Tuesday, July 19, 2011

Nasi Liwet Gurih Dijamin Ketagihan

Gowes Jurnalistik 2011

Nasi Liwet Gurih Dijamin Ketagihan

Ni Luh Made Pertiwi F | I Made Asdhiana | Selasa, 19 Juli 2011 | 15:19 WIB

|

Share:

KOMPAS.com/NI LUH MADE PERTIWI F.Nasi liwet di kawasan Keprabon, Solo, Jawa Tengah. Di kawasan tersebut bisa ditemui banyak warung nasi liwet yang baru buka selepas magrib.

KOMPAS.com/NI LUH MADE PERTIWI F.Salah satu pedagang nasi liwet di kawasan Keprabon, Solo, Jawa Tengah, tengah menyiapkan nasi liwet. Di kawasan tersebut bisa ditemui banyak warung nasi liwet yang baru buka selepas magrib.

Foto:

KOMPAS.com - Di kala mudik, bisa jadi Solo menjadi salah satu kota yang harus Anda lewati. Apa jadinya jika Anda tiba di Solo di kala malam hari dan perut lapar? Mudah saja, mampir ke Keprabon, Solo, Jawa Tengah. Menu utamanya adalah nasi liwet. Nasi liwet termasuk salah satu kuliner Solo yang sudah tenar dan banyak dikenal orang-orang Indonesia.

Nasi liwet adalah nasi yang dimasak dengan santan. Terdengar seperti nasi uduk? Nyatanya rasa nasi liwet berbeda dengan nasi uduk. Rasanya lebih gurih dan dimasak lebih pulen. Tak hanya santan, nasi juga dimasak dengan kaldu ayam. Maka, aroma harum kelapa dan ayam pun menyeruak dari nasi. Cukup mencium aroma nasi saja sudah mampu membuat air liur terbit.

Sebagai teman si nasi, ayam yang disuwir, sayur labu siam, telur pindang rebus, dan kumut. Kumut berwarna putih dan kental itu terbuat dari santan kental. Kumuh ibarat ciri khas dari nasi liwet. Selain lauk-lauk tersebut, Anda juga bisa memakannya dengan telur dadar kukus, hati ampela, krecek, dan juga opor ayam. Jika doyan bacem, maka minta juga tahu bacem dan tempe bacem. Nasi liwet dengan aneka lauk akan sukses membuat Anda ketagihan. Rasanya akan membuat Anda terkenang-kenang akan Solo.

Di Keprabon terdapat banyak warung nasi liwet. Anda bisa memilih duduk di area lesehan atau di bangku kayu yang terletak di depan pedagang. Uniknya, warung nasi liwet di kawasan ini baru buka setelah magrib hingga malam hari. Jadi lapar tengah malam tak menjadi masalah. Datang ke Keprabon di jalan satu arah yang menuju Jalan Slamet Riyadi.

Penyajian nasi liwet juga tergolong unik. Wadahnya tidak menggunakan piring namun dengan daun pisang. Sayangnya warung di Keprabon menggunakan piring. Bahkan dulu nasi liwet dimasak dalam periuk tanah liat. Kini, nasi liwet digodok dalam panci aluminium. Satu tips saat Anda makan nasi liwet di Keprabon adalah tanyakan terlebih dahulu harga makanan yang akan Anda santap. Agar si pedagang agar memberikan harga yang memang sepantasnya.

19 Jul, 2011


--
Source: http://travel.kompas.com/read/xml/2011/07/19/1519410/Nasi.Liwet.Gurih.Dijamin.Ketagihan
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Biar Lancar, Ganti Ban dan Kampas Rem...

Gowes Jurnalistik 2011

Biar Lancar, Ganti Ban dan Kampas Rem...

