekerja terbiasa menghadapi stress. Dengan demikian masa premenopause bagi mereka sama saja menghadapi stress yang memang sering mereka atasi dalam masalah-masalah pekerjaan (Simamora, 1996:229).
Sindrom menopause dialami oleh banyak wanita hampir di seluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57% di Malaysia, 18% di Cina dan 10% di Jepang dan Indonesia (Urnobasuki, 2004). Hasil survey awal dari 10 wanita premenopause di Dusun Pucung Desa Dayu Kecamatan Godangrejo Kabupaten Karanganyar menunjukkan 40% wanita premenopause tidak bisa menerima premenopause dengan ciri-ciri sulit tidur, gelisah tanpa alasan, sering tersinggung dan tak mudah mengendalikan emosi.
Beberapa dampak premenopause yang sering terjadi di masyarakat adalah kecemasan, takut, lekas marah, ingatannya menurun, sulit konsentrasi, gugup, merasa tidak berguna, mudah tersinggung, stress bahkan depresi (Anonim, 2008). Para wanita usia lanjut tersebut juga rentan terhadap penyakit degeneratif misalnya osteoporosis, penyakit jantung koroner, kanker, darah tinggi dan Dimensia tipe alzheimer (Kasdu, 2002:40-74).
Upaya-upaya yang bisa dilakukan wanita di masa premenopause untuk mengurangi berbagai keluhan yang sedang dialaminya adalah dengan meningkatkan cara berfikir positif bahwa terjadinya premenopouse merupakan suatu proses alamiah yang harus diterima sebagai alur perjalanan hidup manusia, Terapi Sulih Hormon (TSH), olahraga, nutrisi yang cukup terutama dengan mengonsumsi makanan yang mengandung kedelai, gaya hidup sehat dengan tidak merokok dan minum minuman keras, pemeriksaan kesehatan secara berkala, meningkatkan kehidupan religi, menganjurkan para wanita premenopause untuk mengikuti posyandu lansia, seminar dan ceramah tentang menopause (Kasdu, 2002:84-124).
Berdasarkan hal-hal di atas peneliti ingin mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah
Premenopause adalah masa di mana tubuh mulai bertransisi menuju menopause. Masa ini bisa terjadi selama dua hingga delapan tahun ditambah satu tahun di akhir periode menuju menopause (Rahmi, 2008). Waktu premenopause usia 40-49 tahun (Anonim, 2008). Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa premenopause meliputi perubahan organ reproduksi, perubahan hormon, perubahan fisik dan psikologis. Perubahan organ reproduksi meliputi rahim yamg atropi, lipatan-lipatan saluran telur yang lebih pendek, ukuran indung telur mengecil, pengerutan dan pemendekan serviks, kontraktur vagina dan penipisan jaringan vulva. Perubahan hormon estrogen yang berkurang mengakibatkan terjadi perubahan haid menjadi sedikit, jarang bahkan siklus haidnya mulai terganggu. Perubahan fisik meliputi gangguan haid, perasaan panas, keringat berlebihan, vagina kering, tidak dapat menahan air seni, kulit kering dan keriput, penambahan berat badan, gangguan mata, nyeri tulang dan sendi. Perubahan psikologis meliputi ingatan yang menurun, kecemasan, mudah tersinggung, stress, dan depresi. Respon wanita dalam menghadapi premenopause dibagi menjadi 2 yakni menerima dan menolak. Menurut Nisaa (2004) disebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi respon wanita dalam menghadapi premenopause adalah status marital, paritas, pekerjaan dan pendidikan. Sedangkan menurut http://www.medicastore.com/nutrifor/isi.php?isi=gejala faktor yang lain adalah psikis, sosial ekonomi, budaya dan lingkungan. Dalam penelitian ini akan diteliti hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
1.3 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah adakah hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause?
1.4 Tujuan penelitian
1.4.1 Tujuan umum
Mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause di Dusun Sumurbur, Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.
1.4.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi tingkat pendidikan wanita premenopause.
2. Mengidentifikasi pekerjaan wanita premenopause.
3. Diketahuinya respon wanita dalam menghadapi premenopause, baik yang menerima maupun yang menolak.
4. Menganalisa hubungan tingkat pendidikan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
5. Menganalisa hubungan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
1.5 Manfaat penelitian
1.5.1 Manfaat teoritis
Terbuktinya teori bahwa tingkat pendidikan dan pekerjaan ada hubungannya dengan respon wanita dalam menghadapi premenopause diharapkan para wanita premenopause mempunyai koping yang positif dalam merespon perubahan-perubahan yang terjadi selam premenopause sehingga tetap dapat mempertahankan kualitas hidupnya.
1.5.2 Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana informasi dan menambah pengetahuan tentang premenopause, sebagai acuan bidan dalam mengatasi keluhan-keluhan wanita dalam menghadapi premenopause serta dapat menambah kepustakaan sebagai sarana memperkaya ilmu pengetahuan pembaca khususnya tentang premenopause.





BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian terdahulu
Menurut penelitian Astuti (2007) yang berjudul “Hubungan status marital dan paritas dengan respon wanita dalam menghadapi menopause” di Dusun Ngronggi, Desa Grudi kec Ngawi kab Ngawi dengan besar sampel sebanyak 122 orang dan menggunakan teknik simple random sampling serta hasil korelasi menggunakan Spearman Rank dengan tingkat kesalahan 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara status marital dengan respon wanita dalam menghadapi menopause dengan nilai signifikasi sebesar 0,420. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian wanita dengan status marital menikah 44,3% memiliki respon menerima datangnya menopause, wanita dengan status marital menjanda 24,5% menerima datangnya menopause dan untuk wanita tidak menikah 5,7% menolak datangnya menopause. Sedangkan antara paritas dengan respon wanita dalam menghadapi menopause terdapat hubungan yang signifikan sebesar 0,005. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yakni semakin banyak jumlah paritas wanita, semakin tinggi pula tingkat penerimaan wanita tersebut dalam menghadapi menopause.
2.2 Pendidikan
2.2.1 Pengertian
Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/pendidikan, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
2.2.2 Visi dan misi pendidikan nasional
Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional dan strategi pendidikan nasional, pendidikan nasional mempunyai visi “Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua Warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah”.
Dengan visi pendidikan tersebut pendidikan nasional mempunyai misi:
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (Saefudin, 2003:viii-ix).

"

SAP : PIJAT BAYI

SAP : PIJAT BAYI
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
POKOK BAHASAN :
PIJAT BAYI

A. Latar Belakang
Tanpa disadari ketika memandikan bayi, mengeringkan tubuhnya dengan menggosok punggungnya, atau bermain-main dengan cara memijat kakinya, sebenarnya banyak rangsangan yang dilakukan padanya.
Memberikan rangsangan pada bayi memang banyak caranya. Salah satu diantaranya melalui pijatan (stroking). Pijat merupakan bentuk ideal untuk merealisasikannya, sebab saat memijat bayi, ibu ”melatih” dirinya untuk lebih engenal bayinya. Dengan memijat bagian demi bagian tubuh bayi secara lembut, ibu belajar mengenali tubuh dan bahasa tubuh bayinya secara individual. Dari sini akan diketahui pijatan mana yang menyenangkan bagi bayi dan mana yang tidak disukainya. Lama-lama kita akan menjadi lebih terampil dan percaya diri dalam mengurus bayi.

Dikalangan masyarakat Indonesia, ilmu pijat bayi tradisional sudah lama dikenal, dam sampai saat ini di daerah-daerah masih sering dilakukan oleh dukun pijat bayi. Ilmu pijat bayi umumnya mudah dipelajari dengan beberapa kali latihan, orang tua akan mahir melakukannya. Selain itu pijat bati juga mudah karena hanya menggunakan minyak (baby oil).

B. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Umum:
Setelah akhir proses pembelajaran para peserta mampu memahami tentang pijat bayi.
Tujuan Khusus:
Setelah mengikuti proses pembelajaran selama 30 menit, peserta mampu :
1. Menyebutkan tentang pengertian pijat bayi.
2. Menyebutkan kontra indikasi pijat bayi.
3. Menyebutkan manfaat pijat bayi..
4. Menjelaskan persiapan melakukan pijat bayi.
5. Menjelaskan cara melakukan pijat bayi.

C. Sasaran
Seluruh ibu-ibu nifas yang datang ke Puskesmas Srondol.

D. Target
Ibu-ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan-7 bulan.

E. Pengorganisasian
Moderator : Wiwik Widiastutik
Penyaji : Dwi Asliwanti
Fasilitator : Indrwati
Observer : Asrin Nikmah


F. Strategi Pelaksanaan
Waktu : 1 Maret 2006
jam 09.00 – 09.30 WIB.
Tempat : Ruang tunggu Puskesmas Srondol
Kegiatan belajar mengajar :
1. Perkenalan
2. Menjelaskan tujuan
3. Menjelaskan materi
4. Diskusi dan tanya jawab
5. Evaluasi





G. Susunan Acara
1. Pembukaan oleh moderator selama 5 menit
2. Acara inti :
a. Penyuluhan kesehatan & demonstrasi pijat bayi oleh mahasiswa 15 menit.
b. Diskusi dan tanya jawab 5 menit.
3. Penutup dan doa 5 menit

H. Metode
1. Ceramah tentang konsep preeklampsia.
2. Diskusi dan Tanya jawab

I. Media
1. Leaflet
2. Pantom/boneka bayi
3. Baby oil & handuk

J. Evaluasi
Evaluasi dilakukan secara lisan :
1. Menyebutkan tentang pengertian pijat bayi.
2. Menyebutkan kontra indikasi pijat bayi.
3. Menyebutkan manfaat pijat bayi..
4. Menjelaskan persiapan melakukan pijat bayi.
5. Menjelaskan cara melakukan pijat bayi.

PIJAT BAYI

A. PENGERTIAN
Pijat bayi adalah terapi sentuhan kulit dengan menggunakan tangan. Ini memang bukan hal baru lagi, walaupun pengaruh positif pijat bayi ini belum diyakini benar. Sentuhan pada kulit bayi melalui seni pijat ternyata dapat meningkatkan produksi ASI. Penelitian ”Cynthia Mersmann” membuktikan bila bayi dipijat, produksi ASI perah ibunya akan lebih banyak. Jadi pijat dapat meningkatkan lamanya pemberian ASI eksklusif oleh ibu bekerja. Pijat bati dipercaya dapat meningkatkan stimulus otaknya, membantu pertumbuhannya, memperlancar system pencernaannya, bahkan membantu system kekebalan tubuhnya. Juga dapat membina hubungan antara ibu dengan bayinya.

B. KONTRA INDIKASI
a. Jangan dilakukan pada bayi yang suhu tubuhnya tinggi
b. Jangan dilakukan pada bayi yang sedang sakit

C. MANFAAT PIJAT BAYI
1. Mampu meningkatan daya taha tubuh bayi.
2. Membuat bayi tidur lebih nyenyak dan lelap.
3. Meningkatkan kesiagaan untuk mudah balajar sesuatu.
4. Memperbaiki sirkulasi darah dan pernapasan.
5. Merangsang fungsi pencernaan dan pembuangan sisa-sisa makanan.
6. Meningkatkan kenaikan berat badan.
7. Membuat bayi lebih tenang.
8. Mengurangi kembung dan sakit perut.
9. Meningkatkan hubungan batin antara orang tua dan bayi.



D. HAL-HAL YANG PERLU DIPERSIAPKAN
1. Atur temperetur ruang memijat bayi, jangan sampai bayi kedinginan saat dibuka bajunya.
2. Letakkan bayi di tempat yang aman.
3. Ketikan akan memijat perhatikan tangan dan jari pemijat, jangan sampai jari-jari tangan pemijat yang kasar menggores kulit bayi yang lembut dan peka.
4. Buka cincin dan gelang ketikan akan memijat bayi, selain lebih nyaman juga tidak membahayakan.
5. Pada saat akan mengoleskan minyak, teteskan minyak di telapak tangan pemijat dulu baru kemudian dioleskan ke bayi.

