Monday, May 3, 2010

Gambaran Penatalaksanaan Cara Memandikan Neonatus 0-7 Hari Terhadap Ibu Nifas Di BPS

KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MEMANDIKAN NEONATUS
0-7 HARI TERHADAP IBU NIFAS DI BPS


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Ilmu kedokteran semakin hari semakin berkembang, demikian juga dengan penemuan tentang cara memandikan bayi baru lahir. Dahulu bayi yang baru lahir biasanya langsung dimandikan, baik itu oleh bidan maupun dukun beranak. Saat itu memandikan bayi yang baru lahir secara langsung merupakan prosedur dalam bidang kedokteran. Tujuannya karena bayi yang berlumuran darah, lendir, mekonium atau kotoran bayi yang warnanya hitam kental, air ketuban, dan lemak berwarna putih yang kelihatan sangat menjijikkan. Saat ini sudah berubah, sekarang bayi baru lahir baru dimandikan enam jam dari waktu kelahirannya atau setelah suhu tubuhnya stabil.
Bayi yang baru lahir sebaiknya tidak dimandikan walaupun dengan air hangat, karena belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Jika bayi dibasahi dengan air maka panas yang ada dalam tubuhnya akan terambil sehingga suhu tubuhnya akan turun drastis. Jika bayi yang baru lahir kehilangan suhu tubuh, darah yang mengalir dalam tubuh yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuhnya akan berkurang. Dengan demikian beberapa organ tubuh akan membiru, misalnya tangan, wajah, kaki dan kulit. Bukan hanya itu, akibat kekurangan oksigen tersebut maka beberapa sel-sel tubuh akan mengalami kerusakan, terutama sel-sel di daerah otak yang sensitif. Bagaimana jika sel-sel disekitar otak mengalami kerusakan, apa yang akan terjadi pada bayi kita kelak?.
Mandi untuk bayi bukan hanya untuk membersihkan tubuh tetapi mandi merupakan hal yang sangat menyenangkan bayi. Untuk orang tua mandi merupakan alat komunikasi antara orang tua dengan bayi, karena saat mandi orang tua biasanya melakukan sentuhan, usapan dan berbicara langsung walaupun bayi tidak mengerti arti ucapan tersebut.
Memandikan bayi bagi ibu nifas merupakan pekerjaan yang berat dan membingungkan karena kondisi tali pusat bayi yang masih basah, di tambah lagi dengan kondisi ibu setelah proses persalinan yang melelahkan dan bertambah sulit jika ibu bersalin post sesio secarea atau post vakum. Namun jika mereka mengetahui pedoman memandikan bayi karena sebelumnya sudah pernah memiliki anak maka hal itu bukanlah pekerjaan yang berat terkadang ibu nifas menyerahkan anaknya pada baby sitter, pembantu atau kepada orang tanya untuk memandikan sang bayi, bahkan terkadang orang tua ditahan tinggal di rumahnya sampai berbulan-bulan agar ada yang memandikan sang buah hati. Padahal jika ada kemauan, memandikan bayi ini bukan merupakan hal yang sulit (Dr. Bona Simanungkalit, DH.SM., M.Kes., 2007).
Dalam penelitian ini peneliti membatasi cara memandikan bayi dengan: mengukur suhu air menggunakan siku/punggung tangan, membersihkan mata bayi dengan kapas basah, menggunakan shampoo dan menyabuni dengan waslap, cara memegang bayi saat memandikan, membersihkan tali pusat saat memandikan dan cara membersihkan kemaluan.
Dari hasil pra survey pada bulan Februari sampai bulan Maret ternyata di wilayah kerja BPS ...................... Desa Bernai Kecamatan Tigeneneng ...................... jumlah ibu bersalin sebanyak 40 orang, dari hasil presurvey pada ibu nifas diketahui bahwa dari kempat puluh orang ibu nifas tersebut 27 diantaranya belum dapat memandikan bayinya dengan benar, hal ini diketahui pengamatan para ibu pada saat memandikan dan beberapa pertanyaan yang diajukan kepada para ibu nifas mengenai cara memandikan bayinya serta dari banyaknya ibu nifas yang menanyakan tentang bagaimana cara memandikan bayinya, karena kebanyakan dari mereka masih takut untuk memandikan bayinya sendiri.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penulis merumuskan permasalahan penelitian yaitu “Bagaimana Penatalaksanaan Cara Memandikan Neonatus 0-7 Hari Terhadap Ibu Nifas di BPS ...................... Tegineneng ......................”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut:
1. Sifat Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Ibu Nifas di BPS ...................... Tegineneng .......................
3. Objek Penelitian : Cara Memandikan Neonatus 0-7 hari.
4. Lokasi Penelitian : BPS ...................... Tegineneng .......................
5. Waktu Penelitian : Maret – Mei 2008.
6. Alasan Penelitian : berdasarkan pra suvey ternyata banyak ibu nifas yang belum memandikan bayinya.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah diketahuinya Gambaran Penatalaksanaan Cara Memandikan Neonatus 0-7 Hari terhadap Ibu Nifas di BPS ...................... Tegineneng .......................

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman dalam melakukan penulisan ilmiah, menambah pengetahuan dan wawasan penulis.
2. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai masukan guna meningkatkan dan memaksimumkan pelayanan kepada ibu nifas dan neonatus.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya untuk dapat menambah referensi perpustakaan untuk bahan acuan penelitian yang akan datang.
4. Bagi Iptek (Depkes)
Sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang kesehatan.

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MEMANDIKAN NEONATUS 0-7 HARI TERHADAP IBU NIFAS DI BPS
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)

Gambaran Pelaksanaan 7T Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas

KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PELAKSANAAN 7T PADA IBU HAMIL
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pembangunan kesehatan di Indonesia dewasa ini masih diwarnai oleh rawannya derajat kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok yang paling rawan yaitu ibu hamil, ibu bersalin dan bagi pada masa perinatal. Hal ini ditandai oleh tingginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi.
Angka kematian ibu memang sangat tinggi, terbukti WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu meninggal saat hamil dan bersalin. Oleh karena itulah maka sejak tahun 1990 sampai 1991 Departemen Kesehatan dibantu oleh WHO, UNICEF dan UNDP melaksanakan assessment safe mother hood sampai saat ini. Hasil kegiatan dari assessment safe mother hood adalah rekomendasi rencana kegiatan 5 (lima) tahun. Departemen Kesehatan merekomendasi dalam bentuk strategi operasional dalam mempercepat penurunan AKI (Syaifuddin, dkk, 2002). Terbukti pada tahun 2002/2003 menurut Survey Demografi dan Kesehatan AKI di Indonesia turun menjadi 307/100.000 kelahiran hidup (www.tempo.co.id/medika/arsip. 2005).
Kebijakan Depkes dalam upaya mempercepat penurunan AKI pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “Empat pilar Safe Motherhood”. Dewasa ini program keluarga berencana sebagai pilar pertama telah dianggap berhasil. Namun, untuk mendukung upaya mempercepat penurunan AKI diperlukan penajaman sasaran agar kejadian “4 terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, terlalu banyak anak)” dan kehamilan yang tidak diinginkan dapat ditekan serendah mungkin. Akses terhadap pelayanan antenatal sebagai pilar kedua cukup baik, yaitu 87% pada tahun 1997; namun mutunya masih perlu ditingkatkan terus. Persalinan yang aman- sebagai pilar ketiga – yang dikategorikan sebagai pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, pada 1997 baru mencapai 69%. Untuk mencapai AKI sekitar 200 per 100.000 kelahiran hidup diperlukan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan sekitar angka 80%. Cakupan pelayanan obstetri esensial – sebagai pilar keempat – masih sangat rendah, dan mutunya belum optimal.
Untuk membantu pemerintah dalam mencapai penurunan AKI di Indonesia, maka pemerintah Propinsi Lampung mempunyai target cakupan pelayanan antental (K4) 84% dengan akses pelayanan antenatal (K4) 92,2% cakupan antenatal (K4) tahun 2004 mencapai 81,75% sudah hampir memenuhi target yang ditetapkan oleh pemerintah Propinsi Lampung. Sedang target cakupan pelayanan antenatal (K4) di Kabupaten ......... ......... 82% baru terlaksana 78,73%. Adapun akses pelayanan antenatal (K1) 85,7% (Dinkes Propinsi Lampung, 2004). Di Puskesmas Kalirejo sendiri mempunyai target cakupan pelayanan antenatal (K4) 80%, target akses pelayanan antenatal (K1) 88% (PWSKIA Propinsi Lampung, 2004). Sedangkan jumlah akses (K1) pada bulan Januari 2006 di Puskesmas Kalirejo sendiri adalah 6,5%, cakupan pelayanan antenatal (K4) bulan Januari 5,8%.
Dengan target cakupan pelayanan antenatal yang telah ditetapkan oleh pemerintah Propinsi Lampung dan Kabupaten ......... ......... serta Puskesmas Kalirejo khususnya dapat membantu pemerintah dalam menurunkan AKI di Indonesia melalui pelayanan antenatal. Pelayanan antenatal diberikan oleh petugas kesehatan baik yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta. Pelayanan antenatalpun diberikan di Puskesmas-Puskesmas yang tersebar di Indonesia. Saat ini dalam pelaksanaannya, Puskesmas menghadapi banyak masalah. Sejalan dengan otonomi daerah, Puskesmas diupayakan direvitalisasi, antara lain lewat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat (Walujani M, dalam http://jpkm-online.net/news.2005 ).
Puskesmas dalam memberikan pelayanan antenatal hendaknya menggunakan asuhan standar minimal yang telah ditetapkan oleh pemerintah sejak tahun 1999 menjadi standar “7T” yang dahulunya hanya “5T”. Standar minimal ibu hamil “7T” tersebut yaitu timbang berat badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri, pemberian imunisasi TT, pemberian tablet Fe, tes penyakit menular seksual serta temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
Dari data pra survey yang dilakukan di Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ........., pelaksanaan pelayanan 7T di wilayah kerja Puskesmas Kalirejo rata-rata 60,05% pada bulan Januari 2006. Untuk rata-rata kunjungan ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... setiap bulannya 94 ibu hamil yang berkunjung untuk memeriksakan kehamilannya. Adapun data pra survey kunjungan ibu hamil tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut.