Nurul Hidayat | I Made Asdhiana | Selasa, 19 Juli 2011 | 11:11 WIB

|

Share:

C11-11 Salah seorang Tim Gowes Pantau Jalur Mudik 2011, Hery menganti ban belakang sepedanya dan kanvas rem demi kelancaran menempuh perjalan di Semarang, Selasa (19/7/2011). Tim Gowes Pantau Jalur Mudik 2011 akan melewati jalur Gombel yang memilik tingkat kesulitan lebih dibanding jalur Alas Roban.

SEMARANG-KOMPAS.com - Salah satu anggota Tim Gowes Pantau Jalur Mudik 2011, Hery Prasetyo menganti ban belakang sepedanya dan kampas rem demi kelancaran menempuh perjalan menuju kota Solo, Jawa Tengah. Pada perjalanan tersebut nantinya Tim akan menempuh jalur Gombel yang memilik tingkat kesulitan lebih dibanding jalur Alas Roban.

"Karena kempes ban belakang harus diganti, dan kampas rem juga sepertinya harus diganti supaya lancar nanti di jalur Gombel," ujar Hery yang sedang memperbaiki sepedanya di halaman Hotel Semesta, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (19/7/2011).

Hery yang juga salah satu wartawan Kompas.com dalam mengotak-atik sepedanya dibantu Devino, pembalap profesional yang ikut dalam tim Gowes Jurnalistik. Devino terlihat lebih mahir karena sudah 20 tahun berkecimpung dengan sepeda.

Setelah semuanya rampung, Hery mencoba ban dan kampas rem yang baru dengan mengelilingi halaman Hotel Semesta, Semarang. Heri merasa yakin kalau sepedanya sudah siap menempuh jalur dengan rute Semarang-Solo sepanjang 96 km.

Sebelumnya, ternyata tidak hanya jalur Alas Roban yang ditakuti tim Gowes Jurnalistik: Pantau Mudik Jakarta-Surabaya 2011 ketika mengarungi jalur pantai utara Jawa. Ada satu jalur lagi yang membuat gentar para pegowes, tanjakan Gombel di dalam rute Semarang menuju Kota Solo, Jawa Tengah.

Rute Gombel memang terkenal sebagai medan berat bagi para pesepeda. Pasalnya, tanjakan Gombel yang berada di Jalan Setiabudi, Semarang itu sangat curam dan lebih kurang panjangnya mencapai 2 km. Setelah itu, pegowes pun harus melalui jalur rolling yaitu jalan berliku yang naik-turun.

19 Jul, 2011


--
Source: http://travel.kompas.com/read/xml/2011/07/19/1111437/Biar.Lancar..Ganti.Ban.dan.Kampas.Rem...
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Melepas Stres di Pulau Pasir Putih

Melepas Stres di Pulau Pasir Putih

K25-11 | I Made Asdhiana | Selasa, 19 Juli 2011 | 15:38 WIB

|

Share:

K25-11Pulau pasir putih yang dikenal dengan sebutan pulau Toraya adalah salah satu objek wisata di polewali mandar yang cukup banyak dikunjungi warga dan anak-anak sekolah terutama di hari libur.

K25-11Pulau pasir putih yang dikenal dengan sebutan pulau Toraya adalah salah satu objek wisata di polewali mandar yang cukup banyak dikunjungi warga dan anak-anak sekolah terutama di hari libur.

K25-11Pulau pasir putih yang dikenal dengan sebutan pulau Toraya adalah salah satu objek wisata di polewali mandar yang cukup banyak dikunjungi warga dan anak-anak sekolah terutama di hari libur.

Foto:

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com - Berwisata ke Pulau Pasir Putih di Polewali, Sulawesi Barat, pengunjung tak sekadar menikmati keindahan pasir putihnya, tapi juga panorama bawah laut yang indah. Terumbu karang dan aneka ikan cantik, bisa jadi pemandangan indah di sepanjang perjalanan Anda menuju Pulau Pasir Putih. Di sekeliling pulau terdapat aneka ikan termasuk ikan langka ada di sekitar pulau ini.