E. PEMIJATAN BAYI
1. KAKI & TANGAN
a. Perahan India
Lakukan dari pangkal paha/pundak ke pergelangan kaki/tangan.
b. Perahan Swedia
Lakukan dari pergelangan kaki/tangan ke paha/pundak
c. Telapak kaki/tangan
Buat urutan di telapak secara bergantian mulai dari tumit ke arah jari
d. Jari-jari
Gerakan dilakukan dengan memijat jari-jari dan diakhiri dengan tarikan lembut pada setiap jari
e. Punggung Kaki/tangan
Dengan ibu jari secara bergantian, urutlah punggung kaki/tangan dari pergelangan keki/tangan ke jari kaki/tangan.
f. Gerakan menggulung
Menggulung dari pangkal paha/pundak sampai kepergelangan kaki/tangan dengan kedua telapak tangan.
g. Gerakan akhir
Rapatkan kedua kaki dan usapkan bersamaan
2. PERUT
a. Mengayuh pedal sepeda
Gerakkan kedua tanga bergantian dari perut atas ke bawah
b. Menekuk lutut dan tekan menuju perut, bisa juga dengan cara bergantian tekuk ke perut
c. Bulan Matahari
Tangan kanan membentuk lingkaran dari arah perut kanan bawah (sesuai arah jam); kemudian tangan kiri mengikuti dengan lingkaran bulan.
Bentuk lingkaran searah jarum jam dari tangan kiri mulai dari perut kanan bawah, kemudian diikuti dengan tangan kanan membuat gerakan setengan lingkaran mulai dari perut kanan bawah sampai perut kiri bawah.
d. i love you
”i” Buat gerakan membentuk huruf ”i” dari perut kiri atas ke bagian kiri bawah.
”love” Pijat dimulai dari kanan atas lalu ke kiri bawah membentuk huruf ”L” terbalik
”you” Pijat dimulai dari kanan atas, lalu ke kiri sampai ke perut kiri bawah membentuk huruf ”U” terbalik
e. Gelembung Udara
Tekan searah jarum jam dari kanan bawah ke kiri bawah

3. DADA
Pijatan ”kupu-kupu” memperkuat paru paru dan jantung
Letakkan kedua tanag pamijat di tengan dada bayi dan gerakkan ke atas kemudian ke sisi luar tubuh dan kembali ke ulu hati tanpa mengangkat tangan seperti membentuk hati, lalu dari tengan dada bayi pijat menyilang ke arah bahu seperti membentuk kupu-kupu.


4. PUNGGUNG
Pijatan ”maju mundur” memperkuat otot untuk menyakgga tulang belakang.
Pijat dengan gerakan maju mundur menggunakan kedua telapak tangan ke sepanjang punggungnya, luncurkan salah satu telapak tangan dari leher sampai pantat bayi dengan sedikit tekanan. Dengan jari-jari pemijat buat gerakan-gerakan melingkar terutama pada otot di sebelah tulang punggung. Buat gerakan memanjang dengan telapak tangan dari leher ke kakinya untuk mengakhiri pijatan.
5. WAJAH
Pijatan ”senyum” melemaskan otot wajah
a. Tekan jari-jari pemijat pada kening bayi, pelipis dan pipi.
b. Gunakan kedua jari untuk memijat daerah di atas alis.
c. Dengan tekanan lembut, tarik garis dengan ibu jari dari hidung ke arah pipinya.
d. Gunakan kedua ibu jari untuk memijat sekitar mulutnya hingga tersenyum.
e. Pijat lembut rahang bawah bayi dari tengah ke samping seolah membuat bayi tersenyum.
f. Pijat secara lembut daerah di belakang telinga ke arah dagu.

PENUTUP

Bayi adalah sosok tubuh kecil, mungil dan imut, oleh sebab itu kita selalu ingin menyentuhnya, dan ingin mencintai dan menyayanginya. Untuk mewujudkan rasa cinta dan sayang ini salah satunya dengan memberikan perhatian. Perwujudan perhatian kita salah satunya dengan memberikan pijatan. Karena dengan pemijatan ini dapat membantu bayi dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Pijatan pada bayi akan lebih memberikan kesempatan kepada ibu untuk mengenali bayinya, mengerti bahasa tubuh bayinya secara individual, pijatan bayi inipun dapat membantu bayi untuk mengenal dan beradaptasi dengan dunia luar yang serba baru dan asing baginya, dan juga lebih meningkatkan hubungan batin antara ibu dan bayinya.
Pijatan pada bayi memberikan banyak manfaat, seperti hal di atas, untuk itu para orang tua harus banyak mengetahui cara pemijatan bayi dengan cara yang baik dan benar agar tidak memberikan suatu kesalahan. Begitu pula dengan perawat, harus mengetahui teknik pemijatan bayiyang berguna untuk penyuluhan bagi masyarakat awam yang balum paham akan pemijatan bayi selain itu juga bermanfaat saat kita mempunyai seorang anak.

DAFTAR PUSTAKA
Ayah bunda no.23, tanggal 7-20 September 1996. memijat bayi sentuhan kasih.

Ayah bunda no.3, tanggal 13-26 Pebruari 1996. cara tepat pijat bayi.

Roesti, Utami. 2004. Bayi segat berkat Asi Ekskisif. PT. Elex Media Komputindo, Keluarga Gramedia, Jakarta
"

SAP : PERAWATAN PAYUDARA

SAP : PERAWATAN PAYUDARA
Pokok Bahasan : Perawatan Payudara
Sub Pokok Bahasan : Perawatan Payudara pada ibu masa nifas
Hari / Tgl : 1 April 2009
Waktu : 30 Menit
Sasaran : Ibu-ibu nifas di ruang obstetri
Tempat : Ruang B3 Obstetri

A. Tujuan Instruksional Umum
Ibu mengetahui tentang perawatan payudara pada masa menyusui

B. Tujuan Instruksional Khusus
Ibu mengetahui tentang :
1. Pengertian perawatan payudara
2. Manfaat perawatan payudara
3. Cara melakukan perawatan payudara
4. Keuntungan menyusui
5. Tanda – tanda menyusui yang benar
Ibu dapat mendemonstrasikan cara perawatan payudara
Ibu mempunyai kemauan untuk melakukan perawatan payudara


Kegiatan Pengajaran
NO TAHAP KEGIATAN MEDIA
1. Pembukaan
5 menit Perkenalan
Menjelaskan tujuan
Apersepsi dengan cara menggali pengetahuan yang dimiliki ibu menyusui tentang perawatan payudara saat menyusui
2. Pelaksanaan
20 menit Menjelaskan materi dan demonstrasi tentang perawatan payudara ibu menyusui.
 Ibu memperhatikan penjelasan tentang perawatan payudara ibu menyusui
 Ibu menanyakan tentang hal-hal yang belum jelas Alat peraga
Leaflet





3. Penutup
5 menit Menyimpulkan materi
Mengevalusi ibu menyusui tentang materi yang telah diberikan
Mengakhiri pertemuan

C. Media
Alat Peraga : handuk besar, handuk kecil, waslap, baskom berisi air hangat dan air dingin, bengkok dan minyak kelapa.
Leaflet
D. Metode
1. Ceramah
2. Demonstrasi
3. Tanya jawab

E. Evaluasi
1. Standart Persiapan
a. Menyiapkan materi penyuluhan
b. Menyiapkan tempat
c. Menyiapkan alat peraga
d. Menyiapkan leaflet
2. Standart Proses
a. Membaca buku referensi tentang perawatan payudara ibu menyusui
b. Memberi penyuluhan dan mendemonstrasikan perawatan payudara ibu menyusui
3. Standart hasil
a. Ibu mampu mengetahui tentang pengertian perawatan payudara ibu menyusui
b. Ibu mampu mengetahui tentang manfaat perawatan payudara ibu menyusui
c. Ibu mampu mengetahui tentang cara melakukan perawatan payudara
d. Ibu mampu mengetahui tentang keuntungan menyusui
e. Ibu mampu mengetahui tanda – tanda menyusui yang benar

F. Pustaka
1. P. Hadi, dkk, pelatihan paramedis tingkat nasional dalam peningkatan pemanfaatan ASI dan rawat gabung di rumah sakit, jakarta, perinasia, 1988.
2. S. Ruli, dkk, Menyusui dan rawat gabung, jakarta, perinasia, 1992.
3. S. Ruli, dkk, Melindungi meningkatan dan mendukung menyusui, jakarta, perinasia, 1994.

G. Lampiran
1. Materi
2. Leaflet

PERAWATAN PAYUDARA PADA IBU MASA NIFAS

PENDAHULUAN
Bidan sebagai petugas kesehatan dituntut kemampuannya untuk ikut bertanggungjawab dalam melaksanakan upaya peningkatan dan penggunaan air susu Ibu (ASI). Sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak melalui program pemasyarakatan ASI, maka perawat juga dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen laktasi. Hal ini berarti perawat harus mampu berperan sebagai pendukung dan inovator yang akan membentuk perilaku masyarakat dalam mengembangkan kesehatan pada umumnya dan penggunaan ASI pada khususnya.
Mengingat banyak terjadi perubahan perilaku dalam masyarakat khususnya ibu – ibu yang cenderung menolak menyusui bayinya sendiri terutama pada ibu – ibu yang bekerja dengan alasan air susunya hanya sedikit atau tidak keluar sama sekali, keadaan ini memberikan dampak negatif terhadap status kesehatan, gizi, serta tingkat kecerdasan anak. Oleh karena itu untuk menanggulangi permasalahan diatas perlu dilakukan upaya preventif dan promotif dalam meningkatkan penggunaan ASI dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan payudara ibu menyusui, sehingga membantu pengeluaran ASI secara lancar.
A. Pengertian
Perawatan payudara adalah suatu cara yang dilakukan untuk merawat payudara agar air susu keluar dengan lancar.
B. Manfaat Perawatan Payudara
Menjaga kebersihan payudara, terutama kebesihan putting susu agar terhindar dari infeksi Melunakkan serta memperbaiki bentuk putting susu sehingga bayi dapat menyusu dengan baik Merangsang kelenjar-kelenjar air susu sehingga produksi asi lancer Mengetahui secara dini kelainan putting susu dan melakukan usaha-usaha untuk mengatasinya
Persiapan psikis ibu menyusui
C. Cara melakukan perawatan payudara ibu menyusui
1. Persiapan alat
Alat yang dibutuhkan :
 Handuk
 Kapas
 Minyak kelapa / baby oil
 Waslap
 2 Baskom (masing-masing berisi air hangat dan dingin )
2. Prosedur pelaksanaan;
 Buka pakaian ibu
 Letakkan handuk diatas pangkuan ibu dan tutuplah payudara dengan handuk.
 Buka handuk pada daerah payudara.
 Kompres putting susu dengan menggunakan kapas minyak selama 3-5 menit.
 Bersihkan dan tariklah putting susu keluar terutama untuk putting susu yang datar.
 Ketuk-ketuk sekeliling putting susu dengan ujung-ujung jari.
 Kedua telapak tangan dibasahi dengan minyak kelapa
 Kedua telapak tangan diletakkankan diantara kedua payudara
 Pengurutan dimulai kearah atas, samping, telapak tangan kiri kearah sisi kiri, telapak tangan kanan kearah sisi kanan
 Pengurutan diteruskan kebawah, samping, selanjutnya melintang, telapak tangan mengurut kedepan kemudian dilepas dari kedua payudara.
 Telapak tangan kanan kiri menopang payudara kiri, kemudian jari-jari tangan kanan sisi kelingking mengurut payudara kearah putting susu.
 Telapak tangan kanan menopang payudara dan tangan lainnya menggengam dan mengurut payudara dari arah pangkal ke arah putting susu.
 Payudara disiram dengan air hangat dan dingan secara bergantian kira-kira 5 menit ( air hangat dahulu)
 Keringkan dengan handuk
 Pakailah BH khusus untuk ibu menyusui (BH yang menyangga payudara).
3. Keuntungan menyusui
Bayi akan memperoleh makanan yang terbaik yaitu ASI Praktis, tidak merepotkan karena ibu tidak harus menyediakan minum untuk bayi, seperti mengencerkan susu, menghangatkan susu, mencuci alat-alat minuman dan lain-lain
Tidak memerlukan biaya karena ibu tidak perlu membeli susu untuk bayi serta alat-alat yang diperlukan seperti : botol alat pengencer dan lain-lain
Menyusu dapat mempererat hubungan kasih sayang antara ibu dan anak
4. Tanda-tanda menyusui yang benar
Bayi cukup tenang
Mulut bayi terbuka lebar
 Bayi menempel betul pada ibu
 Mulut dan dagu bayi menempel betul pada payudara ibu
 Seluruh areola tertutup mulut bayi
 Bayi nampak pelan-pelan menghisap dengan kuat
 Putting susu ibu tidak terasa nyeri
 Posisi ibu menyusui duduk, berbaring, berdiri dan digendong
5. Cara menyusui yang benar
Sanggalah payudara dengan keempat jari pada tangan yang tidak menyangga bayi dan ibu jari dibagian atas bantulah bayi menemukan putting.
D. Soal
1. Jelaskan pengertian perawatan payudara ?
2. Jelaskan manfaat perawatan payudara ?
3. Sebutkan salah satu keuntungan menyusui ?
4. Sebutkan bahan-bahan yang diperlukan untuk merawat payudara?