Tabel 1.1 Jumlah Kunjungan Ibu Hamil di Wilayah Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... Pada Bulan Juli 2005 s.d Januari 2006.

No Bulan/Tahun Jumlah Kunjungan Ibu Hamil
1
2
3
4
5
6
7 Juli 2005
Agustus 2005
September 2005
Oktober 2005
November 2005
Desember 2005
Januari 2006 92
95
91
96
94
97
96
Total 661
Jumlah Rata-rata Kunjungan 94,42
Sumber: Pemantauan Wilayah Setempat Kesejahteraan Ibu dan Anak (PWS-KIA) Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton ......... ......... 2006.

Dari data tersebut penulis ingin mengetahui “Gambaran Pelaksanaan “7T” Di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... .........”.

1.2 Identifikasi Masalah
Dari latar belakang di atas, maka penulis mengidentifikasikan masalah yang ada bahwa pada tahun 1999 pemerintah mencanangkan asuhan pelayanan antenatal menjadi standar 7T. Hal ini dimaksudkan untuk membantu dalam menurunkan AKI di ......... ......... khususnya di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo yang mana target K1 di Propinsi Lampung 92,2%, K4 84%. Untuk wilayah kerja Puskesmas Kalirejo target K1 88%, K4 84%.

1.3 Rumusan Masalah dan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah pada karya tulis ilmiah ini yaitu bagaimana gambaran pelaksanaan “7T” di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada Bulan April-Juni tahun 2006.

1.4 Pertanyaan Penelitian
1.4.1 Bagaimanakah pelaksanaan pada penimbangan berat badan ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006?
1.4.2 Bagaimanakah pelaksanaan pemeriksaan tekanan darah pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006?
1.4.3 Bagaimanakah pelaksanaan pada ibu hamil terhadap pemeriksaan pada fundus uteri di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006?
1.4.4 Bagaimanakah pelaksanaan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006?
1.4.5 Bagaimanakah pelaksanaan pemberian tabel Fe pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006?
1.4.6 Bagaimanakah pelaksanaan pemeriksaan penyakit menular seksual (PMS) pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006?
1.4.7 Bagaimanakah pelaksanaan temu wicara pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006?

1.5 Tujuan Penelitian
1.5.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan 7T pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006.
1.5.2 Tujuan Khusus
1) Untuk dapat mengidentifikasikan gambaran pelaksanaan pada penimbangan berat badan ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006.
2) Untuk dapat mengidentifikasikan gambaran pelaksanaan pemeriksaan tekanan darah pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006.
3) Untuk dapat mengidentifikasikan gambaran pelaksanaan pada ibu hamil terhadap pemeriksaan pada fundus uteri di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006.
4) Untuk dapat mengidentifikasikan gambaran pelaksanaan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006.
5) Untuk dapat mengidentifikasikan gambaran pelaksanaan pemberian tabel Fe pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006.
6) Untuk dapat mengidentifikasikan gambaran pelaksanaan pemeriksaan Penyakit Menular Seksual (PMS) pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006.
7) Bagaimanakah pelaksanaan temu wicara pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada tahun 2006.

1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Bagi Ibu Hamil
Manfaat penelitian bagi ibu hamil, yaitu untuk memberikan tambahan pengetahuan tentang pelayanan/asuhan standar “7T” (timbang berat badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, pemberian tabelt Fe, tes PMS, dan temu wicara).
1.6.2 Bagi Puskesmas
Sebagai masukan guna meningkatkan dan memaksimalkan pelayanan antenatal dengan menggunakan asuhan standar “7T” yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
1.6.3 Bagi Peneliti
Sebagai penerapan mata kuliah Metodologi Penelitian dan menambah pengalaman dalam penulisan KTI, serta sebagai masukan pengetahuan tentang pelayanan/asuhan standar “7T” (timbang berat badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, pemberian tabelt Fe, tes PMS, dan temu wicara).
1.6.4 Bagi Pihak Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan di Perpustakaan mengenai pelaksanaan “7T” (timbang berat badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, pemberian tabelt Fe, tes PMS, dan temu wicara)
1.6.5 Bagi Peneliti Lainnya
Dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian-penelitian di tempat lain.

1.7 Ruang Lingkup Penelitian
Jenis Penelitian : Deskriptif
Subjek : Pelaksanaan “7T”
Objek : Ibu hamil
Lokasi penelitian : Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ..........
Waktu : April sampai dengan Juni tahun 2006
Alasan Penelitian : Ingin mengetahui gambaran pelaksanaan “7T” di Wilayah Kerja Puskesmas Kalirejo Kecamatan Negrikaton Kabupaten ......... ......... pada Bulan April-Juni tahun 2006.


silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PELAKSANAAN 7T PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)

Gambaran Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas

KTI KEBIDANAN
GAMBARAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit diare kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150-430 per seribu penduduk setahnnya. Dengan upaya yang sekarang telah dilaksanakan, angka kematian dirumah sakit dapat ditekan menjadi kurang dari 3%.
Hippocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Dibagian ilmu kesehatan anak FKUI / RSCM diare diartikan sebagai buang airbesar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. (Ilmu Kesehatan Anak, 2005).
Diare merupakan buang air besar (defeksi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja) dengan tinja yang berbentuk cairan setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi defeksi yang lebih meningkat (Kapita Selekta Kedokteran, 2001).
Diare atau penyakit mencret pada saat ini di Indonesia masih menjadi penyebab kematian yang utama, yaitu nomor dua pada balita dan nomor tiga pada semua umur, penyakit diare terjadi pada 28 dari 100 penduduk (www.google.com)
Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali.
Gastroentritis sering dijuluki sebagai flu perut, pada dasarnya, diare dan muntah adalah upaya tubuh untuk mengeluarkan racun dan patogen yang menyerang saluran pencernaan, dengan kata lain, gastroentritis adalah suatu mekanisme alamiah untuk melindungi saluran cerna. Jadi gastrointeritis itu adalah gejala, bukan penyakit. Gastrointritis merupakan alarm, pertanda ada sesuatu yang tengah menyerang saluran cerna.
Yang pertama harus dilakukan adalah pikirkan penyebabnya, kedua, cegah terjadinya dehidrasi. (Bayiku Anakku dr. Purnawati S. Pujiarto, SPAK, MMPed, 2005)
Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari. Diare kronik bagi bayi dan anak adalah diare yang berlangsung lebih dari batas waktu dua minggu.sebagian besar ibu-ibu tidak mengetahui penyebab diare pada anaknya, seperti makanan yang diberikan atau lingkungan yang kotor yang tidak disadari dapat menyebabkan diare disini peneliti mengambil batasan pada faktor-faktor penyebab diare adalah faktor lingkungan, makanan, infeksi virus atau infeksi bakteri pada saluran pencernaan, malabsorbsi, dan faktor psikologis.
Diare masih merupakan masalah kesehatan nasional karena angka kejadian dan angka kematiannya yang masih tinggi. Balita di Indonesia rata-rata akan mengalami diare 2-3 kali pertahun. Dengan dikenalkannya oralit, angka kematian akibat diare telah turun, yang lain dapat merupakan penyakit diare pada anak. Dari hasil prasurvey Puskesmas ............. merupakan urutan kedua paling tinggi kejadian diare pada balita pada tahun 2007 terdapat 91 balita yang menderita diare.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan permasalahan penelitian yaitu "Bagaimanakah kejadian diare pada balita di Puskesmas ............. ....... ......"?

C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini, ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut :
1. Sifat penelitian : Diskriptif
2. Subjek penelitian : Seluruh balita yang menderita diare di desa ............. ....... .......
3. Objek penelitian : Kejadian diare
4. Lokasi penelitian : Wilayah ............. ....... ......
5. Waktu penelitian : Juni 2008
6. Alasan Penelitian : Masih banyaknya ditemukan balita yang menderita diare di Puskesmas ............. ....... ...... tahun 2007 yaitu 91 balita.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah diketahuinya gambaran kejadian diare di Puskesmas ............. ....... .......

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan memberikan manfaat :
1. Bagi ibu
Menambah pengetahuan ibu tentang penyebab diare.
2. Bagi Petugas kesehatan
Meningkatkan mutu pelayanan dan pencegahan diare.
3. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya untuk dapat menambah referensi perpustakaan untuk bahan acuan penelitian yang akan datang.
4. Bagi penelitian
Sebagai pengalaman penulisan ilmiah, menambah pengetahuan dan wawasan dalam bidang kesehatan masyarakat.


silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
GAMBARAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)

Cara Menghitung Tubuh Gemuk atau Kurus !

































Saat ingin menurunkan berat badan, seseorang diharuskan untuk menghitung berapa indeks massa tubuhnya (BMI). Karena hasil dari perhitungan BMI ini bisa menentukan apakah seseorang sudah ideal, kurus atau termasuk kelebihan berat badan.

Cara untuk menghitung nilai indeks massa tubuh berdasarkan nilai tinggi dan berat badan yang dimiliki. Perhitungan ini berlaku sama untuk laki-laki maupun perempuan.

Seperti dikutip dari BBC, cara menghitungnya dengan mengkuadratkan nilai tinggi badan (dalam satuan meter). Lalu nilai berat badan (dalam satuan kilogram) dibagi hasil kudrat dari tinggi badan tersebut.

Misalnya seseorang perempuan berusia 30 tahun memiliki berat badan 60 kg dan tinggi badan 160 cm (1,6 meter). Cara menghitungnya pertama kali mengkuadratkan tinggi badan 1,6 X 1,6 hasilnya 2,56. Lalu nilai berat badan dibagi hasil perkalian dari tinggi badan yaitu 60 : 2,56 hasilnya 23,43. Berarti nilai BMI dari perempuan tersebut sebesar 23,43 dan masuk ke dalam kelompok ideal/normal.

Kategori BMI adalah:
1. Nilai indeks massa tubuh kurang dari 19 tergolong ke dalam kelompok kurus.
2. Nilai 19-24,9 masuk ke dalam kelompok ideal.
3. Nilai antara 25-29,9 masuk kelompok kelebihan berat badan (gemuk).
4. Jika mencapai nilai 30 atau lebih maka orang tersebut masuk ke dalam kelompok obesitas.