Lokasi ini bisa menjadi salah satu tempat pilihan berlibur bagi keluarga dan anak-anak sekolah di masa liburan. Lokasinya yang hanya berjarak 25 menit perjalanan menggunakan perahu motor atau sampan dari pantai Tonyamang, Polewali ini, bisa menjadi salah satu pilihan tempat liburan yang nyaman dan asri untuk melepaskan stres atau sekadar mencari suasana baru.

Pasir putihnya yang bersih, panorama bawah laut yang indah dan terumbu karang yang dipenuhi beragam ikan menjadi salah satu daya tarik pulau yang dikenal dengan sebutan Toraja atau bangsawan ini. Konon zaman dahulu pulau ini pernah dihuni sejumlah raja-raja, sehingga namanya terkenal dengan Pulau Toraja yang artinya pulau yang dihuni para bangsawan.

Di sepanjang perjalanan menuju Pulau Toraja, sejumlah pulau-pulau kecil yang belum berpenghuni bisa menjadi pemandangan yang mengasyikkan sepanjang perjalanan. Dengan menyewa perahu nelayan seharga Rp 10.000 hingga Rp 20.000 per perahu, Anda sudah mendapatkan pelayanan antar-jemput ke lokasi ini. Sebelum mendarat ke pulau ini, Anda bisa berselancar sambil berkeliling pulau untuk menyaksikan keindahan pasir putih yang menyejukkan mata dari arah laut dan keindahan terumbu karang dan aneka ikan khasnya.

Jika Anda letih atau rasa lapar menyergap usai berkeliling pulau seluas 4 hektar ini Anda tak perlu khawatir. Cukup menyediakan uang Rp 20.000 Anda sekeluarga atau rombongannya bisa berpesta bakar ikan sepuasnya. Para nelayan di sepanjang pantai Tonyamang menyediakan ikan apa saja yang siap disantap. Salah satu ikan khas yang hanya dijumpai di perairan Polewali adalah ikan Lai-Lai. Ikan segar ini bisa menjadi suguhan lezat sambil menikmati suasana pantai dan pasir putihnya yang indah.

Imam Sugiarto, salah seorang pengunjung Pulau Pasir Putih mengaku kerap berlibur bersama keluarga ke pulau ini. "Keindahan pantai dengan pasir putihnya menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Apalagi panorama lautnya yang asri, tentu menyenangkan siapa saja yang menyaksikannya," ujar Imam.

Kamaruddin, pengunjung Pulau Pasir Putih lainnya berharap pemerintah bisa membenahi fasilitas rekreasi Pulau Pasir Putih untuk menarik pengunjung lebih banyak. "Perbaikan sarana seperti pengadaan sarana pondokan atau cottage untuk memuaskan pengunjung, bisa menarik dan memancing minat pengunjung tinggal lebih lama di pulau yang asri ini," ujar Kamaruddin.

Sejumlah pengunjung Pulau Pasir Putih berharap pemerintah bisa mengajak investor menanamkan modal untuk mengembangkan sarana penunjang di lokasi wisata yang khas ini. Mereka menilai jika sarana rekreasi ini dibenahi, tidak hanya bisa meningkatkan PAD, tapi ratusan warga yang menggantungkan hidup sebagai nelayan dan penyedia jasa transportasi perahu antar-pulau bisa tertolong.

19 Jul, 2011


--
Source: http://travel.kompas.com/read/xml/2011/07/19/15385882/Melepas.Stres.di.Pulau.Pasir.Putih
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Membandingkan Khasiat Teh Hitam & Teh Hijau

Selasa, 19 Juli 2011, 15:31 WIB

Anda Nurlaila, Febry Abbdinnah

VIVAnews - Dalam sejumlah riset, para peneliti mengklaim teh hijau memiliki lebih banyak manfaat dibandingkan teh merah yang biasa tersedia di rumah. Akhirnya, banyak orang yang ingin memiliki pola hidup sehat, mengganti persediaan teh merah atau hitamnya di rumah dengan teh hijau yang lebih mahal.