"

KTI KEBIDANAN : HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN TERHADAP RESPON WANITA DALAM MENGHADAPI PREMENOPOUSE

KTI KEBIDANAN : HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN TERHADAP RESPON WANITA DALAM MENGHADAPI PREMENOPOUSE

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah
Menurut Hurlock (1980) sebelum memasuki usia lanjut, seorang wanita akan melewati masa usia madya. Garis batas antara usia madya dan usia lanjut adalah 60 tahun. Usia madya dibagi menjadi dua yakni usia madya dini yang membentang antara usia 40 hingga 50 tahun dan usia madya lanjut yang membentang antara usia 50 hingga 60 tahun. Seorang wanita dalam menghadapi usia madya akan melewati masa premenopause. Respon setiap wanita dalam menghadapi masa premenopause berbeda-beda.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan Usia Harapan Hidup orang Indonesia adalah 75 tahun pada tahun 2025 (Siagian, 2003). Meningkatnya usia harapan hidup wanita Indonesia berdampak pada meningkatnya jumlah wanita usia lanjut (lansia) di Indonesia. Pada tahun 1980 jumlah lansia hanya 7,9 juta orang. Pada tahun 2006 angkanya melejit hingga lebih dua kali lipat menjadi 19 juta orang. Pada tahun 2020 diperkirakan 28,8 juta atau 11 persen penduduk Indonesia (Anonim, 2008). Usia harapan hidup wanita Indonesia pada tahun 2006 adalah 67 tahun (Hanifa, 2008). Diharapkan para wanita usia lanjut tersebut tetap dapat mempertahakan kualitas hidupnya (Anonim, 2005).
Perilaku wanita premenopause dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Wanita yang banyak mengalami kekhawatiran berasal dari orang-orang yang berpendidikan tinggi dan perekonomian menengah ke atas (Nisaa, 2004:53). Wanita yang bekerja pun umumnya lebih siap menghadapi masa premenopause daripada yang tidak bekerja. Mungkin hal ini disebabkan mereka yang bekerja terbiasa menghadapi stress. Dengan demikian masa premenopause bagi mereka sama saja menghadapi stress yang memang sering mereka atasi dalam masalah-masalah pekerjaan (Simamora, 1996:229).
Sindrom menopause dialami oleh banyak wanita hampir di seluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57% di Malaysia, 18% di Cina dan 10% di Jepang dan Indonesia (Urnobasuki, 2004). Hasil survey awal dari 10 wanita premenopause di Dusun Pucung Desa Dayu Kecamatan Godangrejo Kabupaten Karanganyar menunjukkan 40% wanita premenopause tidak bisa menerima premenopause dengan ciri-ciri sulit tidur, gelisah tanpa alasan, sering tersinggung dan tak mudah mengendalikan emosi.
Beberapa dampak premenopause yang sering terjadi di masyarakat adalah kecemasan, takut, lekas marah, ingatannya menurun, sulit konsentrasi, gugup, merasa tidak berguna, mudah tersinggung, stress bahkan depresi (Anonim, 2008). Para wanita usia lanjut tersebut juga rentan terhadap penyakit degeneratif misalnya osteoporosis, penyakit jantung koroner, kanker, darah tinggi dan Dimensia tipe alzheimer (Kasdu, 2002:40-74).
Upaya-upaya yang bisa dilakukan wanita di masa premenopause untuk mengurangi berbagai keluhan yang sedang dialaminya adalah dengan meningkatkan cara berfikir positif bahwa terjadinya premenopouse merupakan suatu proses alamiah yang harus diterima sebagai alur perjalanan hidup manusia, Terapi Sulih Hormon (TSH), olahraga, nutrisi yang cukup terutama dengan mengonsumsi makanan yang mengandung kedelai, gaya hidup sehat dengan tidak merokok dan minum minuman keras, pemeriksaan kesehatan secara berkala, meningkatkan kehidupan religi, menganjurkan para wanita premenopause untuk mengikuti posyandu lansia, seminar dan ceramah tentang menopause (Kasdu, 2002:84-124).
Berdasarkan hal-hal di atas peneliti ingin mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah
Premenopause adalah masa di mana tubuh mulai bertransisi menuju menopause. Masa ini bisa terjadi selama dua hingga delapan tahun ditambah satu tahun di akhir periode menuju menopause (Rahmi, 2008). Waktu premenopause usia 40-49 tahun (Anonim, 2008). Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa premenopause meliputi perubahan organ reproduksi, perubahan hormon, perubahan fisik dan psikologis. Perubahan organ reproduksi meliputi rahim yamg atropi, lipatan-lipatan saluran telur yang lebih pendek, ukuran indung telur mengecil, pengerutan dan pemendekan serviks, kontraktur vagina dan penipisan jaringan vulva. Perubahan hormon estrogen yang berkurang mengakibatkan terjadi perubahan haid menjadi sedikit, jarang bahkan siklus haidnya mulai terganggu. Perubahan fisik meliputi gangguan haid, perasaan panas, keringat berlebihan, vagina kering, tidak dapat menahan air seni, kulit kering dan keriput, penambahan berat badan, gangguan mata, nyeri tulang dan sendi. Perubahan psikologis meliputi ingatan yang menurun, kecemasan, mudah tersinggung, stress, dan depresi. Respon wanita dalam menghadapi premenopause dibagi menjadi 2 yakni menerima dan menolak. Menurut Nisaa (2004) disebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi respon wanita dalam menghadapi premenopause adalah status marital, paritas, pekerjaan dan pendidikan. Sedangkan menurut http://www.medicastore.com/nutrifor/isi.php?isi=gejala faktor yang lain adalah psikis, sosial ekonomi, budaya dan lingkungan. Dalam penelitian ini akan diteliti hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
1.3 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah adakah hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause?
1.4 Tujuan penelitian
1.4.1 Tujuan umum
Mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause di Dusun Sumurbur, Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.
1.4.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi tingkat pendidikan wanita premenopause.
2. Mengidentifikasi pekerjaan wanita premenopause.
3. Diketahuinya respon wanita dalam menghadapi premenopause, baik yang menerima maupun yang menolak.
4. Menganalisa hubungan tingkat pendidikan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
5. Menganalisa hubungan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
1.5 Manfaat penelitian
1.5.1 Manfaat teoritis
Terbuktinya teori bahwa tingkat pendidikan dan pekerjaan ada hubungannya dengan respon wanita dalam menghadapi premenopause diharapkan para wanita premenopause mempunyai koping yang positif dalam merespon perubahan-perubahan yang terjadi selam premenopause sehingga tetap dapat mempertahankan kualitas hidupnya.
1.5.2 Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana informasi dan menambah pengetahuan tentang premenopause, sebagai acuan bidan dalam mengatasi keluhan-keluhan wanita dalam menghadapi premenopause serta dapat menambah kepustakaan sebagai sarana memperkaya ilmu pengetahuan pembaca khususnya tentang premenopause.





BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian terdahulu
Menurut penelitian Astuti (2007) yang berjudul “Hubungan status marital dan paritas dengan respon wanita dalam menghadapi menopause” di Dusun Ngronggi, Desa Grudi kec Ngawi kab Ngawi dengan besar sampel sebanyak 122 orang dan menggunakan teknik simple random sampling serta hasil korelasi menggunakan Spearman Rank dengan tingkat kesalahan 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara status marital dengan respon wanita dalam menghadapi menopause dengan nilai signifikasi sebesar 0,420. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian wanita dengan status marital menikah 44,3% memiliki respon menerima datangnya menopause, wanita dengan status marital menjanda 24,5% menerima datangnya menopause dan untuk wanita tidak menikah 5,7% menolak datangnya menopause. Sedangkan antara paritas dengan respon wanita dalam menghadapi menopause terdapat hubungan yang signifikan sebesar 0,005. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yakni semakin banyak jumlah paritas wanita, semakin tinggi pula tingkat penerimaan wanita tersebut dalam menghadapi menopause.
2.2 Pendidikan
2.2.1 Pengertian
Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/pendidikan, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
2.2.2 Visi dan misi pendidikan nasional
Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional dan strategi pendidikan nasional, pendidikan nasional mempunyai visi “Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua Warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah”.
Dengan visi pendidikan tersebut pendidikan nasional mempunyai misi:
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (Saefudin, 2003:viii-ix).

"

SAP : PIJAT BAYI

SAP : PIJAT BAYI
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
POKOK BAHASAN :
PIJAT BAYI

A. Latar Belakang
Tanpa disadari ketika memandikan bayi, mengeringkan tubuhnya dengan menggosok punggungnya, atau bermain-main dengan cara memijat kakinya, sebenarnya banyak rangsangan yang dilakukan padanya.
Memberikan rangsangan pada bayi memang banyak caranya. Salah satu diantaranya melalui pijatan (stroking). Pijat merupakan bentuk ideal untuk merealisasikannya, sebab saat memijat bayi, ibu ”melatih” dirinya untuk lebih engenal bayinya. Dengan memijat bagian demi bagian tubuh bayi secara lembut, ibu belajar mengenali tubuh dan bahasa tubuh bayinya secara individual. Dari sini akan diketahui pijatan mana yang menyenangkan bagi bayi dan mana yang tidak disukainya. Lama-lama kita akan menjadi lebih terampil dan percaya diri dalam mengurus bayi.

Dikalangan masyarakat Indonesia, ilmu pijat bayi tradisional sudah lama dikenal, dam sampai saat ini di daerah-daerah masih sering dilakukan oleh dukun pijat bayi. Ilmu pijat bayi umumnya mudah dipelajari dengan beberapa kali latihan, orang tua akan mahir melakukannya. Selain itu pijat bati juga mudah karena hanya menggunakan minyak (baby oil).

B. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Umum:
Setelah akhir proses pembelajaran para peserta mampu memahami tentang pijat bayi.
Tujuan Khusus:
Setelah mengikuti proses pembelajaran selama 30 menit, peserta mampu :
1. Menyebutkan tentang pengertian pijat bayi.
2. Menyebutkan kontra indikasi pijat bayi.
3. Menyebutkan manfaat pijat bayi..
4. Menjelaskan persiapan melakukan pijat bayi.
5. Menjelaskan cara melakukan pijat bayi.