Risiko kesehatan akan bertambah besar jika seseorang memiliki nilai indeks massa tubuh 25 atau lebih. Karena akan semakin besar kemungkinan orang tersebut terkena penyakit jika tidak diimbangi dengan pola hidup sehat dan berolahraga.

Risiko kesehatan yang kemungkinan dimiliki oleh orang dengan nilai indeks massa tubuh di atas 25 adalah tekanan darah tinggi, kolesterol, penyakit jantung, stroke, diabetes, arthritis, sakit pinggang atau juga berhubungan dengan psikologisnya.

Bagi yang memiliki indeks massa tubuh besar tidak ada salahnya untuk mulai melakukan diet yang sehatdengan mengurangi asupan kalori, perbanyak aktivitas fisik, menerapkan pola hidup yang sehat atau dengan berkonsultasi ke dokter gizi.

BMI merupakan salah satu alat untuk mengetahui apakah seseorang perlu melakukan diet atau tidak, tapi BMI ini hanya untuk melihat kelebihan berat badan akibat lemak. Jadi untuk orang yang berotot, atletis, ibu hamil, pembacaan BMI mungkin akan kurang tepat


sumber : http://artikel-kesehatan-online.blogspot.com/2010/01/cara-menghitung-tubuh-gemuk-atau-kurus.html

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keenganan Akseptor KB Untuk Menggunakan Alat Kontrasepsi IUD di Puskesmas

KTI KEBIDANAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEENGANAN AKSEPTOR KB UNTUK MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai jenis masalah. Masalah utama yang dihadapi diIndonesia adalah dibidang kependudukan yang masih tingginya pertumbuhan penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu Pemerintah terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhan dengan Program Keluarga Berencana.
Program KB ini dirintis sejak tahun 1951 dan terus berkembang, sehingga pada tahun 1970 terbentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini salah satu tujuannya adalah penjarangan kehamilan mengunakan metode kontrasepsi dan menciptakan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi seluruh masyarakat melalui usaha-usaha perencanaan dan pengendalian penduduk.
Pendapat Malthus yang dikutip oleh Manuaba (1998) mengemukakan bahwa pertumbuhan dan kemampuan mengembangkan sumber daya alam laksana deret hitung, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan manusia laksana deret ukur, sehingga pada suatu titik sumber daya alam tidak mampu menampung pertumbuhan manusia telah menjadi kenyataan.
Berdasarkan pendapat di atas, diharapkan setiap keluarga memperhatikan dan merencanakan jumlah keluarga yang diinginkan berkenaan dengan hal tersebut. Paradigma baru Program KB Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi “Keluarga berkualitas 2015” untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas adalah keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, Harmonis, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sarwono, 2003 ).
Gerakan KB Nasional selama ini telah berhasil mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun keluarga kecil yang makin mandiri. Keberhasilan ini mutlak harus diperhatikan bahkan terus ditingkatkan karena pencapaian tersebut belum merata. Sementara ini kegiatan Keluarga Berencana masih kurangnya dalam pengunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Bila dilihat dari cara pemakaian alat kontasepsi dapat dikatakan bahwa 51,21 % akseptor KB memilih Suntikan sebagai alat kontrasepsi, 40,02 % memilih Pil, 4,93 % memilih Implant 2,72 % memilih IUD dan lainnya 1,11 %. Pada umumnya masyarakat memilih metode non MKJP. Sehingga metode KB MKJP seperti Intra Uterine Devices (IUD). Implamt, Medis Operatif Pria (MOP) dan Medis Operatif Wanita (MOW) kurang diminati. (www. bkkbn. go. id, 2005).
Berdasarkan data dari BKKBN propinsi Lampung akseptor aktif IUD sebanyak 13,01%. Kabupaten Kota Madya Metro jumlah peserta KB aktif IUD 2.541 orang atau 14,61 % dari seluruh metode KB. Menurut data yang diperoleh dari Puskesmas ........... ....... ...... tahun 2006, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) adalah 4.037 jiwa, sedangkan yang menjadi peserta KB aktif adalah 3.632 jiwa. Dengan perincian sebagai berikut : KB Pil 1.341 orang atau 36,92 %, KB Suntik 1.174 orang atau 32,32 %, KB Implant 548 orang atau 15,08 %, KB IUD 395 orang atau 10,87%, KB MOW 146 orang atau 4,01 %, KB MOP 18 orang atau 0,49%, KB Kondom 10 orang atau 0,27 %.
Berdasarkan prasurvey di Puskesmas ........... ....... ...... bahwa pengguna alat kontrasepsi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang khususnya IUD dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor misalnya faktor tingkat ekonomi, usia, paritas, pendidikan. Pada umumnya PUS (Pasangan Usia Subur) yang telah menjadi akseptor KB lebih banyak menggunakan pil, suntik dan kondom. Namun pada akhir-akhir ini akseptor lebih dianjurkan untuk menggunakan program Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), yaitu alat kontrasepsi spiral (IUD), susuk (Implant) dan kontap (Vasektomi dan Tubektomi). Metode ini lebih ditekankan karena MKJP dianggap lebih efektif dan lebih mantap dibandingkan dengan alat kontrasepsi pil, kondom maupun suntikan(www.bkkbn.go.id,1998). Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian mengenai “Faktor-faktor yang mempengaruhi Keenganan Akseptor KB untuk Menggunakan Alat Kontrasepsi IUD ” .

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil prasurvey di Puskesmas ........... ....... ...... dari jumlah peserta KB aktif 3,632orang yang hanya menjadi peserta KB IUD hanya 10,87%. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor misalnya faktor tingkat ekonomi, usia, paritas, pendidikan. Dengan demikian peneliti ingin mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut “Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas ........... Kecamatan ....... ...... tahun 2006” .

1.4 Pertanyaan Peneliti
1.4.1 Apakah tingkat ekonomi berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas ...........?
1.4.2 Apakah usia berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas ........... ?
1.4.3 Apakah paritas berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD diPuskesmas ...........?
1.4.4 Apakah pendidikan berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas ...........?

1.5 Tujuan
1.5.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD.
1.5.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui apakah tingkat ekonomi berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD.
b. Untuk mengetahui apakah usia berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD.
c. Untuk mengetahui apakah paritas berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD.
d. Untuk mengetahui apakah pendidikan berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD.

1.6 Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas ........... Kecamatan ....... ......
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna peningkatan pelayanan kontasepsi IUD demi terciptanya metode kontraswpsi efektif dan berjangka panjang.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya dalam memperbanyak referensi tentang alat kontrasepsi IUD dan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya.
3. Bagi akseptor IUD (Responden)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi masyarakat setempat untuk mengerti dan memahami tentang fungsi, manfaat, serta efektifitas kontrasepsi IUD sehingga masyarakat semakin mengenal dan pemakaian kontrasepsi IUD semakin bertambah.
4. Bagi Peneliti
Penelitian ini sangat berguna untuk menambah pengalaman dan wawasan dalam penelitian serta sebagai bahan untuk menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama kuliah.
5. Bagi Peneliti Lain
Agar dapat dijadikan masukan dalam penelitian serupa dan dapat lebih memperdalam penelitian yang sudah ada.

1.7 Ruang Lingkup
Ruang Lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Objek Penelitian : Faktor- faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD.
2. Subjek Penelitian : Seluruh akseptor KB di wilayah Pusksesmas ........... Kecamatan ....... ......
3. Lokasi Peneliti : Wilayah Puskesmas ........... Kecamatan ....... ......
4. Waktu Penelitian :
5. Jenis Penelitian : Studi Deskriptif dengan pendekatan cross sectional
6. Alasan : Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas ........... ....... ...... Tahun 2006


silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEENGANAN AKSEPTOR KB UNTUK MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)

Gambaran Ibu Melakukan Penyapihan Anak Kurang Dari 2 Tahun di Desa

KTI KEBIDANAN
GAMBARAN IBU MELAKUKAN PENYAPIHAN ANAK
KURANG DARI 2 TAHUN DI DESA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Seperti kita ketahui bahwa alam telah menyediakan makanan yang paling sesuai untuk bayi, yaitu ASI. Bagi anak, menerima ASI merupakan sebuah kebutuhan yang tak boleh terputus. Sebagaimana tercantum dalam Konvensi Hak-hak Anak tahun 1990 antara lain menegaskan bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak. Yang berarti selain ASI merupakan kebutuhan, juga merupakan hak asasi bayi yang harus dipenuhi oleh orang tuanya (Sastroasmoro,. 2007).
Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam kandungan disertai dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak usia dini, terutama pemberian ASI eksklusif (Sofyan, 2005).
Asi ekslusif adalah pemberian ASI (air susu ibu) sedini mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air putih, sampai bayi berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan, bayi mulai dikenalkan dengan makanan lain dan tetap diberikan ASI sampai bayi berumur 2 tahun (Purwanti, 2004).
Dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 223 juga secara eksplisit dianjurkan agar para ibu memberi ASI sampai bayi berusia 2 tahun.Dan sudah sejak lama juga organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan pemberian ASI eksklusif, yakni ASI saja tanpa tambahan apapun, selama 6 bulan (Pujiarto, 2005).
Berbagai kepustakaan menginformasikan bahwa pada waktu dilahirkan, jumlah sel otak bayi telah mencapai 66% dan beratnya 25% dari ukuran otak orang dewasa, priode pertumbuhan otak yang paling kritis dimulai sejak janin sampai anak berusia 2 tahun, jadi apabila pada masa tersebut seorang anak menderita gizi dapat berpengaruh negatif terhadap jumlah dan ukuran sel otaknya, dalam hal ini pemberian ASI hingga 2 tahun sangat dianjurkan (Krisnatuti & Yenrina, 2000).
Analisis gizi telah memperlihatkan bahwa Asi mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi dalam bulan-bulan pertama kehidupannya. Yaitu : kalori, protein, lemak, air, mineral, vitamin dan lain-lainnya terdapat dalam jumlah yang cukup dengan komposisi yang seimbang (Sastroasmoro, 2007).
Selain mengandung banyak gizi, ASI juga mudah dicerna bayi dan bersifat steril (tidak mengandung kuman). Pemberian ASI juga mempunyai efek emosional luar biasa yang mempengaruhi hubungan batin ibu dan anak serta perkembangan jiwa anak.
Bayi yang tidak mendapat ASI beresiko kekurangan gizi, lantaran selain tidak dilengkapi oleh zat kekebalan, susu formula dibuat dengan takaran yang belum tentu seluruhnya sesuai dengan kebutuhan bayi (Nadesul, 2007).
Keputusan berhenti menyusui adalah pilihan masing-masing ibu. Usia menyapih biasanya 2 tahun, namun ada juga yang sampai 4 tahun atau lebih. Menurut beberapa penelitian komposisi ASI terus berubah hingga anak usia 2 tahun dan masih tetap mengandung nutrisi penting yang berguna untuk membangun system kekebalan tubuh anak.
Gencaran promosi susu formula menjadi penyebab menurunnya jumlah bayi yang mendapat Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif.
Hasil penelitian yang dilakukan di Biro Konsultan Anak di Rumah Sakit UGM Yogyakarta tahun 1976 menunjukkan bahwa anak yang disusui sampai dengan satu tahun 50,6%. Sedangkan data dari Survey Demokrasi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1991 bahwa ibu, yang memberi ASI pada bayi 0-3 bulan yaitu 47% di perkotaan dan 55% di pedesaan (Depkes 1992) dari laporan SDKI tahun 1994 menunjukkan bahwa ibu-ibu yang memberikan ASI ekslusif kepada bayinya mencapai 47% sedangkan pada repelita VI ditargetkan 80% (Arifin Siregar, 2004).
Berdasarkan profil kesehatan di Puskesmas Pekalongan tahun 2007 yang memberi ASI ekslusif sebesar 547 orang atau 38,6% dari 1468 ibu menyusui (Dinkes Kab. Lam-tim, 2007).
Desa ........... ..... merupakan bagian dari 6 kelurahan yang berada di kecamatan Pekalongan, Berdasarkan data presurvei di desa ........... ..... 32B ditemukan jumlah ibu yang memiliki anak berusia <>