Namun, baru-baru ini para peneliti lainnya mengatakan, secangkir teh merah saja sudah bagus untuk tubuh Anda. Sedangkan konsumsi teh hijau hanya membuang-buang uang.

Studi yang dilakukan oleh seorang ahli diet, Dr Carrie Ruxton, ini mengatakan bahwa sama seperti teh hijau, teh merah atau hitam pun mampu mengurangi risiko kanker, stroke, diabetes, atau kerusakan gigi.

"Studi ini telah melihat kesamaan manfaat dari kedua jenis teh. Kedua teh mampu meningkatkan fungsi vaskular yang mengarah pada penurunan risiko stroke secara signifikan," ujarnya, dikutip dari Daily Mail.

Penelitian diterbitkan pada 'Journal Network Health Dieticians'. Dalam tulisannya, Ruxton menyimpulkan, teh hitam maupun teh hijau berasal dari tanaman camellia sinesis dan memiliki senyawa yang mirip, serta menawarkan manfaat kesehatan yang sama.

Bahkan pada tahun 2011, kesimpulan dari 17 studi yang telah dilakukan mengatakan bahwa risiko serangan jantung pada orang-orang yang meminum tiga cangkir teh hitam setiap hari lebih rendah 11 persen dibanding mereka yang tidak.

Dr Catherine Hood dari Tea Advisory Panel mengatakan, "Teh hitam semakin menunjukkan manfaat kesehatan yang lebih besar. Teh hitam adalah teh hijau baru bagi mereka yang telah mengetahuinya."

Jadi, baik teh hijau maupun teh hitam sama-sama bermanfaat bagi tubuh. Terlepas dari riset, semua  pilihan  tergantung Anda. Karena, tidak perlu mahal untuk sehat. (eh)

• VIVAnews

Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

' ); $.ajax({ type: "POST", url: "/comment/load/", data: "valIndex=" + a + "&articleId=" + b + "&defaultValue=" + c, success: function(msg){ $("#loadkomen").html(msg); //$(".balasan").hide(); } }) }

19 Jul, 2011


--
Source: http://kosmo.vivanews.com/news/read/234263-membandingkan-khasiat-teh-hitam---teh-hijau
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Biar Lancar, Ganti Ban dan Kanvas Rem...

Gowes Jurnalistik 2011

Biar Lancar, Ganti Ban dan Kanvas Rem...

Nurul Hidayat | I Made Asdhiana | Selasa, 19 Juli 2011 | 11:11 WIB

|

Share:

C11-11 Salah seorang Tim Gowes Pantau Jalur Mudik 2011, Hery menganti ban belakang sepedanya dan kanvas rem demi kelancaran menempuh perjalan di Semarang, Selasa (19/7/2011). Tim Gowes Pantau Jalur Mudik 2011 akan melewati jalur Gombel yang memilik tingkat kesulitan lebih dibanding jalur Alas Roban.

SEMARANG-KOMPAS.com - Salah satu anggota Tim Gowes Pantau Jalur Mudik 2011, Hery Prasetyo menganti ban belakang sepedanya dan kanvas rem demi kelancaran menempuh perjalan menuju kota Solo, Jawa Tengah. Pada perjalanan tersebut nantinya Tim akan menempuh jalur Gombel yang memilik tingkat kesulitan lebih dibanding jalur Alas Roban.

"Karena kempes ban belakang harus diganti, dan kanvas rem juga sepertinya harus diganti supaya lancar nanti di jalur Gombel," ujar Hery yang sedang memperbaiki sepedanya di halaman Hotel Semesta, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (19/7/2011).

Hery yang juga salah satu wartawan Kompas.com dalam mengotak-atik sepedanya dibantu Devino, pembalap profesional yang ikut dalam tim Gowes Jurnalistik. Devino terlihat lebih mahir karena sudah 20 tahun berkecimpung dengan sepeda.