C. Sasaran
Seluruh ibu-ibu nifas yang datang ke Puskesmas Srondol.

D. Target
Ibu-ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan-7 bulan.

E. Pengorganisasian
Moderator : Wiwik Widiastutik
Penyaji : Dwi Asliwanti
Fasilitator : Indrwati
Observer : Asrin Nikmah


F. Strategi Pelaksanaan
Waktu : 1 Maret 2006
jam 09.00 – 09.30 WIB.
Tempat : Ruang tunggu Puskesmas Srondol
Kegiatan belajar mengajar :
1. Perkenalan
2. Menjelaskan tujuan
3. Menjelaskan materi
4. Diskusi dan tanya jawab
5. Evaluasi





G. Susunan Acara
1. Pembukaan oleh moderator selama 5 menit
2. Acara inti :
a. Penyuluhan kesehatan & demonstrasi pijat bayi oleh mahasiswa 15 menit.
b. Diskusi dan tanya jawab 5 menit.
3. Penutup dan doa 5 menit

H. Metode
1. Ceramah tentang konsep preeklampsia.
2. Diskusi dan Tanya jawab

I. Media
1. Leaflet
2. Pantom/boneka bayi
3. Baby oil & handuk

J. Evaluasi
Evaluasi dilakukan secara lisan :
1. Menyebutkan tentang pengertian pijat bayi.
2. Menyebutkan kontra indikasi pijat bayi.
3. Menyebutkan manfaat pijat bayi..
4. Menjelaskan persiapan melakukan pijat bayi.
5. Menjelaskan cara melakukan pijat bayi.

PIJAT BAYI

A. PENGERTIAN
Pijat bayi adalah terapi sentuhan kulit dengan menggunakan tangan. Ini memang bukan hal baru lagi, walaupun pengaruh positif pijat bayi ini belum diyakini benar. Sentuhan pada kulit bayi melalui seni pijat ternyata dapat meningkatkan produksi ASI. Penelitian ”Cynthia Mersmann” membuktikan bila bayi dipijat, produksi ASI perah ibunya akan lebih banyak. Jadi pijat dapat meningkatkan lamanya pemberian ASI eksklusif oleh ibu bekerja. Pijat bati dipercaya dapat meningkatkan stimulus otaknya, membantu pertumbuhannya, memperlancar system pencernaannya, bahkan membantu system kekebalan tubuhnya. Juga dapat membina hubungan antara ibu dengan bayinya.

B. KONTRA INDIKASI
a. Jangan dilakukan pada bayi yang suhu tubuhnya tinggi
b. Jangan dilakukan pada bayi yang sedang sakit

C. MANFAAT PIJAT BAYI
1. Mampu meningkatan daya taha tubuh bayi.
2. Membuat bayi tidur lebih nyenyak dan lelap.
3. Meningkatkan kesiagaan untuk mudah balajar sesuatu.
4. Memperbaiki sirkulasi darah dan pernapasan.
5. Merangsang fungsi pencernaan dan pembuangan sisa-sisa makanan.
6. Meningkatkan kenaikan berat badan.
7. Membuat bayi lebih tenang.
8. Mengurangi kembung dan sakit perut.
9. Meningkatkan hubungan batin antara orang tua dan bayi.



D. HAL-HAL YANG PERLU DIPERSIAPKAN
1. Atur temperetur ruang memijat bayi, jangan sampai bayi kedinginan saat dibuka bajunya.
2. Letakkan bayi di tempat yang aman.
3. Ketikan akan memijat perhatikan tangan dan jari pemijat, jangan sampai jari-jari tangan pemijat yang kasar menggores kulit bayi yang lembut dan peka.
4. Buka cincin dan gelang ketikan akan memijat bayi, selain lebih nyaman juga tidak membahayakan.
5. Pada saat akan mengoleskan minyak, teteskan minyak di telapak tangan pemijat dulu baru kemudian dioleskan ke bayi.

E. PEMIJATAN BAYI
1. KAKI & TANGAN
a. Perahan India
Lakukan dari pangkal paha/pundak ke pergelangan kaki/tangan.
b. Perahan Swedia
Lakukan dari pergelangan kaki/tangan ke paha/pundak
c. Telapak kaki/tangan
Buat urutan di telapak secara bergantian mulai dari tumit ke arah jari
d. Jari-jari
Gerakan dilakukan dengan memijat jari-jari dan diakhiri dengan tarikan lembut pada setiap jari
e. Punggung Kaki/tangan
Dengan ibu jari secara bergantian, urutlah punggung kaki/tangan dari pergelangan keki/tangan ke jari kaki/tangan.
f. Gerakan menggulung
Menggulung dari pangkal paha/pundak sampai kepergelangan kaki/tangan dengan kedua telapak tangan.
g. Gerakan akhir
Rapatkan kedua kaki dan usapkan bersamaan
2. PERUT
a. Mengayuh pedal sepeda
Gerakkan kedua tanga bergantian dari perut atas ke bawah
b. Menekuk lutut dan tekan menuju perut, bisa juga dengan cara bergantian tekuk ke perut
c. Bulan Matahari
Tangan kanan membentuk lingkaran dari arah perut kanan bawah (sesuai arah jam); kemudian tangan kiri mengikuti dengan lingkaran bulan.
Bentuk lingkaran searah jarum jam dari tangan kiri mulai dari perut kanan bawah, kemudian diikuti dengan tangan kanan membuat gerakan setengan lingkaran mulai dari perut kanan bawah sampai perut kiri bawah.
d. i love you
”i” Buat gerakan membentuk huruf ”i” dari perut kiri atas ke bagian kiri bawah.
”love” Pijat dimulai dari kanan atas lalu ke kiri bawah membentuk huruf ”L” terbalik
”you” Pijat dimulai dari kanan atas, lalu ke kiri sampai ke perut kiri bawah membentuk huruf ”U” terbalik
e. Gelembung Udara
Tekan searah jarum jam dari kanan bawah ke kiri bawah

3. DADA
Pijatan ”kupu-kupu” memperkuat paru paru dan jantung
Letakkan kedua tanag pamijat di tengan dada bayi dan gerakkan ke atas kemudian ke sisi luar tubuh dan kembali ke ulu hati tanpa mengangkat tangan seperti membentuk hati, lalu dari tengan dada bayi pijat menyilang ke arah bahu seperti membentuk kupu-kupu.


4. PUNGGUNG
Pijatan ”maju mundur” memperkuat otot untuk menyakgga tulang belakang.
Pijat dengan gerakan maju mundur menggunakan kedua telapak tangan ke sepanjang punggungnya, luncurkan salah satu telapak tangan dari leher sampai pantat bayi dengan sedikit tekanan. Dengan jari-jari pemijat buat gerakan-gerakan melingkar terutama pada otot di sebelah tulang punggung. Buat gerakan memanjang dengan telapak tangan dari leher ke kakinya untuk mengakhiri pijatan.
5. WAJAH
Pijatan ”senyum” melemaskan otot wajah
a. Tekan jari-jari pemijat pada kening bayi, pelipis dan pipi.
b. Gunakan kedua jari untuk memijat daerah di atas alis.
c. Dengan tekanan lembut, tarik garis dengan ibu jari dari hidung ke arah pipinya.
d. Gunakan kedua ibu jari untuk memijat sekitar mulutnya hingga tersenyum.
e. Pijat lembut rahang bawah bayi dari tengah ke samping seolah membuat bayi tersenyum.
f. Pijat secara lembut daerah di belakang telinga ke arah dagu.

PENUTUP

Bayi adalah sosok tubuh kecil, mungil dan imut, oleh sebab itu kita selalu ingin menyentuhnya, dan ingin mencintai dan menyayanginya. Untuk mewujudkan rasa cinta dan sayang ini salah satunya dengan memberikan perhatian. Perwujudan perhatian kita salah satunya dengan memberikan pijatan. Karena dengan pemijatan ini dapat membantu bayi dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Pijatan pada bayi akan lebih memberikan kesempatan kepada ibu untuk mengenali bayinya, mengerti bahasa tubuh bayinya secara individual, pijatan bayi inipun dapat membantu bayi untuk mengenal dan beradaptasi dengan dunia luar yang serba baru dan asing baginya, dan juga lebih meningkatkan hubungan batin antara ibu dan bayinya.
Pijatan pada bayi memberikan banyak manfaat, seperti hal di atas, untuk itu para orang tua harus banyak mengetahui cara pemijatan bayi dengan cara yang baik dan benar agar tidak memberikan suatu kesalahan. Begitu pula dengan perawat, harus mengetahui teknik pemijatan bayiyang berguna untuk penyuluhan bagi masyarakat awam yang balum paham akan pemijatan bayi selain itu juga bermanfaat saat kita mempunyai seorang anak.

DAFTAR PUSTAKA
Ayah bunda no.23, tanggal 7-20 September 1996. memijat bayi sentuhan kasih.

Ayah bunda no.3, tanggal 13-26 Pebruari 1996. cara tepat pijat bayi.

Roesti, Utami. 2004. Bayi segat berkat Asi Ekskisif. PT. Elex Media Komputindo, Keluarga Gramedia, Jakarta
"

SAP : PERAWATAN PAYUDARA

SAP : PERAWATAN PAYUDARA
Pokok Bahasan : Perawatan Payudara
Sub Pokok Bahasan : Perawatan Payudara pada ibu masa nifas
Hari / Tgl : 1 April 2009
Waktu : 30 Menit
Sasaran : Ibu-ibu nifas di ruang obstetri
Tempat : Ruang B3 Obstetri

A. Tujuan Instruksional Umum
Ibu mengetahui tentang perawatan payudara pada masa menyusui

B. Tujuan Instruksional Khusus
Ibu mengetahui tentang :
1. Pengertian perawatan payudara
2. Manfaat perawatan payudara
3. Cara melakukan perawatan payudara
4. Keuntungan menyusui
5. Tanda – tanda menyusui yang benar
Ibu dapat mendemonstrasikan cara perawatan payudara
Ibu mempunyai kemauan untuk melakukan perawatan payudara


Kegiatan Pengajaran
NO TAHAP KEGIATAN MEDIA
1. Pembukaan
5 menit Perkenalan
Menjelaskan tujuan
Apersepsi dengan cara menggali pengetahuan yang dimiliki ibu menyusui tentang perawatan payudara saat menyusui
2. Pelaksanaan
20 menit Menjelaskan materi dan demonstrasi tentang perawatan payudara ibu menyusui.
 Ibu memperhatikan penjelasan tentang perawatan payudara ibu menyusui
 Ibu menanyakan tentang hal-hal yang belum jelas Alat peraga
Leaflet





3. Penutup
5 menit Menyimpulkan materi
Mengevalusi ibu menyusui tentang materi yang telah diberikan
Mengakhiri pertemuan

C. Media
Alat Peraga : handuk besar, handuk kecil, waslap, baskom berisi air hangat dan air dingin, bengkok dan minyak kelapa.
Leaflet
D. Metode
1. Ceramah
2. Demonstrasi
3. Tanya jawab

E. Evaluasi
1. Standart Persiapan
a. Menyiapkan materi penyuluhan
b. Menyiapkan tempat
c. Menyiapkan alat peraga
d. Menyiapkan leaflet
2. Standart Proses
a. Membaca buku referensi tentang perawatan payudara ibu menyusui
b. Memberi penyuluhan dan mendemonstrasikan perawatan payudara ibu menyusui
3. Standart hasil
a. Ibu mampu mengetahui tentang pengertian perawatan payudara ibu menyusui
b. Ibu mampu mengetahui tentang manfaat perawatan payudara ibu menyusui
c. Ibu mampu mengetahui tentang cara melakukan perawatan payudara
d. Ibu mampu mengetahui tentang keuntungan menyusui
e. Ibu mampu mengetahui tanda – tanda menyusui yang benar

F. Pustaka
1. P. Hadi, dkk, pelatihan paramedis tingkat nasional dalam peningkatan pemanfaatan ASI dan rawat gabung di rumah sakit, jakarta, perinasia, 1988.
2. S. Ruli, dkk, Menyusui dan rawat gabung, jakarta, perinasia, 1992.
3. S. Ruli, dkk, Melindungi meningkatan dan mendukung menyusui, jakarta, perinasia, 1994.