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
GAMBARAN IBU MELAKUKAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI DESA
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)

Daftar Harga PC, Komputer Mei 2010

Intel Pentium IV
40 GB Sata 7200 RPM, 512 DDR 2, CD R, Keyboard Mouse Optik, Stavolt 500 Watt, Speaker Multimedia (tanpa Monitor
Rp. 1.500.000,-
Intel Atom N270
Monitor CRT GTC 40 GB Sata 7200 RPM, 1 GB DDR 2, CD R, Keyboard Mouse Optik, Stavolt 500 Watt, Speaker Multimedia
Rp. 2.650.000,-
Intel Core 2 Duo 2,4 Ghz
Monitor LCD 19”, Simbada Casing 480 Watt, Memory DDR 2 GB, HDD 250, G Force 7300 256 MB PCI Express, DVD RW, Key Board Mouse Optic, PAD Stavol 500 Watt, Simbada CST 6600
RP. 5.900.000,-
Nb : Bisa Pesan Sesuai Keinginan
Canon IP1980 Rp.490.000
Canon MP 198 Rp. 780.000
Printer HPDes F2400 Rp. 750.000
(Scan, Foto copy, Printing)
Epson R230 Rp 1.750.000
Epson LX 300+ Rp. 1.700.000
Canon Scan Rp. 650.000
Kingston 2 GB Rp. 100.000,-
Kingston 4 GB Rp. 140.000,-
Kingston 8 GB Rp 230.000,-
Lcd relion 15” Rp. 1.050.000
UPS Montero 700 volt Rp. 550.000
UPS Prolink 700 volt Rp. 650.000
LCD LG 18,5” Rp. 1.550.000
DVD RW LG Rp. 350.000
Menerima Pemasangan Infus Printer Baru dan bekas dengan system selang pembuangan.
Canon 60 ml Rp. 90 ribu
Canon 100 ml Rp. 150 ribu
CanonEkslusif Rp.200 ribu
Epson Rp. 230.000
HP Rp. 250.000
Garansi Infus 1 Bulan
Harddisk 160 Rp. 445.000
Harddisk 320 Rp. 550.000
Harddisk 500 Rp. 685.000
MB Asus P5KPL Rp. 650.000
MB Jet Way Rp. 450.000
MUSE S 790+ MMC 2 GB GARANSI 1 TAHUN 780,000
MUSE N 97 + MMC 2GB GARANSI 1 TAHUN 1,495,000
IMO B819 (TANPA MEMORI) GARANSI 1 TAHUN 875,000
IMOBILE 200 GARANSI 1 TAHUN 390,000
NEXCOM 333 (non memori) GARANSI 1 TAHUN 790,000
MUSE S790 + MEMORI IGB GARANSI 1 TAHUN 880,000
MUSE E550 + MEMORI 1 GB GARANSI 1 TAHUN 1,095,000
MUSE N 1650 GARANSI 1 TAHUN 880,000
D’FONE S 22 GARANSI 1 TAHUN 750,000

Daftar Laptop Terbaru Mei 2010

Semakin maju dan berkembangnya jaman, teknologi pun semakin canggih. Banyak teknologi terbaru di ciptakan, mulai dari teknologi komunikasi seperti handphone, atau teknologi IT semacam komputer dan laptop.
Untuk mencari informasi di internet pasti dibutuhkan alat seperti komputer atau yang lebih simpel dengan laptop, karna bisa dibawa kemana saja, ngga mungkin kan kamu bawa2 komputer..!!
Dipostingan kali ini, saya coba menghadirkan foto laptop terbaru 2010, mungkin ada yang sudah memiliki, atau baru akan keluar tahun 2010 mendatang.


Berikut Foto Laptop Terbaru 2010 :
> Axioo Neon MLC012P
Axioo Neon MLC012P
> HP Envy
HP Envy
> Acer Aspire 5738DG-6165
Acer Aspire 5738DG-6165
> Apple Macbook
Apple Macbook
> ASUS K50IJ
ASUS K50IJ
> HP Pavilion dm3
HP Pavilion dm3
–> Toshiba Satelite L450
Toshiba Satelite L450
–> Lenovo ThinkPad SL510
Lenovo ThinkPad SL510
Bentuk Laptop yang cantik dan modern, dilengkapi juga dengan fitur2 dan teknologi canggih didalamnya, dengan Foto laptop terbaru 2010 diatas mudah2-an bisa menambah pengetahuan kamu tentang laptop.

Daftar Harga Laptop, Netbook Mei 2010


ACER Aspire 4736-661G16Mn
Core2 Duo T6600, 1GB DDR2, 160GB HDD, DVD±RW, GbE NIC, WiFi, VGA Intel GMA 4500 220MB (shared), Camera, 14″ WXGA, Rp. 7.350.000,-
ACER 4732z
Intel DualCore 2,0 Ghz / Ram 1Gb / Hdd 160Gb SATA / Dvd+R/RW Dual Layer / Card Reader / Wifi / Layar 14” / WEBCAM /Modem / NIC10/100 Mbps / Wireless
Rp. 4.750.000,-
Acer 4736z Dualcore
Intel Pentium Dual Core T4200 processor 1 GB DDR3 RAM 250 14.1-inch HD Acer 5-in-1 card reader 3 USB v2.0 ports
Rp. 5.800.000,-
ACER ASPIRE ONE 531h
Intel Atom, 1GB DDR2, 250GB HDD, NIC, WiFi,, VGA Intel GMA950 64MB (shared), Camera, 10.1 WSVGA Rp. 3.100.000,-
Toshiba NB305 N280 Brown
Windows XP, Intel® Atom, 1GB DDR2 RAM, 160GB HDD 3D HDD Protection sensor 10.1-inch diagonal Long-life 3-cell 802.11 b/g wireless, 10/100 Ethernet Built-in Webcam.
Rp. 4.400.000,-
Toshiba SAT L510
Dual Core T4500, 1GB DDR3, 320GB HDD,DVD±RW, NIC, WiFi, Bluetooth, VGA Intel GMA 4500 268MB (shared), Camera, 14″ WXGA,
Rp. 5.750.000,-
SATELLITE L510-S4017B [New]
CPU Core i3 M330 (2.13) / 2048 / 320.0 / DVD+R/RW / 14.1”CSV/ i.LINK™ /Web Cam / Bluetooth /USB SATA Port / Reader / Wrls) +Lan
Rp. 7.550.000,-
AXIOO Pico
Atom N280, 1GB DDR2, 320GB HDD, NIC, WiFi, VGA Intel GMA950 128MB (shared), Camera, 10.1″ WSVGA, Win7 Starter, with 6-cell battery
Rp. 2.900.000,-
Axioo NEON MNC 5286
Celeron T3000, 1GB DDR2, 250GB HDD, DVD/RW, 56K Modem, NIC, WiFi, VGA SIS Mirage3 256MB (shared), Camera, 14.1″ WXGA, Non OS
Rp. 4.400.000,-
COMPAQ CQ 510
Core 2 Duo-330, 2GB DDR2, 320GB HDD, DVD±RW, 56K Modem, NIC, WiFi, VGA Intel GMA 4500 220MB (shared), Camera, 14.1.
Rp. 5.690.000,-
HP PavilionTouchsmart TX2 Tablet 1375
AMD Ultra X2 RM75 2,2 3GB DDR2, 320GB HDD, DVD±RW, Finger Print56K Modem, NIC, WiFi, ATI Radeon HD3200, 12,1 Layar Sentuh, Layar Bisa Di puter Camera, win 7 Pro
Rp. 9.700.000,-
SONY VAIO VPC W121AX [New]
Intel® Atom™ Processor N280 (1.66 GHz)/ 1 GB DDR2 SDRAM/ 250 GB/ Intel® Graphics Media Accelerator 950/ 10.1″ Wide (WXGA: 1366 x 768) TFT Display / Wireless LAN/ Webcam/ 1.19 kg Windows® 7 Starter Rp. 5.900.000,-
SONY VAIO VPC
Intel® Core™ i5-520M Processor 2.40 GHz with Turbo Boost up to 2.93 GHz/ 4 GB DDR3/ 500 GB/ DVD / NVIDIA® GeForce® GT 310M GPU w/CUDA™ 16.4″ Wide (WXGA++: 1600×900)/ Wireless LAN/Bluetooth/ Webcam/ 3.1 kg/ Windows® 7 Home Weight 2.5Kg RP. 12.700.000,-
Enduro – T58 With ATI Radeon
AMD Athlon Neo MV40 (1.6GHz, FSB1600MHz, Cache 512KB), AMD M690T, 2 GB DDR2 667MHz SODIMM (Max 2GB in 1 slot), 250GB Serial ATA 5400RPM, DVDRW Super Multi Ultra Slim, 13.3″ LCD WXGA (1280 x 800)
Rp. 6.200.000,-
NOTEBOOK MINI ECOMO JETWAY (display paling cantik)
INTEL ATOM N280 1,6 GHZ, MEMORY DDR2 1 GB, HARDDISK 160 GB SATA, WEBCAM 1,3 MEGA PIXEL, SCREEN 10,1′
Rp. 2.890.000,-
ELEVO 10.2
Processor: Intel Atom processor 1G Graphic: Intel Generation 3.5: 2.5″9.5mm HDD SATA 160GB WiFi, IEEE802.11.B/G
Webcam: Cardreader: SD/MMC/MS Rp. 2.750.000,-
ADVANCE 10.2 Processor: Intel Atom processor 1G Graphic: Intel Generation 3.5: 2.5″9.5mm HDD SATA 160GB WiFi, IEEE802.11.B/G
Webcam: Cardreader: SD/MMC/MS Rp. 2.550.000,-
Zyrex Bee 10.2
Processor: Intel Atom processor 1G Graphic: Intel Generation 3.5: 2.5″9.5mm HDD SATA 160GB WiFi, IEEE802.11.B/G
Webcam: Cardreader: SD/MMC/MS Rp. 2.750.000,-