Setelah semuanya rampung, Hery mencoba ban dan kanvas rem yang baru dengan mengelilingi halaman Hotel Semesta, Semarang. Heri merasa yakin kalau sepedanya sudah siap menempuh jalur dengan rute Semarang-Solo sepanjang 96 km.

Sebelumnya, ternyata tidak hanya jalur Alas Roban yang ditakuti tim Gowes Jurnalistik: Pantau Mudik Jakarta-Surabaya 2011 ketika mengarungi jalur pantai utara Jawa. Ada satu jalur lagi yang membuat gentar para pegowes, tanjakan Gombel di dalam rute Semarang menuju Kota Solo, Jawa Tengah.

Rute Gombel memang terkenal sebagai medan berat bagi para pesepeda. Pasalnya, tanjakan Gombel yang berada di Jalan Setiabudi, Semarang itu sangat curam dan lebih kurang panjangnya mencapai 2 km. Setelah itu, pegowes pun harus melalui jalur rolling yaitu jalan berliku yang naik-turun.

19 Jul, 2011


--
Source: http://travel.kompas.com/read/xml/2011/07/19/1111437/Biar.Lancar..Ganti.Ban.dan.Kanvas.Rem...
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tak Semua Pegowes Bisa "Taklukkan" Gombel

Gowes Jurnalistik 2011

Tak Semua Pegowes Bisa "Taklukkan" Gombel

Ary Wibowo | Inggried | Selasa, 19 Juli 2011 | 13:49 WIB

|

Share:

Nurul Hidayat Tim Gowes Jurnalistik : Pantau Mudik Jakarta-Surabaya 2011 saat melintasi Jalur Gombel, Semarang, Selasa (19/7/2011). Jalur Gombel dari arah Semarang menuju kota Solo dianggap memiliki tingkat kesulitan lebih dibanding jalur Alas Roban.

SEMARANG, KOMPAS.com - "Wah, hebat. Enggak sembarang orang bisa kuat naik tanjakan Gombel pakai sepeda mas, kecuali atlet". Hal itu dilontarkan Luthfi, Marketing Executive, Hotel Semesta, Semarang, saat mengetahui Tim Gowes Jurnalistik: Pantau Mudik Jakarta-Semarang 2011 akan melalui tanjakan Gombel di Jalan Setiabudi, Semarang, Selasa (19/7/2011).

Tanjakan Gombel yang berlokasi di Jalan Setiabudi, Semarang, menjadi salah satu jalur yang harus ditempuh Tim Gowes Jurnalistik dalam melintasi rute Semarang-Solo. Kawasan itu memang dikenal sebagai medan berat bagi para pegowes, karena curamnya tanjakan, dan jarak yang harus ditempuh mencapai 2 kilometer dengan kemiringan hampir 45 derajat.

"Saya saja yang sering naik sepeda ini, agak malas lewat tanjakan itu," kata Luthfi saat mendampingi Tim Gowes melakukan persiapan.

GUntuk melalui tanjakan tersebut, Tim Gowes melakukan persiapan yang cukup matang. Sebelum berangkat, beberapa anggota tim tampak memperbaiki onderdil sepeda yang mereka gunakan. Salah satunya, mengganti ban dan ampas rem sepeda.

"Semoga lancar semua. Mudah-mudahan lebih aktual faktanya, dan sukses sampai Surabaya nanti," ujar Luthfi saat melepas kepergian Tim Gowes Jurnalistik dari Hotel Semesta, Semarang.

Perjalanan hari kelima Tim Gowes Jurnalistik kali ini dimulai dari Semarang, melewati beberapa kota, diantaranya Ungaran, Salatiga, dan Boyolali, sebelum menuju check point kelima di Solo, Jawa Tengah. Sama seperti hari-hari sebelumnya, tim berencana menempuh kurang lebih 96 km untuk mencapai kota Solo sebelum malam tiba.