G. Lampiran
1. Materi
2. Leaflet

PERAWATAN PAYUDARA PADA IBU MASA NIFAS

PENDAHULUAN
Bidan sebagai petugas kesehatan dituntut kemampuannya untuk ikut bertanggungjawab dalam melaksanakan upaya peningkatan dan penggunaan air susu Ibu (ASI). Sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak melalui program pemasyarakatan ASI, maka perawat juga dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen laktasi. Hal ini berarti perawat harus mampu berperan sebagai pendukung dan inovator yang akan membentuk perilaku masyarakat dalam mengembangkan kesehatan pada umumnya dan penggunaan ASI pada khususnya.
Mengingat banyak terjadi perubahan perilaku dalam masyarakat khususnya ibu – ibu yang cenderung menolak menyusui bayinya sendiri terutama pada ibu – ibu yang bekerja dengan alasan air susunya hanya sedikit atau tidak keluar sama sekali, keadaan ini memberikan dampak negatif terhadap status kesehatan, gizi, serta tingkat kecerdasan anak. Oleh karena itu untuk menanggulangi permasalahan diatas perlu dilakukan upaya preventif dan promotif dalam meningkatkan penggunaan ASI dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan payudara ibu menyusui, sehingga membantu pengeluaran ASI secara lancar.
A. Pengertian
Perawatan payudara adalah suatu cara yang dilakukan untuk merawat payudara agar air susu keluar dengan lancar.
B. Manfaat Perawatan Payudara
Menjaga kebersihan payudara, terutama kebesihan putting susu agar terhindar dari infeksi Melunakkan serta memperbaiki bentuk putting susu sehingga bayi dapat menyusu dengan baik Merangsang kelenjar-kelenjar air susu sehingga produksi asi lancer Mengetahui secara dini kelainan putting susu dan melakukan usaha-usaha untuk mengatasinya
Persiapan psikis ibu menyusui
C. Cara melakukan perawatan payudara ibu menyusui
1. Persiapan alat
Alat yang dibutuhkan :
 Handuk
 Kapas
 Minyak kelapa / baby oil
 Waslap
 2 Baskom (masing-masing berisi air hangat dan dingin )
2. Prosedur pelaksanaan;
 Buka pakaian ibu
 Letakkan handuk diatas pangkuan ibu dan tutuplah payudara dengan handuk.
 Buka handuk pada daerah payudara.
 Kompres putting susu dengan menggunakan kapas minyak selama 3-5 menit.
 Bersihkan dan tariklah putting susu keluar terutama untuk putting susu yang datar.
 Ketuk-ketuk sekeliling putting susu dengan ujung-ujung jari.
 Kedua telapak tangan dibasahi dengan minyak kelapa
 Kedua telapak tangan diletakkankan diantara kedua payudara
 Pengurutan dimulai kearah atas, samping, telapak tangan kiri kearah sisi kiri, telapak tangan kanan kearah sisi kanan
 Pengurutan diteruskan kebawah, samping, selanjutnya melintang, telapak tangan mengurut kedepan kemudian dilepas dari kedua payudara.
 Telapak tangan kanan kiri menopang payudara kiri, kemudian jari-jari tangan kanan sisi kelingking mengurut payudara kearah putting susu.
 Telapak tangan kanan menopang payudara dan tangan lainnya menggengam dan mengurut payudara dari arah pangkal ke arah putting susu.
 Payudara disiram dengan air hangat dan dingan secara bergantian kira-kira 5 menit ( air hangat dahulu)
 Keringkan dengan handuk
 Pakailah BH khusus untuk ibu menyusui (BH yang menyangga payudara).
3. Keuntungan menyusui
Bayi akan memperoleh makanan yang terbaik yaitu ASI Praktis, tidak merepotkan karena ibu tidak harus menyediakan minum untuk bayi, seperti mengencerkan susu, menghangatkan susu, mencuci alat-alat minuman dan lain-lain
Tidak memerlukan biaya karena ibu tidak perlu membeli susu untuk bayi serta alat-alat yang diperlukan seperti : botol alat pengencer dan lain-lain
Menyusu dapat mempererat hubungan kasih sayang antara ibu dan anak
4. Tanda-tanda menyusui yang benar
Bayi cukup tenang
Mulut bayi terbuka lebar
 Bayi menempel betul pada ibu
 Mulut dan dagu bayi menempel betul pada payudara ibu
 Seluruh areola tertutup mulut bayi
 Bayi nampak pelan-pelan menghisap dengan kuat
 Putting susu ibu tidak terasa nyeri
 Posisi ibu menyusui duduk, berbaring, berdiri dan digendong
5. Cara menyusui yang benar
Sanggalah payudara dengan keempat jari pada tangan yang tidak menyangga bayi dan ibu jari dibagian atas bantulah bayi menemukan putting.
D. Soal
1. Jelaskan pengertian perawatan payudara ?
2. Jelaskan manfaat perawatan payudara ?
3. Sebutkan salah satu keuntungan menyusui ?
4. Sebutkan bahan-bahan yang diperlukan untuk merawat payudara?

"

SAP : TEKNIK MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR

SAP : TEKNIK MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR
SATUAN ACARA PENGAJARAN

Pokok Bahasan : Teknik menyusui yang baik dan benar
Sasaran : Ibu menyusui
Tempat : Ruang Merak
Hari / tgl Pelaksanaan : Sabtu 25 April 2009

A. LATAR BELAKANG
Kehadiran seorang bayi dalam sebuah keluarga adalah merupakan dambaan setiap orang. Karena dengan kehadiran seorang bayilah mereka dapat meneruskan garis keturunan mereka. Seorang bayi tentu saja masih punya nilai ketergantungan yang tinggi kepada kedua ortunya harus ekstra cermat dan penuh perhatian dalam merawat bayi mereka.

Untuk menunjang perawatan tersebut, seorang ibu sangat dianjurkan untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu) sebagai sumber makanan yang utama seelum meraka diperbolehkan untuk mendapatkan sumber makanan yang lainnya. Dalam prosese pemberian ASI tersebut, seorang ibu harus memperhatikan gizinya dan harus cukup pengetahuan tentang cara merawat seorang bayi dan cara/teknik menyusui bayi yang baik dan benar. Sehingga bayi mereka bisa tumbuh dengan baik dan sehat. Sehingga kelak bisa menjadi anak yang cerdas. Pengetahuan tentang teknik menyusui bayi yang baik dan benar tidak hanya berguna bagi ibu-ibu yang telah berkeluarga. Tapi juga berguna bagi remaja putri agar kelak mereka bisa menyusui anak-anak mereka dengan baik dan benar.

B. TUJUAN
 Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang teknik menyusui yang baik dan benar, diharapkan ibu menyusui memahami tentang cara menyusui yang baik dan benar dari seorang ibu kepada anaknya. Dan juga sebagai persiapan untuk kelahiran putrinya kelak.
 Tujuan Khusus
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang teknik menyusui yang baik dan benar diharapkan peserta didik mampu:
1. Menentukan bagaimana posisi yang baik bagi ibu menyusui
2. Menjelaskan cara memasukan puting yang baik dan benar
3. Mengetahui cara melepaskan hisapan bayi
4. Menjelaskan cara menyendawakan bayi
5. Mengetahui apakah tanda-tanda menyusui telah baik dan benar
6. Mengetahui hal-hal yang perlu diingat pada ibu menyusui.

C. TARGET
Ibu menyusui

D. SUSUNAN ACARA
Tahap Kegiatan Waktu
Pembukaan  Mengucapkan salam
 Penyampaian maksud dan tujuan pertemuan sesuai kontrak waktu 2 menit
Proses  Menentukan bagaimana posisi yang baik bagi ibu menyusui
 Menjelaskan cara memasukan puting yang baik dan benar
 Mengetahui cara melepaskan hisapan bayi
 Menjelaskan cara menyendawakan bayi
 Mengetahui apakah tanda-tanda menyusui telah baik dan benar
 Mengetahui hal-hal yang perlu diingat pada ibu menyusui. 5 menit
Penutup  Memberikan evaluasi berupa pertanyaan pada Ibu menyusui
 Menutup pertemuan dan mengucapkan salam 2 menit



E. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Peragaan

F. MEDIA
1. Materi pengajaran
2. Lembar balik
3. Leaflet


MATERI TEKNIK MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR
A. Pengertian
Teknik menyusui adalah suatu cara pemberian ASI yang dilakukan oleh seorang ibu kepada bayinya, demi mencukupi kebutuhan nutrisi bayi tersebut.
B. Posisi yang tepat bagi ibu untuk menyusui
1. Duduklah dengan posisi yang enak atau santai, pakailah kursi yang ada sandaran punggung dan lengan
2. Gunakan bantal untuk mengganjal bayi agar bayi tidak terlalu jauh dari payudara ibu.
C. Cara memasukkan puting susu ibu kemulut bayi
 Bila dimulai dengan payudara kanan, letakkan kepaada bayi pada siku bagian dalam lengan kanan, badan bayi menghadap kebadan ibu.
 Lengan kiri bayi diletakakan diseputar pinggang ibu, tangan kanan ibu memegang pantat/paha kanan bayi.
 Sangga payudara kanan ibu dengan empat jari tangan kiri, ibu jari diatasnya tetapi tidak menutupi bagian yang berwarna hitam (areola mamae).
 Sentuhlah mulut bayi dengan puting payudara ibu
 Tunggu sampai bayi membuka mulutnya lebar
 Masukkan puting payudara secepatnya ke dalam mulut bayi sampai bagian yang berwarna hitam.
D. Teknik melepaskan hisapan bayi
Setelah selesai menyusui kurang lebih selama 10 menit, lepaskan hisapan bayi dengan cara:
1. Masukkan jari kelingking ibu yang bersih kesudut mulut bayi
2. Menekan dagu bayi ke bawah
3. Dengan menutup lubang hidung bayi agar mulutnya membuka
4. Jangan menarik putting susu untuk melepaskan.
E. Cara menyendawakan bayi setelah minum ASI
Setelah bayi melepaskan hisapannya, sendawanya bayi sebelum menyusukan dengan payudara yang lainnya dengan cara:
1. Sandarkan bayi dipundak ibu, tepuk punggungnya dengan pelan sampai bayi bersendawa
2. Bayi ditelungkupkan dipangkuan ibu sambil digosok punggungnya.
F. Tanda-tanda teknik menyusui sudah baik dan benar
 Bayi dalam keadaan tenang
 Mulut bayi terbuka lebar
 Bayi menempel betul pada ibu
 Mulut dan dagu bayi menempel pada payudara
 Sebagian besar areola mamae tertutup oleh mulut bayi
 Bayi nampak pelan-pelan menghisap dengan kuat
 Kuping dan lengan bayi berada pada satu garis.

H. Hal-hal yang perlu diingat dalam menyusui seorang bayi
 Berikan ASI pada bayi dengan kedua payudara secara bergantian.








DAFTAR PUSTAKA


Ebrahim, Gj.1984. Perawatan anak. Yayasan Esentia Medida: Yogyakarta.
Gilbert, Patricia. 1986. Payudara apa yang perlu diketahui wanita. ARCAN: Jakarta
Neilson, Joan. 1985. Cara Menyusui Yang Baik Dan Baik. ARCAN: Jakarta.
Suharyono, 1989. ASI Tinjauan Daru Berbagai Aspek. FKUI: Jakarta

"

SAP : TEKNIK MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR

SAP : TEKNIK MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR
SATUAN ACARA PENGAJARAN

Pokok Bahasan : Teknik menyusui yang baik dan benar
Sasaran : Ibu menyusui
Tempat : Ruang Merak
Hari / tgl Pelaksanaan : Sabtu 25 April 2009

A. LATAR BELAKANG
Kehadiran seorang bayi dalam sebuah keluarga adalah merupakan dambaan setiap orang. Karena dengan kehadiran seorang bayilah mereka dapat meneruskan garis keturunan mereka. Seorang bayi tentu saja masih punya nilai ketergantungan yang tinggi kepada kedua ortunya harus ekstra cermat dan penuh perhatian dalam merawat bayi mereka.