10 Cara Jitu Memanfaatkan Twitter bagi Blogger

Twitter jadi wadah yang menyenangkan dan bermanfaat untuk mempromosikan blog Anda. Melalui microblogging ini, Anda dapat mengarahkan lalu lintas di dunia maya untuk mengunjunginya. Dari situ, Anda dapat mengembangkan blog untuk membangun relasi yang lebih luas.
Berikut ini sejumlah saran bagaimana Anda memanfaatkan Twitter untuk blog Anda:


1. Drive Traffic
Twitter memiliki efek yang diibaratkan dengan penyebaran virus dalam tubuh. Bisnis Anda, jika dikemas dengan menarik, dapat menyebar dengan cepat di komunitas Twitter. Misalnya jika Anda meluncurkan fitur baru di blog Anda dan menarik, lantas kirim ke Twitter sehingga muncul para pengikut. Ada kemungkinan mereka akan menyebarkan berita tersebut.

2. Jaringan dengan People Like-Minded
Twitter memang diatur untuk berperan sebagai media berjaringan. Orang-orang “mengikuti” pengguna yang men-tweet dan menikmati sesuai dengan kepentingannya. Alhasil, Anda dapat terhubung dengan orang-orang yang berpikiran sama yang menggunakan Twitter.

3. Membuat Kontak Bisnis
Anda dapat menghubungkan pengguna Twitter untuk menjalin kontak bisnis. Bisa juga Anda memanfaatkan microblogging ini untuk mencari seseorang agar membantu bisnis.

4. Membangun Citra Diri Sebagai Pakar
Anda dapat mencitrakan diri sebagai pakar di suatu bidang. Hal itu dilakukan dengan berkomunikasi melalui tweet tentang materi ilmu pengetahuan yang Anda kuasai, menjawab pertanyaan melalui tweet, dan mencari kontak baru. Jika upaya ini berhasil, Anda akan dipandang sebagai seorang ahli sehingga kredibilitas blog Anda lebih tinggi.

5. Dapatkan Gagasan untuk Posting Blog
Jika Anda kehabisan ide untuk menulis di blog, Twitter dapat membantu mendapatkannya. Ada dapat mengikuti isu apa yang sedang ramai dibicarakan. Bisa juga Anda kirim posting untuk meminta masukan.

6. Ajukan Pertanyaan
Jangan sungkan mengajukan pertanyaan ketika sedang ber-tweet. Dari jawaban yang masuk, Ada dapat mempelajari sesuatu yang baru dan menemukan blogger baru serta pengguna untuk berhubungan dengan ini.

7. Menyediakan Liputan Langsung
Jika Anda menghadiri sebuah konferensi atau rapat dan ingin berbagi, Anda dapat mengirim beberapa tweet secara real-time untuk berbagi informasi. Dari situ Anda belajar kemudian menjelaskan pada tweet tentang posting blog.

8. Tanyalah Kepada Dig, Stumble, dan Alat Bantu Lainnya
Twitter adalah tempat yang tepat untuk meminta para pengikut. Posting blog atau stumble dig. Anda juga dapat meminta pengguna lain ngeblog tentang posting dengan link. Bisa juga menyebarkan berita kepada pengikut mereka. Ini dapat mengarahkan lalu lintas di dunia maya ke blog Anda lebih banyak.

9. Akurasi dan Memeriksa Fakta
Bayangkan Anda sedang menulis untuk blog tentang acara baru, tetapi tidak tahu bagaimana mengeja nama-nama orang yang terlibat di dalamnya. Kirim ke Twitter untuk mendapatkan informasi yang Anda butuhkan.

10. Mencari dan Bagikan Sumber Daya
Di dalam blog perlu adanya kutipan, wawancara, atau posting tamu. Jika Anda menawarkan layanan sebagai sumber, kirimlah ke Twitter.

Sejarah. Penemu Motherboard

Motherboard pertama kali dibuat pada tahun 1977, oleh Apple untuk Apple II-nya. Sebagai informasi, dulu komponen-komponen komputer seperti seperti CPU dan memori ditempatkan di satu kartu tersendiri, dan dihubungkan dengan kabel-kabel. Tampilannya sangat ruwet.



Karena sangat repot menghubungkan satu komponen PC dengan komponen lainnya, para pengembang produk komputer punya ide untuk membuat satu tempat khusus untuk menampung berbagai periferal komputer. Terciptalah suatu papan lebar yang berisis beragam slot sebagai tempat menyolokkan komponen-komponen PC. Papan itu dinamai motherboard.

Pada pengembang awal dari motherboard adalah perusahaan Micronics, Mylex, AMI, Huppauge, Orchid Technology, Elitegroup, dan DFI. Selain itu, masih ada beberapa produsen moherboard lain dari Taiwan. Antara tahun 1980 sampai 1990, penggabungan beberapa fungsi periferal ke dalammoterboard mendorong pencitraan motherboard ke dalam bentuk yang makin ekonomis. Integrasi pertama yang dilakukan adalah dengan menggabungkan slot kibor, mouse, dan floopy drive, serta port serial dan port paralel ke dalam motherboard. Jika Anda perhatikan, hingga saat ini standar bentuk dari motherboard pun masih berubah-ubah. Standar awal yang pertama kali digunakan digunakan adalah PC/XT, dan dipakai IBM. Setelah itu, muncul lagi AT (Advance Technology). Setelah AT, muncul standar baru yang hingga kini masih digunakan, yaitu ATX (Advance Technology Extension). Standar ATX lalu dimodifikasi menjadi Mini ATX dan Micro ATX.

Saat ini, Intel juga mengeluarkan standar BTX (Balanced Technology Extension). Sayangnya, pasar belum tertarik untuk menggunakannya. Produsen komputer VIA juga mengeluarkan standar yang dipakainya sendiri, yaitu mini ITX. Perubahan dalam desain dan teknologi motherboard terus berkembang. Di awal tahun 2000-an, pengintegrasian diperluas. Motherboard kini dilengkapi fitur sound dan VGA yang langsung menempel di badannya, istilah lainnya onboard. Fitur lainnya yang kini bisa didapat dari beberapa motherboard berupa konektivitas USB, FireWire, dan LAN.

Daftar Harga Hp Sony Ericsson Mei 2010

Harga Ponsel Sony Ericsson (Rp.000) sesuai Buyers Guide PULSA edisi 178 Th VII/2010/10 - 23 Maret (Baru, Second dan Jual Kembali).

Sony Ericsson X5 : 9,300

Sony Ericsson Satio : 6,350 , 5,750 , 5,250

Sony Ericsson X2 : 6,250

Sony Ericsson Aino : 4,975 , 4,500 , 4,000

Sony Ericsson Xperia X1 : 4,050 , 3,250 , 2,750

Sony Ericsson W995 : 3,925 , 3,300 , 2,850



Sony Ericsson C905i : 3,700 , 3,000 , 2,500

Sony Ericsson Yari : 2,450

Sony Ericsson C903 : 2,300 , 1,800 , 1,450

Sony Ericsson W980 : 2,275 , 1,850 , 1,500

Sony Ericsson C902i : 2,050 , 1,600 , 1,300

Sony Ericsson C901 : 2,025 , 1,550 , 1,250

Sony Ericsson W705 : 2,000 , 1,750 , 1,500

Sony Ericsson Jalou F100 : 1,900

Sony Ericsson W595i : 1,790 , 1,400 , 1,100

Sony Ericsson W760 : 1,725 , 1,400 , 1,100

Sony Ericsson W508 : 1,640 , 1,300 , 1,050

Sony Ericsson T707 : 1,625 , 1,300 , 1,050

Sony Ericsson T715 : 1,625 , 1,300 , 1,050

Sony Ericsson T700 : 1,585 , 1,200 , 1,000

Sony Ericsson C510 : 1,535 , 1,200 , 1,000

Sony Ericsson K770i : 1,425 , 1,100 , 900

Sony Ericsson W580i : 1,315 , 1,000 , 800

Sony Ericsson J105 Naite : 1,135 , 850 , 700

Sony Ericsson W395 : 1,060 , 800 , 650

Sony Ericsson S500 : 1,015 , 800 , 650

Sony Ericsson F305 : 960 , 700 , 550

Sony Ericsson W350i : 830 , 600 , 500

Sony Ericsson S312 : 725 , 500 , 400

Sony Ericsson T303 : 700 , 500 , 400

Sony Ericsson W205 : 670 , 500 , 400

Sony Ericsson R306 : 620 , 400 , 350

Sony Ericsson R300 : 475 , 350 , 300

Sony Ericsson K330 : 425 , 350 , 300

Daftar Lengkap Nama Perusahaan BUMN Indonesia

Sejak krisis ekonomi beberapa tahun kemarin, pemerintah telah melakukan privatisasi beberapa perusahaan BUMN seperti PT. Indosat Tbk, PT Krakatau Steel, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, IV, dan VII, Bank Tabungan Negara (BTN) dan masih banyak lagi.