19 Jul, 2011


--
Source: http://travel.kompas.com/read/xml/2011/07/19/13495568/Tak.Semua.Pegowes.Bisa.Taklukkan.Gombel
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Jaswan Thada, Area Pemakaman Mewah

Wisata India

Jaswan Thada, Area Pemakaman Mewah

I Made Asdhiana | Selasa, 19 Juli 2011 | 10:25 WIB

|

Share:

ARTA/WWW.KAKIGATEL.COMJaswan Thada, area pemakaman ini terbilang mewah dan unik, karena sebagian besar penghuni areal ini semuanya berstatus memiliki tahta di kerajaan Jodhpur.

ARTA/WWW.KAKIGATEL.COMJaswan Thada, area pemakaman ini terbilang mewah dan unik, karena sebagian besar penghuni areal ini semuanya berstatus memiliki tahta di kerajaan Jodhpur.

ARTA/WWW.KAKIGATEL.COMJaswan Thada, area pemakaman ini terbilang mewah dan unik, karena sebagian besar penghuni areal ini semuanya berstatus memiliki tahta di kerajaan Jodhpur.

ARTA/WWW.KAKIGATEL.COMJaswan Thada, area pemakaman ini terbilang mewah dan unik, karena sebagian besar penghuni areal ini semuanya berstatus memiliki tahta di kerajaan Jodhpur.

Foto:

KOMPAS.com - India memang penuh cerita, berbagai penampilan budayanya lekat dalam masing-masing daerah. Begitu pula rangkaian seni arsitektur India terkenal berbagai ragam. Dan Jodhpur merupakan salah satunya, di kenal sebagai gudang seni arsitektur beraliran Rajashtani yang menyadur karya Rajputana dari masa ke masa. Setelah Mehrangarh Fort yang terlihat kokoh sepanjang masa, kini giliran Jaswan Thada memperkenalan dirinya sebagai karya seni cenotaph alias area pemakaman terluas di sepanjang gurun pasir Thar. Letaknya tak jauh bersebelahan dengan dataran tinggi yang menampilkan kemegahan Mehrangarh Fort.

Area pemakaman ini terbilang mewah dan unik, karena sebagian besar penghuni areal ini semuanya berstatus memiliki tahta di kerajaan Jodhpur. Jaswan Thada sendiri didedikasikan untuk Raja Jaswant Singh II, sang penguasa Rathorre ke 33 Jodhpur, tepatnya di abad ke-19. Ialah, Maharaja Sardar Singh yang tak lain merupakan putera mahkota Jaswant Singh II, yang kukuh membangun area pemakaman ini untuk mengenang sang Ayah.

Didalam Jaswant Thada sendiri terdapat 2 makam, yaitu makam Raja Jaswant Singh II dengan makam Raja Sardar Singh. Masih disekitar area ini, terdapat juga tempat krematorium yang juga khusus diperuntukkan untuk keluarga atau keturunan kerajaan.

Para pengunjung biasanya khusus membawa sebuah sapu tangan yang telah dituliskan doa atau pengharapan, untuk kemudian diikatkan pada beberapa rantai atau tiang disekitar makam. Tercatat mitos dari warga sekitar, bahwa dengan menuliskan pengharapan atau keinginan kita di sehelai saputangan dan mengikatkannya di sekitar makam, dipercaya akan memujarabkan doa atau keinginan kita, konon mereka percaya, bahwa raja-raja terdahulu merupakan orang-orang suci.

Soal gaya arsitektur bangunan disini tidak perlu ditanyakan, seni ukir khas Rajputana tersebar dimana-mana, dari mulai Jaswant Thada yang megah, hingga makam-makam yang dibuat mirip seperti kuil kecil disepanjang area tersebut, area pemakaman ini mirip dengan area pemakaman China yang terkenal dengan nisan yang dihias bahkan dibentuk seperti rumah. Aksen marmer putih hingga yang marmer berjenis Jali atau bata merah nampak memaksimalkan tampilan dari ukiran serta ornamen kuil di dindingnya.