Untuk menunjang perawatan tersebut, seorang ibu sangat dianjurkan untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu) sebagai sumber makanan yang utama seelum meraka diperbolehkan untuk mendapatkan sumber makanan yang lainnya. Dalam prosese pemberian ASI tersebut, seorang ibu harus memperhatikan gizinya dan harus cukup pengetahuan tentang cara merawat seorang bayi dan cara/teknik menyusui bayi yang baik dan benar. Sehingga bayi mereka bisa tumbuh dengan baik dan sehat. Sehingga kelak bisa menjadi anak yang cerdas. Pengetahuan tentang teknik menyusui bayi yang baik dan benar tidak hanya berguna bagi ibu-ibu yang telah berkeluarga. Tapi juga berguna bagi remaja putri agar kelak mereka bisa menyusui anak-anak mereka dengan baik dan benar.

B. TUJUAN
 Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang teknik menyusui yang baik dan benar, diharapkan ibu menyusui memahami tentang cara menyusui yang baik dan benar dari seorang ibu kepada anaknya. Dan juga sebagai persiapan untuk kelahiran putrinya kelak.
 Tujuan Khusus
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang teknik menyusui yang baik dan benar diharapkan peserta didik mampu:
1. Menentukan bagaimana posisi yang baik bagi ibu menyusui
2. Menjelaskan cara memasukan puting yang baik dan benar
3. Mengetahui cara melepaskan hisapan bayi
4. Menjelaskan cara menyendawakan bayi
5. Mengetahui apakah tanda-tanda menyusui telah baik dan benar
6. Mengetahui hal-hal yang perlu diingat pada ibu menyusui.

C. TARGET
Ibu menyusui

D. SUSUNAN ACARA
Tahap Kegiatan Waktu
Pembukaan  Mengucapkan salam
 Penyampaian maksud dan tujuan pertemuan sesuai kontrak waktu 2 menit
Proses  Menentukan bagaimana posisi yang baik bagi ibu menyusui
 Menjelaskan cara memasukan puting yang baik dan benar
 Mengetahui cara melepaskan hisapan bayi
 Menjelaskan cara menyendawakan bayi
 Mengetahui apakah tanda-tanda menyusui telah baik dan benar
 Mengetahui hal-hal yang perlu diingat pada ibu menyusui. 5 menit
Penutup  Memberikan evaluasi berupa pertanyaan pada Ibu menyusui
 Menutup pertemuan dan mengucapkan salam 2 menit



E. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Peragaan

F. MEDIA
1. Materi pengajaran
2. Lembar balik
3. Leaflet


MATERI TEKNIK MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR
A. Pengertian
Teknik menyusui adalah suatu cara pemberian ASI yang dilakukan oleh seorang ibu kepada bayinya, demi mencukupi kebutuhan nutrisi bayi tersebut.
B. Posisi yang tepat bagi ibu untuk menyusui
1. Duduklah dengan posisi yang enak atau santai, pakailah kursi yang ada sandaran punggung dan lengan
2. Gunakan bantal untuk mengganjal bayi agar bayi tidak terlalu jauh dari payudara ibu.
C. Cara memasukkan puting susu ibu kemulut bayi
 Bila dimulai dengan payudara kanan, letakkan kepaada bayi pada siku bagian dalam lengan kanan, badan bayi menghadap kebadan ibu.
 Lengan kiri bayi diletakakan diseputar pinggang ibu, tangan kanan ibu memegang pantat/paha kanan bayi.
 Sangga payudara kanan ibu dengan empat jari tangan kiri, ibu jari diatasnya tetapi tidak menutupi bagian yang berwarna hitam (areola mamae).
 Sentuhlah mulut bayi dengan puting payudara ibu
 Tunggu sampai bayi membuka mulutnya lebar
 Masukkan puting payudara secepatnya ke dalam mulut bayi sampai bagian yang berwarna hitam.
D. Teknik melepaskan hisapan bayi
Setelah selesai menyusui kurang lebih selama 10 menit, lepaskan hisapan bayi dengan cara:
1. Masukkan jari kelingking ibu yang bersih kesudut mulut bayi
2. Menekan dagu bayi ke bawah
3. Dengan menutup lubang hidung bayi agar mulutnya membuka
4. Jangan menarik putting susu untuk melepaskan.
E. Cara menyendawakan bayi setelah minum ASI
Setelah bayi melepaskan hisapannya, sendawanya bayi sebelum menyusukan dengan payudara yang lainnya dengan cara:
1. Sandarkan bayi dipundak ibu, tepuk punggungnya dengan pelan sampai bayi bersendawa
2. Bayi ditelungkupkan dipangkuan ibu sambil digosok punggungnya.
F. Tanda-tanda teknik menyusui sudah baik dan benar
 Bayi dalam keadaan tenang
 Mulut bayi terbuka lebar
 Bayi menempel betul pada ibu
 Mulut dan dagu bayi menempel pada payudara
 Sebagian besar areola mamae tertutup oleh mulut bayi
 Bayi nampak pelan-pelan menghisap dengan kuat
 Kuping dan lengan bayi berada pada satu garis.

H. Hal-hal yang perlu diingat dalam menyusui seorang bayi
 Berikan ASI pada bayi dengan kedua payudara secara bergantian.








DAFTAR PUSTAKA


Ebrahim, Gj.1984. Perawatan anak. Yayasan Esentia Medida: Yogyakarta.
Gilbert, Patricia. 1986. Payudara apa yang perlu diketahui wanita. ARCAN: Jakarta
Neilson, Joan. 1985. Cara Menyusui Yang Baik Dan Baik. ARCAN: Jakarta.
Suharyono, 1989. ASI Tinjauan Daru Berbagai Aspek. FKUI: Jakarta

"

KTI KEBIDANAN : STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN

KTI KEBIDANAN : STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bayi yang sehat dan lucu pasti menjadi dambaan setiap pasangan. Namun, tentu saja tidak semua bayi beruntung dengan kesehatan yang prima. Apalagi pada anak yang masih bayi, berbagai macam penyakit bisa menyerang dengan mudah.
Bayi sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya. Tak pelak membuat banyak bayi mengalami gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan pada bayi sangat beragam, misalnya gangguan saluran pernapasan, jantung, atau yang ringan seperti influenza yang bisa saja ditularkan dari ibu, kakak atau tamu-tamu yang berkunjung ke rumah.

Bidan harus mengetahui lebih banyak tentang penyakit kulit, karena tidak dapat disangkal bahwa penyakit kulit pada anak sering dijumpai. Walaupun belum ada angka statistik yang membandingkan frekuensi penyakit kulit pada anak, namun diberbagai poliklinik Dinas Kesehatan Kota dan Kabupaten dibuat kesimpulan bahwa sekitar 20% adalah kasus penyakit kulit pada anak. Data terpenting yang harus diperhatikan oleh seorang yang bukan ahli penyakit kulit, yaitu cara membuat diagnosis serta memahami prinsip pengobatan sebaik-baiknya, agar jangan sampai timbul komplikasi karena obat atau cara pengobatan yang salah (FKUI, 2005).
Kulit merupakan organ yang paling luas permukaannya, dengan berbagai alat didalamnya seperti lemak, otot, pembuluh darah, serabut syaraf, kelenjar keringat dan lain-lain. Alat-alat tersebut mengatur fungsi kulit yang beraneka ragam yaitu mulai dari proteksi secara fisis dan imunologis, mengatur suhu tubuh dan keseimbangan elektrolit (panas, dingin, tekanan, nyeri, gatal dan perabaan), ekskresi, pembuatan vitamin D, dan daya membersihkan diri (FKUI, 2005).
Kulit juga merupakan organ tubuh terluar yang terus menerus terpajan dengan lingkungan luar sehingga senantiasa aktif mengadakan penyesuaian diri dengan berbagai perubahan lingkungan. Keadaan makroskopis dan mikroskopis kulit mencerminkan kesehatan individu dan berbeda-beda sesuai dengan umurnya. Kulit pada neonatus (bayi < 1 bulan) dan bayi (< 1 bulan) merupakan bagian yang mengalami proses pematangan yang cepat, baik struktur anatomi, bio kimia dan fisiologik setelah tahap pembentukan in utero.
Selain itu, keadaan kulit juga merupakan 'cermin' kesehatan tubuh seseorang. Para orang tua kini semakin menyadari bahwa menjaga kesehatan kulit anak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan anak. Dan untuk menjaga kesehatan kulit ini, diperlukan perawatan rutin sejak usia dini. Perawatan rutin kulit juga mengekspresikan rasa cinta seorang ibu pada buah hatinya. Telah dibuktikan bahwa sentuhan ibu akan sangat berpengaruh pada perkembangan fisik dan mental seorang anak (FKUI, 2002).
Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi setiap individu. Trauma kecil atau ringan dapat menyebabkan tempat masuknya mikroorganise ke kulit (FKUI, 2005).
Salah satu penyakit kulit pada bayi adalah miliaria (biang keringat). Biang keringat dapat dijumpai pada bayi cukup bulan maupun premature, pada minggu-minggu pertama pasca kelahiran. Kemungkinan disebabkan oleh sel-sel pada bayi yang belum sempurna sehingga terjadi sumbatan pada kelenjar kulit yang mengakibatkan retensi keringat. Biang keringat terjadi pada sekitar 40% bayi baru lahir. Menetap beberapa minggu dan menghilang tanpa pengobatan. Penanggulangan biang keringat cukup dengan mandi memakai sabun, mengatur agar suhu lingkungan cukup sejuk, sirkulasi (ventilasi) yang baik serta memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Pemakaian bedak tabur dapat juga membantu, namun bila inflamasinya hebat, pemakaian cream hidrokortison 1% dapat mengatasinya (http://www.sitiaisyah.com).
Berdasarkan hasil presurvey pada bulan Maret 2008, terdapat 80 ibu yang mempunyai bayi berumur 0-1 tahun mengikuti imunisasi di BPS Hj. Subagyo, di ambil 25% dari 80 orang ibu tersebut untuk dibagikan kuisioner. Dari hasil kuisioner ada 9 (40%) orang ibu yang memiliki pengetahuan baik, 8 (35%) orang ibu memiliki pengetahuan cukup dan 7(25%) orang ibu yang memiliki pengetahuan kurang mengenai biang keringat.
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengetahuan Ibu tentang Biang Keringat pada Bayi 0-1 tahun pada bulan April-Mei di BPS Hj. Subagyo ”.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka penulis membuat rumusan masalah tentang “Bagaimana Pengetahuan Ibu tentang Biang Keringat pada Bayi 0-1 tahun di BPS Hj. Subagyo Tahun 2008?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis Penelitian : Deskriptif
Subjek Penelitian : Ibu yang memiliki Bayi 0-1 tahun.
Objek Penelitian : Pengetahuan tentang biang keringat
Lokasi Penelitian : BPS Hj. Subagyo
Waktu : Penelitian dilaksanakan pada bulan April
Alasan : Dari hasil pre survey pada bulan Maret 2008, terdapat 80ibu yang mempunyai bayi berumur 0-1 tahun mengikuti imunisasi di BPS Hj. Subagyo, di ambil 25% dari 80 orang ibu tersebut untuk dibagikan kuisioner. Dari hasil kuisioner ada 9 (40%) orang ibu yang memiliki pengetahuan baik, 8 (35%) orang ibu memiliki pengetahuan cukup dan 7(25%) orang ibu yang memiliki pengetahuan kurang mengenai biang keringat.