Sampai dengan saya menulis artikel ini, tepatnya tanggal 27 April 2010, jumlah perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang dimiliki pemerintah Indonesia sesuai situs resmi BUMN adalah 149 perusahaan BUMN utama dan belum termasuk anak perusahaannya. Berikut ini adalah daftar info lengkap nama perusahaan BUMN Indonesia sesuai data terbaru. Perusahaan BUMN saya kelompokkan sesuai bidang kerja dari BUMN tersebut.


Perbankan
PT Bank Negara Indonesia, Tbk (BNI)
PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk (BRI)
PT Bank Tabungan Negara (BTN)
PT Bank Ekspor Indonesia (BEI)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Asuransi
PT Asuransi ABRI (ASABRI)
PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI)
PT Asuransi Jasa Indonesia (JASINDO)
PT Asuransi Jasa Raharja
PT Asuransi Jiwasraya
PT Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES)
PT Asuransi Kredit Indonesia (ASKRINDO)
PT Jamsostek
PT Reasuransi Umum Indonesia (RUI)
PT Taspen

Jasa Pembiayaan
PT Danareksa
PT Kliring Berjangka Indonesia
Perum Pegadaian
PT Permodalan Nasional Madani
PT PANN (Persero)
Perum Jaminan Kredit Indonesia

Jasa Konstruksi
PT Adhi Karya Tbk
PT Brantas Abipraya
PT Hutama Karya
PT Istaka Karya
PT Nindya Karya
Perum Pembangunan Perumahan Nasional
PT Pembangunan Perumahan
PT Wijaya Karya Tbk.
PT Waskita Karya

Konsultan Konstruksi
PT Bina Karya
PT Indah Karya
PT Indra Karya
PT Virama Karya
PT Yodya Karya

Penunjang Konstruksi
PT Amarta Karya
PT Jasa Marga

Jasa Penilai
PT Biro Klasifikasi Indonesia
PT Surveyor Indonesia
PT Sucofindo
PT Survai Udara Penas

Jasa Lainnya
Perum Jasa Tirta I
Perum Jasa Tirta II
PT Perusahaan Pengelola Aset

Logistik dan Pariwisata
Pelabuhan
PT Pelabuhan Indonesia I
PT Pelabuhan Indonesia II (PELINDO II)
PT Pelabuhan Indonesia III
PT Pelabuhan Indonesia IV

Pelayaran
PT ASDP Indonesia Ferry
PT Bahtera Adhiguna
PT Djakarta Lloyd
PT Pelayaran Nasional Indonesia

Kebandarudaraan
PT Angkasa Pura I
PT Angkasa Pura II (AP II)

Angkutan Darat
Perum DAMRI
PT Kereta Api Indonesia
Perum PPD

Logistik
PT Bhanda Ghara Reksa
Perum Bulog
PT Pos Indonesia
PT Varuna Tirta Prakasya

Perdagangan
PT PP Berdikari
PT Perusahaan Perdagangan Indonesia
PT Sarinah

Jasa Pengerukan
PT Pengerukan Indonesia
Industri Farmasi
PT Bio Farma
PT Indofarma Tbk
PT Kimia Farma Tbk

Pariwisata
PT Hotel Indonesia Natour
Bali Tourism Development Corporation (BTDC)
PT TWC Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko

Kawasan Industri
PT Kawasan Berikat Nusantara
PT Kawasan Industri Medan
PT Kawasan Industri Makasar
PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma
PT Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero Batam)

Usaha Penerbangan
PT Garuda Indonesia
PT Merpati Nusantara Airlines

Agro Industri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan
Perkebunan
PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I)
PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II)
PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III)
PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV)
PT Perkebunan Nusantara V (PTPN V)
PT Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI)
PT Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII)
PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII)
PT Perkebunan Nusantara IX
PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X)
PT Perkebunan Nusantara XI (PTPN XI)
PT Perkebunan Nusantara XII
PT Perkebunan Nusantara XIII (PTPN XIII)
PT Perkebunan Nusantara XIV (PTPN XIV)
PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI)

Pertanian
PT Pertani
PT Sang Hyang Seri

Perikanan
PT Perikanan Samodra Besar
PT Perikanan Nusantara
Perum Prasarana Perikanan Samudra

Pupuk
PT Pupuk Sriwidjaja

Kehutanan
PT Inhutani I
PT Inhutani II
PT Inhutani III
PT Inhutani IV
PT Inhutani V
Perum Perhutani

Kertas
PT Kertas Kraft Aceh
PT Kertas Leces

Percetakan dan Penerbitan
PT Balai Pustaka
Perum Percetakan Negara Indonesia
PT Pradnya Paramita
Perum Percetakan Uang RI

Pertambangan, Industri Strategis, Energi dan Telekomunikasi
Dok dan Perkapalan
PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari
PT Dok dan Perkapalan Surabaya
PT Industri Kapal Indonesia
PT PAL

Pertambangan
PT Aneka Tambang, Tbk (ANTAM)
PT Pertamina
PT Sarana Karya
PT Timah Tbk

Energi
PT Energy Management Indonesia (Persero)
PT Perusahaan Gas Negara Tbk
PT PLN
PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk

Industri Berbasis Teknologi
PT Batan Teknologi
PT Dirgantara Indonesia (PTDI)
PT Inka
PT Inti
PT LEN Industri

Baja dan Konstruksi Baja
PT Barata Indonesia
PT Boma Bisma Indra
PT Krakatau Steel

Telekomunikasi
Perum ANTARA
Perum Produksi Film Negara
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

Industri Pertahanan
PT DAHANA
PT PINDAD

Semen
PT Semen Baturaja
PT Semen Gresik Tbk

Industri Sandang
PT Cambrics Primissima
PT Ind. Sandang Nusantara

Aneka Industri
PT Garam
PT Iglas
PT Industri Soda Indonesia

Perusahaan Patungan Minoritas*
Asuransi
PT Atmindo
PT Bahana PUI
PT Prasadha Pamunah Limbah Industri
PT Rekayasa Industri

Kawasan Industri
PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung
PT Surabaya Industrial Estate Rungkut

Semoga saja pemerintah tidak lagi melakukan privatisasi perusahaan BUMN tersebut di atas, akan tetapi dibenahi agar kinerja perusahaan BUMN tersebut lebih maksimal. Dengan mengetahui daftar lengkap perusahaan BUMN Indonesia, maka akan memudahkan Anda untuk mencari kerja dan lowongan kerja BUMN. Demikianlah informasi perusahaan BUMN Indonesia terbaru yang dapat saya hadirkan. Jika ingin bertanya tentang perusahaan BUMN Indonesia lebih lengkap, silakan kirim lewat form komentar.

Nokia Luncurkan Nokia X2

Nokia X2

Nokia kembali memberikan kejutan, setelah sebelumnya meluncurkan Nokia N8 pada beberapa hari yang lalu. Kini Nokia kembali meluncurkan ponsel music terbarunya yakni Nokia X2.
Nokia X2 adalah ponsel music berplatform S40 yang dilengkapi dengan stereo speaker dan radio FM dengan RDS dan antenna internal. Selain itu Nokia X2 dilengkapi juga dengan layar QVGA 2.2 inci, kamera 5 megapiksel dengan fixed focus, Bluetooth, 3.5mm audio jack dan slot microSD hot-swap.

Nokia X2
Nokia X2 yang memiliki tebal 13mm dengan berat hanya 81 gram ini akan tersedia pada akhir bulan Juni 2010 ini di Eropa dan menyusul di negara lainnya dengan banderol harga sekitar 85 Euro atau sekitar Rp. 1,1 Jutaan . Nokia X2 akan tersedia dalam dua varian warna yakni Blue on Silver dan Red on Black. Yud

Wi-Fire: Penguat Sinyal Wi-Fi yang kecil dengan jangkauan sampai 300 m



Tentu saja hampir semua notebook model baru saat ini sudah dilengkapi dengan koneksi Wi-Fi tetapi yang menjadi pertanyaan seberapa jauh jangkauan sinyal Wi-Fi yang ada di notebook?

Wi-Fire adalah sebuah alat untuk memperluas jangkauan sinyal Wi-Fi (Wi-Fi Range Extender) dengan koneksi USB yang mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan alat sejenis.
Wi-Fire dapat membuat anda tetap tersambung dengan sinyal Wi-Fi walaupun jarak anda dengan router (basis Wi-Fi) berada di sekitar 304 m.