Belum lagi dengan hiburan dari para seniman musik yang banyak mangkal di sekitar area ini, tabuhan gendang hingga alunan seruling India dipadu dengan tarian khas Hindi nampak memberi warna lain dari area pemakaman yang sedikit menyebarkan aroma mistis ini.

Letak Jaswant Thada kurang lebih 1 km bersebelahan dengan Mehrangarh Fort, dapat diakses dengan berjalan kaki. Kebanyakan para pengunjung menggunakan jasa carter taksi atau bajaj untuk mengunjungi sekitaran kota Jodpur, termasuk Jaswant Thada. Harga bajaj terbilang paling murah untuk sekali jalan atau satu tujuan saja, para supir bajaj yang kebanyakan adalah lokal sekitar biasa mematok harga 60 INR hingga 80 INR dari pusat kota menuju Jaswant Thada.

Soal akomodasi tempat tinggal, kebanyakan para wisatawan memburu penginapan disekitar bazaar rakyat dekat landmark kota, Clock Tower. Ki Haveli Hotel termasuk hunian paling mewah dan terdekat dengan Jaswant Thada dan Mehrangarh Fort. Harga penginapan sekitar area backpacker ini mencakup 300 INR hingga 1000 INR. Setiap penginapan biasanya juga menyediakan pelayanan restoran yang berpusat di rooftop hotel. Hotel Ki Haveli terkenal dengan citarasa masakannya yang lezat khas bumbu Rajashtani. Patut dicoba. (Zee)

19 Jul, 2011


--
Source: http://travel.kompas.com/read/xml/2011/07/19/10254545/Jaswan.Thada..Area.Pemakaman.Mewah
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tim Gowes Siap "Ngos-ngosan" Menuju Solo

Gowes Jurnalistik 2011

Tim Gowes Siap "Ngos-ngosan" Menuju Solo

Ary Wibowo | Inggried | Selasa, 19 Juli 2011 | 10:54 WIB

|

Share:

KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Anggota tim gowes jurnalistik Pantau Jalur Mudik 2011, melintasi jembatan yang sedang diperbaiki ketika memasuki Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Senin (18/7/2011). Lalu lintas kendaraan bermotor harus menggunakan satu jalur. Memasuki Kendal dari arah Pekalongan, terdapat dua titik rawan kemacetan karena adanya perbaikan jembatan. KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT

SEMARANG, KOMPAS.com - Ternyata tidak hanya jalur Alas Roban yang ditakuti Tim Gowes Jurnalistik: Pantau Jalur Mudik Jakarta-Surabaya 2011 ketika mengarungi jalur Pantai Utara Jawa. Ada satu jalur lagi yang membuat "dag-dig-dug" para pegowes, yaitu tanjakan Gombel yang terdapat di rute Semarang-Solo (96 km).

"Sebenarnya tidak terlalu jauh jaraknya. Tapi tanjakannya itu yang pasti akan membuat kita ngos-ngosan," kata Marta Murfeni, pebalap sepeda profesional yang ikut dalam Tim Gowes Jurnalistik, sesaat sebelum meninggalkan Hotel Semesta, Semarang, Selasa (19/7/2011).

Tanjakan Gombel, kata Marta, memang terkenal sebagai medan berat bagi para pegowes. Pasalnya, tanjakan yang berada di Jalan Setiabudi, Semarang itu sangat curam dan lebih kurang panjangnya mencapai 2 km. Setelah itu, pegowes juga harus melalui jalur rolling yaitu jalan berliku yang naik-turun.

"Tapi nanti di Boyolali tidak terlalu berat, karena jalurnya tinggal datar saja," tambahnya.