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang biang keringat pada bayi 0-1 tahun di BPS Hj. Subagyo tahun 2008.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Ibu yang Memiliki Balita
Dapat menambah pengetahuan dan pemahaman ibu tentang biang keringat sehingga dapat mengatasinya dengan benar.
2. Bagi Rumah Bersalin
Diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat bagi BPS sebagai bahan masukan untuk penanganan biang keringat.
3. Bagi Instansi Pendidikan
Sebagai dokumentasi akademik maupun bacaan bagi mahasiswa ataupun pihak lain yang membutuhkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Studi Pustaka
1. Biang Keringat
a. Pengertian
Biang keringat adalah kelainan kulit yang sering muncul pada bayi dan balita akibat tersumbatnya kelenjar keringat, sehingga keringat yang keluar berkumpul di bawah kulit dan mengakibatkan timbulnya bintik-bintik merah (Pasaribu, 2007).
Biang keringat disebut juga keringat buntet timbul di daerah dahi, leher dan bagian tubuh yang tertutup pakaian, disertai gatal, kulit kemerahan dan gelembung berair kecil-kecil (http///www.ikatandokter anakindonesia.co.id).
Biang keringat adalah kelainan kulit yang disebabkan oleh keluarnya keringat berlebihan disertai tersumbatnya saluran kelenjar keringat dan biasanya terjadi pada daerah dahi, leher, punggung dan dada (http://www.republika.com).

b. Jenis-jenis Biang Keringat
Ada tiga macam biang keringat yaitu :
1) Miliaria kristalina
Biang keringat yang terjadi pada bayi baru lahir (neonatus) sumbatan terjadi pada permukaan kulit sehingga terlihat gelembung-gelembung kecil berukuran 1-2 mm berisi cairan jernih, namun tidak terdapat kemerahan pada kulit (hhtp:\\www.republika.com).
2) Miliaria rubra
Biang keringat ini terjadi pada anak yang biasa tinggal di daerah atau lingkungan panas dan lembab. Terdapat bintik-bintik kecil (1-2 mm) berwarna merah, biasanya disertai keluhan gatal dan perih (hhtp:\\www.republika.com).
3) Miliaria profunda
Pada biang keringat jenis ini terdapat bintik-bintik putih, keras dan berukuran (1-3 mm). Kulit tidak berwarna merah, namun kasus ini jarang terjadi (hhtp:\\www.republika.com)

c. Penyebab Biang Keringat
Penyebab biang keringat menurut Pasaribu (2007) yaitu:
1) Ventilasi ruangan kurang baik sehingga udara di dalam ruangan panas atau lembab.
2) Pakaian bayi terlalu tebal dan ketat, pakaian yang tebal dan ketat menyebabkan suhu tubuh bayi meningkat.
3) Bayi mengalami panas atau demam.
4) Bayi terlalu banyak beraktivitas sehingga banyak mengeluarkan keringat.



Faktor yang menyebabkan keringat keluar berlebihan dan tersumbatnya saluran keringat yaitu udara panas dan lembab disertai ventilasi ruangan yang kurang baik, pakaian terlalu tebal dan ketat, aktivitas yang berlebihan, juga setelah mengalami demam (http://www.republika.com)
Faktor penyebab timbulnya keringat berlebihan yaitu :
1) Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang baik
2) Pakaian yang terlalu lembab dan ketat
Pakaian banyak memberikan pengaruh pada kulit, misalnya menimbulkan pergeseran, tekanan yang berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan suhu tubuh.
3) Aktivitas yang berlebihan, misalnya berolahraga
4) Setelah menderita sakit panas
(FKUI, 2002)

Penyebab lain berupa penyumbatan pori-pori yang berasal dari kelenjar keringat. Sumbatan ini dapat diakibatkan debu atau radang pada kulit anak. Butiran-butiran keringat yang terperangkap dibawah kulit akan mendesak ke permukaan kulit dan menimbulkan bintik-bintik kecil yang terasa gatal (http://www.conectique.com).

d. Pencegahan
1) Bayi atau anak tetap dianjurkan mandi secara teratur paling sedikit 2 kali sehari menggunakan air dingin dan sabun.
2) Bila berkeringat, sesering mungkin dibasuh dengan menggunakan handuk (lap) basah, kemudian dikeringkan dengan handuk atau kain yang lembut. Setelah itu dapat diberikan bedak tabur.
3) Jangan sekali-kali memberikan bedak tanpa membasuh keringat terlebih dahulu, karena akan memperparah penyumbatan sehingga mempermudah terjadinya infeksi baik oleh jamur maupun bakteri.
4) Hindari penggunaan pakaian tebal, bahan nilon, atau wol yang tidak menyerap keringat (FKUI, 2002).

Pencegahan dapat dilakukan dengan:
Memandikan bayi atau anak secara teratur minimal 2 kali sehari dengan air dingin dan sabun. Orang tua sebaiknya juga sering membasuh keringat anak dengan handuk basah lalu dikeringkan dan ditaburi bedak. Ruangan juga harus diperhatikan, usahakan agar suhu ruangan tidak terlalu panas dan lembab dengan cara membuat ventilasi yang baik, jika perlu pasang kipas angin. Hindari pakaian yang tebal, ketat atau yang terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat seperti wol dan nilon (http://www.republika.com).
Biang keringat bisa tidak dialami bayi asalkan orang tua rajin menghindari penghalang penguapan keringat yang menutup pori-pori bayi dengan cara:
1) Bayi harus dimandikan secara teratur pada pagi dan sore hari.
2) Setelah selesai mandi pastikan semua lipatan kulit bayi seperti ketiak, leher, paha dan lutut harus benar-benar kering kemudian oleskan bedak keseluruhan tubuh dengan tipis.
3) Jaga tubuh bayi agar tetap kering.
4) Jika bayi berkeringat jangan keringkan dengan menggunakan bedak. Sebaiknya dengan waslap basah, lalu dikeringkan, dan diolesi dengan bedak tipis.
5) Gunakan pakaian bayi dari bahan katun yang menyerap keringat bayi.
6) Biasanya 70% biang keringat timbul pada bayi karena sirkulasi udara kamar yang tidak baik. Untuk itu usahakan udara di dalam kamar bayi mengalir dengan baik sehingga kamar selalu sejuk.
7) Pada saat memandikan bayi yang menderita biang keringat, sebaiknya gunakan sabun bayi yang cair, sebab sabun cair tidak meninggalkan partikel. Jika menggunakan sabun padat bisa meninggalkan partikel yang dapat menghambat penyembuhan (Pasaribu, 2007).

e. Pengobatan
Sebenarnya pengobatan khusus tidak diperlukan, cukup pencegahan dan perawatan kulit yang benar. Bila biang keringat berupa gelembung kecil tidak disertai berupa gelembung kecil tidak disertai kemerahan, kering dan tanpa keluhan dapat diberi bedak setelah mandi. Bila kelainan kulit membasah tidak boleh ditaburkan bedak, karena akan terbentuk gumpalan yang memperparah sumbatan kelenjar sehingga menjadi tempat pertumbuhan kuman. Bila keluhan sangat gatal, luka dan lecet dapat diatasi dengan pemberian antibiotik (FKUI, 2002).

2. Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2005) Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan itu terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar penginderaan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Dalam hal ini pengetahuan ibu tentang biang keringat.
Pengetahuan dibagi menjadi enam tingkatan yang tercakup dalam domain kognitif yaitu :
1) Tahu (know)
Dapat diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu (know) ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.


2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Seseorang yang telah faham terhadap objek atau materi tersebut harus dapat menyimpulkan dan menyebutkan contoh, menjelaskan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus dan metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis (analysis)
Arti dari analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian kepada suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada misalnya dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab ibu-ibu tidak mau ikut KB dan sebagainya.

B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan konsep atau teori dalam bentuk kerangka yang mengacu pada masalah-masalah (bagian-bagian) yang akan diteliti atau berhubungan dengan penelitian dan dibuat dalam bentuk diagram (Hidayat, 2007). Masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang biang keringat pada bayi 0-1 tahun di BPS Sri Wahyuningsih Punggur Lampung Tengah.



Untuk lebih jelasnya, kerangka konsep digambarkan sebagai berikut:




Gambar 1. Kerangka Konsep

C. Definisi Operasional
Definisi operasional mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati ketika melakukan pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena dengan menggunakan parameter yang jelas (Hidayat, 2007).
Definisi operasional juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur) (Hidayat, 2007). Adapun dalam penelitian ini variabel yang akan didefinisikan secara operasional dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 1. Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Kriteria Nilai
1 Ibu yang memiliki bayi 0-1 tahun Seorang wanita yang telah melahirkan bayi dan sudah berumur 0-1 tahun.
- - - - -
2 Pengetahuan
tentang biang keringat Hasil dari tahu, dan terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap biang keringat Angket Kuisioner Baik
Cukup
Kurang
Kurang sekali 76-100%
51-75%
26-51%
0-25 % Interval

"

KTI KEBIDANAN : STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN

KTI KEBIDANAN : STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bayi yang sehat dan lucu pasti menjadi dambaan setiap pasangan. Namun, tentu saja tidak semua bayi beruntung dengan kesehatan yang prima. Apalagi pada anak yang masih bayi, berbagai macam penyakit bisa menyerang dengan mudah.
Bayi sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya. Tak pelak membuat banyak bayi mengalami gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan pada bayi sangat beragam, misalnya gangguan saluran pernapasan, jantung, atau yang ringan seperti influenza yang bisa saja ditularkan dari ibu, kakak atau tamu-tamu yang berkunjung ke rumah.