Kelebihan lain yang dimiliki Wi-Fire adalah bentuk fisiknya yang cukup kecil yaitu 102 x 14 x 57 mm dan lebih ringan (sekitar 30% dibanding produk sejenis) sehingga bisa dipasang di atas layar notebook.
Terakhir, Wi-Fire juga bisa digunakan dengan sistim operasi Linux dan juga Mac OS-X. Tetapi sayangnya alat ini hanya mendukung Wi-Fi dengan format 802.11b/g saja atau dengan kata lain belum mendukung 802.11n.
Wi-Fire dijual dengan harga US$ 59.00, menurut kami cukup murah dibandingkan anda tidak bisa berinternet ria hanya gara-gara jarak. :-)
Jika tertarik, anda bisa membelinya di HField Store tetapi kami tidak tahu apakah mereka akan mengirim ke Indonesia atau tidak.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anemia dalam Kehamilan di BPS

KTI KEBIDANAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA
DALAM KEHAMILAN DI BPS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan AKI Negara-negara ASEAN lainnya. Menurut SDKI tahun 2002/2003 AKI sebesar 307 per 100.000 kehamilah hidup, sementara itu di negara tetangga Malaysia sebesar 36 per 100.000 kelahiran hidup, di Singapura 6 per 100.000 kelahiran hidup, bahkan di Vietnam 160 per 100.000 kelahiran hidup. Berbagai upaya telah dilaksanakan untuk menurunkan AKI, termasuk diantaranya program safe Motherhood yang telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1988, upaya ini telah berhasil menurunkan AKI dari 450 per 100.000 kelahiran hidup ditahun 1985 menjadi 334 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997.
Tiga pesan kunci MPS adalah setiap persalinan ditolon oleh tenaga kesehtan terlatih, setiap komplikasi obsterti dan neontal mendapat pelayanan yang adekut dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Dari penatalaksanaan MPS, target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. (www.hanyawanita.com:2006)
Frekuensi ibu hami dengan anemia di Indonesia relatif tinggi yaitu 63,5% sedang di Amerika 6%. Kekurangan gizi dan perhatian yang kurang terdapat ibu hamil merupakan perdisposis anemia divisiensi di Indonesia (Saifuddin, 2006 : 281). Menurut WHO kejadian anemia kehamilan berkisar antara 20% sampai 89% dengan menetapkan Hb 11 gr% sebagai dasarnya. Angka anemia kehamilan di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Hoo Swie Tjiong menemukan angka anemia kehamilan 3,8 % pada trimester 1,13% trimester II < style="font-weight: bold;">B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pernyataan di atas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana tingkat pengetahuan Ibu Hamil tentang anemia di BPS ........... ........ ...... Lampung-Timur?”.

C. Ruang Lingkup
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Ibu hamil Trimester III dengan usia kehamilan di atas 37 minggu
3. Objek Penelitian : Ibu hamil Trimester III dengan usia kehamilan di atas 37 minggu yang mengalami anemia di BPS ........... ........ .......
4. Lokasi Penelitian : BPS ........... ........ ......
5. Waktu Penelitian : April s/d Mei 2008
6. Alasan : Karena masih ada ibu hamil dengan anemia di BPS ........... ........ .......
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada ibu hamil di BPS ........... ........ .......
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil dengan anemia di BPS ........... ........ ...... ........... .....
b. Untuk mengetahui berapa banyak ibu hamil yang mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan di BPS ........... ........ ...... ........... .....
c. Untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi ibu hamil dengan anemia di BPS ........... ........ ...... ........... .....

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Dapat menambah wawasan penerapan hasil studi
2. Lokasi penelitian
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan penatalaksanaan anemia
3. Bagi institusi pendidikan
Untuk menambah refrensi perpustakaan dan untuk bahan acuan penelitian yang akan datang.
4. Bagi penelitian lain
Dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian-penelitian di tempat ini.


silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DI BPS
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)


Hubungan Berat Badan Lahir dengan Ruptur Perineum Persalinan Normal pada Primigravida

KTI KEBIDANAN
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTUR PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masing-masing adalah 373/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 1995) serta 60/1000 kelahiran hidup (Susenas 1995), maka pada tahun 2003 AKI turun menjadi 307/100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2003), sedangkan AKB turun menjadi 37/1000 kelahiran hidup (SDKI, 2003). Sementara itu, umur harapan hidup rata-rata meningkat dari 63,20 tahun pada tahun 1995 menjadi 66,2 tahun pada tahun 2003 (SDKI, 2003).
Indonesia membuat rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS) untuk tahun 2001 - 2010, dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah dengan visi "Kehamilan dan Persalinan di Indonesia Berlangsung Aman, serta yang Dilahirkan Hidup dan Sehat," dengan misinya adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup (Saiffudin : 2002).
Perdarahan postpartum menjadi penyebab utama 40% kematian ibu di Indonesia. Jalan lahir merupakan penyebab kedua perdarahan setelah atonia uteri yang terjadi pada hampir persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Pada seorang primipara atau orang yang baru pertama kali melahirkan ketika terjadi peristiwa "kepala keluar pintu". Pada saat ini seorang primipara biasanya tidak dapat tegangan yang kuat ini sehingga robek pada pinggir depannya. Luka-luka biasanya ringan tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Sebagai akibat persalinan terutama pada seorang primipara, biasa timbul luka pada vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak (Prawirohardjo, 1999).
Ruptur Perineum dapat terjadi karena adanya ruptur spontan maupun episiotomi. perineum yang dilakukan dengan episiotomi itu sendiri harus dilakukan atas indikasi antara lain: bayi besar, perineum kaku, persalinan yang kelainan letak, persalinan dengan menggunakan alat baik forceps maupun vacum. Karena apabila episiotomi itu tidak dilakukan atas indikasi dalam keadaan yang tidak perlu dilakukan dengan indikasi di atas, maka menyebabkan peningkatan kejadian dan beratnya kerusakan pada daerah perineum yang lebih berat. Sedangkan luka perineum itu sendiri akan mempunyai dampak tersendiri bagi ibu yaitu gangguan ketidaknyamanan.
Berdasarkan hasil data prasurvey, angka kejadian rupture perineum spontan yang dialami ibu primigravida di BPS Yuni Dwi Fitariyanti tahun 2007 masih sangat tinggi yaitu sebanyak 41 orang (65%) dari 63 persalinan normal. Sedangkan yang tidak mengalami rupture perineum berjumlah 22 orang. Jumlah berat badan bayi > 3100 gr yaitu 32 bayi sedangkan yang <> 3.100 gr yang mengalami rupture berjumlah 30 orang dan yang tidak mengalami rupture 2 orang. Sedangkan dari 31 orang ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan < style="font-weight: bold;">B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu adakah hubungan berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS ... .... .......... tahun 2007.

C. Ruang Lingkup
Penelitian ini akan mengkaji hubungan berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS ... .... ........... Dengan desain penelitian korelasi. Subjek penelitian yaitu ibu primigravida pada persalinan normal pada bulan Januari - Desember tahun 2007. Objek penelitian yaitu berat badan lahir di atas 3100 gram dan berat badan lahir kurang dari 3100 gram pada bulan Januari-Desember 2007 pada primigravida. Alasan dilakukannya penelitian karena masih banyak ditemukannya angka kejadian ruptur perineum pada primigravida di BPS ... .... .......... yaitu 41 dari 63 persalinan normal pada primigravida. Penelitian ini akan menggunakan metode cross sectional yang akan dilaksanakan pada bulan Mei 2007 di BPS ... .... .......... yang beralamat di Tegineneng .......... ..........

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS ... .... .......... tahun 2007.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi jumlah berat badan lahir di atas 3100 gram dan berat badan lahir kurang dari 3100 gram yang dilahirkan ibu yang menyebabkan ruptur atau tidak ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS ... .... .......... tahun 2007.
b. Untuk mengetahui adakah hubungan berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS ... .... .......... tahun 2007.
c. Untuk mengetahui keeratan hubungan berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS ... .... .......... tahun 2007.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan untuk:
1. Manfaat bagi tempat penelitian
Sebagai masukan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan memberikan masukan dalam memberikan penyuluhan.
2. Manfaat bagi institusi pendidikan
Untuk mendapatkan perbendaharaan perpustakaan/referensi bagi Kebidanan …………………….
3. Manfaat bagi peneliti
Untuk penerapan ilmu pengetahuan dalam membuat karya tulis dan sebagai salah satu pengalaman belajar di Akademi Kebidanan …………………….


silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTUR PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)

Gambaran Pengetahuan Akseptor Kb Suntik Tentang Efek Samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di RB

GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebijakan Departemen Kesehatan dalam upaya mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “Empat Pilar Safe Motherhood”. Dewasa ini, Program Keluarga Berencana (KB) sebagai pilar pertama, telah dianggap berhasil (Saifudin, 2002). Program Keluarga Berencana (KB) adalah bagian yang terpadu (Integral) dalam program Pembangunan Nasional yang bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi, sprititual dan sosial budaya penduduk Indonesia (Dep. Kes RI, 1994).
Keluarga Berencana adalah salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan dengan jalan memberikan nasehat perkawinan, pengobatan kemandulan dan penjarangan kelahiran (Dep. Kes RI, 1994). Metode KB yang dapat digunakan terdiri dari 2 macam yaitu metode sederhana (kondom, spermiside, koitus interuptus, pantang berkala) dan metode efektif (hormonal, mekanis dan metode KB darurat) (Manuaba, 1998).
Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan kaum ibu adalah KB suntik, ini disebabkan karena aman, efektif, sederhana dan murah. Cara ini mulai disukai masyarakat kita dan diperkirakan setengah juta pasangan memakai kontrasepsi suntikan untuk mencegah kehamilan (1983) (Muchtar. R, 2002). Namun demikian KB suntik juga mempunyai banyak efek samping, seperti amenorea (30%), spoting (bercak darah) dan menoragia, seperti halnya dengan kontrasepsi hormonal lainnya dan dijumpai pula keluhan mual, sakit kepala (<1-17%) style="font-weight: bold;">B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat di rumuskan sebagai berikut : “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Akseptor KB Suntik Tentang Efek Samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di RB Do’a Ibu Sekampung Lampung Timur 2007” ?

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini, ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut :
1. Sifat penelitian : Deskriptif
2. Subjek penelitian : Akseptor KB suntik Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA).
3. Objek penelitian : Pengetahuan akseptor KB suntik tentang efek samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA)
4. Lokasi penelitian : Dilaksanakan di RB Do’a Ibu Sekampung Lampung Timur
5. Waktu penelitian : 5 Mei – 7 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan akseptor KB suntik tentang efek samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di RB Do’a Ibu Sekampung Lampung Timur tahun 2007.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
1. Bidan RB Do’a Ibu Sekampung
Menjadi bahan masukan bagi program kerja bidan untuk meningkatkan konseling yang berkaitan dengan efek samping pada kontrasepsi khususnya kontrasepsi suntik.
2. Instansi Pendidikan Prodi Kebidanan Metro
Sebagai bahan bacaan dan menjadi sumber Pustaka untuk penelitian selanjutnya.
3. Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan, khususnya dalam bidang penelitian terhadap “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Efeksamping KB Suntik di RB Do’a Ibu Sekampung”.