Sementara itu, pada etape kali ini, Tim Gowes tidak diperkuat oleh salah satu anggotanya, wartawan Kompas.com, Fikria Hidayat. Ia harus kembali ke Jakarta karena harus mengikuti ekspedisi lainnya. Begitu juga, dengan Irwan, anggota komunitas sepeda di Semarang yang sempat ikut rombongan Gowes Jurnalistik pada etape Pekalongan-Semarang. Namun, Irwan berjanji untuk tetap mengiringi tim menuju check point terakhir di Surabaya.

Tim Gowes Jurnalistik telah menempuh jarak total 520 km dari Jakarta hingga Semarang, Jawa Tengah. Pada rute Pekalongan-Semarang, titik kemacetan masih banyak ditemui. Penyebabnya karena perbaikan jembatan dan jalan rusak, sehingga beberapa ruas jalan harus dibuat satu lajur. Selain itu, ditemui juga beberapa jalur yang cukup berbahaya bagi para pengguna jalan. Salah satunya yakni jalur Batang (Alas Roban) yang memiliki banyak turunan tajam, tanjakan, dan tikungan.

"Jalur kemarin itu (Alas Roban) sudah berat, tapi sekarang katanya lebih berat lagi jalurnya," ujar Wisnubrata, wartawan Kompas.com yang ikut dalam Tim Gowes, sebelum melakukan perjalanan menuju Solo.

Perjalanan hari kelima Tim Gowes Jurnalistik kali ini dimulai dari Semarang, melewati beberapa kota, diantaranya Ungaran, Salatiga, dan Boyolali, sebelum menuju check point kelima di Solo, Jawa Tengah. Sama seperti hari-hari sebelumnya, tim berencana menempuh kurang lebih 96 km untuk mencapai kota Solo sebelum malam tiba. 

19 Jul, 2011


--
Source: http://travel.kompas.com/read/xml/2011/07/19/10541288/Tim.Gowes.Siap.Ngos.ngosan.Menuju.Solo
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Kereta Maglev Shanghai Super Cepat

Kereta Maglev Shanghai Super Cepat

Ambrosius Harto | I Made Asdhiana | Selasa, 19 Juli 2011 | 10:51 WIB

|

Share:

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO Kereta super cepat dan amat nyaman Shanghai Maglev Train di Stasiun LongYang, Shanghai, China, Selasa (19/7/2011). Kereta ini hanya menghabiskan sekitar tujuh menit untuk mencapai Bandar Udara Internasional Shanghai berjarak sekitar 31 kilometer dengan kecepatan maksimum 431 kilometer per jam.

SHANGHAI, KOMPAS.com - Shanghai Maglev Train merupakan kereta yang super cepat dan amat nyaman. Demikian penilaian Kompas saat menjajal kereta ini dari Stasiun LongYang ke Bandar Udara Internasional Shanghai di Shanghai, China, Selasa (19/7/2011).

Kereta berteknologi rel bermagnet ini hanya membutuhkan waktu 7 menit 20 detik dari stasiun ke bandara berjarak 31 kilometer. Dengan bus, perjalanan menghabiskan waktu 33 menit itu pun dengan catatan tanpa terkendala macet.

Kereta ini bisa melaju dengan kecepatan maksimum 431 kilometer per jam. Dari kecepatan 0 km/jam sampai 431 km/jam, kereta ini membutuhkan waktu 2 menit 58 detik.

Selain cepat, kereta ini juga sangat nyaman. Interiornya seperti kondisi dalam pesawat dengan tempat duduk sofa, bersih, berpenyejuk udara, dan modern. Stasiun LongYang pun resik, rapi, dan modern. (Ambrosius Harto, dari Shanghai)

19 Jul, 2011


--
Source: http://travel.kompas.com/read/xml/2011/07/19/10514185/Kereta.Maglev.Shanghai.Super.Cepat
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Blog Archive