Bidan harus mengetahui lebih banyak tentang penyakit kulit, karena tidak dapat disangkal bahwa penyakit kulit pada anak sering dijumpai. Walaupun belum ada angka statistik yang membandingkan frekuensi penyakit kulit pada anak, namun diberbagai poliklinik Dinas Kesehatan Kota dan Kabupaten dibuat kesimpulan bahwa sekitar 20% adalah kasus penyakit kulit pada anak. Data terpenting yang harus diperhatikan oleh seorang yang bukan ahli penyakit kulit, yaitu cara membuat diagnosis serta memahami prinsip pengobatan sebaik-baiknya, agar jangan sampai timbul komplikasi karena obat atau cara pengobatan yang salah (FKUI, 2005).
Kulit merupakan organ yang paling luas permukaannya, dengan berbagai alat didalamnya seperti lemak, otot, pembuluh darah, serabut syaraf, kelenjar keringat dan lain-lain. Alat-alat tersebut mengatur fungsi kulit yang beraneka ragam yaitu mulai dari proteksi secara fisis dan imunologis, mengatur suhu tubuh dan keseimbangan elektrolit (panas, dingin, tekanan, nyeri, gatal dan perabaan), ekskresi, pembuatan vitamin D, dan daya membersihkan diri (FKUI, 2005).
Kulit juga merupakan organ tubuh terluar yang terus menerus terpajan dengan lingkungan luar sehingga senantiasa aktif mengadakan penyesuaian diri dengan berbagai perubahan lingkungan. Keadaan makroskopis dan mikroskopis kulit mencerminkan kesehatan individu dan berbeda-beda sesuai dengan umurnya. Kulit pada neonatus (bayi < 1 bulan) dan bayi (< 1 bulan) merupakan bagian yang mengalami proses pematangan yang cepat, baik struktur anatomi, bio kimia dan fisiologik setelah tahap pembentukan in utero.
Selain itu, keadaan kulit juga merupakan 'cermin' kesehatan tubuh seseorang. Para orang tua kini semakin menyadari bahwa menjaga kesehatan kulit anak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan anak. Dan untuk menjaga kesehatan kulit ini, diperlukan perawatan rutin sejak usia dini. Perawatan rutin kulit juga mengekspresikan rasa cinta seorang ibu pada buah hatinya. Telah dibuktikan bahwa sentuhan ibu akan sangat berpengaruh pada perkembangan fisik dan mental seorang anak (FKUI, 2002).
Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi setiap individu. Trauma kecil atau ringan dapat menyebabkan tempat masuknya mikroorganise ke kulit (FKUI, 2005).
Salah satu penyakit kulit pada bayi adalah miliaria (biang keringat). Biang keringat dapat dijumpai pada bayi cukup bulan maupun premature, pada minggu-minggu pertama pasca kelahiran. Kemungkinan disebabkan oleh sel-sel pada bayi yang belum sempurna sehingga terjadi sumbatan pada kelenjar kulit yang mengakibatkan retensi keringat. Biang keringat terjadi pada sekitar 40% bayi baru lahir. Menetap beberapa minggu dan menghilang tanpa pengobatan. Penanggulangan biang keringat cukup dengan mandi memakai sabun, mengatur agar suhu lingkungan cukup sejuk, sirkulasi (ventilasi) yang baik serta memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Pemakaian bedak tabur dapat juga membantu, namun bila inflamasinya hebat, pemakaian cream hidrokortison 1% dapat mengatasinya (http://www.sitiaisyah.com).
Berdasarkan hasil presurvey pada bulan Maret 2008, terdapat 80 ibu yang mempunyai bayi berumur 0-1 tahun mengikuti imunisasi di BPS Hj. Subagyo, di ambil 25% dari 80 orang ibu tersebut untuk dibagikan kuisioner. Dari hasil kuisioner ada 9 (40%) orang ibu yang memiliki pengetahuan baik, 8 (35%) orang ibu memiliki pengetahuan cukup dan 7(25%) orang ibu yang memiliki pengetahuan kurang mengenai biang keringat.
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengetahuan Ibu tentang Biang Keringat pada Bayi 0-1 tahun pada bulan April-Mei di BPS Hj. Subagyo ”.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka penulis membuat rumusan masalah tentang “Bagaimana Pengetahuan Ibu tentang Biang Keringat pada Bayi 0-1 tahun di BPS Hj. Subagyo Tahun 2008?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis Penelitian : Deskriptif
Subjek Penelitian : Ibu yang memiliki Bayi 0-1 tahun.
Objek Penelitian : Pengetahuan tentang biang keringat
Lokasi Penelitian : BPS Hj. Subagyo
Waktu : Penelitian dilaksanakan pada bulan April
Alasan : Dari hasil pre survey pada bulan Maret 2008, terdapat 80ibu yang mempunyai bayi berumur 0-1 tahun mengikuti imunisasi di BPS Hj. Subagyo, di ambil 25% dari 80 orang ibu tersebut untuk dibagikan kuisioner. Dari hasil kuisioner ada 9 (40%) orang ibu yang memiliki pengetahuan baik, 8 (35%) orang ibu memiliki pengetahuan cukup dan 7(25%) orang ibu yang memiliki pengetahuan kurang mengenai biang keringat.

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang biang keringat pada bayi 0-1 tahun di BPS Hj. Subagyo tahun 2008.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Ibu yang Memiliki Balita
Dapat menambah pengetahuan dan pemahaman ibu tentang biang keringat sehingga dapat mengatasinya dengan benar.
2. Bagi Rumah Bersalin
Diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat bagi BPS sebagai bahan masukan untuk penanganan biang keringat.
3. Bagi Instansi Pendidikan
Sebagai dokumentasi akademik maupun bacaan bagi mahasiswa ataupun pihak lain yang membutuhkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Studi Pustaka
1. Biang Keringat
a. Pengertian
Biang keringat adalah kelainan kulit yang sering muncul pada bayi dan balita akibat tersumbatnya kelenjar keringat, sehingga keringat yang keluar berkumpul di bawah kulit dan mengakibatkan timbulnya bintik-bintik merah (Pasaribu, 2007).
Biang keringat disebut juga keringat buntet timbul di daerah dahi, leher dan bagian tubuh yang tertutup pakaian, disertai gatal, kulit kemerahan dan gelembung berair kecil-kecil (http///www.ikatandokter anakindonesia.co.id).
Biang keringat adalah kelainan kulit yang disebabkan oleh keluarnya keringat berlebihan disertai tersumbatnya saluran kelenjar keringat dan biasanya terjadi pada daerah dahi, leher, punggung dan dada (http://www.republika.com).

b. Jenis-jenis Biang Keringat
Ada tiga macam biang keringat yaitu :
1) Miliaria kristalina
Biang keringat yang terjadi pada bayi baru lahir (neonatus) sumbatan terjadi pada permukaan kulit sehingga terlihat gelembung-gelembung kecil berukuran 1-2 mm berisi cairan jernih, namun tidak terdapat kemerahan pada kulit (hhtp:\\www.republika.com).
2) Miliaria rubra
Biang keringat ini terjadi pada anak yang biasa tinggal di daerah atau lingkungan panas dan lembab. Terdapat bintik-bintik kecil (1-2 mm) berwarna merah, biasanya disertai keluhan gatal dan perih (hhtp:\\www.republika.com).
3) Miliaria profunda
Pada biang keringat jenis ini terdapat bintik-bintik putih, keras dan berukuran (1-3 mm). Kulit tidak berwarna merah, namun kasus ini jarang terjadi (hhtp:\\www.republika.com)

c. Penyebab Biang Keringat
Penyebab biang keringat menurut Pasaribu (2007) yaitu:
1) Ventilasi ruangan kurang baik sehingga udara di dalam ruangan panas atau lembab.
2) Pakaian bayi terlalu tebal dan ketat, pakaian yang tebal dan ketat menyebabkan suhu tubuh bayi meningkat.
3) Bayi mengalami panas atau demam.
4) Bayi terlalu banyak beraktivitas sehingga banyak mengeluarkan keringat.



Faktor yang menyebabkan keringat keluar berlebihan dan tersumbatnya saluran keringat yaitu udara panas dan lembab disertai ventilasi ruangan yang kurang baik, pakaian terlalu tebal dan ketat, aktivitas yang berlebihan, juga setelah mengalami demam (http://www.republika.com)
Faktor penyebab timbulnya keringat berlebihan yaitu :
1) Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang baik
2) Pakaian yang terlalu lembab dan ketat
Pakaian banyak memberikan pengaruh pada kulit, misalnya menimbulkan pergeseran, tekanan yang berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan suhu tubuh.
3) Aktivitas yang berlebihan, misalnya berolahraga
4) Setelah menderita sakit panas
(FKUI, 2002)

Penyebab lain berupa penyumbatan pori-pori yang berasal dari kelenjar keringat. Sumbatan ini dapat diakibatkan debu atau radang pada kulit anak. Butiran-butiran keringat yang terperangkap dibawah kulit akan mendesak ke permukaan kulit dan menimbulkan bintik-bintik kecil yang terasa gatal (http://www.conectique.com).

d. Pencegahan
1) Bayi atau anak tetap dianjurkan mandi secara teratur paling sedikit 2 kali sehari menggunakan air dingin dan sabun.
2) Bila berkeringat, sesering mungkin dibasuh dengan menggunakan handuk (lap) basah, kemudian dikeringkan dengan handuk atau kain yang lembut. Setelah itu dapat diberikan bedak tabur.
3) Jangan sekali-kali memberikan bedak tanpa membasuh keringat terlebih dahulu, karena akan memperparah penyumbatan sehingga mempermudah terjadinya infeksi baik oleh jamur maupun bakteri.
4) Hindari penggunaan pakaian tebal, bahan nilon, atau wol yang tidak menyerap keringat (FKUI, 2002).

Pencegahan dapat dilakukan dengan:
Memandikan bayi atau anak secara teratur minimal 2 kali sehari dengan air dingin dan sabun. Orang tua sebaiknya juga sering membasuh keringat anak dengan handuk basah lalu dikeringkan dan ditaburi bedak. Ruangan juga harus diperhatikan, usahakan agar suhu ruangan tidak terlalu panas dan lembab dengan cara membuat ventilasi yang baik, jika perlu pasang kipas angin. Hindari pakaian yang tebal, ketat atau yang terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat seperti wol dan nilon (http://www.republika.com).
Biang keringat bisa tidak dialami bayi asalkan orang tua rajin menghindari penghalang penguapan keringat yang menutup pori-pori bayi dengan cara:
1) Bayi harus dimandikan secara teratur pada pagi dan sore hari.
2) Setelah selesai mandi pastikan semua lipatan kulit bayi seperti ketiak, leher, paha dan lutut harus benar-benar kering kemudian oleskan bedak keseluruhan tubuh dengan tipis.
3) Jaga tubuh bayi agar tetap kering.
4) Jika bayi berkeringat jangan keringkan dengan menggunakan bedak. Sebaiknya dengan waslap basah, lalu dikeringkan, dan diolesi dengan bedak tipis.
5) Gunakan pakaian bayi dari bahan katun yang menyerap keringat bayi.
6) Biasanya 70% biang keringat timbul pada bayi karena sirkulasi udara kamar yang tidak baik. Untuk itu usahakan udara di dalam kamar bayi mengalir dengan baik sehingga kamar selalu sejuk.
7) Pada saat memandikan bayi yang menderita biang keringat, sebaiknya gunakan sabun bayi yang cair, sebab sabun cair tidak meninggalkan partikel. Jika menggunakan sabun padat bisa meninggalkan partikel yang dapat menghambat penyembuhan (Pasaribu, 2007).

e. Pengobatan
Sebenarnya pengobatan khusus tidak diperlukan, cukup pencegahan dan perawatan kulit yang benar. Bila biang keringat berupa gelembung kecil tidak disertai berupa gelembung kecil tidak disertai kemerahan, kering dan tanpa keluhan dapat diberi bedak setelah mandi. Bila kelainan kulit membasah tidak boleh ditaburkan bedak, karena akan terbentuk gumpalan yang memperparah sumbatan kelenjar sehingga menjadi tempat pertumbuhan kuman. Bila keluhan sangat gatal, luka dan lecet dapat diatasi dengan pemberian antibiotik (FKUI, 2002).

2. Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2005) Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan itu terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar penginderaan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Dalam hal ini pengetahuan ibu tentang biang keringat.
Pengetahuan dibagi menjadi enam tingkatan yang tercakup dalam domain kognitif yaitu :
1) Tahu (know)
Dapat diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu (know) ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.


2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Seseorang yang telah faham terhadap objek atau materi tersebut harus dapat menyimpulkan dan menyebutkan contoh, menjelaskan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus dan metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis (analysis)
Arti dari analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian kepada suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada misalnya dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab ibu-ibu tidak mau ikut KB dan sebagainya.

B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan konsep atau teori dalam bentuk kerangka yang mengacu pada masalah-masalah (bagian-bagian) yang akan diteliti atau berhubungan dengan penelitian dan dibuat dalam bentuk diagram (Hidayat, 2007). Masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang biang keringat pada bayi 0-1 tahun di BPS Sri Wahyuningsih Punggur Lampung Tengah.



Untuk lebih jelasnya, kerangka konsep digambarkan sebagai berikut:




Gambar 1. Kerangka Konsep

C. Definisi Operasional
Definisi operasional mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati ketika melakukan pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena dengan menggunakan parameter yang jelas (Hidayat, 2007).
Definisi operasional juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur) (Hidayat, 2007). Adapun dalam penelitian ini variabel yang akan didefinisikan secara operasional dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 1. Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Kriteria Nilai
1 Ibu yang memiliki bayi 0-1 tahun Seorang wanita yang telah melahirkan bayi dan sudah berumur 0-1 tahun.
- - - - -
2 Pengetahuan
tentang biang keringat Hasil dari tahu, dan terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap biang keringat Angket Kuisioner Baik
Cukup
Kurang
Kurang sekali 76-100%
51-75%
26-51%
0-25 % Interval

"

Blog Archive