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)

Karakteristik Ibu Hamil yang Melaksanakan Antenatal Care di BPS

KTI KEBIDANAN
KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MELAKSANAKAN
ANTENATAL CARE DI BPS

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pada tahun 1990 WHO meluncurkan strategi MPS (Making Pregnancy Safer) di dukung oleh badan-badan internasional seperti UNFPA, UNICEF dan Word Bank, sebagai upaya untuk menurunkan AKI dan AKB yang masih cukup tinggi dan sebagian besar terjadi di negara-negara berkembang (Saeffudin, 2002). Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Ini berarti kemampuan untuk memberikan pelayanan kesehatan masih memerlukan perbaikan kesehatan yang bersifat menyeluruh dan lebih bermutu. Kematian ibu di Indonesia pada SDKI 2003 terdata 307 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian perinatal adalah 35 per 1000 kelahiran hidup (SDKI, 2003).
Angka kematian bayi di propinsi Lampung diperkirakan pada tahun 2000 berdasarkan proyeksi penduduk BPS menjadi 49 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2001 yaitu sebesar 41 per 1000 kelahiran hidup. Indikasi ini menunjukkan bahwa tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Lampung meningkat dari tahun 2000 ke 2001 dan pada tahun 2002 mengalami sedikit peningkatan yaitu 42 per 1000 kelahiran hidup sedangkan tahun 2003 AKB meningkat menjadi 55 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pencatatan dan pelaporan sudah mengalami peningkatan dan hasil ini belum mencapai target tahun 2003 yaitu 42 per 1000 kelahiran hidup dan target Lampung Sehat 2010 dan Indonesia sehat 2010 yaitu 40 per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Lampung, 2005). Angka Kematian Balita di propinsi Lampung Tahun 1980-2003. Balita umur 0-< 5 Tahun. Tahun 1980, 147 per 1000 kelahiran hidup, Tahun 1990, 86 per 1000 kelahiran hidup, Tahun 1995, 75 per 1000 kelahiran hidup, Tahun 1997, 43 per 1000 kelahiran hidup, SDKI 2002-2003 64 per 1000 kelahiran hidup (Sumber : SP 1980, 1990 dan Estimasi Parameter Demografi Indonesia BPS, SDKI 2002-2003 data 2004 dan 2005 belum tersedia di BPS).
Hasil SDKI 2002-2003 angka kematian balita 64 dan angka ini belum mencapai target 58 per 1000 kelahiran hidup. Jumlah balita mati di propinsi Lampung tahun 2004 sejumlah 109 kasus, terbesar di kota Metro (40 kasus) dan terendah di kabupaten Lampung Barat (1 kasus) dan pada tahun 2005 jumlah kasusnya 224 kasus per 165.341 kelahiran hidup. Kasus kematian balita disebabkan oleh permasalahan kesehatan anak dan balita seperti gizi, sanitasi penyakit infeksi dan kecelakaan. Sedangkan angka kematian ibu (AKI) di propinsi Lampung berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Lampung tahun 2005 adalah terdapat 145 kasus dari 165.347 kelahiran hidup. Jumlah kematian ibu disebabkan pada masa kehamilan dan persalinan. Untuk itu perlu kerja keras dan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan meningkatkan dukungan terhadap pelayanan dan kesehatan ibu/maternal, baik dalam antenatal care (ANC) dan meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan.
Salah satu upaya Departemen Kesehatan untuk mempercepat penurunan AKI dan AKB adalah negara membuat rencana strategi nasional making pregnancy safer (MPS) di Indonesia 2001-2010 yang menyebutkan bahwa dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, maka visi MPS adalah “Kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang dilahirkan hidup sehat” (Saeffudin, 2002). Pengawasan antenatal atau yang sering disebut pemeriksaan kehamilan adalah pelayanan antenatal yang diberikan oleh tenaga ahli profesional yaitu dokter spesialis kebidanan, dokter umum, dokter bukan spesialis yang mempunyai banyak pengalaman dalam kebidanan, bidan, public health care, home help, pemanfaatan jenis pelayanan ANC diharapkan dapat menghasilkan atau memperbaiki status kesehatan ibu hamil. Dalam hal ini pemanfaatan pelayanan ANC yang tepat akan meningkatkan derajat kesehatan ibu dan janin yang akan di lahirkannya sehingga menuju ke keluarga yang sehat dan sejahtera (Sarwono Prawirohardjo, 2002).
Pemanfaatan pelayanan antenatal oleh seorang ibu hamil dapat dilihat dari cakupan pelayanan antenatal. Peningkatan pelayanan kesehatan antenatal dipengaruhi oleh pemanfaatan pengguna pelayanan antenatal. Dengan tidak dimanfaatkannya sarana pelayanan antenatal dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti: ketidakmampuan dalam hal biaya, lokasi pelayanan yang jaraknya terlalu jauh atau petugas kesehatan tidak pernah datang secara berkala (Sarwono Prawirohardjo, 2002). Dengan demikian untuk meningkatkan hasil cakupan ibu hamil ada beberapa faktor yang perlu mendapatkan perhatian. Di samping faktor ibu hamil sendiri (karakteristik) untuk memeriksakan kehamilanya maka, faktor biaya, petugas pelayanan kesehatan, sarana dan fasilitas kesehatan yang tersedia merupakan faktor yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilan cakupan ibu hamil. Alasan penulis mengambil di BPS ................ Desa Bangun Rejo Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten .......... ......... karena di desa tersebut terdapat 810 PUS (Pasangan Usia Subur). Dari 810 PUS tersebut terdapat 16 PUS yang telah hamil (primigravida) dan 14 lainnya multigravida dan penulis ingin mengetahui karakteristik ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di BPS ................ Desa Bangun Rejo Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten .......... ......... Tahun 2006.

B. Perumusan Masalah
Bagaimana karakteristik ibu hamil yang melaksanakan antenatal care di BPS ................ Desa Bangun Rejo Kecamatan Gunung Sugih .......... .......... Tahun 2006?.

C. Ruang Lingkup
- Jenis penelitian : deskriptif
- Objek penelitian : karakteristik ibu hamil yang melaksanakan antenatal care.
- Subjek penelitian : seluruh ibu hamil baik primigravida maupun multigravida.
- Lokasi penelitian : BPS. ................ desa Bangun Rejo kecamatan Gunung Sugih .......... ..........
- Waktu penelitian : Bulan Oktober 2006 sampai dengan bulan Mei 2007.
- Alasan penelitian : - Untuk mengetahui karakteristik ibu hamil yang melaksanakan antenatal care.
- Jumlah PUS yang meningkat di Desa Bangun Rejo
- Jumlah ANC di BPS ................ meningkat oleh karena jumlah PUS di desa tersebut yang meningkat pula.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik tentang ibu hamil yang melaksanakan ANC di BPS ................ Desa Bangun Rejo Kecamatan Gunung Sugih .......... ......... tahun 2006.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran umur ibu hamil yang melaksanakan ANC di BPS ................ Desa Bangun Rejo Kecamatan Gunung Sugih .......... ......... tahun 2006.
b. Untuk mengetahui gambaran pendidikan ibu hamil yang melaksanakan ANC di BPS ................ Desa Bangun Rejo Kecamatan Gunung Sugih .......... ......... tahun 2006.
c. Untuk mengetahui gambaran tentang paritas ibu hamil yang melaksanakan ANC di BPS ................ Desa Bangun Rejo Kecamatan Gunung Sugih .......... ......... tahun 2006.
d. Untuk mengetahui gambaran tentang tingkat pendapatan keluarga ibu hamil yang melaksanakan ANC di BPS ................ Desa Bangun Rejo Kecamatan Gunung Sugih .......... ......... tahun 2006.
e. Untuk mengetahui gambaran tentang jarak lokasi BPS ke rumah ibu hamil yang melaksanakan ANC di BPS ................ Desa Bangun Rejo Kecamatan Gunung Sugih .......... ......... tahun 2006.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi BPS
Sebagai masukan dalam rangka meningkatkan konseling dalam pelayanan antenatal care di wilayah BPS .................
2. Bagi Masyarakat Khususnya Ibu Hamil
Agar ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar pelayanan kebidanan, sehingga apabila diketahui resiko kehamilan secara dini dapat dilakukan tindakan lebih lanjut atau rujukan segera bila diperlukan.
3. Bagi Perkembangan Ilmu
Diharapkan semakin bertambahnya zaman dan ilmu, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) dapat turun dengan pelan-pelan karena tenaga kesehatan yang makin profesional dan masyarakat yang semakin kritis.
4. Bagi Akademi Kebidanan Wira Buana Metro
Sebagai sumber referensi, sumber bahan bacaan dan bahan pengajaran terutama yang berkaitan dengan asuhan kebidanan pelayanan antenatal.
5. Bagi Peneliti
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi peneliti bahwa ibu hamil perlu atau harus di lakukan pengawasan untuk menghindari bahaya yang terjadi pada masa kehamilan, persalinan dan nifas sehingga penulis dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam melaksanakan ANC.

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MELAKSANAKAN ANTENATAL CARE DI BPS
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)

Pembuatan Disket Akan Dihentikan

Per tanggal 23 April kemarin, Sony secara resmi mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan produk floppy disk 3.5 inch yang telah kita kenal sejak 30 tahun yang lalu, tepatnya di tahun 1981 (mulai dijual di tahun 1983).

http://www.slipperybrick.com/wp-content/uploads/2008/10/floppyusb.jpg

http://chandrakantha.com/articles/indian_music/filmi_sangeet/media/1970_Floppy_Disk.gif

http://www-roc.inria.fr/gamma/OBJECTS/SCHNAUZER/DEVICES//DISKET.jpeg

http://img.zdnet.com/techDirectory/FLOPPY.GIF

Penjualan floppy disk 3.5 inch ini akan dihentikan pada bulan Maret 2011 dan mungkin saja penghentian produksi floppy disk 3.5 inch ini akan diikuti oleh pabrik lain yang masih membuat produk ini. Memang sudah waktunya, kami sendiri sudah lupa kapan kami terakhir kali masih memakain floppy disk 3.5 inch ini.

Blog Archive